Kini Tante memeluku, namun mataku terus mengawasi mama yang tak bisa lepas dari pelukan paman. Keadaan ini membuat kontolku menegang. Rupanya Tante pun merasakan kontolku yang menegang. Tante langsung mendorong melepas pelukannya. Tante berbalik dan langsung menyadari tangan suaminya yang sedang berada di pantat mama.
“Ayahmu di rumah?”
“Iya, lagi di atas. Bentar lagi turun kok.”
Kulihat tante menarik mama ke dapur. Dapat kudengar percakapan mama dan tante.
“Kakak pake apaan sih? Kesannya kok murahan banget. Mending cepetan ganti.”
“Laki – laki di rumah ini suka kalau kakak berpakaian seperti ini. Lagian kakak juga gak keberatan kok.”
“Laki – laki? Maksud kakak suami dan Atha? Tapi kan Atha anak kakak. Gila. Athahlah, Yena gak mau tahu.”
Puas mendengar percakapan kutuang anggur untuk paman dan tante. Kuberi segelas anggur yang langsung diambil tante.
“Tante memang haus.”
Merasa mendapat kesempatan, paman lalu mengambil botol dan menuangkan lagi ke gelas kosong di tangan tante. Mama kembali sibuk dengan masakan di dapur. Mata paman kini kembali melihat mama. Ayah pun akhirnya turun yang langsung didekati paman. Mereka berjabat tangan. Tante yena lalu mendekati dan memeluk ayah.
“Bantu kami kak. Kami gak mau masuk bui.”
Kukira ayah akan sangat mengambil kesempatan untuk mengelus dan meremas tante. Namun ternyata ayah memilih diam.
“Jangan cemas. Kita pikirkan itu nanti. Sekarang kita makan dulu yuk.”
Ayah lalu mengajak tante ke meja makan. Sedang paman di dapur mencoba membantu mama. Ayah dan tante lalu duduk di meja makan. Ayah kini menatap mama.
“Kakakmu seksi kan?”
“Iya, yena ngerti kakak suka kalau kak Siti berpakaian seksi.”
“Iya. Tubuh kakakmu bagus. Sayang kalau selamanya tersembunyi.” Kini ayah menatap tante. “Eh, ngomong – ngomong, tubuh kamu juga bagus kok.”
“Kami lagi punya masalah. Lagi gak minat pamer.”
“Tenang saja, akan kakak coba bantu.” kata ayah sambil menyentuh rambut tante, lalu mengelusnya.
Dapat kurasakan perubahan di wajah tante. Tante seperti bakal menuruti apa yang ayah katakan. Mungkin efek anggur tadi. Entah ini merupakan naluri atau tidak, namun sepertinya tante menunjukan gejala penurut seperti mama. Kuputuskan untu mengujinya. Saat ayah bangkit, mungkin untuk mengambil minumannya, kudekati tante dan berbisik di telinganya.
“Ayah pasti suka kalau tante gak pake celana dalam. Ke kamar mandi sekarang, lepas celana dalam tante lalu gantung dan tutupi dengan handuk. Terus kembali ke sini. Ayo cepat, waktu tante hanya lima menit.”
Tante memalingkan wajah untuk menatapku. Wajahnya terlihat malu. Tante lalu berdiri. Kubantu dengan mendorongnya ke arah kamar mandi. Kuikuti tante hingga tante masuk. Namun sebelum tante mengunci pintu, kudorong hingga aku pun ikut masuk.
“Sekalian juga lepas bh tante.” Tante akan protes namun langsung kupotong sebelum tante bicara. “Maaf, aturan ayah di rumah ini.”
Aku lalu keluar. Kutuangkan anggur di gelas tante dan kuletakan di meja disebelah kursi ayah.
“Tantemu di mana?”
“Di kamar mandi. Lagi melepas bh dan celana dalamnya.”
“Kamu pintar. Cepet belajar.”
Aku hanya tersenyum. Kuputuskan untuk ke dapur. Saat masuk kulihat paman berdiri di belakang mama. Rok mama terangkat hingga ke pinggang. Kontol paman sedang menggesek – gesek pantat mama. Aku batuk, untuk membuat suara agar mereka menyadari kehadiranku. Paman langsung mundur menjauhi mama.
“Masih lama matengnya mah?”
“Lima menitan lagi.”
Lalu kudengar suara kamarmandi terbuka dan kembali tertutup. Tiga puluh detik kemudian, kumasuki kamar mandi untuk mengecek. Ternyata ada bh tante warna biru, selaras dengan warna celana dalamnya. Kuambil dan kubuang ke tempat sampah lalu kembali ke ke meja makan. Kuarahkan kepalaku diantara kepala ayah dan kepala tante.
“Bh tante ukuran tiga enam, namun celana dalamnya kecil.” Kutatap tante dan kembali bicara, “ukuran celana tante berapa sih?”
Tante hanya diam sambil memandang ke bawah. Kupegang bahu tante.
“Tante mau Atha ukur sendiri ya?”
Kini kupegang tengkuk tante, “Kalau pantat tante?”
“Tiga empat.”
“Jadi ukuran tante tiga enam, dua sembilan dan tiga empat?”
“Iya.”
“Tante mulai terangsang ya?”
Tante kini memilih diam. Kuremas tengkuknya.
“Sedikit.”
Saat itu ayah mulai bicara, “Udah, jangan ganggu tantemu.”
Aku mulai menarik kepalaku, namun kulihat tangan kiri ayah mulai pindah ke paha tante. Lalu mama muncul membawa makanan, dibantu oleh paman.
“Mari makan paman.”
“Iya kak, ayo duduk.” kata paman sambil menatap mama.
“Enggak, nanti aja. Masih ada urusan di dapur.”
“Mama lagi diet. Katanya biar seperti tante.”
Kulirik tante yang seperti terkejut, mungkin akibat tangan ayah. Kulihat mama, wajahnya terlihat sedih, mungkin akibat komentarku. Setelah itu mama berbalik akan menuju dapur.
“Bisa tolong ambilin timun mah, yang udah dipotong – potong.”
Sepuluh menit berlalu namun mama belum juga datang mengantar timun. Aku pun bangkit menuju dapur. Kulihat mama sedang berdiri bersandar ke kulkas. Menangis sambil mencoba mengeluarkan mentimun. Kudekati mama.
“Kenapa nangis Aisah?”
“Mama gak bisa bungkuk buat ngambil timunnya.”
“Oh.”
Aku lalu duduk di kursi. “Sini coba buka pahanya.” Saat akan mencabut mentimun, kulihat memek mama agak basah.
“Kamu orgasme ya? Berapa kali?”
“Iya… Mungkin tiga kali.”
Aku berdiri lalu kutampar mama.
“Dasar murahan, baru digoda segitu aja udah orgasme.”
Kubalikan tubuh mama hingga membelakangiku. Lalu kutampar pantat mama beberapa kali dengan keras. Setelah tanganku terasa sakit baru aku hentikan. Ternyata pantat mama penuh lecet warna merah. Kini kuremas rambut mama.
“Diam, jangan nangis. Sekarang sajikan sisa makanan. Dasar murahan, bisanya ngerusak acara makan orang aja.”
Aku pun kembali ke meja makan dan duduk.
“Dari mana Atha?” tanya ayah.
“Liat mama. Ternyata timunnya habis.”
Kulihat gelas tante kosong, aku pun mengisinya kembali dengan anggur. Beberapa saat kemudian sepertinya kami mulai selesai makan.
Ayah pun menatap Paman, “Kita ngobrol di teras yuk.” Ayah bangkit menuju teras diikuti paman.
Tante menatapku, “Kira – kira ayahmu bakal bantuin pamanmu gak yah?”
“Sepertinya ayah hanya mau membantu tante. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Mungkin ayah gak ngebantu secara cuma – cuma.”
“Apa tante mesti ke teras buat bantuin paman?”
“Jangan, mending kita duduk aja di sofa sambil nunggu.”
“Tante udah susah berdiri, bantuin tante dong.”
Aku berdiri lalu ke belakang tante, kubantu tante berdiri. Tanganku melingkari badannya hingga tangan ini menyentuh susu kanan tante. Tante mencoba mendorong tanganku ini.
“Kalau tante lakuin itu sekalian Atha lepasin aja pakaian tante.”
Saat aku melihat ke bawah, ternyata ada bagian yang basah di celana tante. Tepatnya di bagian selangkangan.
“Memek tante basah ya?”
“Iya.”
“Sama ayah?”
“Iya.”
“Angkat pakaian tante, Atha pingin liat susu tante.”
“Jangan, ntar ada yang liat.”
Kubuka paksa blus tante dengan kedua tangan membuat kancingnya terlepas.
“Anggap ini pelajaran jika mempertanyakan ucapan Atha.”
Kuraih susu tante dengan tanganku. Kuelus dan kuremas. Lalu kumainkan putingnya. Tante masih diam karena terkejut. Kini kuarahkan tanganku di tengkuk tante. Kubuat kepala tante mengarah ke wajahku lalu kucium tanteku. Kucium tante sambil melepas blus dari tubuhnya. Setelah itu kubimbing tante hingga duduk di sofa.
“Sah, Aisah sini!”
Kupanggil mama yang langsung datang menghampiri. Mama terkejut melihat tante yang sudah tak berblus. Kini mama mungkin menyadari bahwa tante sudah berada dalam cengkramanku.
“Kasih tante kaos kesayangan Atha.”
Mama langsung melepas kaosnya. Kaos itu diberikan ke tante dan langsung dipakainya. Sebagian besar susu tante terlihat karena memang lehernya sangat lebar dan rendah. Mama langsung menunjuk celana tante yang basah.
“Yang itu gimana?”
“Biar tante ke atas buat ganti. Makanannya udah siap Sah?”
“Iya.”
“Ya udah. Cepet beresin mejanya. Terus hidangkan makanan yang baru mateng. Abis itu ke sini lagi.”
Sesaat setelah mama pergi, langsung kucium pipi tante. Setelah itu aku berbisik di telinganya. “Atha pingin liat memek tante.” Bukannya menjawab tante malah diam saja. Kupalingkan wajah tante dengan tangan kiriku hingga menatapku. “Kenapa? Masalah buat tante?”
“Gak masalah.” kata tante sambil menurunkan celananya hingga sampai lutut. Kulebarkan paha tante, jembutnya hitam namun tak lebat. Kumasukan jari ke memeknya. Ternyata sudah basah.
“Kok udah basah sih.”
“Ya karena keadaan.”
“Keadaan apa?”
“Seperti ucapanmu.”
“Karena ucapan Atha atau cara Atha berucap?”
“Karena cara Atha berucap. Menyuruh – nyuruh.”
“Apa paman suka suruh – suruh tante?”
“Enggak. Pamanmu gak peduli sama tante. Malah peduli sama wanita lain.”
Mama tiba – tiba muncul di hadapan kami. “Makanan udah tersaji di meja.”
“Ntar nunggu ayah sama paman dulu. Sambil nunggu tolong lepasin celana tante. Sekalian jilatin memek tante. Biar tante rileks.”
Mama terlihat agak kesusahan melepas celana tante, mungkin akibat korset. Lalu setelah lepas, memek tante mulai dijilati oleh mama. Tante mulai meremas susunya sendiri. Kudekati wajahku ke wajah tante.
“Tante gak boleh orgasme tanpa izin Atha dan atau ayah.”
Tante makin melebarkan pahanya menikmati jilatan lidah mama.
“Nikmati aja mulut Aisah. Lebih dari pada itu tidak.”
“Makasih.”
“Aisah, kamu bawa tante ke atas. Bersihin sekalian kasih tahu aturan rumah ini. Bikin tante mengerti. Abis itu langsung pada turun lagi.”
Tante mencoba berdiri, namun belum sepenuhnya tersadar. Kubantu tante berdiri dan kusuruh mama agak merangkulnya. Namun, saat di tangga tiba – tiba tante terjatuh. Untung mama langsung memegangnya hingga tante hanya berlutut sambil dipegang mama. Mama panik dan langsung memanggilku. Aku menghampiri dan melihat keadaan.
“Tante mau ke kamar mandi?”
“Gak. Tante rasanya pingin tidur aja.”
Kubawa tante ke kamar ayah dan kubaringkan di kasur. Kulepas kaos mama kesukaanku. Kucium bibir tante. Lalu aku bangkit dan keluar kamar. Mama ternyata menunggu di ruang tv. Kuberi kaos tadi ke mama.
“Udah lepas aja korsetnya. Pake lagi nih kaos.”
Mama terlihat senang dan langsung melakukan apa yang kusuruh. Kulihat pantat mama masih memerah.
“Jadi inget gangguan pas makan tadi.”
Mama langsung menatap padaku, seperti memohon.
“Terserah kamu. Mau dilakukan sekarang atau ntar nunggu ayah dan paman.”
“Sekarang aja.”
“Ambilin sabuk Atha.”
Mama pergi mengambil sabuk. Aku berdiri dan kusuruh mama telungkup di sofa. Pantatnya terlihat menantang ke atas. Setelah itu kupecut pantat mama kira – kira sepuluh pecutan di pantat kanan dan kiri. Mama hanya meringis sambil menangis. Kulihat betapa pantat mama makin merah hingga membuatku yakin mama takkan sanggup duduk tanpa merasa sakit.
Kutaruh sabuk, lalu berdiri di hadapan wajah mama. Kubantu mama berdiri dan kucium mama.
“Atha harap setelah ini kamu gakkan membuat kesalahan lagi.”
Mama menganggukan kepala namun tangisnya tak juga berhenti.
“Udah, cuci muka dulu sana.”
“Boleh cabut timunnya?”
“Jangan dulu.”
Mama pun pergi dari hadapanku. Beberapa menit berselang, mama kembali muncul.
“Kok yena tidur di kasur ayah?”
“Ya iya. Kalau tante mau tinggal di sini, tentu mesti ayah setujui dulu. Lagian buat apa lagi ayah ngebantuin?
Akhirnya mama berbalik dan menuju dapur. Kuputuskan untuk duduk di sofa sambil melihat mama. Mama sedang membersihakn piring bekas makan tadi.
“Sisa makanannya jangan dibuang semua. Sisihkan sebagian atau seluruhnya buat kamu makan juga buat sarapan kamu besok.”
Beberapa saat kemudian ayah muncul disertai paman.
“Mau cuci mulutnya gak?
“Gak ah. Ayah udah ngantuk. Mau tidur dulu.” kata ayah sambil berlalu menuju kamarnya. Entah apa yang akan ayah pikirkan saat ada cuci mulut lain di ranjangnya.
“Tantemu mana Atha?”
“Oh, udah di atas. Pingin tidur katanya. Paman makan dong ya cuci mulut buatan mama, biar gak sia – sia. Atha mau pergi dulu nganter mama.”
“Iya. Kamu temenin paman makan yuk.”
“Ayuk.”
Paman langsung duduk di meja makan. Aku hampiri mama dan berbisik, “cabut aja timunnya, terus simpan di freezer.” setelah itu aku ikut gabung bersama paman.
“Paman tidur aja di kamar Atha. Atha kayaknya mau nginep di rumah temen.”
“Gak usah, paman tidur sama tante aja di kamar tamu.”
“Nah itu, Atha bilang gitu karena kayaknya tante ngunci kamar tamu dari dalam.”
Mama langsung muncul dan berdiri di dekat meja makan. Susu mama hampir tak tertutupi karena bagian leher kaos yang lebar.
“Atha mau nginep di rumah temen mah. Paman biar tidur di kamar Atha saja. Sekalian ada piyama Atha biar dipakai paman. Atha pamit ya.”
Aku pun pergi keluar rumah. Kutunggu di sebrang jalan hingga lampu rumahku padam. Aku pun menyelinap kembali ke rumah dari pintu belakang. Kunyalakan komputer dari ruang kerja ayah. Komputer tersebut telah terhubung ke webcam di kamarku yang tentu saja telah aku persiapkan sebelumnya.
Di kamarku, paman mendesak mama hingga mentok ke dinding. Paman berusaha mencium mama, namun mama berusaha mengelak. Kaos mama sudah terlepas dari tubuh mama. Tangan paman memainkan putting mama. Sesekali diremas pula susu mama.
Paman lalu menarik mama dan mendorong hingga mama berbaring di kasurku. Paman membuka lebar paha mama dan langsung menyusu pada mama. Mama mencoba menendang paman, lalu meraih rambut paman dan mengangkat kepalanya. Mama langsung menampar paman dan menyuruhnya agar berhenti.
Paman langsung berdiri, namun bukan untuk berhenti. Paman langsung melepas celananya. Setelah itu paman mencoba memasukan kontol ke mulut mama. Mama terlihat ketakutan. Puas memainkan mulut mama, paman kembali mencoba melebarkan kaki mama.
Kalah tenaga, kaki mama pun melebar. Paman langsung mengarahkan kontol ke memek mama. Mama mencoba memukul paman dengan bantal, namun jelas tenaga paman menang telak. Dengan tusukan penuh tenaga akhirnya kontol paman amblas di memek mama.
Paman pun memompa kontolnya disertai erangan.
“Udah gak usah ngelawan. Dasar lonte, sengaja ngegoda pingin dientot.”
“Hentikan… jangan …”
Inilah saat yang kunanti. Aku bergegas ke kamarku dan kubuka pintu. Kudekati paman dan langsung kudorong hingga terbanting. Kuangkat paman dan kudorong hingga ke dinding. Kedua tanganku kini mencengkram kerah paman.
“Apa – apaan ini?”
“Maafin paman, Da.”
“Biar Atha bunuh saja paman sekalian.”
“Jangan Atha, ampun.”
Kulepas cengkramanku. Paman langsung terduduk di lantai. Kutatap mama.
“Turun mah, tunggu di bawah!”
Setelah mama turun, kutatap kembali paman.
“Gimana kalau ayah tau. Apa ayah akan tetap membantu?”
“Dengar dulu nak, sedari paman datang, mamamulah yang menggoda paman. Kamu juga liat kan. Bahkan saat paman gak sengaja menyentuh mamamu, gak ada penolakan. Bilang ‘jangan’ pun tidak. Jadi paman anggap mamamu mau.”
“Terus saat mama berteriak sambil bilang jangan, hentikan, apa paman berhenti? Atha rasa sebaiknya paman pergi dan jangan pernah kembali lagi ke sini.”
“Iya. Tapi, sebelumnya paman ingin minta maaf dulu sama mamamu.”
Aku mengangguk. Paman kembali memakai celananya lalu turun. Kuikuti paman dari belakang. Paman mengahampiri mama yang sedang berdiri di ruang tv. Sendirian. Telanjang. Membelakangi kami. Aku dan paman bisa melihat betapa merahnya pantat mama. Kudorong paman agar semakin mendekati mama.
“Maafin isal kak. Isal janji gak kan ngulangi lagi.”
Namun mama tak menjawab. Akhirnya aku bertindak, “Sini mah!”
Mama mendekat, kupeluk mama dan kuelus rambutnya. Mama langsung menangis di pelukanku. Kubiarkan mama menangis selama beberapa menit. Ngocoks.com
“Mamah baik baik sajakah? Apa mama pingin ke dokter?”
Namun mama tetap menangis. Paman terlihat sangat gugup. Paman tahu masalah ini bisa berakibat fatal padanya.
“Udah, mama minum dulu. Atha mau ke atas dulu sebentar.”
Mama pun ke dapur buat minum sesuatu. Aku ke kamar. Rekaman webcam barusan kumasukan ke keping cd. Setelah selesai aku turun. Paman di dapur, masih memohon agar dimaafkan. Namun mama memilih diam. Kudekati mama.
“Ada yang sakit gak mah?”
Mama mengangguk.
“Yang mana yang sakitnya.”
Mama malah kembali menangis.
“Ya udah, mama minum dulu, ntar kita ke dokter.” Aku lalu menatap paman. “Sebaiknya paman pergi sekarang.”
Dengan gugup, paman mencoba bicara, “apa kita bisa bicara berdua?”
Kubawa paman ke teras.
“Dengar, kalau sampai ketauan dokter terdapat pemaksaan di tubuh mamamu, paman bisa celaka.”
Aku tak menjawab, namun kuraih cd dan kuberikan pada paman.
“Ini rekaman saat paman perkosa mama. Mama akan Atha bawa ke dokter. Atha janji gak akan melibatkan nama paman dengan syarat paman jangan lagi ke rumah ini. Sebaiknya paman pergi jauh keluar kota dan tinggalkan tante di sini. Tante bakal terurus di sini dan tak kan ada yang memperkosanya.”
“Ternyata kamu jebak paman. Dasar bajingan.”
Kupukul wajah paman.
“Diam. Pergi sana!”
“Baik, paman akan pergi. Tapi jangan kasih tahu ayahmu. Paman benar – benar butuh uang dari ayahmu. Kalau tidak, paman dan tantemu akan masuk bui.”
“Paman bisa datangi ayah di kantornya. Tapi jangan coba hubungi tante.”
Aku lalu masuk dan menutup pintu meninggalkan paman sendirian di luar.
Mama masih di dapur menungguku. Kupeluk mama.
“Mana yang sakitnya?”
Mama menunjuk selangkangan dengan jarinya.
“Bisu yah?”
“Di sini.” kata mama sambil tetap menunjuk.
“Apa tuh namanya?”
Mama diam, jadi kupegang rambutnya. Mama langsung mejawab, “memek mama.”
“Jadi memek mama sakit?”
“Iya.”
“Karena timun atau karena kontol paman?”
“Sudah sakit sebelum dipaksa pamanmu.”
“Apa maksudnya itu?”
Mama mengerti apa yang ingin kudengar.
“Sudah sakit sebelum dia ngentot mama.”
“Mau ke dokter?”
“Gak perlu. Tapi mama pingin kencing.”
“Kencing?”
“Maksud mama mama ingin kencing.”
Aku menjauh menuju jendela. Kulihat halaman rumah. Ternyata sudah tidak ada paman. Lantas aku membuka pintu belakang rumahku. Kulihat mama.
“Kencingkan saja.”
Mama langsung merangkak dan berjalan seperti anjing ke halaman belakang. Menuju titik tempatnya kencing lalu kencing. Setelah selesai mama kembali merangkak mendekati pintu dan diam menunggu disiram. Tapi aku tak ingin menyiramnya yang akan membasahinya.
“Gesek – gesek aja memeknya di teras biar kering.”
Ajaib, mama langsung nurut tanpa protes. Mungkin mama juga tak mau basah – basahan. Athah malem juga sih.
“Capek bener hari ini. Pingin ngentot tapi momokmu bau peju paman.”
“Mama bisa bersihin kok.”
“Gak usah. Langsung aja ke kamar pijitin terus sepong Atha. O ya, pokoknya esok pagi tante harus sudah paham aturan di sini. Jika tidak, ayah kemungkinan gakkan senang dan tante bisa berakhir di bui.”
Aku lalu berjalan menuju kamarku diikuti dengan mama yang merangkak di belakangku. Setelah di kamar, mama membantuku melepas pakaian. Aku berbaring telungkup dan mama mulai memijatku.
“Mama boleh nanya?”
“Ya.”
“Apa yena akan terus tidur di ranjang mama tiap malam?”
“Itu sih tergantung ayah. Tapi sekarang kamu kan jadi anjing. Lagian anjing kan gak tidur di kasur. Emang, apa pedulimu. Tugasmu anjing hanya satu, nyenangin tuannya.”
“Oh iya, lupa. Anjing ini mesti siapin pakaian buat ayahmu besok.”
“Iya. Setelah kamu selesai di sini, tidur sana di dekat pintu kamar ayah. Biar gampang nyediain yang tadi.”
Aku pun tertidur.
Bersambung…