Birahi Retno belum padam, malah semakin menggelegak. “Arvin… sekarang giliran kamu,” bisiknya serak, suaranya penuh perintah yang tak terduga dari dirinya. Ia bangkit sedikit dari gulungan kain, menarik rok satinnya ke atas, memperlihatkan paha mulus dan celana dalam renda yang sudah basah kuyup.
Arvin tersenyum lebar, matanya menyala kembali. “Siap, Kak Retno. Aku janji bikin Kakak terbang,” jawabnya sambil berlutut di depannya.
Dengan tangan mantap, ia merenggut celana dalam Retno ke bawah, memperlihatkan vaginanya yang sudah mengkilap oleh cairan hasrat. Aroma wanita dewasa yang matang langsung memenuhi udara gudang yang sepi itu. Jarinya menyentuh klitoris Retno yang bengkak, menggosok pelan sambil bibirnya mendekat.
“Basah banget, Kak… ini buat aku ya?”
Retno mengangguk lemas, tangannya meraih rambut Arvin, menekan kepalanya lebih dalam. Lidah Arvin langsung menyerang, menjilat panjang dari bawah vagina hingga klitoris, memutar-mutar dengan keahlian yang membuat Retno melengkungkan punggungnya.
“Ahhh… Arvin… enak… terus…” erangnya tak terkendali, suaranya bergema pelan di gudang. Arvin menghisap klitorisnya kuat, lidahnya menyelam ke dalam lubang yang licin, sementara dua jarinya masuk ke dalam, mengaduk-aduk dinding vaina Retno yang berdenyut. Ritmenya cepat, ganas, membuat pinggul Retno bergoyang liar mengikuti irama.
Tubuh Retno menegang, kakinya menggenggam bahu Arvin. “Viiin… aku… mau keluar… jangan berhenti!” jeritnya pelan.
Arvin percepat lidah dan jarinya, menghisap lebih dalam hingga Retno orgasme hebat, cairan hangat menyembur ke wajah Arvin, tubuhnya kejang-kejang di atas kain. Ia ambruk lemas, napasnya tersengal, sementara Arvin bangkit dengan wajah basah dan senyum puas, penisnya kembali mengeras penuh.
Tepat saat itu, suara langkah kaki samar terdengar dari arah depan pintu gudang. Arvin buru-buru menarik celananya, membantu Retno merapikan roknya.
“Kita lanjut di tempat lain, Kak? Rumahku deket sini,” bisiknya menggoda.
Retno tersentak mendengar suara langkah kaki dan tawaran Arvin untuk melanjutkan. Realitas seolah menamparnya kembali. Ia tersadar dari trans gairah yang sesaat menguasai. Malu dan rasa bersalah tiba-tiba menyergap, membanjiri benaknya. Bagaimana bisa ia, seorang ibu rumah tangga, seorang istri, terbawa suasana seperti ini dalam waktu yang sangat singkat, mengenal Arvin tak sampai satu jam?
Dengan gerakan gugup, Retno merapikan pakaiannya yang berantakan, menarik celana dalamnya yang tadi melorot dan membetulkan letak rok satinnya. Wajahnya yang tadi memerah karena orgasme kini memucat pasi. Ia menghindari tatapan Arvin yang masih penuh gairah.
“Tidak, Arvin. Aku harus pulang,” kata Retno, suaranya bergetar, berusaha sekuat tenaga terdengar tegas meski hatinya masih berdebar kencang. “Aku… aku harus beli kain untuk pengajian. Aku tidak bisa berlama-lama.”
Arvin menatapnya dengan pandangan kecewa, namun ia mengangguk paham. “Baiklah, Kak Retno. Kalau begitu, biar saya bantu carikan kain ungunya.” Ngocoks.com
Retno hanya mengangguk kaku. Ia membiarkan Arvin dengan sigap mencari gulungan kain ungu yang diinginkannya, membayar dengan cepat di kasir depan, dan bergegas keluar dari toko. Udara segar di luar terasa menyejukkan, namun tidak cukup untuk meredakan panas di pipinya atau gejolak di dadanya. Ia masuk ke mobil, ingin segera melaju pulang dengan pikiran kalut.
Ia tahu, bayangan Arvin, dengan senyum dan kejantanannya yang luar biasa, akan menghantuinya untuk waktu yang sangat lama. Pengalaman di gudang toko tekstil itu adalah sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan.
Begitu pintu mobilnya tertutup dan sunyi mengurungnya, ia menghembuskan napas panjang. Tangan kananya masih terasa hangat. Seolah ada jejak samar yang tertinggal bekas memegangnya. Sentuhan tadi… entah kenapa, sulit diabaikan.
Ia duduk diam beberapa saat, tidak langsung menyalakan mesin. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Jantungnya berdetak tak karuan. Tangannya yang satu menggenggam stir, yang satu lagi… terdiam di pangkuan, tak berani bergerak.
“Astaghfirullah…” gumamnya pelan, merasa bersalah namun juga bingung pada dirinya sendiri. Ia wanita terhormat. Istri seorang pegawai departemen agama yang religius dan sangat dihormati dilingkungannya. Meski pada kenyataannya Haji Gofur memang sudah loyo di atas ranjang.
Tapi… yang membuatnya resah adalah perasaan yang muncul saat tangannya merasakan bagian tubuh Arvin yang sangat keras, besar dan panjang. Ia inging marah, tentu. Tapi juga… ada sesuatu. Rasa yang tak bisa ia beri nama.
“Gila, terong India kok gede-gede, hampir sama persis dengan milik Egar…” gumamnya aneh.
Sepanjang perjalanan pulang, Retno seperti sedang berperang. Dengan logika, harga diri, juga kerinduannya yang telah lama terkubur. Sudah berapa tahun suaminya tak menyentuhnya? Sudah berapa lama ia tidak merasa diinginkan?
Mobil akhirnya tiba di halaman rumah besar mereka. Bi Inah, pembantunya, menyambut dari depan sambil membawa tas kain ke dalam. Retno hanya mengangguk kecil, tanpa sepatah kata. Wajahnya tenang, tapi di balik mata itu, gelombang masih bergejolak.
Ia masuk ke kamar, menutup pintu perlahan. Lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur ke dalam tas, menyentuh gulungan kain ungu yang dipilihkan Arvin. Tapi pikirannya bukan di sana. Matanya memejam perlahan, dan… sekelebat wajah Arvin muncul lagi di benaknya.
Senyumnya. Sorot matanya. Dan… penisnya yang luar bkiasa, sama besarnya dengan milik Egar. Mungkin juga dengan milik Nizar.
Ia menggeleng pelan, seperti hendak mengusir bayangan itu. Tapi gagal.
Tangannya kembali menyentuh pipi sendiri, lalu turun ke leher, dan diam di dadanya—tepat di atas detak jantung yang masih belum normal sejak tadi.
“Kenapa hidupku mulai dipenuhi birahi anak-anak tiri orang? Akan kah suatu saat aku tergoda oleh Gerald dan Gifar anak-anak tiriku?” gumamnya pelan.
Retno menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih memburu. Pikirannya kalut, dipenuhi bayangan Arvin dan kejadian di gudang kain tadi. Ia menyadari betapa jauhnya ia telah melangkah, dan betapa cepatnya gairah itu menguasainya.
Dengan langkah gontai, ia menuju kamar mandi. Air hangat adalah satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini, berharap bisa membersihkan tidak hanya tubuhnya, tetapi juga pikiran kotor yang kini melekat.
Setelah mengunci pintu, Retno berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Wajahnya tampak lelah, namun mata itu masih memancarkan kilatan gairah yang belum sepenuhnya padam.
Ia membuka kancing baju satu per satu, melepaskan setelan satin sage green yang tadi pagi ia kenakan. Setiap helai kain yang terlepas terasa seperti beban yang ikut terangkat. Saat baju terakhir jatuh ke lantai, tubuh Retno terekspos.
Ia melihat dadanya yang masih naik turun dengan cepat, paha dan perutnya yang masih rata walau sudah hampir 40, namun tetap terasa seksi di matanya. Ia menyentuh area kewanitaannya, merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih samar-samar terasa.
Kemudian, Retno menyalakan shower. Air hangat mulai membasahi tubuhnya, mengalir dari kepala hingga ujung kaki. Ia memejamkan mata, membiarkan uap memenuhi kamar mandi, seolah ingin menciptakan tabir pelindung dari dunia luar dan dari dirinya sendiri. Ia menggosok tubuhnya dengan sabun wangi, perlahan dan teliti, seolah ingin menghapus setiap sentuhan, setiap kenangan Arvin yang melekat.
Namun, semakin ia menggosok, semakin kuat bayangan itu muncul. Aroma sabun yang harum justru mengingatkannya pada bau tubuh Arvin yang maskulin. Sensasi air yang mengalir di kulitnya justru terasa seperti sentuhan jari Arvin yang merayap.
Ia menggosok lebih keras, hingga kulitnya memerah, tetapi pikiran itu tetap ada, menari-nari di benaknya. Bibirnya yang basah oleh air shower seolah masih bisa merasakan rasa manis Arvin.
Retno akhirnya menyerah. Ia membiarkan air terus membasuh tubuhnya, namun pikirannya tak lagi berusaha menolak. Ia membiarkan bayangan Arvin menari-nari di benaknya, senyumnya, sorot matanya, dan terutama, penisnya yang besar dan panjang. Ia menghela napas panjang, mengakui bahwa ini adalah bagian dari dirinya sekarang. Bagian dari kerinduan yang telah lama terkubur, dan kini meledak dengan dahsyat.
Setelah selesai mandi, Retno membungkus tubuhnya dengan handuk lembut. Ia keluar dari kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Segar, namun juga lelah secara emosional. Ia tahu, mandi tak akan bisa menghapus apa yang telah terjadi, maupun apa yang kini bersarang di hatinya
“Gila, secepat ini aku berubah?”
Bersambung…




