Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Kakek Tua

Kakek Tua

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Cerita Sex Kakek Tua – Cerita original, bukan hasil salin-tempel atau adaptasi platform mana pun. Belum pernah dipublikasikan. Plot dan ending-nya liar, tak mudah ditebak, dan bikin nagih.”

Hujan kembali deras malam itu, seperti hampir setiap malam sejak Eva menikah dengan Ustadz Kholil setengah tahun lalu. Rumah besar bergaya kolonial di pinggir kampung itu sunyi sekali setelah jam sepuluh malam. Lampu kristal di ruang tamu redup, hanya menyisakan cahaya kuning samar dari lampu tidur di kamar utama.

Ustadz Kholil sudah tertidur lelap di kamarnya, atau lebih tepatnya, terbaring tak sadar setelah minum obat tidur yang dokter resepkan untuk “kesehatan jantungnya”. Usia 70 tahun memang tak bisa dibohongi; tenaga lelaki itu sudah lama habis, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya menjadi hak istri mudanya.

Eva atau yang biasa orang panggil Ustadzah Eva, duduk di teras belakang, gamis panjang berwarna hitam yang ia pakai malam itu terasa terlalu panas di kulitnya yang lembab.

Cerita Kakek Tua
Cerita Sex Kakek Tua

Ngocoks Rambut panjangnya yang biasa ia ikat rapi saat tampil di panggung dangdut dulu, kini terurai bebas, sedikit basah karena gerimis yang menyusup dari atap. Ia menatap ponselnya, jari mengetik pesan singkat yang sudah jadi rutinitas.

“Listrik mati lagi. Gentong air bocor. Bisa tolong?”

Tak sampai dua menit, balasan datang:

“Sudah di jalan. Bawa senter.”

Eva tersenyum kecil, meletakkan ponsel di meja kayu jati. Ia bangun, berjalan pelan ke dapur belakang, memastikan pintu samping terkunci dari dalam tapi tak terlalu rapat—cukup untuk didorong pelan tanpa suara.

Tak lama kemudian, pintu itu berderit. Pak Bahar masuk, tubuhnya yang masih tegap meski usia 55 tahun basah kuyup oleh hujan. Jaket kulit lusuh yang ia pakai sejak masa preman dulu meneteskan air di lantai keramik.

Rambutnya yang mulai beruban di pelipis basah menempel di dahi, tapi matanya—mata yang pernah menakutkan preman kampung lain—kini penuh api yang berbeda saat menatap Eva.

“Bu Ustadzah,” sapanya pelan, suara seraknya hampir tertutup gemuruh hujan. “Ustadz Kholil…gimana?”

“Sudah tidur. Obatnya kuat malam ini,” jawab Eva singkat, lalu melangkah mendekat. Tangannya langsung menyentuh dada Pak Bahar, merasakan kaos basah yang menempel ketat di otot-otot yang masih keras, bukti bahwa lelaki ini tak pernah benar-benar berhenti berlatih meski sudah insyaf dan tobat.

Pak Bahar tak bicara lagi. Tangannya yang besar dan kasar langsung meraih pinggang Eva, menariknya rapat sampai tubuh mereka menempel. Ngocoks.com

Bau hujan bercampur aroma sabun colek murah dari tubuh Pak Bahar, kontras dengan parfum mahal yang Eva semprotkan tadi sore. Bibir mereka bertemu ganas, tanpa basa-basi. Lidah Pak Bahar menyusup masuk, mengeksplorasi mulut Eva seperti lelaki yang sudah lama menahan lapar.

Eva mengerang pelan di antara ciuman, tangannya merayap ke bawah, membuka resleting jaket lalu kaos Pak Bahar. Kulit dada lelaki itu hangat, berbulu halus, dan masih berotot meski usia tak muda lagi. “Pak Bahar… cepat,” bisiknya, suaranya serak penuh kebutuhan.

Mereka tak perlu ke kamar. Dapur belakang cukup gelap, hanya diterangi cahaya samar dari luar yang menembus jendela. Pak Bahar mengangkat Eva dengan mudah, meletakkannya di atas meja marmer dingin yang biasa dipakai memotong daging. Gamis Eva tersingkap cepat, kain itu naik sampai pinggang. Seperti biasa, ia tak mengenakan apa-apa di bawahnya—sudah jadi kebiasaan sejak mengetahui suaminya tak akan pernah “bangun” lagi di malam hari.

Pak Bahar berlutut, wajahnya tenggelam di antara paha Eva. Lidahnya langsung bekerja, menjilat dan menyedot dengan gerakan yang kasar tapi penuh pengalaman. Eva menggigit bibirnya keras, tangannya mencengkeram rambut lelaki itu, menariknya lebih dalam. “Ah… Pak… lebih dalam lagi…” desahnya, suaranya tertahan agar tak terdengar ke kamar depan.

Tak lama, Pak Bahar berdiri. Celananya sudah turun, memperlihatkan bukti bahwa usia 55 tahun tak membuatnya loyo seperti suami Eva. Ia besar, keras, dan berdenyut penuh tenaga. Eva menatapnya dengan mata lapar, lalu meraih dan menggenggamnya, mengusap pelan sambil menatap mata Pak Bahar.

“Masukin sekarang, Pak. Aku sudah nggak tahan,” katanya, kakinya membuka lebar di atas meja.

Pak Bahar tak menunggu lagi. Ia memasuki Eva dengan satu dorongan kuat, membuat meja marmer bergoyang pelan. Eva mendesah panjang, kepalanya terdongak, rambutnya menjuntai ke belakang. Gerakan Pak Bahar cepat dan dalam, setiap dorongan membuat tubuh Eva berguncang. Tangannya meremas payudara Eva melalui gamis, jarinya mencubit puting yang sudah mengeras sampai Eva menggelinjang.

“Lebih keras, Pak… aku mau lebih keras…” bisik Eva, kakinya melingkar di pinggang lelaki itu, menariknya lebih dalam setiap kali ia mendorong.

Pak Bahar menurut. Ia mempercepat ritme, tangannya mencengkeram pinggul Eva, menariknya rapat sampai tak ada jarak lagi. Suara hujan di luar menutupi derit meja dan desahan mereka yang semakin tak terkendali. Eva mencakar punggung Pak Bahar melalui kaos basahnya, meninggalkan bekas merah yang akan ia sembunyikan besok pagi.

Saat klimaks mendekat, Eva menarik wajah Pak Bahar mendekat, menciumnya ganas sambil menggigit bibir bawah lelaki itu. “Di dalam, Pak… keluarin di dalam aku…” pintanya, suaranya parau.

Pak Bahar menggeram pelan, dorongannya semakin kuat beberapa kali lagi, lalu melepaskan segalanya di dalam Eva dengan desahan panjang yang tertahan. Tubuh mereka bergetar bersama, napas tersengal, keringat bercampur hujan yang menetes dari tubuh Pak Bahar.

Mereka terdiam beberapa saat, masih saling menempel. Pak Bahar mundur pelan, membantu Eva turun dari meja. Gamisnya ia rapikan kembali, meski kusut dan sedikit basah. Eva menyentuh pipi lelaki itu, tersenyum tipis.

“Besok malam hujan lagi katanya,” katanya pelan.

Pak Bahar mengangguk, mencium kening Eva sekali sebelum berbalik pergi melalui pintu belakang, meninggalkan aroma hujan, keringat, dan rahasia yang semakin dalam.

Eva kembali ke kamarnya, berbaring di samping Ustadz Kholil yang masih terlelap tak sadar. Ia menatap langit-langit gelap, tangannya menyentuh perutnya sendiri, merasakan hangat yang masih tersisa.

Dan ia tahu, besok malam, ketika hujan kembali turun, pintu belakang akan berderit lagi. Mungkin Pak Bahar atau yang lainnya….

^*^

Pagi di sungai Cikupa selalu ramai sebelum matahari benar-benar bangun. Ember warna-warni berjejer, kain dipukul ke batu, dan cerita mengalir lebih deras dari arus.

“Eh, Mak Uun,” kata Bu Rina sambil mengucek baju, “kemarin aku papasan sama Eva.”

Mak Uun tidak langsung menjawab. Ia menepuk-nepuk sarung basah, lalu mendengus pelan. “Lewat depan rumahku juga. Senyumnya itu lho.”

“Senyum gimana?” sela Bu Yayah, tangannya cekatan tapi telinganya lebih cekatan.

“Bukan senyum orang salam,” jawab Bu Uun. “Senyum orang ngerti dirinya dilihat.”

Bu Rina terkekeh kecil. “Padahal bajunya panjang semua. Kerudungnya rapih. Tapi entah kenapa ya… kok rasanya beda.”

Air sungai bergolak pelan, seperti ikut menyetujui.

Bu Yayah mencondongkan badan. “Kata suamiku, kalau disapa sama dia, suaranya lembut banget. Bukan lembut biasa. Lembut yang bikin orang mikir dua kali.”

“Lho, Ustadzah kok gitu?” Bu Rina pura-pura heran, padahal matanya berbinar.

“Makanya,” sahut Bu Uun. “Dulu katanya penyanyi dangdut, ya? Pantesan. Bawaan panggung itu susah ilang.”

Bu Rina menepuk air. “Tapi sama Ustadz Kholil kelihatannya nurut. Duduknya sopan, ngomongnya pelan.”

“Di depan suami,” kata Bu Yayah cepat. “Kalau suaminya ada, semua orang juga bisa jadi malaikat.”

Mereka terdiam sebentar. Hanya suara kain diperas dan air menetes. Lalu Mak Uun bicara lagi, lebih pelan, seolah takut didengar batu sungai.

“Bukan iri, ya. Umur beda jauh begitu, orang-orang juga maklum. Ustadz Kholil kan orang berada.”

“Iya,” Bu Rina mengangguk. “Anak-anaknya juga sudah sukses. Mau nikah lagi juga urusan dia.”

“Tapi istrinya itu,” Bu Yayah mengangkat alis, “kok kayak senang dites pandangannya orang.”

Bu Rina tersenyum miring. “Mungkin kebiasaan lama. Kalau dulu nyanyi, kan memang hidup dari tatapan.”

Air sungai kembali berisik. Seekor ayam lewat di tepi, mencari sisa nasi.

“Yang penting jangan sampai bikin kampung panas,” kata Mak Uun sambil berdiri, mengangkat ember. “Kita ini hidup cari tenang, bukan cari cerita.”

Bu Yayah tertawa kecil. “Tenang itu mahal, Mak. Apalagi kalau ada yang jalannya halus tapi bekasnya terasa.”

Mereka beranjak pulang, cucian bersih, gosip setengah kering. Di Cikupa, cerita memang begitu. Tidak pernah selesai, hanya pindah tangan.

Di bawah pohon waru, tiga lelaki paruh baya duduk memandang air sungai yang membawa daun dan rahasia.

Bah Karta menarik napas panjang, lalu menghembuskannya seperti orang melepas beban hidup. “Jaman sekarang itu aneh, Bun.”

Bah Bubun mengangguk sambil mengetuk-ngetuk pipa rokoknya. “Aneh gimana, Bah?”

“Bukan nikah mudanya,” jawab Bah Karta. “Itu mah urusan dapur orang. Yang bikin orang kampung ribut itu… caranya.”

Pak Ending yang dari tadi diam akhirnya nimbrung. “Caranya apa, Bah?”

Bah Karta melirik kiri kanan, lalu mendekat sedikit. “Cara Eva itu lho. Halus. Terlalu halus buat ukuran orang pesantren.”

Bah Bubun terkekeh, suaranya serak. “Heh, kamu mah kebanyakan mikir, Bah. Orang Eva bajunya rapih, ngomongnya sopan.”

“Iya sopan,” sahut Bah Karta cepat, “tapi sopannya kayak ada nadanya. Kalau nyapa, ‘Mang Karta…’ itu panjang di akhirnya. Bikin orang nengok.”

Pak Ending menggaruk kepala. “Aku juga pernah disapa. Biasa aja sih.”

Bah Bubun melirik tajam. “Biasa buat kamu. Tapi coba tanya jantung kamu, Ending.”

Pak Ending terdiam. Lalu tersenyum kecut. “Ya… agak beda dikit lah.”

Bah Karta menepuk lutut. “Nah, kan. Itu yang aku maksud. Bukan salah, tapi bikin orang salah mikir.”

Bah Bubun menghela napas. “Katanya dulu dia penyanyi dangdut?”

“Cerita warung kopi begitu,” jawab Bah Karta. “Entah benar entah tidak. Tapi kalau benar, ya wajar. Orang panggung itu biasa hidup dari perhatian.”

Pak Ending menatap sungai. “Kasihan juga Ustadz Kholil. Umurnya segitu, mungkin cuma pengen ada yang nemenin.”

“Iya,” Bah Bubun mengangguk. “Ustadz Kholil mah alim. Orangnya lurus.”

“Justru itu,” Bah Karta mengecilkan suara. “Kalau istrinya main halus di belakang, orang-orang kampung yang jadi panas. Bukan dia.”

Pak Ending mengangguk pelan. “Di kampung itu, yang berbahaya bukan yang terang-terangan. Tapi yang kelihatannya baik.”

Bah Bubun tertawa pendek. “Kamu ngomong kayak kiai aja.”

“Bukan,” jawab Pak Ending. “Aku ngomong kayak orang kampung yang nggak mau ribut.”

Angin sungai bertiup, membawa bau tanah basah.

Bah Karta berdiri, menepuk celana. “Sudahlah. Kita cuma bisa jaga mata, jaga pikiran. Orang lain mah biar urusannya sama Gusti.”

Bah Bubun ikut berdiri. “Betul. Tapi cerita tetap jalan.”

Pak Ending tersenyum tipis. “Namanya juga Cikupa. Air sungainya aja nggak pernah berhenti ngomong.”

Mereka pergi satu per satu, meninggalkan bangku bambu dan sungai yang terus mengalir, membawa gosip ke hilir, perlahan tapi pasti.

Lain di sung, lain di bawah pohon waru, lain pula obrolan di samping warung, walau themanya tak jauh-jauh amat.

Di samping warung Bu Wati, Rini dan Siti duduk saling berhadapan. Plastik es teh berembun, tapi mulut mereka kering karena terlalu sibuk bicara.

“Nin, ngomong-ngomong soal Eva,” kata Rini sambil mengaduk sedotan, “kamu sadar nggak, sejak dia ada di kampung, dua orang itu makin sering kelihatan mondar-mandir?”

Nina langsung mengangkat alis. “Yang kamu maksud… Pak Jaya sama Mang Udin?”

Rini nyengir. “Lah iya. Emang siapa lagi?”

Nina tertawa kecil, menutup mulut. “Dari dulu juga mereka bahan omongan. Bedanya sekarang kayak dapat panggung baru.”

Rini melirik ke arah jalan. “Pak Jaya itu kalau lewat rumah Ustadz Kholil, jalannya pelan banget. Padahal biasanya ngebut kayak dikejar setan.”

“Kalau Mang Udin,” sambung Nina, “tiap sore ada aja urusannya ke warung ini. Beli rokok sebatang, beli gula seperempat. Padahal di rumahnya lengkap.”

Rini menyandarkan badan. “Katanya sih cuma pengen ngobrol.”

Nina mendengus. “Ngobrol kok matanya keluyuran.”

Mereka terdiam sejenak ketika Bu Wati lewat membawa piring gorengan. Setelah Bu Wati menjauh, Rini kembali berbisik namun obrolannya langsung melenceng jauh.

“Eh, Rin, kamu denger nggak? katanya terong Pak Darsa itu gede dan panjang kaya blak mamba, bisa bikin klepek-klepek wanita sampe lupa jalan ke sawah!” kata Nina sambil mengedipkan mata, suaranya dibuat pelan tapi penuh nada nakal.

Rini menahan tawa sambil melirik ke sekitar, takut ada yang denger. “Iya sih! Tapi Bah Mardi beda lagi. Katanya dia tuh polos di luar, tapi dalemnya galak, bisa ngegas sampe pagi tanpa capek.”

Nina terkikik sampai hampir jatuh dari bangku. “Aduh, jangan sampe kita ketahuan gosipin mereka, nanti disulap jadi katak! Tapi serius, Rin, kalau boleh milih, mending Pak Darsa, setidaknya dia nggak bikin kita takut kalau sampai hamil, secara dia duda kaya raya bisa kasih biaya, hahahaha!”

“Nin, Pak Darsa kan udah lama sendiri, kamu bisa bayangin gak, gimana kalau dia begituan, hihihi….” Rini kemabli terkikik.

“Pastinya banjir bandang dong, hahahaha…” timpal Nina, tak kuasa menahan tawa.

“Tapi Rin, aku pernah gak sengaja liat punya Pak Darsa. Beliau lagi mandi berdiri di pancuran belakang rumahnya. Ya Tuhan, terongnya panjang dan gede banget. Aku langsung sembunyi di balik pohon, jantung berdegup kencang, tapi penasaran nggak bisa berhenti ngintip,” cerita Nina dengan suara bergetar campur malu, pipinya memerah seperti buah delima matang.

Rini mencondongkan badan, tangannya memegang lengan Nina erat-erat.

“Aku sih waktu itu lagi bawa teh buat suamiku yang lagi dipijit sama Bah Mardi. Beliau cuma pake kolor, jongkok sambil urut punggung suamiku. Ya Tuhan kolornya tersingkap. Wah, ternyata dalemnya emang galak bener! kayak siap ngegas kapan aja. Aku hampir aja numpahin tehnya saking klepek-klepek diajak main mata sama dia.”

Nina tertawa pelan, tapi buru-buru menutup mulutnya saat mendengar suara langkah kaki dari kejauhan. “Hihihi, untung suamimu nggak curiga istrinya main mata.”

“Aman, suamiku kan ketiduran karena keenakan dipija Bah Mardit, hehehe.”

“Tapi Rin. Kita mesti jujur, Pak Darsa itu memang beda. Duda kharismatik, kaya raya, udah mateng banget. Kalau dia ngajak selingkuh kamu mau gak?” Nina kembali bicara serius.

Rini mengipas wajahnya lebih kencang. “Aduh, jangan bikin godaan deh! Aku aman kok, masih puas sama suamiku, meski kadang dia sakit pinggang. Tapi kalau dipaksa milih, aku sih mending Bah Mardi. Udah ketahuan polos luarannya, tapi dalemnya masih bisa ngegas sampe pagi, hahaha. Kamu mau coba deketin Pak Darsa ya?”

“Ih, kamu ini!” Nina pura-pura cemberut, tapi ikut tertawa sampai bahunya bergoyang. “Suamiku masih aman juga sih, hanya kadang penasaran juga sama terong tua yang besar, panjang dan masih perkasa, hahaha.”

“Udah ah jangan ngegosip aja. Yuk, pulang, nanti Mak Sati lewat, cemburu lagi sama kita gara-gara ngegosipin Bah Mardi.”

“Oke, tapi besok cerita lagi ya, ada gosip baru soal Eva yang katanya obsessed banget sama Pak Darsa, gak tahu kenapa, padahal katanya punya suaminya juga gede dan panjang, hihihi.”

“Gede dan panjang mungkin saja, tapi masih bisa berdiri gak? Aku denger-denger sih Ustadz Kholil udah gak berdaya.”

“Hah, terus ngapain nikah lagi sama mantan penyanyi dangdut yang bahkan usianya di bawah anak bungsunya?”

“Iya sih, seharunya Ustadz Kholil itu menikah lagi sama yang sebaya, biar seimbang dan bisa ngurus dia yang sudah mulai sering masuk angin, hihihi.”

Mereka bangun sambil saling dorong-dorongan kecil, meninggalkan warung dengan tawa yang masih bergema pelan di antara deru angin sawah. Langit masih terang, seperti rahasia Kampung Cikupa yang semakin terang benderang.

^*^

Di Cikupa, gosip tidak pernah datang dengan pintu depan. Ia masuk lewat warung kopi, melompat ke teras mushola, lalu bermalam di grup WhatsApp RT. Beberapa bulan terakhir, satu nama jadi langganan bisik-bisik. Ustadz Kholil.

Usianya 72 tahun, langkahnya pelan, tapi hartanya berlari kencang. Juragan tanah, anak-anaknya sudah mapan, dan sejak lama menduda. Ketika kabar menikah lagi muncul, warga hanya mengangguk pendek. Bukan hal aneh. Rezeki orang, jodoh orang.

Yang membuat alis terangkat bukan pengantinnya yang muda, tapi siapa dia.

Namanya Eva. Kini dipanggil Eva. Tapi di warung kopi, cerita punya versi lain. Katanya dulu ia bukan ustadzah, bahkan jauh. Ngocoks.com

Ada yang bersumpah pernah melihatnya bernyanyi dangdut di kecamatan sebelah, dengan lampu panggung dan suara yang bisa melunakkan lutut. Benar atau tidak, tak ada yang bisa membuktikan. Tapi gosip tak butuh bukti, ia hanya perlu mulut.

Setelah menikah, Eva berubah total. Kerudung rapi, gamis panjang, langkah tenang. Duduk di samping Ustadz Kholil seperti bayangan yang patuh. Banyak yang memuji. “MasyaAllah, hidayah,” kata mereka.

Namun waktu punya kebiasaan mengelupas cat.

Pelan-pelan, kegelisahan tumbuh. Bukan karena pakaian terbuka. Justru sebaliknya. Semuanya tertutup, terlalu rapi, terlalu pas. Cara bicara Eva lembut, manja, seperti nada akhir lagu dangdut yang sengaja ditahan. Jika menyapa lelaki, senyumnya tidak berlama-lama, tapi cukup untuk diingat. Matanya tidak nakal, hanya tahu caranya singgah.

“Dia itu halus,” bisik seorang bapak di pos ronda.

“Halus tapi bikin gelisah,” jawab yang lain.

Di belakang Ustadz Kholil, cerita-cerita kecil bermunculan. Tak ada yang kasar, tak ada yang bisa dituduh. Hanya rasa tidak nyaman yang menggantung, seperti bau parfum manis di udara malam. Tidak terlihat, tapi semua tahu itu ada.

Dan di Cikupa, itu sudah cukup untuk membuat kehebohan hidup sendiri. Dan Eva, sejatinya hanya sebuah titik diantara seliwean gosip kampung dan titik-titik krusial lainnya yang masih menyimpan sejuta misteri dan butuh dipecahkan.

Bersambung…

1 2 3 4 5
Bersambung Cantik Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleTabir Cinta 2 Dunia
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.3

    Tabir Cinta 2 Dunia

    9.5

    Surga Gangbang Selebriti

    9.3

    Fira the Office Girl

    9.7

    Mimpi Buruk di Kampus

    9.3

    Mimpi Buruk

    9.0

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Follow Facebook

    Recent Post

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Surga Gangbang Selebriti

    Fira the Office Girl

    Mimpi Buruk di Kampus

    Mimpi Buruk

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

    The Click

    Artis Papan Atas

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.