Cerita Sex Anak Tiri – Di usia empat puluh tahun, ia seharusnya sudah menemukan kedamaian, rumah besar, suami yang sibuk, dan status istri yang disegani. Tapi malam-malam sunyi itu justru membukakan pintu pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tiga anak tiri lelakinya-tinggi, berotot, penuh tenaga, dan masih dipenuhi api muda—mulai mengisi kekosongan yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Awalnya hanya tatapan sekilas, sentuhan tak sengaja di dapur, hembusan napas yang terlalu dekat saat lewat di koridor gelap. Tapi lambat laun, batas itu runtuh.
Sekarang ia ketagihan. Ketagihan pada kekuatan tangan mereka yang mengangkat tubuhnya dengan mudah. Ketagihan pada desahan kasar yang memanggilnya “Bu” dengan nada yang sama sekali tak sopan lagi. Ketagihan pada sensasi dikuasai tiga lelaki muda sekaligus, bergantian, bersama-sama, tanpa ampun—sampai tubuhnya gemetar lemas dan pikirannya kosong.
Ia tahu ini salah. Ia tahu ini bisa menghancurkan segalanya. Tapi setiap kali pintu kamar tertutup dan lampu dimatikan, ia tak lagi peduli.
Karena rasa ketagihan itu sudah lebih kuat daripada rasa bersalah. Dan malam ini… mereka akan datang lagi.

Ngocoks Malam itu, hampir pukul sembilan, Retno terperanjat ketika suaminya tiba-tiba pulang lebih cepat dari penugasan luar kota yang telah memisahkan mereka lebih dari seminggu. Wajah lelaki berusia 60 tahun itu memancarkan kegembiraan tak biasa, senyumnya seolah menyimpan sebuah cerita yang belum terucap.
“Ada apa, Mas? Senyum terus. aku jadi curiga, lho,” ujar Retno sedikit manja.
“Ada kejutan yang tidak biasa, khusus buatmu,” balas suaminya, suaranya lembut sekaligus penuh rahasia.
Retno mengangkat alis, separuh heran, separuh gemas. “Kejutan apa sih, Mas?”
“Yang akan membuatmu bisa menyalurkan hasrat kerinduan dengan lebih baik, lebih tenang dan lebih dahsyat,” katanya sedikit mendesah, sebelum merangkul istrinya dalam pelukan hangat yang langsung menuntaskan sebagian rindu yang mengendap dengan menciuminya.
Mereka tertawa kecil, saling melepas jarak yang tertumpuk selama hari-hari terpisah itu. Setelah beberapa saat, suaminya menuntun Retno menuju kamar mereka. Setibanya di sana, ia mengeluarkan sesuatu dari tas besarnya. Sebuah benda, dibungkus rapi, diserahkan dengan gerak yang penuh pertimbangan.
Retno terpaku. Ada sesuatu dalam cara suaminya memandang, seakan ia sedang menawarkan lebih dari sekadar hadiah; sebuah kepercayaan, mungkin keberanian untuk membuka percakapan yang selama ini hanya berputar di benak mereka.
“Ini… apa, Mas?” tanyanya pelan.
“Khusus untukmu,” jawab suaminya singkat, namun lembut.
Retno menatap benda itu, lalu menatap suaminya, merasakan campuran haru, malu, dan kehangatan yang meluap bersamaan. Ia menangkap niat baik di balik hadiah itu. Sesuatu yang tidak perlu dijelaskan panjang-lebar, namun ia mengerti arti dan keberanian yang menyertainya.
“Mas… kenapa repot-repot beli yang beginian?” bisiknya, senyumnya muncul tanpa bisa ia tahan.
Suaminya hanya mengusap lembut punggung tangannya. “Papa ingin kamu bahagia. Sesederhana itu.”
“Ini dildo kan?” tanya Retno setengah tak sadar sekedar untuk memastikan.
“Yes!” jawab suaminya pelan sambil tetap terus menyodorkan benda itu, memaksa Retno untuk segera menerimanya.
Retno masih tertegun, tak menduga bahkan masih tak percaya, jika suaminya yang oleh sebagian orang dipanggil Pak Haji, bisa-bisanya memberi hadiah pada istrinya berupa benda yang tak biasa cenderung tak senonoh.
Dengan agak ragu-ragu, Retno pun lantas menerimanya dan ia rasakan teksturnya benar-benar sangat kenyal walau agak dingin. rudal imitasi itu ukurannya jauh lebih besar dan panjang jika dibandingkan dengan milik suaminya. Tentu saja kenyal dan kerasnya pun sangat beda.
“Ini buat apa sih, Mas?” tanya Retno pura-pura polos. Kulit wajahnya semakin terasa panas karena malu dengan kekurangajaran tangannya yang secara tak sadar meremas-remas benda kenyal itu untuk sekadar merasakan tekstur dan kekenyalannya.
Suaminya tetap tersenyum, tidak menjawab pertanyaan istrinya, malah melepas pakaian Retno dengan sangat pelan hingga istrinya benar-benar telanjang bulat. Sementara suaminya tetap mengenakan pakaiannya. Retno lalu diminta rebahan di atas kasur sambil membuka lebar kedua kakinya. Hal yang tak pernah diminta suaminya sebelum ini.
Dengan lembut suaminya menyentuh area paling sensitifnya itu, membuat Retno tersentak kaget sekaligus penasaran. Sejak kapan suaminya berani mengeksplorasi bagian tubuh yang jarang dia sentuh? Namun, Retno menyerah pada gelombang kenikmatan lama yang hilang, memejamkan mata sambil menikmatinya sepenuh hati.
Setelah kelembapan alami muncul, suaminya perlahan memasukkan ujung kepala dildo itu berukuran besar dan panjang itu ke dalam diri istrinya, sekitar setengahnya.
“Maas…” desah Retno tertahan, tubuhnya menggeliat malu-malu karena sensasi yang begitu menggoda. Bentuknya yang gagah memenuhi setiap sudut dengan sempurna, bahkan menyentuh titik terdalam saat didorong masuk hampir seluruhnya.
“Gimana, nyaman dan nikmat kan, Sayang?” tanya suaminya sambil menariknya pelan lalu mendorong kembali. Retno hanya mengangguk kecil, rintihannya lirih karena pikiran campur aduk antara malu, kebingungan, dan gelora yang mendominasi.
Suaminya terus memainkan dildo itu dalam ritme halus, masuk lebih dalam, berputar lembut, lalu hampir keluar, membuat desahan Retno semakin nyaring, nyaris seperti jeritan saat gerakannya semakin intens.
“Coba kamu pegang sendiri,” bisik suaminya, menyerahkan kendali tanpa mencabutnya, sambil melepas pakaiannya sendiri.
Suaminya kembali mengambil alih, sambil mencium dan membelai payudaranya bergantian, serta membimbing tangan Retno ke kejantanan miliknya yang tegang, meski lebih mungil, lebih lembek dan ini sesuatu yang teramat baru bagi keduanya.
Saat Retno hampir mencapai puncak, suaminya cepat mengganti dildo itu dengan rudal aslinya. Sensasi berubah mendadak, ruang terasa lebih longgar, tapi gerakannya yang lincah dan penuh semangat segera membangkitkan kembali api yang cukup lama nyaris padam.
“Ooooo Maaas….” lenguh Retno tak tertahankan saat dalam hitungan berikutnya ia orgasme yang teramat dahsyat, diikuti ejakulasi suaminya dengan ledakan yang melimpah. Keringat membasahi seprai mereka, sesuatu yang pertama kalinya terjadi.
Napas mereka mereda, suaminya berbisik, “Sayang nyaman dan nikmat kan? Kalau Mas tak di rumah dan kamu butuh, gunakan saja itu untuk memuaskan diri. Mas rela, asal jangan ke orang lain, itu haram.”
“Iya, Mas,” jawab Retno pelan, matanya sayu berat. “Nyaman kok,” tambahnya dengan anggukan saat dipeluk erat. Suaminya mencium pipi dan keningnya lembut.
“Tapi kenapa ukurannya sebesar itu? Kayaknya salah ukuran deh, Mas.” gumam Retno halus, sebenarnya ingin bilang agar disesuaikan dengan milik suaminya.
“Tidak salah, Sengaja Mas pilih yang lebih besar dan panjang, biar kamu merasakan sensasi luar biasa dan puas maksimal, terutama saat sendirian,” jawabnya yakin, tanpa ragu.
“Tapi kenapa Mas bisa punya pemikiran sejauh itu?” tanya Retno sambil menatap dalam kedua mata suaminya. Ada kilau aneh di sana, semacam semangat baru yang selama ini jarang tampak.
Suaminya menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Mas juga bingung. Tapi ini sebenarnya berawal dari obrolan beberapa rekan. Mereka banyak yang memberikan dilso pada istrinya. Katanya supaya istri tidak merasa kesepian saat ditinggal suami. Biar rumah tangga mereka tetap aman.”
Retno mengernyit halus. “Memangnya mereka yakin istri-istrinya itu tidak menyimpang hanya karena diberi begituan? Atau malah mereka menuduh istrinya akan menyimpang kalau tidak diberi?”
“Ya, mungkin itu cara mereka mencari rasa aman, Sayang.” Suaminya mencoba terdengar meyakinkan, meski suaranya menyimpan ragu. Ngocoks.com
“Aku rasa itu cara berpikir yang terlalu jauh, Mas,” ujar Retno lembut. “Selama ini aku tidak pernah macam-macam walau tidak punya apa pun, kecuali kamu.”
Suaminya mengangguk pelan. “Mas tahu. Tapi juga banyak dengar kalau masalah rumah tangga muncul karena kebutuhan batin tidak terpenuhi. Mas merasa sering tidak maksimal karena sering tugas keluar kota. Jadi cuma… ikut cara mereka. Supaya kamu tetap merasa dicintai.”
Retno menatapnya lebih lama. “Lalu Mas sendiri kalau lagi dinas gimana? Apa tidak pernah goyah untuk mencari wanita lain?”
Suaminya terkesiap kecil. “Astaghfirullah, tentu tidak. Mas sudah janji pada dirimu sejak awal, tidak akan main-main soal itu. Sejauh ini bisa menjaga diri.”
“Itu sama saja dengan aku, Mas,” jawab Retno tenang. “Tanpa bantuan dildo, aku juga mampu menjaga diri.”
Suaminya tersenyum, sedikit malu. “Iya, Mas percaya. Mas cuma ingin jaga-jaga kalau suatu waktu kamu merasa tidak kuat menunggu. Dan… Mas lihat kamu tampaknya menikmati persetubuhan tadi, hehehe.” Godaannya terdengar ringan, meski membuat Retno tersentak.
“Maaaas!” Retno memukul lengannya pelan sambil menahan rasa malu.
“Gak apa-apa,” ucap suaminya sambil menenangkan. “Manusia wajar ingin merasa terpenuhi. Itu normal.”
Retno mengembuskan napas, masih heran. “Mas kok jadi tahu banyak hal yang tidak pernah Mas pedulikan sebelumnya.”
Suaminya tertawa lirih. “Namanya juga sering dengar obrolan orang. Ternyata banyak pasangan menemukan cara sendiri untuk saling menenangkan. Mas jadi ikut kepikiran begitu. Terlebih lagi Mas kan memang sudah tidak seperkasa dulu…”
Retno mendekat, bersandar di bahunya. “Tapi bagiku, yang terpenting dirimu tetap ada. Selama ini aku sudah merasa cukup.”
Suaminya merangkulnya lembut. “Iya. Dan semua ini sebenarnya hanya Mas lakukan sebagai langkah tambahan, bukan pengganti apa pun. Kalau kamu merasa tak perlu, ya tidak usah dipakai. Mas cuma tidak mau kamu tersakiti karena Mas sering tidak hadir sepenuhnya.”
Retno membalas pelukannya, suaranya merendah. “Dari awal kita sepakat, yang terpenting adalah kedekatan hati. Yang lain hanya pelengkap. Dan sejauh ini kita selalu baik-baik saja.”
Suaminya mengecup kening Retno penuh kehangatan, seakan ingin menutup percakapan itu dengan sesuatu yang lebih lembut daripada kata-kata.
Namun jauh di sudut hatinya, Retno masih merasa ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Ia memilih diam, membiarkan malam bergerak pelan seperti tirai tipis yang menutup ruang penuh tanda tanya.
Hari-hari selanjutnya, dildo pemberian suaminya itu bukan hanya menjadi peneman saat ia ditinggal tugas, tetapi malah berubah menjadi bagian dari kebiasaan baru ketika suaminya pulang Entah mengapa suaminya jadi bersemangat saat membantu Retno mencapai puncak dengan bantuan dildo dan miliknya..
Suaminya seolah menghadirkan perubahan dan nuanasa baru dalam hubungan intim mereka, menghadirkan sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan muncul dalam rumah tangga yang sudah berjalan dengan pola yang nyaris baku. Baik walau wakatunya relatif masih baru, sekitar empat tahun.
Beberapa kali Retno mencoba mengingatkannya agar mereka tetap menjaga batas-batas tertentu, terlebih mengingat citra suaminya sebagai sosok yang dikenal religius. Kadang ia menolak secara halus, tetapi suaminya selalu datang dengan cara yang menenangkan, membawa alasan dan rayuan yang membuat keberatan Retno perlahan mereda.
Namun semua itu ternyata tidak bertahan lama. Perlahan, semangat yang dulu menggebu mulai meredup. Retno pun merasakan kejenuhan yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Suaminya, yang sebelumnya begitu antusias, mulai tampak kehabisan arah, seakan upayanya untuk memperbarui kedekatan itu justru membuatnya lelah.
Pada akhirnya, dildo itu ditinggalkan dan Retno membuang tanpa banyak kata. Kehidupan ranjang mereka kembali seperti semula, bahkan mulai lebih hambar, seolah jejak perubahan singkat itu malah menyisakan rongga yang tidak mudah diisi kembali. Sudah hampir setahun mereka bahkan nyaris tak pernah melakukannya lagi.
Bersambung…





