Malam harinya.
Suasana di lantai bawah riuh oleh suara doa-doa dan obrolan para tetangga yang menghadiri kenduri. Aroma masakan bercampur dengan bau dupa yang khas, menambah suasana hikmat di malam itu. Namun, bagi Retno, entah kenapa hawa di dalam rumah terasa begitu pengap.
Ia naik ke lantai dua, mencari udara segar di ruangan yang lebih sepi. Setengah menghela napas, ia duduk di sofa, mencoba menenangkan diri dari kepenatan yang tak jelas datangnya. Tangannya meraih terong ungu lagi yang tadi dia sembunyikan, tapi tanpa sengaja, terong itu tersenggol dan jatuh ke lantai dengan bunyi ‘Bluk!’
“Aduh!” Retno terkesiap, buru-buru berjongkok untuk meraihnya kembali. Namun, baru saja ia memegangnya sambil berjongkok, suara derit pintu loteng kembali terdengar.
Jantung Retno seketika mencelos.
Di ambang pintu, berdiri sosok yang sama sekali tak pernah ia duga—Nizar.
Pemuda itu memakai sarung, baju koko dan kopiah hitam, berdiri agak kikuk, mungkin tak menyangka ada orang di lantai dua. Matanya sempat tertuju pada terong ungu yang dipegang Retno, sebelum kemudian beralih menatap Retno yang masih setengah membungkuk.
Hening.
“A—anu… Nizar?” suara Retno tercekat di tenggorokan.
Nizar menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. “E—eh, maaf, Bu Haji. Saya… saya numpang ke kamar kecil. Yang di bawah penuh, tadi disuruh Bi Inah ke kamar mandi lantai dua aja,” katanya dengan suara yang dibuat setenang mungkin, seolah tak terjadi apa-apa.
“Oh… oh, iya, silakan…” Retno buru-buru berdiri tegak, berusaha menyembunyikan terong ungu di belakang tubuhnya dan menata ekspresinya, meskipun dadanya masih berdebar kencang.
Nizar melangkah melewati sofa tanpa komentar. Namun, sebelum masuk ke kamar mandi, ia sempat melirik sekilas mendapati tangan Retno yang masih memegang terongnya, lalu menatap Retno sejenak dengan ekspresi yang sulit ditebak. Mereka beradu pandang namun sama sekali tak mengelurkan kata-kata.
Saat pintu kamar mandi tertutup, Retno menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya Allah… kenapa aku jadi setegang in ngadepin Nizari?” bisiknya, berusaha menenangkan diri, lalu kembali turun bergabung kembali dengan ibu-ibu. Nizar pun tak lama sudah kembali lagi gabung dengan para kendurian.
Kenduri masih berlangsung. Suasana masih seperti tadi. Namun jantung Retno seketika tersentak saat melihat Nizar duduk kembali di antara orang-orang yang mengikuti kenduri. Awalnya dia sama sekali tidak tahu kalau Nizar ikut serta dalam kendurinya, namun kini seluruh perhatiannya seolah tersedot.
Seolah memiliki kehendak sendiri, matanya terus mencuri-curi pandang ke arah pemuda hitam manis, hidung mancung dan berpostur tinggi dengan sarung dan kemeja kokonya.
Bayangan pertemuan mereka tadi di lantai dua kembali berkelebat di benaknya, membuat dadanya berdebar lebih kencang. Malu, menebak-nembak apa yang dipikirkan Nizar tentang dirinya yang sedang memegangi terong. Semua pertemuan hangat saat membeli bubur seolah hilang, berganti jadi ketegangan.
“Astagfirullah…” Retno berusaha menenangkan pikirannya, mengendalikan debaran di dadanya yang terasa semakin tak wajar. Ia mengalihkan pandangan, mencoba fokus pada lantunan doa-doa yang menggema di sekelilingnya. Namun ‘Terong Nizar’ kembali menggema di benaknya.
Setiap kali suara Nizar terdengar samar di tengah lantunan zikir, debaran itu kembali datang. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, sesuatu yang tidak seharusnya. Sesuatu yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. ‘Benarkah punya Nizar sebesar terong ungu itu? Berarti hampir sama dengan punya Egar?”
Retno menelan ludah, jemarinya saling meremas di atas pangkuan. Ia harus segera menata hatinya, sebelum perasaan yang tak jelas ini semakin jauh menyesatkannya.
Suasana kenduri masih dipenuhi lantunan doa dan zikir. Para tamu duduk bersila di karpet dan tikar, sementara hidangan kenduri mulai disajikan. Retno berusaha mengalihkan pikirannya dengan sibuk menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir kecil, membagikannya kepada tamu yang duduk di dekatnya.
Namun, matanya kembali menangkap sosok Nizar yang duduk tenang di sudut ruangan, menyimak doa dengan khusyuk. Sekali lagi, bayangan ‘Terong Nizar’ itu menyeruak di benaknya. Pipinya terasa panas. Ia buru-buru menundukkan kepala, takut jika seseorang menangkap kegelisahan yang tersirat di wajahnya.
“Bu Haji, tolong ambilkan sendok lagi, kurang nih,” suara seorang ibu-ibu menyadarkannya dari lamunannya.
“Eh, iya, Bu Retno, tunggu bentar” Retno buru-buru bangkit menuju dapur. Setidaknya, menjauh dari keramaian bisa membuat pikirannya lebih jernih. Ngocoks.com
Di dapur, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, baru saja ia hendak mengambil sendok dari rak, suara batuk halus terdengar dari belakang.
“Hm, Bu Haji…”
Jantung Retno berdegup keras. Perlahan, ia menoleh. Dan benar saja, di ambang pintu dapur, Nizar berdiri dengan ekspresi canggung.
“Oh, Nizar…” suara Retno hampir tercekat di tenggorokan.
“Maaf, saya cuma mau ambil air putih, Bu,” ujar pemuda itu sambil menunjuk teko di meja.
“Eh… iya, iya, silakan…” Retno buru-buru bergeser, memberi jalan. Namun, saat tubuh mereka berdekatan, aroma maskulin khas tubuh Nizar samar-samar tercium. Sekali lagi, perasaan aneh itu muncul. Sesuatu yang tidak seharusnya.
Nizar menuang air ke dalam gelasnya, lalu menatap Retno sesaat sebelum berkata pelan, “Tadi… di atas, saya benar-benar nggak sengaja, Bu. Ibu suka sama terong ya?”
Retno menegang. Ia tahu apa yang dimaksud lelaki itu.
Nizar melanjutkan, “Saya harap, kita bisa melupakan itu… kecuali…”
Deg. Kata-kata itu seharusnya melegakan, tapi justru ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa bergetar.
“I-iya, Zar,” jawabnya dengan suara lirih, tanpa berani menatap wajah, justru dia memperhatikan kain sarung Nizar yang agak menyembul dan pikirannya semakin kacau. Sibuk menbak-nebak ukurannya.
Nizar mengangguk kecil, lalu beranjak pergi membawa gelasnya, kembali ke ruangan kenduri. Sementara Retno tetap berdiri di tempatnya, sendok yang seharusnya ia ambil masih tergeletak di rak.
Acara kenduri pun akhirnya selesai. Satu per satu tamu berpamitan. Retno sibuk membantu merapikan piring dan gelas, meskipun pikirannya masih melayang.
Nizar pun bersiap pulang. Saat ia melewati teras, sekilas tatapannya kembali bertemu dengan Retno. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat dada wanita itu kembali berdesir.
“Kenapa anak tiri orang kok malah mendebarkan?” bisiknya dalam hati.
Setelah semua tamu pulang, piring-piring bersih tersusun rapi, dan dapur kembali sunyi, rumah Retno akhirnya kembali ke keheningannya yang biasa. Lampu-lampu luar dipadamkan satu per satu, dan suara jangkrik mulai terdengar samar di luar jendela.
Di dalam kamar, Retno duduk sendiri di sudut ranjang. Lampu kamar menyala redup. Ia melepas kerudungnya perlahan, lalu mengelus pelan rambutnya yang sama sekali belum beruban. Tapi bukan itu yang membuatnya termenung. Sementara Haji Gofur, suaminya, sudah terlelap di kamar satu lagi sejak kenduri selesai, karena kelelahan.
Pandangan Retno menatap kosong ke arah cermin di pojok kamar. Namun, yang muncul di bayangannya bukanlah dirinya sendiri, melainkan… Nizar.
Sosok pemuda hitam manis, kulit agak legam berkilat seperti kopi yang baru diseduh. Hidungnya mancung dan tegas, matanya tajam tapi tidak seram.
Tubuhnya kurus namun kekar, ototnya menonjol jelas setiap kali ia mengangkat karung atau memanggul sesuatu. Ciri khasnya: selalu mengenakan kain sarung dan kemeja koko atau celana pendek lusuh, tapi entah kenapa tetap tampak percaya diri.
“Ya Allah… ada apa ini?” batinnya, sambil menunduk, merasa malu pada dirinya sendiri.
Ia mencoba mengalihkan pikiran, tapi bayangan Nizar justru makin jelas. Cara ia tertawa, lebar dan jujur. Cara ia berbicara dengan sopan pada para ibu-ibu. Bahkan, cara ia menyeka peluh dengan ujung sarungnya.
“Nizar itu masih muda… seumuran dengan Gifar…” gumam Retno, mencoba menertawakan pikirannya sendiri. Tapi rasa itu tetap bertahan. Bukan sekadar kagum. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih diam-diam, dan lebih tak terduga.
Ia berdiri pelan, membuka jendela kamarnya yang menghadap ke halaman belakang. Angin malam masuk, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa wangi masakan. Sepi. Tapi dalam sepi itu, Retno merasa pikirannya tidak tenang.
Nizar kini mengisi ruang hatinya yang kosong, meski ia tahu… itu bukan tempat yang seharusnya. Tapi… siapa yang bisa mengatur rasa? Nizar bahkan terasa jauh lebih mendebarkan dibanding Egar. Apakah karena dia seorang santri yang jauh lebih menantang atau….
Di kejauhan, lolongan anjing sayup terdengar. Dan Retno masih berdiri di tepi jendela, bertanya-tanya: apakah ini hanya angin lewat di malam sunyi, atau… pertanda akan datangnya taman asmara yang indah?
Bersambung…




