Hari berikutnya berlalu seperti roda yang terus berputar, membawa Retno kembali ke rutinitasnya yang monoton namun penuh tuntutan. Bi Inah datang membantu saat sedang sibuk, atau hanya pagi saja selebihnya dilakukan oleh Retno sendiri.
“Terima kasih, Bu. Kamu selalu telaten,” kata suaminya singkat, sebelum bergegas ke kantor dengan mobil dinasnya. Retno hanya mengangguk, membersihkan meja dengan gerakan mekanis, tapi pikirannya melayang ke gudang toko tekstil itu, ke senyum Arvin, ke panas batangnya yang besar dan berurat.
Siang hari, ia mengurus rumah besar itu: mengawasi Bi Inah menyapu pekarangan, mengecek kain seragam pengajian yang akan dijahit dan dibagikan ke ibu-ibu RT. Pengajian berlangsung lancar di masjid kampung, Retno duduk di barisan depan dengan jilbab rapi, membaca Al-Qur’an dengan suara merdu.
Tapi saat jeda, matanya sering kosong, teringat bagaimana mulutnya membungkus kejantanan Arvin, rasa asin-manis yang memenuhi tenggorokannya.
“Astaghfirullah,” gumamnya dalam hati, menggeleng pelan agar tak terlihat tetangga. Bayangan Egar dan Nizar benar-benar tergantikan sepenuhnya oleh Arvin.
Kala malam tiba, Haji Gofur pulang lelah, hanya peluk singkat sebelum tidur. Retno berbaring di sampingnya, merasakan dingin ranjang itu, sementara bayangan Arvin muncul lagi, denyutannya di mulutnya, erangannya yang parau. Tangan Retno diam-diam menyusuri pahanya sendiri di bawah selimut, tapi ia menahan diri, takut membangunkan suaminya.
Namun bayangan Arvin tak pernah benar-benar hilang; ia seperti hantu yang merayap di setiap sudut pikiran Retno. Saat jogging pagi di pine forest, ia membayangkan Arvin berlari di sampingnya. Saat mandi, air mengalir mengingatkannya pada cairan hangat yang menyembur ke mulutnya dari penis Arvin.
Bahkan saat melayani suami di ranjang, yang kini hanya rutinitas lembek tanpa gairah, Retno membandingkan penis loyo Haji Gofur dengan keperkasaan Arvin yang muda dan liar. Rasa bersalah bercampur kerinduan, membuatnya gelisah, tapi juga membangkitkan hasrat yang tak terpuaskan.
Hari-hari selanjutnya, Retno merasakan gelisahnya tak bisa lagi tertahankan. Bayangan Arvin, senyum nakalnya, aroma maskulinnya, dan terutama kejantanan besar berurat yang pernah ia rasakan dan hisap, terus menghantui setiap sudut pikirannya.
“Cuma mau lihat-lihat kain lagi,” gumamnya pada diri sendiri, meski hati kecilnya tahu itu bohong. Toko tekstil milik ayah tiri Arvin itu memang terkenal lengkap dengan aneka kain berkualitas untuk berbagai kebutuhan seperti yang banyak dicari ibu-ibu di sekitar sana.
Pagi itu, setelah Shalat Subuh dan menyajikan sarapan untuk suaminya, Retno berdandan lebih rapi dari biasa. Ia memilih gamis katun longgar berwarna krem dengan jilbab senada, tapi di baliknya, lingerie tipis yang dulu hadiah dari suaminya membuatnya merasa seksi.
“Bu, mau ke mana pagi-pagi?” tanya Bi Inah penasaran saat Retno mengambil kunci mobil.
“Beli kain tambahan untuk pengajian, Bi. Yang ungu katun premium, katanya toko India itu stoknya banyak,” jawab Retno santai, meski pipinya memerah samar karena sadar Bi Inah bisa saja curiga.
Ia nyetir sendiri lagi, jantung berdegup kencang sepanjang perjalanan, membayangkan apakah Arvin akan menyapanya seperti beberapa hari lalu.
Begitu memasuki toko yang ramai, aroma kain baru dan rempah India langsung menyambut. Retno berpura-pura sibuk memilih gulungan kain ungu tua semi-sutra, cocok untuk couple-an pengajian, seperti yang populer di toko-toko tekstil lokal.
Tapi matanya menyapu ke segala arah, mencari sosok pemuda itu. Tak lama, suara hangat itu terdengar lagi:
“Kak Retno? Kembali lagi? Kain ungu lagi, atau. terong aku?” Arvin muncul dari balik rak, senyum miring penuh godaan, celana jeans ketat dan kaos yang membentuk otot dadanya.
Retno tersentak, tapi kali ini bukan kaget, melainkan getar birahi yang langsung membasahi celana dalamnya.
“Sst. jangan keras-keras. Iya, kain dulu. Tapi. gudangnya kosong lagi kan?” bisiknya genit, tak sanggup menahan diri.
Arvin tertawa pelan, matanya menelusuri lekuk tubuh Retno. “Ikut aku, Kak. Kali ini aku yang bikin Kakak penasarannya hilang.” Ngocoks.com
Retno merasa jantungnya berdegup kencang saat Arvin meraih tangannya lagi, menuntunnya melewati lorong rak kain menuju gudang belakang yang sepi. Udara di lorong sana terasa lebih hangat, aroma kain baru bercampur rempah India yang khas
“Kali ini kita bisa santai di gudang, Kak. Terong spesial, hitam impor india sudah siap,” bisik Arvin genit, senyum miringnya membuat Retno basah oleh antisipasi. Retno mengikuti, birahinya membara, tapi tiba-tiba.
“Arvin! Kamu mau kemana?” suara berat beraksen India menggelegar dari arah depan. Seorang lelaki tua berkulit gelap, berjenggot rapi dan sorban sederhana, ayah tiri Arvin, pemilik toko muncul dengan langkah tegas. Matanya tajam.
“Arvin, anterin Ibumu ke grosir sekarang! Biar ibu ini dibantu sama Pak Gultom aja. Ibumu sudah menunggu di mobil. Jangan lama-lama!”
Arvin tersentak, wajahnya memucat sesaat. “Eh, Yah… bentar ya, lagi bantu pelanggan dulu.”
Tapi ayah tirinya tak bergeming, “Sekarang! Ibumu sudah menunggu, biar ibu ini sama Pak Gultom. Kamu kok susah dibilangin!”
Arvin melirik Retno penuh penyesalan, mulutnya membentuk “maaf” bisu sebelum digeret pergi.
Retno berdiri kaku, tangannya masih panas oleh genggaman Arvin tadi.
Pak Gultom, pramuniaga senior berbadan gempal berusia 50-an, muncul dari balik rak dengan senyum profesional. Ia sudah cukup lama bekerja di toko ini, mengenal seluk-beluk keluarga pemiliknya. Melihat raut kecewa di wajah Retno, Pak Gultom menghela napas pelan.
“Maaf ya, Bu. Bos memang begitu kalau sama Arvin,” ujarnya, suaranya lebih lembut dari biasanya, sedikit berbisik. “Ayahnya memang keras sekali. Arvin itu bukan anak kandung, jadi sering kena omel. Kasihan, sebenarnya anaknya baik.”
Retno menangkap sinyal itu. Ia menatap Pak Gultom, yang tampak lebih dari sekadar penjaga toko biasa. “Oh, jadi… Pak Bos itu ayah tirinya Mas Arvin?” tanya Retno, pura-pura baru tahu dan berusaha membuat suaranya terdengar netral.
Pak Gultom mengangguk, sorot matanya menunjukkan rasa simpati. “Betul, Bu. Istrinya Pak Bos itu kan ibunya Arvin. Mereka sudah cerai dengan suaminya yang India asli, terus nikah sama Pak Bos ini. Tapi ya itu, Arvin sering diperlakukan beda. Dari kecil sudah begitu, sering disuruh-suruh, padahal Arvin kan kuliah juga.”
“Masa sih?”
“Saya sering dengar dia cerita tidak bahagia, Bu. Ayah tirinya terlalu keras, sering membentak, padahal niat Arvin cuma bantu-bantu di toko.” Pak Gultom menggaruk kepalanya yang mulai botak, seolah ingin mengatakan lebih banyak tapi terhalang oleh loyalitasnya pada majikan.
Retno merasa ada sesuatu yang berbalik dalam dirinya. Rasa kecewa karena gairahnya tertunda kini bercampur dengan simpati mendalam untuk Arvin. Ia melihat ada kesamaan dalam cerita itu dengan Egar yang tidak akur dengan ibu tirinya, bahkan mungkin dengan dirinya yang tidak dekat dengan anak-anak tirinya sendiri, kecuali Gerlad.
Entah kenapa, pengakuan Pak Gultom itu justru membuat Arvin terlihat semakin menarik di matanya. Ada kerapuhan di balik sosok muda yang menggoda itu.
“Begitu ya, Pak. Ya sudah, kain ungu tua semi-sutra untuk seragam pengajian, berapa meternya?” Retno berkata, kali ini suaranya lebih tenang. Ia membayar dengan cepat, keluar toko dengan tas kain di tangan, namun langkahnya kini terasa lebih ringan. Ia tidak lagi hanya kecewa, melainkan ada tekad baru yang menyala.
Ia masuk ke mobil, melaju pulang dengan pikiran yang tidak lagi kalut. Informasi dari Pak Gultom telah membuka sudut pandang baru. Arvin bukan hanya sekadar pemuda tampan yang menggoda, tetapi juga seseorang yang mungkin membutuhkan perhatian dan pengertian.
Retno tiba di rumah besarnya dengan tas kain ungu di tangan, tapi hati kecilnya justru semakin gelisah. Bi Inah menyambut seperti biasa,
“Kainnya bagus, Bu? Cocok buat pengajian?”
Retno hanya mengangguk singkat, “Iya, Bi. Taruh aja di kamar,” sebelum langsung masuk kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang panas.
Satu hal yang paling ia sesali: kenapa tak sempat minta nomor ponsel Arvin? Bayangan pemuda itu, senyumnya yang miring, kejantanan besar beruratnya, dan cerita pilu dari Pak Gultom tentang ayah tirinya yang keras, semakin melekat.
“Mungkin Pak Gultom punya nomornya,” gumamnya pelan, membayangkan bertanya besok. Atau… langsung tanya Arvin sendiri? Tapi dengan alasan apa?
Sepanjang siang, Retno berusaha sibuk membantu Bi Inah memasak, bahkan menelepon Bu Wiwid soal pengajian besok. Tapi pikirannya melayang terus. Saat Haji Gofur pulang malam, ia melayani suaminya dengan senyum paksa, menyajikan makan malam, mendengarkan cerita kantor, tapi saat berbaring di ranjang, gelisah itu memuncak.
Bersambung…




