Hari terus berlalu, bayangan Nizar melekat, namun Retno berusaha keras menyingkirkannya. “Dia masih terlalu muda!” hiburnya.
Pagi itu, rumah besar Retno masih tetap berdiri anggun di antara pepohonan yang rapi ditata di pekarangan depan. Sinar matahari memantul lembut di kaca jendela, menembus tirai tipis berwarna krem yang menjuntai di ruang tamu. Suasana rumah tampak elegan dan tenang, seperti pemiliknya.
Retno duduk di sofa empuk berlapis beludru, mengenakan setelan satin warna sage green yang lembut, rambutnya ditata rapi meski tanpa dandanan mencolok. Di jemarinya yang terawat melekat beberapa cincin berlian kecil yang berkilau sederhana.
Dia menyeruput teh rosella dari cangkir porselen mahal sambil membuka-buka katalog baju pengajian di tablet. Namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Rumah itu begitu sunyi, padahal luas dan megah. Hanya suara burung di luar jendela dan denting sendok yang sesekali menyentuh cangkir.
“Bu…” suara Bi Inah pelan, tapi cukup membuat Retno menoleh.
“Hmm?”
“Itu… Bu Wiwid tadi nelpon. Katanya, kain buat seragam pengajian ibu-ibu RT sebelah belum dibeli ya?”
Retno langsung mendongak, lalu menatap Bi Inah yang membawa nampan berisi kue-kue kecil.
“Astagfirullah, iya ya? Aku malah lupa total, Bi.”
Bi Inah tersenyum maklum. “Mungkin Ibu bisa beli sekarang. Masih pagi, toko belum terlalu ramai.”
Retno mengangguk pelan, lalu meletakkan tablet di pangkuannya. “Iya deh. Sekalian aku pengen lihat toko baru yang katanya lebih lengkap itu…”
“Mobilnya sudah siap, Bu. Mau saya panggilin Bang Madun?”
Retno berdiri, merapikan shawlnya yang menjuntai di pundak. “Gak usah, aku nyetir sendiri aja. Pengen jalan pelan-pelan, sambil cuci mata.”
Bi Inah hanya mengangguk, lalu mengawasi Retno yang berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian. Dalam hati, perempuan setengah baya itu tahu… Retno bukan hanya ingin cari kain hari ini. Tapi juga sedang mencari sesuatu yang bahkan dia sendiri belum tahu namanya. Mungkin terong muda?
Retno berangkat sendiri dengan mobilnya. Tujuannya jelas: membeli kain warna ungu untuk seragam pengajian ibu-ibu RT se desanya. Biasanya dia ke toko langganan, tapi kali ini, ia sengaja mencoba toko tekstil milik orang India yang katanya lebih lengkap dan lebih murah.
Begitu masuk, suasana toko sudah ramai. Puluhan pengunjung sibuk memilah-milih kain, dan para pramuniaga hilir mudik melayani pembeli. Tapi Retno tak terburu-buru. Ia melangkah pelan, matanya menyapu deretan rak kain warna-warni, sesekali meraba tekstur yang ia pikir cocok dengan rancangan seragam yang sudah dipesan para tetangga.
Di tengah kesibukan itu, sebuah suara tiba-tiba menyapa.
“Bisa saya bantu, Kak?”
Deg!
Jantung Retno langsung terasa mencelus. Refleks, ia menoleh ke belakang.
Seorang lelaki muda berdiri di sana. Celana jeans selutut, kaos oblong marun, dan senyum manis yang tak bisa didefinisikan selain… bikin dag dig dug. Retno sempat mengira dia pelanggan lain. Tapi melihat raut wajahnya yang hampir seperti bintang film India, mengingatkan Retno pada Egar, hanya ini versi wajahnya lebih bersih. Dan Retno yakin kalau pemuda ini bukan pegawai biasa. Mungkin anak atau saudara pemilik toko besar ini.
Perawakannya lumayan tinggi, posturnya proporsional. Wajahnya hitam manis bersih, hidung mancung lengkap dengan kumis tipis yang membuat wajahnya tampak lebih dewasa. Dan senyumnya, benar-benar Egar, bikin hidung mancungnya terlihat makin sempurna.
“Kakak cari apa?” ulang pemuda itu dengan suara hangat.
Lamunan Retno buyar. Ia tersentak kecil, lalu dengan gugup mencoba menjawab.
“Eh… i-iya, Mas… sa-sa… saya mau cari itu…” Lidahnya rasanya mendadak beku. “Cari terong Mas…”
“Hah cari terong saya?” Pemuda itu balik tanya dengan wajah melongo, namun tangannya bergerak.
“Haduh!” Retno seketika berseru dalam hati. ‘Oh my God! Kenapa tangannya harus mengelus-elus selangkangannya?’ gerutu Retno dalam hati. Matanya pun seolah dituntun untuk terus memperhatikan tangan pemuda itu yang bergerak lembut di selangkangannya.
“Kakak mau cari kain ungu atau terong ungu saya? Boleh. Punya saya memang gak ungu, tapi tetep bagus kok. Kalau ukurannya sih jangan diragukan lagi, hehehehe.” Pemuda itu bicara santai dengan tangan yang terus mengelus-elus depan celananya.
‘Hah, apa lagi maksud lelaki gila yang satu ini? Astaga! Kenapa mataku jadi fokus pada tangan dan selangkangannya?’ umpat Retno dalam hatinya.
“Kakak beneran mau cari terong saya?” Pemuda itu seakan ingin memastikan.
“Eh, jangan ngomong sembarangan ya, kamu!” sergah Retno seraya membuang muka. Menghindari tatapan mata lelaki muda itu yang diarasanya sedang mentertawakan, melecehkan sekaligus hendak menerkamnya.
“Hehehe, liat aja dulu, Kak. Siapa tahu suka. Gak ungu sih warnanya, agak hitam dan gak telalu hitam banget sih tapi cukup indah kok, hehehe,” timpalnya makin kurang ajar. Senyum seringainya benar-benar mengejek Retno dan itu sangat memalukan.
“Tolong ya omongan kamu dijaga, Mas! Saya mau cari kain warna ungu, bukan terong kamu!” sergah Retno ketus. Berharap pemuda itu berhenti menggodanya. Retno benar-benar malu karena telah salah menyebut ‘terong mas’ yang bisa diartikan macam-macam oleh pemuda itu.
“Oh, mau cari kain warna ungu, habis tadi Kakak bilangnya cari ‘terong mas.’ Saya pikir punya saya yang agak hitam, besar dan panjang ini, hehehe.” Pemuda bermata jernih itu masih terus menggoda Retno.
“Apa hubungannya kain yang saya cari dengan ukuran terongmu, heh? Dasar ngawur kamu!” sergah Retno dengan nada yang mulai nyolot.
“Jelas ada hubungannya dong, Kak. Nanti kita lihat saja. Kakak mau cari kain ungu bahan apa? kulit, sutera, sypon atau katun?” tanya pemuda itu dengan nada masih tetap santun dan ramah. Ngocoks.com
“Kira-kira yang cocok yang mana, ya? Saya mau seragam pengajikan dan bikin couple-an sama suami, buat ke acara resepsi keponakan,” ujar Retno, suaranya mulai tenang, meski dalam hatinya masih terasa getar-getar aneh yang tak biasa.
Pesona dan keramahan pemuda di hadapannya membuatnya sedikit lupa diri, dan kenangan indah saat ngobrol bersama Egar kembali menggoda. Bahkan lupa jika dia hanya akan membeli kain untuk seragam ibu-ibu pengajian.
“Wow, couple-an sama suami? Emangnya Kakak udah menikah?” Pemuda itu bertanya sambil tersenyum, nada suaranya ringan tapi membuat Retno merasa seperti sedang dibelai angin yang halus dan hangat. Harum tubuhnya juga perlahan tercium, segar, maskulin, menusuk hidung, dan entah bagaimana, begitu mendebarkan.
Tatapan matanya tampak menjalar naik turun ke tubuh Retno, seolah menakar sesuatu yang lebih dari sekadar ukuran pakaian. Sorot matanya tajam, tapi tak kasar. Justru seperti sedang mengagumi dengan kekaguman yang tulus—atau setidaknya, terasa begitu di mata Retno.
Retno balas menatap, kali ini lebih percaya diri. Ada rasa aneh yang muncul: senang, tersanjung, bahkan bangga. Sudah lama dia tidak merasa dilihat seperti ini, semenjka Egar pindah dan tinggal di kosan. Terakhir kali? Entah kapan. Suaminya sendiri sudah jarang memujinya.
“Hei, kamu kok malah bengong?” tegur Retno sambil menyunggingkan senyum kecil. Ia sadar ini kesempatan untuk mengembalikan kendali, setidaknya untuk menjaga dirinya tidak hanyut terlalu jauh dalam pesona pemuda ini.
“Sumpah, Kak, saya nggak nyangka. Saya kira Kakak masih seusia saya… dua puluh satu tahun.” Pemuda itu bicara dengan nada yang nyaris seperti desahan ringan, membuat Retno sedikit kikuk, tapi juga geli.
“Ada-ada aja kamu. Aku ini udah emak-emak, tahu, udah punya suami!” jawab Retno sambil tertawa kecil, meski sorot matanya tak lepas dari wajah sang lelaki muda.
“Amazing…” gumam lelaki itu pelan, hampir tak terdengar. Tapi senyum di wajahnya bertambah cerah.
“Gimana ada gak kain warna ungunya?” Retno sudah mulai bisa mengendalikan keadaaan dan sukses membuyarkan lamunan pemuda itu.
“Oke deh, Kakak. Kita ke belakang aja, ya. Di sana koleksi kainnya lebih lengkap, kualitas impor, harganya juga bersahabat. Saya yakin Kakak bakal suka,” ucap pemuda itu sambil meraih tangan Retno. Genggamannya ringan, tapi cukup erat untuk membuat jantung Retno berdetak dua kali lebih cepat.
“Eh, sebentar. Kamu ini siapa, sih?” tanya Retno, mencoba menahan langkahnya sejenak.
“Nama saya Arvin, panggil saja Arvin, saya anaknya pemilik toko ini, lebih tepatnya anak tirinya sih.” Arvin menjawab santai dan agak lengkap, sambil memamerkan senyum sempurna dengan gigi putih bersihnya.
Bersambung…




