Keesokan harinya aku mengukur kembali Otongku. Tadi malam sudah kupakai obatnya. Panas banget efeknya, untung cepat-cepat aku angkat. Sebelum memakai obat, aku sudah pula mengukurnya, dan mencatatnya. Tapi sepertinya kok tidak ada perubahan?. Apa mesti sewaktu berdiri diukur perbedaannya?. Biar sajalah, aku mesti buru-buru berangkat, ke konter hape, dari kemarin mati belum berani kunyalakan karena takut rusak.
Di konter ternyata hapeku tidak perlu ada perbaikan, begitu dikeringkan dengan hair dryer dan dinyalakan, berdatanganlah pesan-pesan yang menumpuk dari kemarin, banyaknya dari teman-teman main game, yang menanyakan aku tak pernah lagi online bermain bersama mereka. Dari Mamahku kemarin, miscall dan pesan yang menyuruh pulang.
Dari Budhe tadi pagi, yang menanyakan jam berapa datang. Dan yang membuat jantungku berhenti sejenak adalah pesan-pesan dari si Teteh Esih.. pujaan hatiku, yang telah menghancurkan hatiku. Aku buka ternyata berisi ketikan huruf P atau hanya menulis ‘A’? saja, atau ‘Aa kemana aza..? ’, dan ‘A’, katanya mau main kerumah?
Ada sekitar 14 pesan dari dia, juga 4 miscall. Aku jadi bingung, aku telah berjanji untuk melupakan dia, tapi hati ini tetap saja ingin bertemu. Aku tak bisa main hati lagi ke dia. Aku beranjak pergi setelah membayar di konter. Aku kerumah Budhe saja ah, Budhe Yeyen adalah resep pelipur lara hatiku yang sedang galau, resah, gundah gulana.
Sesampai didepan rumah Budhe, aku terheran karena ada mobil dinas RSUD tempat Bapakku bekerja. Mobil itu menghalangi garasi. Aku jadi tidak bisa memasukkan motorku. Kuparkirkan saja motor Mas Agus itu dekat taman, agak jauh memang tapi daripada parkir didepan rumah orang.
Aku memperhatikan mobil itu ketika kumelewatinya masuk ke rumah Budhe. Aku berpikir-pikir siapa yang sedang berkunjung kesini. Jangan-jangan Bapakku?. Aku membuka pintu depan rumahnya tanpa mengetuk, memang sudah terbiasa seperti ini. Setelah didalam baru ku menyapa “Assalamualaikum..”.
“Wa alaikum sallam.. sopo ta? Tamu..? monggo pinara.. ora ketok, sopo? (siapa? Tamu? Silakan masuk.. ga kelihatan, siapa?)”.
Ternyata si Mbah yang menjawab, ia duduk di kursi kesayangannya dekat kamar mandi.
“Ya Mbah?”, balasku bertanya karena tak mengerti. Setelah mencium tangannya, aku baru memperhatikan sekeliling, tak ada orang lain disitu, di ruang tamu, ruang tipi dan di mana-mana. Sepi. Tapi ada bekas-bekas gelas dan orang habis bertamu kelihatannya.
“Nduuuk..!, iki lho enek tamu..!, adi’e Agus yo?.. sopo jenenge? (Naak, ini ada tamu, adiknya Agus ya? Siapa namanya?)”.
Baru lah terdengar suara grabak grubuk dari kamar Budhe. Seperti ada orang yang terburu-buru didalamnya, entah sedang apa. Aku tercenung dan mendekat ke arah pintu kamar, terdengar suara orang berbicara panik dengan berbisik-bisik. Aku kaget, wah jangan-jangan..?. Aku terkejut dengan pikiranku sendiri, jangan-jangan Bapakku yang sedang didalam kamar.
Tapi terlambat, pintu kamar terbuka. Aku melonjak kaget menghindar berpura-pura sedang tidak mendengarkan. Didalam kamar gelap, gordengnya ditutup dan lampunya dimatikan. Persis seperti kemarin ketika aku begituan dengan Budheku didalam situ. Tak terlihat orang, kelihatannya ngumpet.
“Lek..? ”, Budhe menyapaku sambil senyum cengengesan. Ia seperti agak malu. Aku lupa untuk balas tersenyum, mencium tangannyapun tidak. Aku akan lebih malu lagi kalau yang keluar dari kamar selanjutnya adalah Bapakku, itu yang kukuatirkan. Aku menunggu orang itu keluar. Tapi ternyata tidak setelah beberapa lama.
“Nunggu apa ta?, ayo duduk dulu di teras sana, mau minum apa..?”. Budhe masih cengengesan, ia mendorongku untuk pergi keluar ke teras sana. Aku menggeleng cepat, masih kutunggu orang berikutnya yang keluar dari kamar.
“Siapa..?”, tanyaku.
“Mana? Ga ada siapa-siapa..! ayo.. tunggu dulu disana.. diteras ae..! ”, Budhe mendorongku sekali lagi dengan nada bicara yang agak ditekan. Aku menurut saja. Begitu sampai di ruang tamu, Budhe berbalik lagi ke dapur untuk membuatkanku minum. Aku menunggu sesaat, setelah itu kembali ke hadapan si Mbah lagi, dekat pintu kamar Budhe.
Aku duduk di kursi meja makan berusaha tak mengeluarkan suara. Mbah Ren menatapku tanpa berkata, aku mungkin kelihatan kabur dimatanya yang sudah tua itu. Dan dia sedang sibuk mengira-ngira aku ini siapa.
Didapur, Budhe menatapku dengan gelisah. Ia mau mengatakan sesuatu tapi tak jadi, Kemudian ia berpura-pura sibuk saja di dapur, pasrah.
Clek..! pintu kamar yang tertutup terbuka. Seorang laki-laki keluar. Tadinya ia celingukan kesana kemari, tapi begitu melihat wajahku yang sedang duduk di depan situ, ia terlonjak kaget. Kemudian setelah menenangkan dirinya, baru ia tersenyum padaku.
“Eeeeh, aya Reggi geningan.. (ternyata ada Reggi)”, tegurnya dengan senyum dikulum, mungkin saking terkejutnya ia jadi menyebut nama lengkapku. Aku juga tersenyum lebar. Bernafas lega. Ternyata bukan Bapakku.
“Eeeeh.. Pak Mistin… aduuuh kamana wae..? (Kemana aja) hehe”, senyumku makin lebar menuju seringai sebetulnya.
“Aah ada aja.. Egi yang kemana aja ga pernah keliatan.. hehehe..”, jawabnya rikuh malu-malu.
Aku terbahak mendengarnya, baru kemarin rasanya kita bertemu, di hotel Nasty, dan kini 2 hari kemudian kami berbasa-basi satu sama lainnya.
”Makin ganteng aja pak Mistin hahehehe..”, lanjutku.
“Aaah biasa… ganteng kumaha? (gimana) Ngaledek wae (melulu) si Egi mah..”, candanya sambil merapi-rapikan seragam RSUD yang dipakainya, putih hitam, ada nametag nya di dada kiri, A. Mistin.
Budhe kemudian keluar membawa segelas teh manis panas untukku, ia juga tersenyum garing. Wajahnya masih malu-malu. Aku perhatikan dia memakai seragam ngentotnya, daster pendek itu, hanya memakai celana training lagi didalamnya. Sudah jelas bagiku sekarang, siapa pacar Budhe ternyata. Tapi yang ini sama sekali tidak membuatku cemburu.
“Tumben.. Gi?, main kesini..? perasaan jarang ya Egi main kesini?”, tanya pak Mistin mencari bahan pembicaraan. Ia ikut duduk akhirnya. Budheku menatapnya, protes dengan pertanyaan itu.
“Iya Pak, jarang… kalo pa Mistin sih sering ya?, hahahehehe..”, jawabku menggodanya. Budhe tertawa sambil mengibaskan tangannya ke pak Mistin.
“Hoahahah.. ngga. Dia juga jarang.. hahaha”. Budhe yang menjawab pertanyaanku. Pak Mistin jadi tertunduk, menyesal dia salah dalam memilih kata. Jadi terkesan mereka sudah lama berpasangan memang soalnya.
“Ini ngembaliin motor.. Pak, kemarin kesini bawa mobil Budhe, pulangnya bawa motor mas Agus… sekarang dikembalikan”. kataku menawarkan suasana. “Eh, saya pulang duluan ah.. ga enak udah ganggu… eh, ini ditungguin sama Mamah sayah..”.
Aku menaruh kunci motor diatas meja.
“Eeh mau kemana?, ngaganggu naon maneh mah (ngeganggu apa kamu?).. hahaha. Pake apa pulangnya?”. Pak Mistin menengok keluar lewat pintu. Wajahnya sudah datar sekarang, tidak terkesan kuatir dan malu-malu lagi. Lega mungkin aku tidak menyinggung-nyinggung soal kamar Budhe.
“Bareng aja Gi.. saya juga mesti ke RS lagi ini.. kerja lagi”. Kata Pak Mistin sambil bangkit. Aku juga berdiri.
“Oalah.. ini minumnya dihabiskan dulu.. Lek..?”, Budhe memprotes. Akupun buru-buru menghabiskannya walau masih agak panas.
“Pak Misting ga minum Pak..?”, tanyaku.
“Udah tadi.. minum Ja…”, Budheku berhenti tak meneruskan.
“Jamu..?!”, seruku meneruskan. Semuanya tertawa.
Pak Mistin berjalan duluan, ia berpamitan pada Mbah Ren dan Budhe.
“Iyo.. hati-hati Mas..”. Budheku menjawab lembut.
Aku hendak beranjak mengikuti mas Mistin, tapi Budhe Yen telah mencengkram dulu kaus di bagian perutku. Tangan satunya mengibas didepan wajahku.
“Awas.. jangan bilang-bilang Bapakmu atau Ibumu lho ya? Awas.. nanti aku bilang kamu ngintip aku mandi teros genit pegang-pegang pantatku kalo kamu bilang-bilang.. Pokoknya jangan bilang siapa-siapa.. awas.. lho!”. Budhe berkata dalam nada yang mengancam. Serius. Aku kaget dan ketakutan jadinya.
“Iya Budhee… masa aku bilang-bilang..?”.
Budhe melepaskan cengkramannya. Senyumnya telah kembali lagi.
“Gimana obat anunya? Manjur?”.
Aku menggeleng cepat, “Belum Budhe.. kan masih belum 24 jam..?”.
“Oooh.. iya nanti Budhe liat ya?”. Kini nada suaranya berubah menjadi manja dan memikat lagi. Aku malah mundur terkejut dengan perubahan ini, dan mengangguk-angguk cepat mengiyakan. Tangan Budhe meraih kebawah ke selangkanganku tanpa sempat kucegah.
“Waw..!”, seruku kaget lagi, ketika ia menjepit Otongku dengan jarinya. Kemudian setengah berlari aku keluar, menuju pak Mistin yang sudah menunggu di mobil. Aku naik disebelahnya.
“Hayu.. ka imah lain..? (ke rumah bukan?)”, tanya pak Mistin ramah. Aku mengiyakan.
“Oh iya Lek..!”. Budhe berlari menuju jendela mobil pada sisiku. “Si Sri..! iya si Sri..! mau balik kesini lagi… kamu inget dia ga..? itu dulu dia luaama kerja di Klinik Ibumu..”. Aku mengingat-ingat.
“Si Sri.. anu rada hideung gening (yang agak item gitu).. jangkung..”. Pak Mistin membantu mengingatkan.
“Oh iya.. saya tau..!”. Aku ingat dia.. Sri.. jangkung, manis, semok dan berdada besar. Dia adalah salah satu bahan untuk coliku di masa SMP dulu.
“Iyooo sesok atau lusa palingan datang… dulu kan dia tidur dirumahmu?, sekarang gak tau.. wes yo terserah Ibukmu lah… yang penting kamu bantu omongi Ibukmu, biar dia bisa kerja lagi.. yo?”.
“Okeee Budhe.. siaap..”.
“Iyo.. hehehe, mas Mistin jangan kapok lho ya main sini.. hihih”, Budhe tersenyum menggoda dengan manis. Pak Mistin memerah wajahnya mengangguk-angguk. Aku tertawa melihatnya.
“Weleh.. motornya kok disimpen disana leek..? jauh halah.. malas aku.. beh.. cah gendeng ngerjain wong tuek..”. Tapi mobil sudah bergerak meninggalkan Budhe yang sedang ngomel-ngomel.
Di perjalanan, pak Mistin berceramah panjang lebar mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan padaku, juga mengenai arti anak istrinya dirumah bagi dirinya. Bagaimana bahaya terancamnya retak rumah tangganya bila aku bocor dan tak pandai menjaga mulut. Aku benar-benar merasa lega ketika mobil sudah sampai didepan rumahku.
“Dadaaaah.. Mas Mistin.. terimakasiiih…”. Lambaiku. Pak Mistin tertawa nyengir.
“Gelo siah..! (gila lu)”, jawabnya.
Di kamar, aku termenung memandang hapeku. Bagaimana pesan-pesan dari teh Esih telah menggembirakanku sekaligus membuatku banyak berpikir. Kalau aku berhubungan lagi dengan teh Esih, apa nanti aku akan patah hati lagi?. Tapi di sisi lain, aku memang suka padanya, tidak hanya suka pada orangnya tapi suka juga berhubungan badan dengan dia.
Ooooh aku tau bedanya. Ya jelas aku tidak akan cemburu sama pak Mistin, karena Budhe kuanggap hanya sebagai alas kelaminku saja, bukan tambatan cinta. Bodo amat dia mau bercintaan dengan siapapun, toh yang penting dia masih bisa jadi pelampiasan nafsu bodoh tapi enak si Otongku ini. Kalau Esih? Aku terlalu berharap tinggi, justru sebenarnya aku lah yang rugi kalau kami sampai memadu cinta, bukan memadu kelamin.
Aku menepak tanganku. ‘Iya itu dia.. ’, Mau tak mau kini, suka atau tidak suka, aku tak boleh mengharapkan dia bertumpu pada aku saja. Aku hanya bisa berharap, aku adalah salah satu kontol yang disukainya. Dengan begitu, aku masih bisa mengentot dirinya, tanpa ikatan apapun. Dan mudah-mudahan masih bisa disuap dengan uang seperti kemarin.
Aku mulai mengetik membalas pesannya kemarin.
“Hi.. iya Teh, maaf kemarin hape Egi basah kehujanan, sekarang udah bener, Teteh dimana? Ketemuan yuk..?”. Aku pencet send, lalu menunggu. 4 menit kemudian, pesan itu berbalas.
“Oooh pantesan kmrn ga aktip. Hayu atuh, katanya mau main ke rumah?”
Aku memutuskan untuk menelponnya, telp diangkat, terdengar suara bising di belakang, ia berada di keramaian kelihatannya.
“Halo A? yeee… hahaha.. kemana ajaa..? hahaha, di tunggu-tunggu dari kemaren..”.
“Hehe iya ada Teh, hapenya ruksak, Teteh lagi dimana?”.
“Lagi diluar sekarang mah.. A’”
“Ketemuan di luar aja yuk Teh?”.
“Di rumah aja atuh A’, ini si Mamah pgn ketemu.. hahaha”. Walah.. jadi deg-degan aku.
“Mamah pengen ketemu? Waduuh.. ada apa emangnya?”.
“Ngak ada apa-apa, pengen kenal aja, da kenaleun cenah ka keluarga kamu, Bapa kamu sama Mamah, pada kenal cenah (katanya)..”.
“Ooooh..”, aku jadi ragu-ragu. “Iya atuh”, tapi kataku. “Jam berapa? Kan kamunya, teh Esih masih diluar..?”.
“Sore aja… tau gak rumah Esih? Di Cicendet A’..”. Wah.. Cicendet? Daerah cadas itu, serem, banyak premannya. Ia kemudian menyebutkan alamat lengkapnya serta ciri-ciri rumahnya, ‘pagar hijau..’, katanya. Aku semakin ragu-ragu.
“Teh..? ketemuannya diluar aja atuh?, kan dirumah kamu mah ga bisa pacaran mereun (mungkin)?”.
“Hahahaha.. bisa A’, tenang aja… hahaha..”.
“Ya udah atuh, nanti Egi kesana..”.
Telp ditutup, aku melamun, daerah situ daerah yang dicoret hitam menurut teman-temanku, banyak preman kota kami dilahirkan dari situ. Aku ragu-ragu akan keamananku. Maka kemudian aku mengirim pesan pada pamanku.
“Mang?, ini Egi mau main ka Cicendet, aman moal (ga ya) nya?”.
Pamanku langsung menelpon sebagai balasannya.
“Wahahahaha.. rek naon siah ka Cicendet? Ulin ka si Esih nya? Hahaha, gelo siah Egi? Ulin ka imah janda? Dicarekan ku si Mamah geura? Hahaha.. (Mau ngapain kamu ke Cicendet? Main ke si Esih ya? Gila kamu Egi? Main ke rumah janda? Dimarahin sama si Mamah nanti?).
“Lain.. aya babaturan Mang.. didinya.. (bukan, ada teman Mang, disitu)”.
“Ah siah.. ngaku weh lah.. (ah kamu, ngaku aja), aman Gi.. tong (jangan) kuatir, sebutkeun weh ngaran (nama) Mamang didinya.. (disana)”.
“Hahaha.. anu bener (yang bener)?”.
“Enya.. eeeuh teu percaya, saha anu macem-macem didinya, diacak-acak ku aing imahna.. (iya, eeh ga percaya, siapa yang macem-macem disitu, gua acak-acak nanti rumahnya), eta imahna si mang Gio didinya Gi… dijerona (Itu rumahnya si mang Gio disana Gi, didalemnya), aman disana mah jangan kuatir.. temen Mamang banyak disana..
“Oooh iya sebutin aja Mamang ya?”.
“Enya, geus tenang.. hehe etana atuh Gi? (iya udah tenang.. itunya dong Gi?)”.
“Apanya?”.
“Uang rokok lah buat tutup mulut nih, Mamang keur garing pisan ieu, keur ngaroko ge eweuh.. (Mamang lagi kering banget ini, buat ngerokok aja ga ada)”.
“Hahaha.. maenya (masa) ah bohong si Mamang mah..?”.
“Bener.. engke digantian (nanti digantiin) lah Gi… daripada Mamang kelepasan ngomong nih sama s Bapak sama si Mamah.. hahahaha”.
“Gelo..”, kataku dalam hati. “Iya iya iya Mang, bentar dikirim..”.
“Hahaha nah kitu atuh.. (gitu dong) hahaha, buruan nya Gi? Ditungguan langsung ka ATM Mamang”
“Iyah.. ”, jawabku. Tut telp ditutup. Aku memencet M-banking pada hapeku, untuk mengirim sejumlah uang pada Pamanku. Memang sudah semenjak aku SMA kami begitu, saling meminjam uang. Tapi bila Pamanku punya uang lebih, dia sering membelikanku barang-barang yang bagus, hapeku ini misalnya. Kemungkinan sekarang ini usahanya sedang seret, proyek-proyek Pemerintah tempat biasa dia bermain belum pada cair mungkin.
Aku kini bersiap hendak meluncur ke rumah teh Esih, walau nanti sore janjiannya. Masih 3 jam an lagi, tapi aku mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk minum jamu Budhe dulu. Siapa tau bisa pacaran di rumahnya nanti.
Mobilku memasuki jalan masuk ke alamat yang disebutkan oleh Esih tadi, jalannya cukup untuk dua mobil. Aku tinggal mencari ciri-ciri rumahnya sekarang, pagar hijau katanya. Nah itu dia.. pas ketika aku memarkir didepan rumah dengan pagar hijau, telpku berbunyi, paman Cahya lagi.
“Gi naha? Ngan 150 geuningan? (Gi kenapa? Ko cuma 150?)”.
“Oooh pan cenah kangge rokok hungkul? Hahaha.. cukup atuh? (Katanya cuma buat rokok doang?)”.
“Hahaha, sia mah dasar.. jadi ka imah si Esih teh? (dasar kamu.. jadi kerumah si Esih?)”.
“Jadi.. ini udah parkir didepan rumahnya..”.
“Pake mobil? Walah.. kade (hati-hati) Gi, sok (suka) iseng urang dinya (orang situ) mah, bilangin aja ponakan mang Cahya gitu.. bener Gi”.
“Iyah Mang..”.
Di teras depan rumah teh Esih ada seorang pemuda yang bertelanjang dada yang sedang duduk disitu. Ada tato di lengan kanan dan kirinya. Ia sedang duduk merokok disitu, aku jadi ragu-ragu, agak takut untuk masuk ke rumahnya. Tapi kuberanikan diriku masuk dan bertanya padanya.
“Punten A’? dupi ieu leres bumina teteh Esih? (Permisi, bener ini rumahnya teteh Esih?)”. Aku bertanya dengan sopan, pakai bahasa sunda halus pula.
Pemuda itu sedang bersandar dengan kaki naik diatas sofa single bututnya, ia tidak segera menjawab pertanyaanku, ia kelihatannya malah kesal diganggu olehku. Dia malah menyipitkan matanya dan balas menjawab dengan ketus.
“Teuing atuh… anu milarian saha..? (ga tau, ini yang nyari siapa?)”.
“Abdi Egi. Rerencanganna teh Esih.. (saya Egi, temennya teh Esih)”, jawabku tetap sopan tak mempedulikan ketusnya jawaban pemuda itu. Dia semakin keberatan dengan keberadaanku disana kelihatannya. Dia duduk tegak melotot tegang, seolah jawabanku tadi telah menghina nama baik ibu kandungnya. Aku memang jadi pengen cepat-cepat pergi jadinya.
“Darimana..?”, tangannya menunjuk wajahku.
Sementara dari dalam terdengar suara perempuan menanyakan ada siapa diluar. Pemuda itu menjawab temannya kamu Esih, dia menatapku malas, kemudian menyulut lagi sebatang rokok, meneruskan lamunannya.
Di pintu, si teteh Esih berteriak riang menyambutku, aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa perempuan pujaanku itu telah menyelamatkanku. Aku tersenyum dengan tulus kepadanya.
“Aaaaah.. si Aa datang juga ternyata.. hahah, udah lama? Ayo masuk-masuk, udah ditungguin dari tadi, kirain ga jadi datang..”. Akupun tertawa menyambut keriangannya, tak lupa dengan sopan melewati si pemuda ketus itu. Dia tak mengindahkanku, si pemuda kampret itu.
“Ayo duduk, biarin dia mah.. A Maman namanya, masih sodara, adeknya si Mamah yang paling kecil.. baik sebenernya orangnya kalo udah kenal mah.. aku tak peduli padanya sebenarnya, tapi aku tetap senyum ramah mengiyakan mengangguk. Esih dengan ramah menyambutku, menggandeng tanganku untuk duduk disebelahnya.
“Maah.. ini si Aa udah datang.. sok duduk, mau minum apa A’? kopi? Ya? Bentar..”.
Teh Esih masuk sebentar dan kembali membawa rokok. Ia duduk di sebelahku. Ia menyulutnya dan memegang lenganku. Ia tersenyum sambil memandangku. Si Otongku langsung naik jadinya. Akupun masih terpesona olehnya, dia semakin cantik menurutku. Berdandan seolah mau pergi. Pakaiannya pun masih seperti dulu, kaus ketat tapi kali ini tidak U Can See, dan celana jeans ketat.
Lagi enak-enak seperti itu, tiba-tiba si pemuda kampret, mang Maman, muncul wajahnya dari balik tembok teras.
“Sih..? hampura.. eta aya keneh rokok? (Maaf, itu rokoknya masih ada?)”, tanyanya pada teh Esih.
Esih melihat pada bungkus rokoknya. “Eeeuh tinggal sabatang A’, sok ambil kalau mau mah..”.
“Ah tinggal sabatang mah, keun wae lah.. kedeung engke ka warung.. (biarin aja deh, sebentar nanti ke warung)”.
“A Maman.. Ini ga kenal? Ini ponakannya si kang Cahya?”. Kata teh Esih menunjuk padaku.
Jidat A Maman berkerung mengingat. “Kang Cahya mana? Kang Cahya urang (kita)..?”.
“Enya (iya) ih..”, teh Esih geregetan memandangku.
Wajah A Maman langsung berubah, tadinya kerung langsung berubah ramah. Dari gelap terbitlah terang. Kini ia menyambutku seolah aku adalah sanak saudaranya sendiri.
“Wuaduuuh.. kenapa ga bilang.. waduh maaf saya ga tau.. kirain siapa, berarti ini anaknya kang Budi? Maaf Dokter Budi atuh ya? Aduh maaaf, Mamang ga tau.. hahaha.. ”, ia lalu berdiri kemudian mengajak bersalaman padaku. Aku mencium tangannya, karena dia membahasakan dirinya sebagai Mamang, paman Esih ya Pamanku juga jadinya.
“Waaaah.. mirip bu Dokter Linda ini mah ya? Siga (mirip) orang Tionghoa.. hahaha maaf ya? Aduh ini mah siga keluarga sendiri atuh, Mamang sampe ga ngenalin..”. Aku mengangguk sopan. Dengan kikuk ia mengambil bungkus rokok teh Esih.
“Eeeh enya, tinggal sabatang (iya, tinggal sebatang).. hahaha poho, grogi mereun Mamang yeuh.. (haha lupa, grogi mungkin Mamang nih) hahaha”.
Semuanya tertawa, aku berdiri kemudian.
“Kedap atuh.. (sebentar ya) Egi ka warung heula.. (dulu)”.
“Eeeh ulah (jangan) Gi, ulah.. ku Mamang weh.. biarin..”, dia semakin malu-malu.
“Gapapa Mang.. Mamang rokokna naon (apa)? Mang maman menyebutkan dengan tidak enak. Teh Esih tersenyum lembut memandangku. “Biarin sama Esih aja ke warungnya, sini mana uangnya? ”, tanyanya berbasa-basi. Tapi aku sudah menggerakkan badanku. Warung terlihat ada di sebelah kiri tadi. Masuk lagi kedalam dari arah jalan besar.
Kios Warung itu dihiasi dengan gambar dan warna cat LSM seperti LSM pamanku. Ada foto-foto mereka para anggota sedang berfoto berjajar, ada lambangnya dan lain-lain. Si pemilik warung berambut botak karena rontok di kepalanya. Jaket LSM nya ia sampirkan di paku didinding belakang tempat ia berdiri. Ia menatapku seolah melihat seseorang yang pernah dikenalnya.
Aku menyebutkan rokok A dan rokok B, juga serangkai kopi kegemaranku. “Berapa?”, tanyaku. Ia tersenyum seolah telah menemukan jawaban.
“43 ribu”, jawabnya, “Buat siapa..?”, tanyanya kemudian. Aku heran kenapa dia mau tahu.
“Buat Mang Maman sama teh Esih..”. jawabku walaupun agak risih menjawabnya, bukan urusan dia sebenarnya.
“Ooooh iyah, kirain kang Regi sekarang udah merokok ..”, ujarnya sambil tersenyum
Aku terbelalak, “Ngga.. belum..”, aku menatapnya heran kok bisa dia mengenalku. Ia terkekeh.
“Lupa ya ..? Kang Regi? Udah lama sih ya ga ketemu..”, ia kemudian memakai topinya. Barulah seberkas sinar menerpa wajahku. Aku ingat siapa dia..
“Kang Edi..?!, wah wah wah.. kok ada disini waduuh maap Egi ga liat tadi, atuh jadi gendut sekarang mah.. hahaha”. Aku mengajaknya bersalaman. Tapi ia keluar dari kiosnya, memelukku erat seperti aku ini sahabat lamanya.
“Bisa ya kita ketemu disini?, saya mah memang disini da.. itu rumah masuk ke Gang situ, Udah ga markirin lagi sekarang di Klinik, udah lama..”.
“Saya juga udah lama ga ke Klinik, semenjak si Mamah udah bisa nyetir, udah ga dijemput lagi.. hehe”. Aku ingat kang Edi ini adalah tukang parkir di Klinik Mamahku, kalau aku ikut Bapakku menjemput Mamahku, kami sering bertiga mengopi di parkiran. Kadang kalau Klinik lagi sibuk, kami suka sampai jam 10 malam.
“Wah udah sukses sekarang kang Edi, udah ga markir lagi, Alhamdulillah..”.
“Ah engga.. ga markirin lagi teh soalnya itu.. pengelolanya kurang enak sayah kang Egi, enak dulu sama Mamah kang Egi.. pengertian..”.
“Oooh si Richard mah memang begitu, sok tau manehna mah, suka sok taat peraturan.. ”, aku menyebut adik sepupuku yang mengelola Klinik itu sekarang, dia keponakan Mamahku. Bagus memang, cuma kadang tidak punya perasaan. Banyak pegawai lama yang tidak cocok dengannya. “Nya kumaha atuh Kang, ceuk si Mamah ge da dulur keneh sih si eta mah..
“Wahahaha.. abong-abong (mentang-mentang) anak kesayangan bu Dokter Linda ieu mah haha.. ah udah ah biarin, gentian sama anggota lain.. hehe”.
Dia meninju perutku pelan.
“Atuh mau kemana?, hayu atuh mampir dulu dirumah..?”, tanyanya sungguh-sungguh bukan berbasa-basi. Aku mengucapkan terimakasih dan hendak buru-buru ke rumah teh Esih lagi.
“Oh lagi kesitu ya?, hati-hati ah kang Egi, baik sebenernya keluarganya mah, cuma itu Bapanya, si Dedi tah, banyak yang ga suka.. pikasebeleun (nyebelin) orangnya, suka nyari-nyari kesempatan, si Abah juga gak suka sama dia, Mang Umbed.. Om Umbed mereun (mungkin) kang Egi nyebutnya mah..”.
Aku menggeleng, “Ga kenal da Kang..”.
Kang Edi tertawa, “Hahaha.. masa ga kenal.. hahaha sering ke rumah juga, sering tidur dirumah kang Egi, haha masa ga kenal?”.
Aku menggeleng, dan cepat-cepat pamit, kang Edi melambai sampai aku masuk ke rumah teh Esih lagi. Mang Maman berdiri menyambut di teras rumah, “Darimana kang Egi? Dari rumah si Abah dulu bukan? Om Umbed? Aku termenung lagi mendengar nama itu, kok semuanya nyebutin nama itu sih?, siapa dia ya?, aku tidak tahu, katanya sering kerumah, berarti aku belum pernah bertemu.
“Ga kenal saya Mang.. Om Umbed..”, kataku menggeleng sambil menyerahkan rokoknya. Mang Maman tertawa dulu terus berterimakasih, lalu ikut masuk kedalam rumah.
Ternyata Mamahnya teh Esih sudah ikut menunggu di ruang tamu, kopi untukku sudah dibuatkan. Mereka berdua segera berdiri menyambutku.
“Ini A’, mamah Teteh.. kenalin..”. Aku tersenyum mengangguk hormat, dan mencium tangannya. Mamah teh Esih menyebutkan namanya, “Elis..”, katanya segera setelah aku melepaskan tangannya.
“Eh, meni kasep nya? Ganteng.. mirip Mamahnya yah? Bersiih..”, mata mamah Elis menjelajahi wajahku dengan kagum. Esih tertawa bangga.
“Oh ini Mamah teh Elis atau kakaknya sih?, mirip ya? Cantik-cantik..”. Aku membalas pujian mamah Elis dengan rayuanku.
“Hohahaha..”, semuanya tertawa dengan gurauanku. Tapi kuperhatikan mamah Elis agak ge-er. Mang Maman ikut tertawa sambil berdiri dekat pintu.
“Bisa’an..”, kata dia. “Sih..? majarkeun teh cenah teu wawuh ka mang Umbed cenah.. (kata dia ga kenal sama mang Umbed katanya) hahaha”, kata mang Maman lagi menunjuk diriku, seolah itu lelucon lucu. Teh Esih dan Mamah Elis segera memandangku.
“Haah, masa ga kenal..?”, teh Esih tersenyum lucu, ingin aku mencium bibirnya. Lalu mang Maman berbicara pada Esih hal yang aku dan mamah Elis tak mengerti. Esih mengangguk-angguk pada mang Maman yang bercerita menjelaskan sesuatu.
Aku memperhatikan mamah Elis, dia berbadan kurus sebagai perempuan setengah baya. Kulitnya putih, walau tak secerah teh Esih, tubuhnya lebih tinggi sedikit. Rambutnya dipotong sedada, dibiarkan tergerai. Dadanya kecil, mungkin hanya sekepal, tertutup dasternya yang longgar berwarna merah muda bercorak batik.
“A Egi mau kuliah ya? Mulai kapan?”, tanya mamah Elis. Rupanya Esih sudah menceritakan sebagian tentang diriku. Apa sudah diceritakan pula bahwa anaknya itu mengambil perjakaku? Hahaha.
Aku mengangguk, “Iya mulai bulan depan, ada pengenalan dulu satu minggu..”, jawabku.
“Oooh”, ia segera menunduk lagi begitu bertatapan denganku. Ge-er kayaknya dia masih.
“Mamah umurnya berapa? 30 an ya? ”, godaku. Mamah Elis tertawa senang. Aku tidak tahu dia sadar atau tidak, tapi sambil tertawa dia menaikan dasternya sampai lutut, aku jadi bisa melihat kemulusan betisnya sampai lututnya. Apa dia lakukan itu agar di goda lagi? Atau hadiah atas pujianku?, aku tidak tahu.
“Masa Mamah 30? Mamah udah 45 sekarang, ih bisa aja A Egi.. ”, katanya centil. Kemudian menunduk lagi. Memainkan jarinya di ujung dasternya di atas lututnya. Aku berharap dia mengangkat ujung dasternya itu, biar agak kelihatan dalemnya. Harapanku terkabul, waktu berdiri hendak masuk kedalam, dia mengangkat sedikit dasternya, ada paha putih sekilas terlihat olehku.
“Kedalem dulu ah Mamah ya?, Esih?”.
“Iyah Mah..”, teh Esih terbagi perhatiannya. Tapi kemudian mang Maman juga pamit dengan sopan pada kami berdua.
Maka tinggalah kami disitu, aku tersenyum pada Esih. Dia mengangkat tangannya seperti senang telah mendapat undian.
“Yeeey ada si Aa kesini..”, dia menarik tanganku agar duduk berduaan dengannya di sofa yang panjang. “Duduknya disini.. katanya tadi mau apa? Pacaran..? hahaha..?’.
Aku menggenggam tangan kirinya, mencium pipinya. Tapi kemudian aku teringat sesuatu.
“Eh, nanti si Kokohnya Teteh marah ga?”, aku agak cemberut disitu. Esih langsung berlagak tidak enak.
“Iyah Teteh tuh mau cerita sama Aa sebenarnya, tapi keburu udah kepergok, heuheu..”. Ia membuang abu rokoknya ke asbak dulu. “Tapi Aa jangan marah ya? Eh, tapi wajar aja sih marah juga..”.
“Esih tuh sebenernya udah dijodohin A’, sama papahnya Esih yang di Jakarta. Ini teh temennya juga, koh Teddy namanya, orang Bogor, usahanya udah jalan.. di Bogor usahanya..”. Ia meneruskan.
Aku tercekat sedikit. “Dia duda?”, tanyaku. Esih menggeleng. “Bukan..”.
“Kok udah agak tua ya?”, tanyaku lagi. Esih mengangguk lalu tertawa, “Iya hahaha..”.
“Usahanya apa?”.
“Furnitur… itu tea A’ bikin sofa-sofa.. ukiran-ukiran, bagus-bagus teh..”, cerita Esih bangga. Aku jadi agak cemburu.
“Wah.. lagi berat itu, usaha itu, furniture..”
“Iya A.. memang, tapi dia mah udah ada langganan katanya, ekspor..”.
“Timur Tengah..?”, tanyaku. “Bukan.. ke Hongkong, Korea, Jepang..”.
“Ooooh hebat atuh..”, aku memandang kewajahnya. “Terus kita gimana..?”.
Teh Esih tertawa. ”Ga tau itu mah terserah Aa..”, aku bingung dengan jawabannya.
“Kamu selingkuh atuh? Kok masih jalan sama aku..?”, aku memegang tangannya lagi untuk memastikan dia masih ada perasaan denganku. Dia mengangkat bahu.
“Yaa kan Esih suka sama Aa, lucu.. baik, polos.. hahaha”, ia mencubit pipiku.
“Terus si mang Cahya gimana? Masa Teteh tidur sama aku terus juga tidur sama Pamannya..?”, aku mencoba melucu, tapi teh Esih langsung menarik tangannya dariku, ia kelihatannya tersinggung dengan kata-kataku tadi.
“Emang kita jadian..?”, tanyanya dingin. Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal.
“Ga tau, kirain kita udah jadian waktu di kota B?”, tangkisku.
“Teteh kan waktu itu ga jawab iya, kamu aja yang nyatain.. bener ga itu..?”. Waduh, keluhku dalam hati, jadinya marah dia.
“Kalau kita ga jadian.. terserah aku dong mau gimana-gimana sama siapa-siapa juga..?”, sambarnya lagi, suaranya bergetar mau menangis, ia kini bersandar di sofa menghadap ke depan.
“Oh iya iya atuh, maafin Egi, maafin tadi Egi ngomong sembarangan, Egi cemburu soalnya..”. Aku berusaha memeluknya, ia membiarkanku. Kupeluk dia, dan kuciumi rambutnya. Ia mematikan rokoknya dan kemudian balas memelukku. Ngocoks.com
“Tau ga A?, semenjak sama Aa itu, Esih belum gituan sama siapa-siapa lagi, yang ngajakin jalan juga banyak”. Suaranya masih bergetar, matanya berkaca-kaca.
“Si Kokoh Teddy?”, tanyaku bodoh dan penasaran. Ia tersenyum menggeleng.
“Dia mah paling ngajak makan A’..”. Tangan Esih kemudian mengusap wajahku.
“Kok? Bego ya dia si Teddy? Ada perempuan cantik begini gak di apa-apain? ”, kataku. Teh Esih tertawa. Kemudian dia mencium bibirku perlahan, aku diamkan, tapi begitu bibirnya menempel lagi, aku menciumnya kembali dengan penuh rasa. ‘Ah, sungguh lembut bibirnya.. Perasaanku melambung tinggi, tak kupungkiri.
Ketika asyik berciuman, masuklah seorang anak laki-laki yang seumuran denganku. Begitu melihatku, ia menaikan lengan bajunya ke bahu. Memamerkan tato di lengannya padaku. Aku mengangguk ramah. Ia diam saja.
“Anton.. !, ini kenalin..”, panggil teh Esih. Tapi si Anton ini cuma mengangkat wajahnya dan ngeloyor masuk kedalam.
“Biarin.. ade Teteh A’, yang lak-laki..”, kata teh Esih. Aku nyengir.
“Kok ga mirip ya? Aku heran karena adiknya itu kulitnya item. Tapi bibir teh Esih lagi-lagi hinggap di bibirku, menyuruhku melupakan semua yang ada di dunia ini. Tanganku mulai meraba-raba dadanya yang sekal. Dari tadi sepasang gunung itu hanya bisa kuperhatikan saja, sekarang akhirnya bisa ku remas-remas.
“Nanti..”, katanya.
“Kita keluar aja yuk..!, cari kamar dimana gitu..?”, kataku sudah penuh dengan nafsu.
“Iyah.. nanti-nanti.. ”, teh Esih berbisik di telingaku. Matanya menunjuk ke pintu kamar kedua yang terbuka di ujung ruang tamu. Aku mengerutkan kening tak setuju. Tapi teh Esih kembali mengulum bibirku, tangannya mengelus-elus kontolku dari luar celana. Aku menikmatinya, tapi tak berani mengerang, hanya nafasku yang jadi keras suaranya.
Sedang berada di pembukaaan kenikmatan itu, ada suara motor besar masuk kedalam garasi, aku melihat dua anak dengan seragam SMU menaikinya, yang didepan anak laki-laki dengan jaket kain berwarna coklat, di belakang anak perempuan agak gemuk bermuka masam. Setelah motornya mati, terdengar suara anak perempuan itu berkata pada temannya dengan nada agak tinggi.
“Eeeh kenapa ini..?”, teh Esih bertanya padanya. Gadis itu tak menjawab, tapi setelah melihat di dalam ia mencium tangan teh Esih.
“Ini kenalin Neng.. temen Teteh..”, teh Esh memperkenalkanku, gadis itu tersenyum sedikit di tengah cemberutnya dan mencium tanganku, lalu langsung ngeloyor masuk ke kamar no dua yang tadi ditunjuk Esih.
“Itu Titi.. adik Teteh yang bungsu, masih sekolah, ini tahun terakhir.. ”, teh Esih menjelaskan, aku mengangguk. Titi kulitnya mirip dengan mamah Elis, putih dan bersih, cuma wajahnya lain, mungkin mirip Bapaknya, oval. Badan Titi gemuk dan agak pendek. Dada dan pantatnya besar. Semok lah. Rambutnya lurus sebahu diikat dibelakang.
Kemudian masuklah pasangannya, langsung mencium tangan kami berdua.
“Asep..”, katanya sambil tersenyum dengan sopan padaku. Aku balas menganguk tersenyum ramah padanya. ”Egi..”, kataku. Asep duduk di kursi single didekat pintu masuk, sambil tetap tersenyum sopan.
“Kunaon sih..? pasea wae asaan teh.. (Kenapa sih? Berantem mulu perasaan..)”, teh Esih menegurnya sambil tertawa. Asep mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya, menyulut sebatang dan menggaruk kepalanya.
“Ah biasa Teh.. hehe..”, ia menaruh rokok itu di atas meja, “Rokok A’..?”, tanyanya padaku. Aku menganguk lagi. Teh Esih tertawa dan menjelaskan kalau aku tidak merokok. Asep tersenyum maklum, kemudian kami mengobrol tentang motor Asep yang ber CC besar itu, yang harganya 20 jutaan katanya.
Tak lama Titi keluar kamar dan ikut bergabung, ia sudah berganti dengan kaus dan celana pendek santai. Ia masih agak cemberut.
Teh Esih memegang tanganku, dan mengajakku berdiri, ia menuntunku ke arah kamar.
Bersambung…