Susu kental coklat terhidang diatas meja, Selvy ternyata berbaik hati membuatnya untuk kami, asapnya mengepul mengundang untuk dirasa. Mamahku membangunkan Sri, menyuruh Sri mengambil gelas susunya dan duduk kembali di sebelahku.
Aku menyeruput susu coklatku dan mengusulkan perlahan, “Si pak Mistin weh atuh Pak..”. Bapakku bingung menatapku.
“Apa,,?”
“Pa Mistin yang ngejemput aja.. suka main ke daerah situ da.. dia”.
“Kok? Kamu tau darimana?”. Nah.. aku bingung menjawabnya, aku diam saja akhirnya.
Ayahku menelepon pak Mistin dan berbicara panjang, mengobrol masalah pekerjaan juga soalnya. Mamahku menunduk melibat-libatkan jarinya. Dan menunggu, keningnya berkerut lebih dalam dari sebelumnya.
“Iya ditungguan buru.. cepet nya? Iya ku saya si Mbakna ditelp heula.. enya.. ada penting gituh.. enya, iya sip..”. Bapakku menutup telpnya. “Iya katanya si pa Mistin yang ngejemput”, katanya ke Mamahku. Lalu ia menyeruput susu nya.
“Telp atuh si Mbakna heula (dulu)..?”.
“Sama Mamah ajah atuh.. kagok Bapak mah, ga enak..”.
Mamahku mengangguk, mengambil telpnya, lalu menyiapkan suara dan wajahnya untuk berbasa-basi dengan Budhe Yen. Ia memilih keluar dari dapur dan menelepon dari teras belakang. Bapakku menatapku.
“Jadi Gi.. yang sudah dilakukan oleh Egi ini fatal, jelas-jelas memalukan keluarga, melanggar hukum agama, adat dan hukum Pemerintah kalau tidak salah.. ”, Bapakku menyeruput lagi susunya. “Jelas tidak mungkin lah Bapak sama Mamah akan membiarkan ini saja.. yang jelas Bapak sama Mamah kemungkinan harus lebih memperhatikan Tika dulu adik kamu, kalau-kalau dia ada trauma atau yang semacamnya.
Akhirnya Bapakku meledak juga, ia melotot memandangku sampai wajahnya mirip dengan orang yang tidak waras. Aku diam menunduk tak menjawab, Bapakku ini jarang marah.. tapi kalau marah alamat gawat pemirsa.. lebih baik diam dulu.
Agak lama kami terdiam, lalu suara-suara sendawa muntah Sri mulai muncul lagi. Ia celingukan kanan kiri sambil menutup mulutnya dengan tangannya, akhirnya karena tak tahan ia berdiri.
“Maaf.. Pak”, Ia lari ke kamar mandi dapur dan muntah-muntah disana. Tidak ada yang di dapur yang tidak mendengar suara-suaranya. Bapakku terkejut dan menatapku dengan pandangan siap melemparku dengan kursinya.
Mamahku masuk lagi ke dapur, ia menulis sesuatu dihapenya dan berkata pada Bapakku.
“Iyah katanya Pa.. udah mau berangkat kesini, udah ada pa Mistinnya, cepet nya si pa Mistin..? Tapi lalu ia terdiam. Ia pun mendengar suara mbak Sri yang sedang muntah-muntah. Langsung tak terbayang olehku perasaan apa yang ada di wajah Mamahku, warna mukanya berganti-ganti, pucat, merah, abu-abu lalu hitam..
Aku gelagapan, memandang ke kanan kiri, “Masuk angin itu mah…”, belaku panas dingin. Iya aku baru berpikir sekarang, jangan-jangan dia sedang hamil? Aku tak terpikirkan tadi, kan dia bilang suaminya udah meninggal setahun yang lalu tadi?.
Mbak Sripun keluar dari kamar mandi dengan wajah merana. Ia terkejut bahwa semua orang memandangnya dengan rasa ingin tahu. Sri cepat-cepat menunduk dan duduk kembali.
“Sri kamu kenapa? Masuk angin bener? Atau… Hamil..?”, Ibuku menanyainya dengan tegas. Sri terkejut. Ia menggeleng.
“Belum tau Bu..”, katanya. Mamahku melotot.
“Vy, ambil itu testpack di kamar Mamah..”, Mamahku menunjuk kamar memerintah kepada Selvy. Selvy memberengut dan menggeleng-geleng. “Iih ga tau ah.. dimana..?”
“Eeeeeeeh.. ambil (cokot) Selvy..!”, Bapakku hampir berteriak. Selvypun melesat keluar dapur.
Diluar ada suara mobil menggerung sekali dan suara pintu-pintu mobil dibuka dan ditutup.
Aku tak memperhatikannya, aku ikut bergetar karena ketegangan ini, walau aku tahu dan bertanya-tanya, masa baru tadi dicrot sekarang udah hamil sih? Aneh aja nih si Sri… kataku dalam hati. Aku mengacungkan tanganku.
“Masuk angin itu mah Pa.. Mah, kahujanan.. basah tadi sampe rumah.. muntah-muntah sakit.. makanya sama Egi dikerok, terus hampir terjadi kejadiannya, eeehh.. keburu kepergok si Tika..”, kataku berbohong. “Lagi kerokan tadi teh..”.
“Ah..! ngabohong wae siah..”, Mamahku memotong, “Kamu udah kejadian begituan sama Egi, Sri?”.
Sri mengangguk. Melihat itu, aku menutup mata pasrah. ‘Hadeuh ga kompak nih sista satu nih..’, kataku dalam hati.
“Udah berapa kali? Jujur..”, tanya Mamahku lagi. Sri bersendawa lagi. Ia mengacungkan telunjuknya, “Baru satu kali..”.
“Oooh.. kapan? Baru tadi? ”, Mamahku bernafas lega dan memandang wajah Bapakku yang mengusap wajahnya juga lega.
Lalu kemudian, terdengar suara salam perempuan dari arah depan. Selvy yang menjawab salam dan mempersilakan masuk.
“Dimarana..?”
“Ini disini Neng Nur.. Didapur…”, bapakku berteriak menjawab.
Masuklah bi Nur, istri mang Cahya, dan anak-anaknya yang lucu-lucu. Melissa 7 tahun, dan Nancy 4 tahun. Kami sekeluarga senang dengan mereka. Mereka cantik, baik, pintar dan hafalan Al Qur’an nya sudah maju.
“Eeeeei.. aduh aduh aduh si anak-anak cantik dan sholehah.. kemana aja atuh ini.. “, Mamahku menggembira-gembirakan suaranya dalam menyambut mereka. Mamahku menciumi mereka satu persatu.
Selvy mengambilkan mereka susu cair dalam kemasan kecil. Dan berbasa basilah mereka, bi Nur, Selvy dan mamahku. Hanya Bapakku yang terdiam, dia kelihatan tua dan lelah.
Dan.. masuklah orang yang akan aku hindari bila sedang dalam permasalahan seperti ini, Mang Cahya. Ia masuk dengan klamar klemer seperti biasa, senyum dipinggir bibir sedikit seolah menanti sesuatu yang lucu yang akan terjadi.
Ia repot membawa-bawa tas berisi perlengkapan anak-anaknya. Seperti biasa ia lalu ramai ikut berbasa-basi, mencium tangan kedua orangtuaku dan menatapku heran karena tidak segera menghampirinya untuk bersalaman atau berbasa-basi.
“Gi? Naon Gi?”, tanyanya. Kemudian tertumbuk dimatanya ada mbak Sri yang sedang duduk dsebelahku. Ia bertanya berkeliling heran, “Itu siapa? (ai eta saha?)”. Tapi tak ada yang menjawab.
“Mmmh.. bau alcohol ah kamu ah..”, tegur Mamahku mengernyitkan hidung dan menyingkir kembali ke tempat duduknya di dekatku.
“Mana? Ah masa? Oh haha ini.. hehehe iya tadi disuguhin minum sama anak-anak tadi sedikit.. ga enak ga diminum mah..”.
“Sedikit..?”, bi Nur mencemooh.
“Ah hahhaha iya sedikit, nih se umprit.. hahaha”.
Tapi segera ia berhenti lagi tertawa. Ia mulai mencium yang tak biasa, mengenali ketegangan kami. Apalagi wajah lelah kakaknya yang menyiratkan ada sesuatu. Ia berpandangan bertanya-tanya berkeliling, kemudian mengambil kursi dan duduk di sebelah Bapakku.
“Ada apa sih? (aya naon sih?)”, tanyanya berbisik keras pada kakaknya.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, di ambangnya Tika dan Erika berdiri disitu. Tika masih cemberut, tapi langsung berubah begitu melihat Melissa dan Nancy, ia berteriak ceria, berhalo-halo dan mengajak kedua anak lucu itu ke kamarnya. Tak lupa memandang marah kepadaku dan menunjuk berseru.
“Iih.. orang itu kudu di Rukiyah..!”, sehabis itu ia menghilang lagi di balik pintu beserta anak-anak lainnya. Mang Cahya dan bi Nur makin kebingungan dan merasa geli, mereka menatap pada Bapakku menuntut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Bapakku mengusap lagi wajahnya, malas kelihatannya ia bercerita, tapi ia bercerita juga dengan suara perlahan, cukup jelas suaranya untuk mereka berdua.
“Yaa begini ini, sudah mulai nakal ternyata si Egi ini, keterlaluan dan kenakalannya sudah terlampau fatal, jadi ceritanya si Egi teh lagi berduaan di rumah.. sama Sri ini..”, Bapakku menunjuk Sri, mang Cahya mengangkat alisnya.
“Sri ini.. datang kesini dari Jawa mau masuk kerja lagi diklinik. Ini si Sri tea dulu yang pernah kerja lama disinih, masa kamu ga inget.?”.
Mang Cahya mengerutkan kening dan memiringkan wajah. “Ooooh hahaha iya bener.. iyah dulu di Klinik, iya hahahaha. Udah lama. Tapi kok…? Jadi beda yah bener, dulu mah perasaan jelek (guladig) wajahnya, ko jadi manis begini..? masih inget ga sama saya?
Mang Cahya berdiri dan mengajak bersalaman dengannya, Sri mengangguk dan mencium tangan mang Cahya yang terus tak henti berbicara.
“Bener ini mah sudah laen, pake apa Sri..? itu dandannya? hehe.. soalnya Sri mah makin cantik, kalo istri saya mah ini makin item.. hahaha makin dekil, apa terlalu sering ketemu ini saya? Hahaha”. Bi Nur menekuk wajahnya, ia mengomel sambil memukul bahu mang Cahya. Semua ikut tertawa tak terkecuali Bapakku.
“Ngga becanda.. Mah..”, lalu berpaling pada Bapakku lagi, “Terus kumaha lagi Kang..?”.
“Makanya kalo orang cerita teh jangan suka di potong-potong deeh, huu.. jadi aja ga ngerti..”, kata bi Nur memukul lagi lengan mang Cahya.
“Hehehe.. iya, tadi teh sampe mana? Ah, si Egi sama Sri duaan iyaah..”, Bapakku meneruskan cerita. “Nah berhubung si Sri ini kehujanan.. maka terus si Egi kasihan, masuk angin katanya mah. Ini menurut versi mereka nih Ca? Belum ketemu versi aslinya. Dikerok lah si Sri ini..”.
“Ouuuuh.. oleh si Egi?”, Pamanku mengangguk-angguk dengan berlebihan karena mulai mengerti jalur ceritanya, “Dimana?”, tanyanya.
“Di kamar si Egi..”, Selvy yang menjawab. Mbak Sri bersendawa lagi.
Bapakku meneruskan lagi. “Nah itu, memang karena kalau kita berdua-duaan, bukan muhrim, pasti ada yang menemani, yang pasti adalah setan.. maka terjadilah..”.
“Hal-hal yang menyenangkan si Egi?”, Mamangku memotong.
“Dosa besar itu..”, Bapakku meneruskan tanpa memedulikan mang Cahya.
“Hahaahaha..”, mang Cahya terbahak. Ia berhenti sebentar menatapku tak percaya, kemudian terbahak lagi, “Hoahahahaha…”, sambil menutup wajahnya yang memerah.
“Ketahuannya lagi gimana..?”, tanyanya disela tawanya.
Mamahku cemberut menatapnya.
“Ya lagi telanjang-telanjangan weh lah pokona mah..”.
“Hiahahaha.. aduh aduh Gusti.. maaf maaf, gelo atuda (abisnya) si Egi euy.. edas.. udah ga ketemu berapa taun Sri? Langsung disambut itu sama si Egi..? biar betah lagi kerja disini mungkin Sri..? wah hahaha.. ”.
“Gelo siah si Akang.. “, kata Bi Nur pada suaminya.
Bapakku menatap sebal ke arahku.
“Coba Gi..? untung ketahuannya disini.. dirumah sendiri, masih oleh keluarga sendiri. Coba kalau di luaran.. dikampung orang? Sudah disidang pasti.. digerebek.. !, di kawinkan langsung ditempat..! mau kamu emang..??”. Bapakku berbicara menakut-nakutiku. Mang Cahya langsung berdiri menunjukku.
“Nah itu.. itu dia Kang.. untung weh ga di sidang sama pak RT dan pak Dedi, hoahhaha.. hiaaahaaha.. “, mang Cahya terbahak sambil duduk menyandar di kursinya, badannya miring ke kiri dan ke kanan dan, ‘Gubrak.. ’, ia jatuh beserta kursinya.
Walau begitu tawanya masih terdengar dari bawah kursi. “Waduuuuh…”, katanya akhirnya sambil muncul dari bawah.
“Eh iya inih..”, kata Selvy sambil menyerahkan testpack bermerek ‘Brahi’ pada Sri. “Lupa tadi.. yang ini kan Mah..?”. Ibuku mengangguk. Mbak Sri menerimanya sambil berjalan ke kamar mandi.
“Wah.. Memang sudah berapa kali? Hebat bisa langsung tokcer begitu.. Tak ada yang mengindahkan kata-kata Mamangku. “Mamang aja mesti nunggu 1 sampai 2 bulan lebih baru bisa tau jadi apa nggaknya, tapi ini waduuuh… nah, kita tunggu hasilnya, kalo jadi hasilnya positif, luarbiasa itu Gi. Bisa jadi duit..
Mamahku memandang sebal ke arah pamanku, ia membuka botol air kemasannya dan ‘pret’, ia malah menyiramkan airnya ke wajahku.
“Memang anak ini tuh.. kurang kesadaran agama.. padahal sekolah agama udah cukup dari kecil..”, katanya sebal. “Tontonan sama internetnya siih, ga bisa dikontrol, mesti ditutup lagi ajah kalo begitu mah..”.
“Pergaulannya mungkin Teh.. suka kebawa-bawa..”, Bi Nur menimpali.
“Ah dia mah.. “, ‘cepret..’, air dari kemasan botol itu kembali menyiprat wajahku, “Gak pernah kemana-mana dia mah… kayak ga punya temen di luar malahan, di depan computer aja kerjanya, kalo ga, main hape weh seharian.. ”.
Aku sudah siap menutup wajahku, tapi Mamahku malah meminum air di botol kemasannya itu. Mbak Sri keluar dari kamar mandi, ia sudah mengetahui hasilnya, terlihat dari mukanya yang bingung serta pasrah, dan bolak balik ia menatap hasil testnya. Seperti tak percaya.
“Positif..?”, Mamahku menanyainya dengan penuh simpati. Sri mengangguk, dan tangisnya hampir kembali pecah.
“Kok bisa gini ya Bu?, aduh mesti gimana ini ya Bu..? Sri bingoooung.. ”. Sri duduk di bawah menutup wajahnya dekat kaki Ibuku.
Mang Cahya langsung berdiri dengan cepat. Ia mengulurkan tangannya pada Bapakku.
“Selamat ya Kang.. aduh ga kerasa ini si Akang udah mau punya cucu lagi..”.
Bapakku menepis tangan mang Cahya, dan memandang Sri dengan serius. Mang Cahya berpaling mengulurkan tangan pada Mamahku sungguh-sungguh, “Selamat ya Teh.. syukur Al..”.
Mamangku menghentikan kalimatnya, siraman dari air kemasan Mamahku memotong kata-katanya.
“Gila lu..! (gelo siah..!)”, kata Mamahku.
“Waduh.. hahaha”, ia mundur beberapa langkah. “Maaf nih.. tapi pabrik baru mah memang suka begitu produksinya, ngejar target, si Egi juga sama.. joss jadi joss jadi.. huhahaha.. Ibuku mengambil tutup botol air kemasannya, berpura-pura hendak melempar mang Cahya. Tapi mang Cahya lari keluar dari dapur ke arah ruang tamu.
“Si kampret”, kataku dalam hati. Bi Nur malah terkesiap tidak enak.
“Maaf ya.. suami saya kelakuannya, Sri.. maaf..”.
Sri mengangguk-angguk dalam tangkupan tangan diwajahnya.
“Sri? kamu itu ngelakuinnya sama siapa..? kamu udah punya suami lagi? pacar..? punya?”. Mamahku memegang tangan Sri bertanya.
“Ada Bu… pacar.. baru dua bulan saya sama dia..”. Sri membuka tangannya dan menunduk. “Dia juga udah nanya waktu saya mau berangkat kesini, kamu jangan-jangan hamil? Tapi saya kira cuma masuk angin..”.
Mamangku masuk lagi, tampangnya polos saja seolah yang dia lakukan tadi kami tak mendengar, dia lalu duduk memperhatikan dengan serius.
“Oooh, dia mesti tanggung jawab..? mau ga..?”, tanya Mamahku lagi.
“Belum tahu Bu..”, Sri mengambil hapenya.
Pada saat itulah terdengar lagi suara mobil didepan. Kami semua terdiam menunggu.
Lalu masuk lah Budhe Yeyen dengan wajah ramah dan gembira seperti biasa. Mereka berbasa-basi sementara pak Mistin langsung pamit lagi untuk pergi pulang katanya.
Setelah dirasakan cukup bermanis-manis, akhirnya para orangtua duduk untuk segera ‘get down to the business’. Budhe diceritakan dulu awal muasal penyebab pertemuan ini. Iya gara-gara aku dan Sri, apalagi?. Tapi Budhe tidak bereaksi banyak, sebab permasalahan yang sesungguhnya adalah kehamilan Sri ini.
“Sudah dihubungi belom Sri? Pacarmu itu?”, Budhe bertanya pada Sri.
“Sudah.. katanya dia mau siap tanggongjawab.. “.
“Ooh ya Alkamdulillah, tinggal nikahnya berarti? Dia kerja dimana..?”
“Lah ya itu Budhe, dia lagi ga kerja sekarang… aslinya tukang, tapi lagi belum dapet kerjaan..”
“Ooooh..”, Budhe terdiam celingak celinguk.
“Di kantor weh atuh Kang..? RSUD tah..?”, mang Cahya menyeletuk pada Bapakku.
“Iya agak susah euy justru sekarang mah.. pendidikannya apa?”.
“SMA Pak..”, jawab Sri.
“Tuh.. iya justru, SMA mah suka rada susah euy.. di Klinik kumaha Mah?”, tanya Bapakku pada Ibuku.
“Eh? Mesti liat dulu atuh orangnya..? Baik ngga?”, mamahku menagngkat bahu dan membalik pertanyaan pada Sri.
“Yaah bener harus dilihat dulu orangnya Sri… suruh aja dulu kesini atuh Sri? nanti diongkosin..”. Kata Bapakku.
“Aduh Sri? Tuh beyekmu mestine apik rizkine.. langsung digolekno kerjo..? Beeeh kurang opo neh ta Sri? Wes syukor Alkamdulilah.. ”. Mata Budhe dan Sri mulai berkaca-kaca.
“Eh Mbak, belum tentu juga.. mau ga dia kerja disini jadi tukang bersih-bersih.. di Klinik?”, tanya Mamahku.
“Laaah yo mestine mau.. lah wes mau kerjo opo ta? La wong mau punya bayi kok?”. Sri mengangguk, dan mengelap airmatanya, ia mengetik lagi di hapenya.
“Iyah mudah-mudahan aja lancar semuanya yah?. Orang Jawa mah suka rajin da Mah kerjanya.. Mamah Insya Alloh seneng sama kerjanya.. Aamiin YRA”, kata Bapakku, Mamahku mengangguk-angguk.
Aku ikut mendengar semuanya sampai situ. Dan akhirnya terlelap nyenyak tertidur di kursi. Adzan Magrib berkumandang. Satu-satu Sri menciumi tangan mereka dan berkali-kali mengucapkan terimakasih. Budhe memeluk Sri dan menciuminya. Iapun sama ikut berterimakasih.
Aku tersenyum karena semua telah beres dan juga bersyukur mang Cahya tidak membahas soal peristiwa di Cicendet. Di dalam mimpiku aku menjadi pengantin dan teh Indrilah yang menjadi pasanganku.