Di pintu kamar ia berteriak pada Mamahnya yang sedang duduk menonton tivi di karpet ruang tivi dibelakang ruang tamu. Hanya lemari rak besar sebenarnya yang menjadi pembatas ruang tamu dan ruang tivi.
“Maah.. Esih dikamar yaa.?”. Dari pintu kamar kulihat wajah Mamah Elis yang ragu-ragu.
“Kan ada Titi sama Asep di ruang tamu..”, rayu teh Esih lagi pada Mamahnya. Akhirna Mamah mengangguk.
“Dibuka aja pintu kamarnya..”. Mamah memandang wajahku sambil berkata begitu, sorot matanya seolah mengisyaratkan bahwa dirinya ingin juga berada di kamar ini berdua denganku. Aku jadi ge-er. Tititku cenut cenut.
Tapi teh Esih menutup pintu kamarnya, mengoncinya, ia tidak menyalakan lampu. Aku nyengir padanya.
“Biarin.. A’”, katanya cekikikan. Ia membereskan sedikit sprei ranjang berukuran dobel itu. Aku melihat sekeliling. Gelap semua gordennya sudah tertutup, mungkin bekas Titi tadi mengganti baju.
“Ini kamar kamu Teh?”, tanyaku padanya. Esih tak dulu menjawab, ia menuntunku untuk duduk diatas kasur berduaan, kami duduk diujungnya.
“Iya kamar Esih berdua sama Titi.. Lalu dia menciumku di bibir, kami berpagutan mesra. Tanganku tak sabar langsung masuk kedalam kausnya. Mengangkat behanya, dan meremas kedua payudaranya. Teh Esih bereaksi dengan membuka kaus lalu behanya pula. Iapun tak sabar untuk membuka bajuku, diloloskannya dengan mudah.
Tanganku berusaha melepaskan kancing celana jeansnya, yang lalu terbuka dibantu olehnya, sekaligus celana dalamnya. Tubuh mulus telanjang itu kunikmati dengan merabainya tanpa melepaskan kenyotanku di dadanya. Jariku berhenti di vaginanya, sudah basah, kumainkan dengan lembut. Teh Esih mendesah sambil mengelus badanku.
“Aaaaahh.. Aa kemana aja? Esih kangeeeenn.. sssh.. ”, aku tak menjawab, aku ingin menjilati memeknya lagi. Kulakukan dengan menerobos-neroboskan lidahku masuk ke lubangnya. Esih makin mendesah, ia menggoyang-goyangkan selangkangannya agar makin tertekan oleh jilatanku. Ia sungguh menikmati percintaan ini.
Kubuka celana jeansku, ingin kuteroboskan saja kontolku ke memeknya, udah ga tahan aku. Begitu kuposisikan diriku, teh Esih malah bangkit duduk, ia mencium bibirku. Kontolku diraihnya sambil dikocoknya. Ia lalu merunduk untuk mengulumnya. Aku mendesah, servis Esih untuk yang ini sungguh nikmat, lain sama yang satu kemarin, yang udah agak tua.
Ia menatapku puas karena kepuasanku, kontolku masih didalam mulutnya, terlihat di pipinya tonjolannya. Didalam mulutnya, berputarlah lidah Esih menjilati kontolku. Aku bersandar ke belakang dengan kedua tanganku, merem melek karena kenikmatannya.
Esih berhenti mengulum, ia mengocok-ngocok kontolku. Wajahnya merenung seperti meneliti kondisi kontolku.
“Kunaon..? (kenapa?) ”, tanyaku.
“Kok kayak lain ya perasaan?”, tanyanya. Keningnya mengerut.
“Emang kamu hafal..? bisa inget gitu sama bentuknya..?”, aku terkekeh. Esih agak tersinggung kayaknya.
“Inget atuh ..!”, nada suaranya agak ketus, ia duduk kini menghadapku, ia mau berseru lagi dengan kata-katanya, tapi aku langsung memeluknya, mengelus punggungnya dan menghiburnya.
“Oooh iya ya.. inget ya?, ini atuh sekarang rasain sama memek kamu biar lebih kerasa, bener ga udah lain sekarang bentuknya..?”.
Aku membujuknya dan mengangkat pantatnya agar mendudukiku. Esih mengangkat tubuhnya agar duduk di pangkuanku sambl memelukku. Aku mengarahkan kontolku, Esih lah yang mengepaskan lobang kenikmatannya agar pas bisa masuk. Kontolku pun mulai memasuki celah itu. Enak sekali terasa, dihimpit dinding empuk hangat dan agak becek itu ketika masuk.
“Aaaah.. eeuuh.. asssh.. tuh kan lain A’? agak didalem sekarang mah ujungnya.. ”, desis Esih di telingaku, wajahnya mengernyit merasakannya. Aku termenung, jangan-jangan obat itu ada efeknya? Mudah-mudahan kataku, nanti akan kuukur agar lebih pasti. Tapi, Oh iyah, aku berseru dalam hati, kan tititku belum boleh kena air?
“Agak panjang kali sekarang..? kerasa?”, tanyaku pada Esih, ia diam ragu-ragu memandang wajahku dari dekat.
“Goyangin atuh? ”, pintaku. Esih mengangguk, dan mulai menggocek pantatnya. Waaah.. luarbiasa nikmatnya, memek becek Esih sampai bersuara, cek cek cek saat menggoyangku. Ia pun merasakannya. Terlihat dari desahannya dan wajahnya seperti sedang merasakan sesuatu yang paling enak yang pernah dirasakan dalam hidupnya.
“Eeeeeuuh, sssssh, aaaaaah… uuuuh.. heeeeeenggg.. sssssh..”, suara itu berulang-ulang di dikeluarkan dari wajah cantik itu. Aku senang dia mengalami kepuasan dan kenikmatan. Jadi bukan cuma aku yang menikmati persetubuhan ini.
Pantat Esih bergoyang keatas kebawah, kadang memutar, kadang maju mundur, sering juga menekan keras selangkanganku. Begitu menekan ke bawah sering pula kukejutkan dengan hentakan keatas agar terasa nikmat.
“Auuuh..”, katanya keenakan. Ia memutar kemaluannya sambil memelukku kencang. Kukunya mencengkram kulit punggungku.
“Assshh.. aaaaah..”.
“Mau gentian.. ”, tanyaku lembut di kupingnya. Ia tak menjawab, hanya mendesah nikmat yang dia lakukan. Aku bertanya lagi, karena kasihan dengannya takut kecapekan. Tapi lagi-lagi ia tak menjawab, hanya wajahnya berpindah dari kupingku yang satu ke kupingku yang lain, desahannya makin keras, goyangannya makin kencang.
Ia mendorongku ke belakang, “Diem ah’, sok tiduran aja A’..”. Aku bersorak dalam hati, dia pasti sudah dekat ke puncak, dan hendak melakukan gerakan-gerakan yang enak untuk kita berdua untuk meraihnya.
Benar saja, Esih memejamkan matanya dan mulai melaksanakan gerakan-gerakan liar diatasku, desahannya tak lagi ditahan, hampir seperti jeritan lirih. Aku mengerang dibawah menikmatinya, ‘mmmm… waaargh..’.
Esih tiba-tiba mengejut kencang, sambil mengejan “Hnnnnnngggg… auuuh.”. Ia jatuh lemas diatas tubuhku. Menciumiku di seluruh wajahku. Kepuasan memenuhi wajahnya.
Kemudian ia bergulir ke samping, membelakangiku. Aku belum puas, tapi tadi sedikit lagi hampir aku duluan yang bucat, pecah ketahanan spermaku, lagi tanggung banget. Maka aku memosisikan selangkanganku pada pantat Esih yang masih tiduran mebelakangiku. Aku pun masih tiduran. Begitu kontolku menyentuh bibir vaginanya, Esih pun membantuku agar penisku bisa memasukinya.
“Ah.. eh.. ah.. eh..”.
Sedang dalam posisi begitu, Esih seperti tersadar sesuatu, ia menoleh padaku.
“A? itu ada apa itu diluar? Meni rame orang..? sambil masih memacu, aku ikut mendengar-dengarkan, iya terdengar suara-suara seperti bapak-bapak dan ibu-ibu berdebat. Aku tak peduli, hampir diujung nih kontolku. Aku makin keras mengocok memek Esih, ia berkata sesuatu lagi, tapi aku tak mendengarkan, kupegang pinggang Esih agar lebih mudah kupacu.
“DUAK.! DOR.. DOR..!..”, Esih terlunjak karena kaget, aku juga. Karena itulah lalu kontolku tak mampu menahan, aku muncrat di lokasi terdalam memek Esih.
“Cret… Cret.. Creeeet…!”, “Aaaaah…”, nikmatnya. Aku mengejan lama, mataku membeliak karena kenikmatannya.
“Waaaaaah…”, Esih menjerit kaget. Ia buru-buru melepaskan jepitan memeknya di kontolku. Ia berdiri turun dari kasur sambil memandangku, wajahnya pucat pasi.
“Ini ada apa A’?”, tanyanya menunjuk pintu.
“ESIIIIH… Buka pintuna siaah..!”, terdengar suara marah seorang laki-laki diluar pintu, sambil tetap menggedor. Akupun loncat dari kasur, buru-buru memakai pakaianku.
“Bruk..! Bruk..!”. pintu bergoyang seolah sedang didobrak, tapi mungkin yang diluar tak sanggup mematahkan ketahanan pintunya.
“Bukaaaaa…!”, terdengar suara marah laki-laki lainnya. Esih membelalak padaku, ia hampir selesai memakai pakaian lengkapnya, tinggal celana panjangnya. Aku sih sudah beres.
“Iyaaa bentaaar..”, sahut Esih ketakutan, ia telah selesai berpakaian, tapi ditengah kepanikannya itu ia masih sempat berujar kecewa kepadaku
“Iiiiih Aa.. tadi dikeluarin di dalem ya? Heeeeeuuuh… A’a maaah… ”, Esih merengek melompat-lompat seperti anak kecil. Aku terkejut dan merasa tidak enak.
“Hiya maaf tadi.. abis kaget atuda.. (abisnya)”, aku balas merengek. Aku cepat memutar anak kunci pintu kamar. Begitu mau kubuka, pintu itu langsung membuka kencang, dan hampir mengenai Esih.
“Awas..! ”, teriakku padanya. Baru aku mau melihat siapa yang melakukannya, satu kepalan tangan melayang mengenai hidungku, pandanganku langsung buyar, warna merah dan hitam menggantikannya. Aku terjerambab jatuh ke belakang. Begitu pandanganku normal lagi hampir satu tendangan bersarang di badanku.
Tapi Esih mendorong pelakunya sambil menjerit, lalu ia balas memukul orang itu di wajahnya. Orang itu ternyata Anton adiknya, ia marah lalu memukul wajah Esih sehingga gadis kesayanganku itu jatuh pula terduduk. Esih langsung menangis kesakitan. Aku langsung memeluknya untuk melindunginya dari pukulan-pukulan selanjutnya.
Tapi ada orang dibelakang Anton yang menarik anak keparat itu, suara banyak perempuan dibelakang mereka menjerit-jerit, bapak-bapak pun berteriak mencegah kejadian selanjutnya.
Aku berusaha mencerna dulu kejadian ini, kenapa pula ini?, ada apa?. Kulihat ada beberapa Bapak-bapak disitu, dan yang memegang Anton adalah Asep, pacarnya Titi tadi. Ia berseru-seru menenangkan. Dan bapak-bapak dibelakangnya, yang belum pernah aku lihat sebelumnya, mencoba menenangkan dan membimbing kami berdua untuk keluar dari kamar.
Setelah masuk dan didudukan berdua di ruang tamu. Aku mulai mengerti persoalannya. Kami dikelilingi, dan didudukan sebagai terdakwa berdua. Aku mulai marah, terutama dipicu oleh menangisnya gadis cantik yang kupeluk disebelahku ini, dan perihnya hidungku.
Kami ini, aku dan Esih, istilahnya yang dipakai oleh masyarakat kita, telah digerebek oleh warga. Penyebabnya biasanya karena Zina, dan seperti umumnya pula terjadi di masyarakat kita, kami ini akan dipaksa dikawinkan. Aku mulai mengerti, darahku mulai mendidih.
Warga sekitar banyak berkumpul diluar, yang didalam yang duduk dihadapan kami ada empat orang Bapak-bapak yang duduk berhimpitan di sofa panjang untuk bertiga. Aku belum pernah melihat mereka. Di sebelah kiri, di sofa butut yang juga panjang, ada Mamah Elis yang terus memarahi Bapak yang diujung sofa yang paling dekat dirinya.
Disebelah mamah Elis ada Titi yang masih pucat kebingungan, dan di sebelah kanannya Anton yang tengah merasa puas akan dirinya. Dan Asep berjongkok di sebelahnya untuk mencegah terjadinya kembali perkelahian. Di kursi single kanan ada Mas-mas yang memakai pakaian seperti Ustadz. Ia tak henti-henti melihat kanan kiri mengucapkan lafal agama dan menenangkan.
Esih masih sesenggukan, aku pun membisikinya dengan kata-kata yang menenangkan. Tapi Esih melotot pada bapak yang dihadapannya, yang masih sesekali dimarahi mamah Elis.
“Rek naon maneh..?, teu nyaho adat siah..!! (Mau apa kamu? gak tau etika lu..!!)”, Esih memaki kasar pada Bapak itu. Mas Ustadz menenangkan Esih dan meminta untuk segera dimulai.
“Ehm… !, baik terimakasih.. segera dimulai saja acaranya..?”. Orang itu berkata resmi sambil memandang berkeliling. Aku hampir meledeknya dengan sinis, acara apa ini? Rapat 17-an kah?, hahaha.
“Baik.. Ehm..! Yaah perkenalkan dulu nama saya Ardi, saya RT setempat disini, kebetulan masyarakat disini mempercayakan pemilihan RT kemarin kepada saya, walau saya warga terhitung baru yah? Rekan-rekan? Tapi.. oleh karena saya memandangnya sebagai amanah.. maka saya…”.
“Kaduhung eta oge..!! (Menyesal itu juga !!)”, Esih menyela marah. Mamahnya ikut bersuara setuju, ia turut berteriak menyesali juga. Anton melotot pada Esih, ia berdiri. Aku pun berdiri marah, selangkah ia maju lagi, akan kupukul dia, tak peduli bagaimana nantinya.
Asep langsung ikut berdiri menengahi, ia memegangi Anton pada dua bahunya. Anton sejenak kaget mungkin akan keberanianku melawan, ia pun terduduk didorong Asep sambil tetap melotot terpana padaku. Titi memegangi Anton, mamah Elis mengeplak kepala Anton sambil memarahinya. Anton mengenyahkan tangan Mamahnya itu.
“Enya tenang A’, ngelehan heula weh ayeuna mah.. sabar-sabar heula engke weh.. (iya tenang A’, sekarang sih ngalah dulu aja, sabar2 nanti aja..)”, aku mengangguk menghargai akan kebaikannya, dan kembali duduk.
Warga diluar ada yang riuh berteriak mendukung Anton.
“Yah sabar dulu lah semuah..”, kata pak RT, tapi disela pak Ustadz.
“Langsung aja lah ke pokok permasalahannya atuh Te.. riweuh yeuh.. (ribet niih..)”.
“Ya baik, tadi sampe mana? Perkenalan? Ini yang di sebelah kanan saya pak Dedi, udah kenal? Belum? Iya ini Bapaknya Esih..”. Aku mengangguk cepat.
“Ini yang di sebelah kiri saya ini Endang, sekertaris RT dan ini Husni keamanan RT”, si bapak sekertaris mengangguk ramah. Aku hanya menjawab, “Ooooh..”. Aku melirik Esih, dia sekarang sibuk mengetik pesan di hapenya. Pantesan dari tadi diam.
“Adek ini siapa namanya?”. Ia menunjuk padaku. Aku juga menunjuk diriku pula.
“Nama lengkap saya?”, tanyaku, “Reginal Muhammad..!!”, jawabku setengah berteriak.
“Hah..?”, pak RT melengos pada pria di sebelah kanannya, “Naha..? (Lho kok?)”, tanyanya setengah berbisik. Yang ditanya bingung, menggeleng.
“KTP mana KTP..?”, tanya pak RT lagi padaku.
“Belum punya..!, belum jadi..!”, jawabku kencang.
“Iya jangan sambil marah gitu atuh lah..”, keluh pak RT, “Baik.. kita langsung saja ke inti permasalahannya.. langsung saja deh pak Ustadz..?”.
Pak Ustadz mengangguk, dan mulai berceramah soal rukun dan persyaratan pernikahan. Tapi iapun segera berhenti, pak Endang sekertaris RT berbisik-bisik padanya.
Esih tak sabar, ia berdiri dan berpindah duduk di sebelah Mamah Elis.
“Sayah mah ga mau nikah beginih..!, enak ajah.. ga sah atuh menurut hukum agama juga..!”. Bapak Dedi melengos sebal ke arahnya, dan membentak beberapa kata. Mamah Elis balik membentaknya dan kemudian mereka berdebat panjang pendek bertiga.
“Inih yang penting mah..! “, bapak Dedi setengah berteriak pada semuanya, “Adik ini harus nikah sama Esih malam ini juga..!”.
“Eh, jangan mau A’, enak aja.. ih, kasian atuh si Aa, belum juga masuk kuliahnya..”, Esih menyela Bapaknya itu dengan sengit. Aku mengangguk, bapa Dedi mendiamkan hadirin untuk mendengarkan jawabanku.
“Saya mau saja nikah dengan teh Esih.. da memang saya cinta sama teh Esih..”, bapa Dedi terperangah senang sedikit mendengarkan jawabanku “Tapi.. “. Aku meneruskan.
“Saya juga ga mau nikah dengan cara seperti ini, Orang tua saya dimana? Bisa mati saya nanti diam-diam menikah tanpa mereka.. Tegasku lagi. Sementara para wanita senang dan tersenyum dengan jawabanku, terutama teh Esih yang memerah wajahnya dan memandangku penuh sukacita. Warga diluar langsung ramai dan tak sabar padaku.
Bapak Endang mengangkat tangannya. Warga terdiam.
“Sebentar… ini tadi saya tulis namanya Reginal Muhammad bukan? Panggilannya siapa?”.
“Egi, panggilannya Egi, ya A’?”, jawab mamah Elis.
“Oh bukan Teddy..?”, tanya pak sekertaris lagi menegaskan.
“Bukan… Egi saya mah..”, Aku menggeleng dan bingung.
Pak Dedi melengak, ia langsung mundur menyender ke belakang. Anton juga, ia menatapku tak percaya.
“Eeeeeeeh.. kumaha sih ieu (ini) pengurus RT teh..? Bapak..? ieu mah lain (bukan) koh Teddy, kabogoh (pacar) si Esih.. ieu mah kang Egi, alona (keponakannya) kang Cahya..”. Mamah Elis mengibaskan tangannya ke wajah Dedi suaminya.
Pak Endang melongo, “Cahya mana? Cahya kita? Cahya LSM?”.
“Iya iiiiiiih…”, kali ini Titi menunjuk hidung pak Endang. Asep pacarnya tertawa.
Warga diluar langsung ramai, ada yang tertawa pula, ada yang tak peduli dengan nama Pamanku itu, mumpung orangnya gak ada, sesahutan kudengar seperti itu. Aku melihat keluar, ingin tahu siapa-siapa saja yang ada diluar. Tapi tak ada wajah yang kukenal. Tunggu dulu, satu wajah menyembul, ia baru datang kelihatannya, karena celingak celinguk bertanya pada orang di sebelahnya ada apa.
Pak Endang, pak RT, pak Husni dan pak Ustadz semua memandang ke pak Dedi, meminta jawaban. Pak Dedi memandang ke kanan kiri dengan agak kesal.
“Memangnya kalau keponakan si Cahya terus boleh melakukan itu disini dengan anak saya?, bapak-bapak biarkan itu dia berzina dirumah saya? Saya kan kepala keluarga disini, saya juga ikut menanggung dosanya..”. kata pak Dedi sambil menepak-nepak meja.
Mamah Elis dan teh Esih bersuara memprotes, pak Endang menggeleng-geleng. Pak Ustadz mengangkat tangannya pada pak Dedi dan bertanya.
“Atuh keponakan si kang Cahya teh berarti juga keponakan si Abah atuh pak Dedi… ciing atuh, tong sok nyiar-nyiar pibahayeun.. ah..! lain soal zinah heunteuna ieu mah, anu bener heula ieu teh..? (toloong deh, jangan suka nyari-nyari bahaya sendiri ah, bukan soal zinah atau ngganya ini sih, yang bener dulu ini)”.
“Si Abah mah teu aya.. nuju kaluar kota.. tos sabulan mah aya.. (si Abah lagi ga ada, lagi keluar kota udah sebulanan) ”. Kata seorang warga yang menempel di pintu. Ia kelihatan mendukung hiburan perkawinan paksa ini. Pak Endang tak mengindahkannya, ia bertanya padaku.
“Bener Akang ponakan kang Cahya Kang?”.
“Iya, itu adik Bapak saya..”, kataku menjelaskan.
“Berarti atuh ponakannya si Abah juga? Abah Umbed?”.
Dia lagi, nama itu lagi kataku dalam hati. Aku menggeleng. “Gak kenal Abah Umbed mah..”. Pak Dedi, Anton, pak RT dan pendukungnya menarik nafas lega.
“Waaaah bukan kan tuh kaaan..”.
Tapi pak Endang tetap bertanya padaku, “Akang anak dari siapa kakaknya kang Cahya? Alamrhum Mayor Kusnadi?”.
“Bukan itu mah Uwak, saya anak pak Budi..”
“Ooooh anakna kang dokter Budi..”, ia mengangguk-angguk, membereskan peralatannya dan bersiap hendak pergi. “Tipayun (duluan) ah..”, katanya berdiri.
“Mau kemana..? sebentar-sebentar”, pak Dedi mencegah. Pak RT berbisik padanya yang aku juga mendengarnya. Aku mengeluarkan hapeku untuk menelpon mang Cahya, aku memaki diriku kenapa ga dari tadi aku lakukan ya?. Tapi ditelp dua kali tidak mengangkat. Esih memandangku, dan berkata tanpa suara, ga diangkat, iya aku mengangguk.
“Jadi sekarang mah dinikahkan saja dulu gitu.. kalau nanti pamannya marah, ya dikembalikan lagi aja gitu? Iyah? Gitu aja?”. Begitu bisik-bisik pak RT pada pak Dedi yang mengangguk-angguk setuju.
“Eeeeh nekad siah pak RT mah, masih tetap dikawinkan? Ah sayah mah ga ikut-ikutan.. ini anaknya dokter Budi, ga mungkin nanti si Abah Umbed ga marah membiarkan sajah… hayu ah”. Pak Endang pun pergi keluar menggidig begitu saja, sebagian kecil warga ikut dengannya.
Pak Ustadz pun bersiap-siap hendak mangkat. Tapi pak RT memegang tangannya mencegah. Pak Ustadz terkekeh, dan balik memegang tangan pak RT.
“Pak RT, memang kita sebagai manusia sebaiknya hanya takut kepada Allah SWT, tapi adakalanya bila kita tak sanggup, menolak dengan hatipun, sudah termasuk iman yang paling lemah, itu jika kita tidak mampu, ini saya rasakan saya tidak mampu untuk berhadapan dengan si Abah mah.. haduh…”.
“Memang untuk disini, kita semua melihat.. ”, pak Ustadz meneruskan sambil berpaling pada warga di pintu,” si Abah teh udah kelihatan bageur (baik) disini mah, baiiiik teh sama warga, tapi da.. kemarin bulan lalu saya sama beliau di kantor Dinas Kabupaten, haduuh Pak.. sampai-sampai terbalik itu meja ruang rapat..
Pak Dedi, pak RT dan pak Husni berpandangan berubah pucat wajahnya.
“Tapi da ga kenal si akang ini mah sama Abah Umbed..”, bisik pak Dedi pada pak RT. Mereka berdua saling menguatkan hati. Ia kemudian berpaling padaku. Ngocoks.com
“Mana kunci mobil?”, tanya pak Dedi, tangannya menjulur padaku menagih. Aku bingung.
“Kunci mobil punya siapa?”, tanyaku keheranan.
“Ya punya kamu.. saya pegang dulu, sebagai jaminan kalo kamu tidak akan berzina lagi dirumah saya.. ”, pak Dedi mengayun-ngayunkan tangannya menagih. Warga ada yang berteriak jangan-jangan pak Dedi… Esih dan mamah Elis serentak berdiri marah dan menunjuk-nunjuk Bapak dan Suaminya itu. Mereka berteriak padaku untuk jangan memberikannya.
“Ini mah mobil Mamah sayah pak Dedi..”, kataku. Tapi ada suara merdu dari sebelah kiri, dari arah sebelah rak menuju ruang tivi. Aku berpaling padanya, ada Teteh-teteh cantik yang berdiri berkata padaku.
“Biarin.. kasihin aja A’, biar nanti yang ngambil Mamangnya Aa, kang Cahya atau Abah Umbed.. keun weeh (biar ajaa), biar tau rasa..”, ia menatapku dengan pasti, tapi lalu mengalihkan tatapannya pada arah lain karena malu dilihat dengan penuh kekaguman olehku.
Aku berpikir benar juga dia. Maka kuacungkan kunci mobil Mamahku itu pada bapak Dedi. Ia langsung meraihnya tanpa ragu-ragu.
“Da teu wawuheun ieu mah ka si Abah.. (Kan dia sih ga kenal ini sama si Abah) ”, katanya seolah pada dirinya sendiri untuk menenangkan dirinya.
“Eh.. ”, si Teteh cantik itu menjulurkan lidah melecehkan, “Bolo’on kang Dedi mah, anakna dokter Budi mah piraku si Abah teu wawuh.. (Blo’on kang Dedi, anaknya dokter Budi masa sampe si Abahnya ga kenal)”. Tim perempuan langsung berseru membenarkan mendukung pertanyaan Teteh itu. Akupun tersenyum padanya, bukan karena pernyataannya, tapi karena senang dengan paras wajah dan postur tubuhnya.
Pak Dedi masih percaya diri dengan tingkahnya. “Hape, hape..”. Tangannya lagi-lagi menjulur, “Sebagai jaminan juga..”. Aku berpaling lagi pada teteh itu. Pandangan kami sebentar berbenturan, ia malu.
Si Cantik itu menunduk tapi dagunya mengangguk. Aku memberikan hapeku pada pak Dedi lagi. Pak Dedi memberikannya pada Anton, anaknya yang laki-laki. Anton menggeleng, dari tadi semenjak tahu aku keponakannya mang Cahya, ia memang sudah hilang kepercayaan dirinya, ia duduk menyender di sofa dengan wajah pucat.
“Pegang Ton, teu nanaon (gapapa)..”, Anton dengan ragu mengambilnya. “Sakuan.. (sakuin)”, kata pak Dedi sambil tersenyum. Anton mengangguk lemas. Pak Ustadz memandangnya kasihan.
“Jangan Ton.. ”, katanya mencegah, ”Tapi ah, biar deh.. saya gak ikut-ikutan, ya udah saya pamit dulu ya? Sudah mau Isya.. saya mesti siap-siap dulu”.
“Jadi gak ada perkawinan ini teh..? ”, tanya pak RT, rata-rata semua tertawa, kecuali aku dan tim pendukungku. Kami merasa kalah saat ini, karena walau tidak jadi dikawinkan, tapi mobil dan hapeku tertahan. Memang menurutku, tujuan akhir memang itu, untuk memerasku. Apalagi kalau koh Teddy yang disini, dijadikan ATM mungkin oleh si Dedi kampret itu.
Pak Ustadz berpamitan, tapi baru dia berdiri mau melangkah dia terhenti. Ada yang datang. Kerumunan warga yang diluar terkuak dengan sendirinya. Apalagi setelah melihat jelas siapa-siapa yang datang mereka membuka jalan sendiri untuk rombongan yang baru datang itu. Pak Ustadz mengeluh.
“Aduh cilaka..! (aduh celaka)”.
Bersambung…