“Ibu saya Sunda-India, kalau ayah asli India, mereka sudah cerai, ayah saya kembali ke India, sementara ibu saya nikah lagi sama asli pribumi sini yang mempunyai toko ini.”
Arvin menjelaskan panjang lebar yang sontak kian mengingatkan Retno pada Egar. Matanya pun refelks memandang selangkangan Arvin, namun tak terlihat jelas karena terhalang kaosnya. Namun bayangan penis Egar yang hitam, besar dan panjang seketika memenuhi kembali isi kepanya.
‘Kenapa aku selalu berhadapan dengan anak tiri orang lain? Ada apa dengan anak tiri? Sementara anak-anak tiriku malah kurang deket denganku.,’ batin Retno.
Ia mengangguk dan membalas, “Saya Retno.” balas Retno.
“Kak Retno cantik, ayo ikut saya!” Arvin kembali menarik tangan Retno dengan lembut namun mantap.
“Eh, mau kemana?” Retno agak kaget.
“Ya ke gudang, Kak. Kkan katanya mau nyari kain warna ungu kwalitas super.”
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Retno melangkah mengikuti. Tak ada keberanian untuk menolak. Entah kenapa tubuhnya mengikuti begitu saja, padahal dalam hati ia merasa… sesuatu tak biasa sedang terjadi.
Mereka berjalan melewati lorong-lorong rak kain, hingga akhirnya tiba di bagian belakang toko. Suasananya sedikit gelap dan sepi, nyaris seperti gudang. Retno mulai merasa ragu, tapi belum menarik tangannya dari genggaman Arvin.
“Silakan Kak Rettno, pilih-pilih dulu. Banyak kain bagus di sini,” ucap Arvin tanpa melepaskan genggamannya.
Retno menunjuk ke salah satu kain ungu tua yang tersusun agak jauh.
“Coba yang itu, Vin,” katanya.
Arvin menoleh sejenak ke arah kain tersebut, tapi kemudian kembali menatap Retno. “Oke, nanti saya ambilkan, Kak. Tapi sebelum pegang kain itu, coba Kakak raba dulu kain yang satu ini,” bisik Arvin dengan suara rendah. Ia menarik tangan Retno, namun alih-alih menuntunnya ke gulungan kain, tangan Retno malah diarahkan ke selangkangannya dan dengan sangat jelas Retno bisa merasakan sesuatu yang kenyal, keras, besar dan panjang di sana.
“Hah!” Retno menjerit tertahan oleh keterkejutan dan rasa tak percaya. Tubuhnya membeku, tak tahu harus menarik diri atau membiarkan waktu berhenti di situ.
Suasana di gudang itu tiba-tiba terasa membeku. Sunyi, hanya terdengar napas Retno yang sedikit memburu dan detak jantungnya yang hingga ke pelipis.
Tangan Arvin bergetar menggerak-gerakan tangan Retno, seolah meminta Retno untuk mengelus dan meremas benda di dalamnya.
Mata Retno yang masih terbelalak, beradu pandang dengan mata Arvin yang sendu penuh gairah dan emosi yang campur aduk tak bisa lagi dimengerti. Retno ingin marah, takut, heran dan entah kenapa, benda kenyal namun keras yang sedang dipegang dan diremasnya itu seperti sangat susah dilepaskan.
“Gimana terongnya gede dan panjang kan? Mau lihat warnanya gak? gak ungu tapi agak hitam berurat,” bisik Arvin sambil tersenyum.
“Astaga!” Retno tersentak, sejurus kemudian tersadar. Ia menarik tangannya dengan cepat dan menatap Arvin dengan sorot mata tajam. Bibirnya bergetar, menahan kata-kata yang sempat menggumpal di kerongkongan.
“Kamu… ini… keterlaluan, Arvin!” Suaranya bergetar, antara menahan malu, marah dan entah apa lagi.
Kemudian, tanpa peringatan, Arvin melakukan hal yang membuat Retno terkesiap. Dengan gerakan cepat dan berani, ia menunduk dan menarik resleting celananya, lalu memelorotkan jeans selututnya hingga ke paha. Di hadapan mata Retno yang masih terbelalak kaget, sebuah pemandangan tak terduga terpampang jelas.
Penis Arvin yang “hitam berurat” seperti yang ia sebutkan sebelumnya, kini berdiri tegak, memerah, dan terlihat sangat mengagumkan. Ukurannya yang besar dan panjang, dengan urat-urat menonjol di sepanjang batangnya, benar-benar memancing imajinasi Retno yang selama ini terkubur. Sesuatu yang kenyal dan keras di tangannya tadi hanyalah permulaan. Realitasnya jauh lebih nyata dan mendebarkan.
Retno tak bisa berkata-kata. Pikirannya kosong, namun tubuhnya bereaksi di luar kendali. Rasa malu, amarah, dan kekaguman bercampur aduk menjadi gairah yang membakar. Panas menjalari seluruh tubuhnya, terutama di area sensitifnya. Napasnya memburu, matanya tak bisa lepas dari kejantanan Arvin yang kini berada tepat di depan wajahnya.
Arvin tersenyum miring, senyum penuh kemenangan dan daya pikat yang tak terbantahkan. Ia melihat tatapan Retno yang penuh hasrat, dan tahu bahwa ia telah berhasil memancing birahi wanita dewasa itu. Tanpa menunggu, ia melangkah maju, mendekat ke arah Retno yang masih membeku.
“Gimana, Kak Retno? Lebih bagus dari yang Kakak bayangkan, kan?” bisik Arvin, suaranya serak dan sensual, semakin membius Retno. Ngocoks.com
Retno merasa kakinya lemas. Ia kehilangan keseimbangan dan tanpa sadar terduduk di atas tumpukan gulungan kain yang lembut. Posisi ini membuatnya semakin terkejut, karena kini, penis Arvin yang tegang dan memerah itu, persis sejajar dengan wajahnya. Jarak mereka begitu dekat, Retno bisa merasakan hawa panas dan aroma maskulin yang kuat dari tubuh Arvin.
Matanya melotot, menatap lekat-lekat ujung kejantanan Arvin yang berdenyut-denyut. Tenggorokannya tercekat, menelan ludah pun terasa sulit. Gairah yang tak terbendung membakar dirinya, membangkitkan sisi liar yang telah lama ia pendam. Bayangan Egar, Nizar, bahkan suaminya sendiri seolah sirna digantikan oleh kehadiran Arvin yang begitu nyata dan menggoda di depannya.
Retno mengangkat tangan kanannya, ragu-ragu. Ujung jarinya gemetar saat mendekati penis Arvin. Ia ingin menyentuh, merasakan tekstur urat-urat yang menonjol itu, namun juga takut akan konsekuensinya. Di sisi lain, Arvin menanti dengan sabar, senyumnya tak pernah pudar, matanya memancarkan gairah yang sama besarnya.
Retno menatap penis Arvin yang tegang itu dengan tatapan penuh kerinduan yang tak terbendung. Jaraknya begitu dekat, hanya beberapa senti dari bibirnya yang setengah terbuka. Aroma maskulin yang kuat, campuran keringat segar dan feromon alami, membuat kepalanya pusing.
Birahi Retno sudah menguasai sepenuhnya, tak ada lagi ruang untuk malu atau penolakan. Dengan gemetar, tangan kanannya akhirnya menyentuh batangnya yang panas dan berurat, jari-jarinya melingkar lembut, merasakan denyutannya yang kuat.
“Ahh… Kak Retno…” desah Arvin pelan, pinggulnya sedikit maju, mendorong penisnya lebih dekat ke wajah Retno.
Retno tak menolak. Ia membuka mulutnya perlahan, lidahnya keluar menyentuh ujung kepalanya yang memerah dan licin oleh cairan pra-ejakulasi. Rasa asin-manis itu langsung membakar seluruh indera penciumannya. Ia menjilat pelan, memutar lidah di sekitar glans, membuat Arvin menggenggam jilbab Retno dengan lembut tapi tegas.
Retno semakin berani. Mulutnya kini membungkus kepala penis Arvin, menghisap pelan sambil tangannya mengocok batangnya yang tebal. “Mmmh…” erangannya teredam oleh kehadiran daging panas itu di mulutnya.
Ia menggerakkan kepalanya maju-mundur, semakin dalam, lidahnya menari di sepanjang urat-urat yang menonjol. Arvin mengerang lebih keras, “Sial… Kakak… enak banget mulutnya…” Pinggulnya mulai bergoyang ritmis, menyetubuh wajah Retno dengan lembut tapi mendominasi.
Retno duduk lebih nyaman di gulungan kain, tangan kirinya meraih bola-bola Arvin yang kencang, meremas pelan sambil mulutnya bekerja lebih cepat. Ia menghisap kuat, lidahnya menekan bawah batang, membuat Arvin menggeliat.
“Kak… aku… mau keluar…” bisik Arvin dengan suara parau, napasnya memburu. Retno tak berhenti; malah ia percepat ritmenya, mata mereka bertemu—tatapan Retno penuh kepatuhan dan nafsu, sementara Arvin memandang dengan kemenangan liar.
Tiba-tiba, tubuh Arvin menegang. “Aku… keluar, Kak!” erangnya keras.
Penis Arvin berdenyut hebat di mulut Retno, menyemburkan jet demi jet sperma hangat dan kental yang memenuhi mulutnya. Retno menelan sebagian, sisanya meleleh di sudut bibirnya, tapi ia tetap menghisap hingga tetes terakhir, membersihkan setiap inci dengan lidahnya yang rakus.
Arvin ambruk pelan, menarik penisnya keluar dengan desahan puas, meninggalkan Retno yang tersengal, wajahnya basah oleh keringat dan sisa klimaksnya.
Retno masih tersengal, wajahnya memerah oleh campuran malu dan kepuasan yang membara. Sperma Arvin yang tersisa di sudut bibirnya ia hapus pelan dengan jari, tapi tatapannya tak lepas dari pemuda itu yang kini berdiri dengan celana setengah turun, penisnya masih setengah tegang dan berkilau oleh air liurnya.
Bersambung…




