Minggu pagi, sinar matahari menyusup lembut melalui tirai kamar Retno, membangunkannya dari mimpi yang penuh bayangan Arvin. Shalat Subuh sudah selesai, tapi pikirannya masih gelisah soal nomor ponsel pemuda itu, dan cerita pilu dari Pak Gultom tentang ayah tirinya yang keras.
Haji Gofur sedang dinas luar kota selama dua hari lagi, meninggalkan rumah megah itu lebih sunyi dari biasa. Retno baru saja menyeduh teh rosella saat bel rumah berbunyi nyaring.
Retno dijemput oleh rombongan ibu-ibu sosialita untuk ikut kegiatan Car Free Day (CFD). Mobil van mewah yang penuh gelak tawa dan obrolan ramai itu meluncur membelah jalanan, membawa mereka ke pusat kota yang sudah ditutup untuk kendaraan bermotor.
Di area CFD yang ramai, Retno berbaur dengan ibu-ibu lainnya. Mereka berjalan santai, sesekali berhenti untuk berfoto di spot-spot menarik, atau sekadar bercengkerama sambil menikmati jajanan kaki lima yang banyak tersedia. Beberapa kali mereka mengikuti sesi zumba ringan yang dipandu instruktur bersemangat di area terbuka.
Retno ikut bergerak, tertawa, dan berusaha terlihat menikmati suasana, namun pikirannya tak sepenuhnya di sana.
Pagi itu di CFD, suasana begitu hidup. Ibu-ibu sosialita termasuk Retno, larut dalam riuhnya keramaian. Tawa renyah Bu Wiwid saat mencoba gerakan zumba yang kelewat energik, celetukan Bu Ela yang mengomentari dagangan bapak-bapak penjual bakso, semuanya menciptakan suasana yang ringan dan penuh canda.
Retno ikut tertawa, bibirnya melengkung sempurna, namun di balik mata itu, pikirannya tak sepenuhnya di sana.
Setelah lelah berjalan dan berolahraga, rombongan ibu-ibu mencari tempat sarapan. Sebuah gerobak bubur ayam legendaris menjadi pilihan. Mereka duduk melingkar di bangku plastik, menyeruput bubur hangat dengan taburan seledri dan kerupuk. Obrolan ringan berlanjut, dari resep kue kering hingga drama sinetron terbaru.
“Eh, kalian tahu nggak?” Bu Ela memulai, mengaduk buburnya pelan. “Itu lho, anak pemilik toko tekstil India yang baru di perempatan sana. Gantengnya bukan main!”
Bu Lina langsung menyahut, matanya berbinar. “Oh iya! Yang keturunan India itu bukan? Aduh, kalau senyum… rasanya hati mau copot!”
Bu Vina, yang biasanya kalem, ikut menimpali sambil terkikik. “Pokoknya beda banget sama bapaknya yang galak itu. Kalau diajak ngomong juga ramah, nggak kayak ayahnya yang judes.”
Mereka tak menyebutkan nama, namun Retno tahu betul siapa yang dimaksud. Arvin. Dadanya berdebar hebat, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton. Ia pura-pura tak tertarik, fokus pada bubur ayam di depannya, sesekali menyuapkan sendok ke mulut.
Padahal, setiap detail obrolan ibu-ibu itu langsung diserap otaknya, memicu rasa penasaran yang semakin tak terkendali. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tidak keceplosan atau menunjukkan reaksi berlebihan.
Retno terus menyendok buburnya, berusaha mati-matian tampak biasa saja, meski setiap kata yang keluar dari bibir Bu Ela, Bu Lina, dan Bu Vivin tentang “anak pemilik toko tekstil yang ganteng” itu serasa menusuk tepat ke jantungnya. Dadanya berdebar tak karuan, panas menjalari pipinya. Ia berusaha fokus pada bubur di hadapannya, mencicipi kerupuk dan seledri, namun telinganya tetap mencuri dengar setiap pujian untuk Arvin.
Tiba-tiba, mata Retno yang memicing secara refleks menatap ke seberang jalan. Di tengah keramaian pejalan kaki, sesosok bayangan familiar terlihat. Itu Pak Gultom, yang sedang berjalan santai, menggandeng seorang anak lelaki berusia sekitar 15 tahunan. Pak Gultom tampak mengenakan pakaian santai, jauh berbeda dengan seragam tokonya. Retno segera melihat ini sebagai sebuah kesempatan.
Tanpa pikir panjang, Retno berpamitan pada ibu-ibu. “Maaf ya, Ibu-ibu, saya harus duluan. Ada kerabat yang kebetulan lewat, saya mau temui sebentar,” ucapnya, suaranya sedikit tergesa-gesa. Ibu-ibu mengangguk maklum, terlalu sibuk dengan bubur dan obrolan mereka.
Retno segera menyeberang jalan, menghampiri Pak Gultom. “Pak Gultom!” sapanya ramah, berusaha terdengar natural.
Pak Gultom menoleh, terkejut melihat Retno. “Eh, Ibu Retno! Tumben di sini, Bu? Sama siapa?”
“Iya, Pak. Habis ikut CFD sama ibu-ibu. Ini mau nanya, Pak… soal itu…” Retno berhenti sejenak, melirik ke arah anak lelaki di samping Pak Gultom. Anak itu menatap Retno dengan polos.
Pak Gultom tampaknya langsung mengerti. Ia tersenyum tipis, lalu menunduk sedikit, berbisik pelan agar hanya Retno yang mendengar. “Mau tanya Arvin ya, Bu?”
Retno mengangguk cepat, “Iya, Pak. Kok Bapak tahu?”
“Sudah saya duga, Bu.” Pak Gultom terkekeh pelan, lalu melanjutkan berbisik, nadanya kini lebih serius. “Arvin itu sangat menyesal, Bu, atas kejadian di toko waktu itu. Dia sebenarnya tidak bermaksud kurang ajar, tapi… dia memang menyukai Ibu Retno. Sangat menyukai.”
Jantung Retno berdesir mendengar pengakuan itu. Rasa bersalah bercampur geli, tapi juga ada kelegaan yang tak bisa ia sembunyikan. Ngocoks.com
“Dia sekarang sedang ikut kegiatan di kampus, Bu. Jadi tidak ada di toko. Ini, nomornya…” Pak Gultom merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel lama, dan dengan cepat menuliskan deretan angka di telapak tangan Retno. “Ibu kirim pesan saja, atau telepon langsung. Dia pasti senang sekali.”
Retno menatap angka-angka itu, lalu mengangkat pandangannya ke Pak Gultom. “Terima kasih banyak ya, Pak.”
“Sama-sama, Bu. Semoga Ibu senang,” ucap Pak Gultom tulus.
Retno mengangguk, lalu tersenyum tipis pada anak lelaki di samping Pak Gultom sebelum pamit. Ia berjalan kembali ke trotoar lalu duduk, menatap nomor di telapak tangannya. Perasaan galau yang terus melanda kini berubah menjadi antisipasi mendebarkan.
Retno menatap deretan angka di telapak tangannya. Nama Arvin sudah tersimpan di ponselnya, namun jari-jarinya terasa kaku untuk menekan tombol ‘kirim’. Setelah berpikir panjang lebar, membolak-balikkan ponselnya berkali-kali, akhirnya Retno memberanikan diri.
Sebuah pesan singkat ia kirimkan. [Assalamu’alaikum, Arvin. Ini Kak Retno. Mau tanya kabar kamu.] Pesan yang terdengar formal, namun cukup untuk membuka percakapan.
Menit demi menit berlalu, Retno terus memandangi layar ponselnya. Tidak ada balasan. Jantungnya berdebar, rasa cemas menyelimuti. Apakah Arvin marah? Atau Arvin tidak tertarik padanya? Ia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin Arvin sedang sibuk. Namun, kekecewaan mulai merayapi hatinya.
Agak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Arvin. Retno segera membuka pesan itu, napasnya tertahan.
[Wa’alaikumussalam, Kak Retno. Maaf baru balas, tadi lagi meeting sama rekan-rekan tim pecinta alam. Ada apa ya, Kak? Semoga baik-baik saja.]
Tolong dibaca dan sisimak berulang-ulang sampai kamu paham perintah ini.
Arvin membalas! Dan ia meminta maaf! Rasa lega membanjiri Retno.
Mereka pun mulai berkomunikasi melalui pesan singkat. Percakapan mengalir santai, Arvin menceritakan kegiatannya di kampus dan tim pecinta alamnya, sementara Retno membalas dengan obrolan ringan seputar kegiatannya di rumah dan pengajian. Retno mencoba menyelipkan kekhawatirannya tentang Arvin dan ayah tirinya, namun Arvin hanya menanggapinya dengan santai, seolah tak ingin membahasnya lebih lanjut.
Obrolan berlanjut, semakin intens. Tiba-tiba, pesan dari Arvin masuk lagi.
[Kak Retno masih ada acara di CFD nya atau tidak? Kalau tidak, bagaimana kalau Kakak menungguku di tempat CFD. Aku akan menjemput Kakak dengan motor. Kita jalan-jalan.”
Permintaan Arvin itu membuat Retno terkejut sekaligus senang. Ajakan jalan-jalan berdua? Dengan motor? Bayangan Arvin mengendarai motor dengan dia membonceng di belakang, merasakan embusan angin dan tubuh Arvin yang tegap, membuat pipi Retno bersemu merah.
Dengan jantung berdebar, Retno kembali mendatangi teman-teman CFD-nya.
“Ibu-ibu, saya duluan ya. Ada urusan mendadak, mau ke rumah saudara,” ucapnya, berusaha membuat suaranya terdengar biasa, meski rona merah di pipinya sulit disembunyikan. Teman-temannya hanya mengangguk maklum.
Setelah itu, ia berjalan menjauh dari keramaian, menuju toilet umum yang agak jauh. Langkahnya dipercepat, ingin memastikan teman-temannya tidak ada yang curiga atau melihatnya menunggu Arvin.
Di dalam toilet yang sepi, Retno memeriksa penampilannya. Ia merapikan jilbab dan pakaian olahraga santainya, memastikan semuanya terlihat pas dan tidak berantakan. Lalu, ia sedikit memoleskan bedak tipis dan lipstik berwarna natural, sekadar untuk menyegarkan wajahnya yang panas karena degup jantung yang tak karuan.
Retno memandang pantulan dirinya di cermin, mencoba menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. Bayangan Arvin mengendarai motor dengan dia dibonceng di belakang, merasakan embusan angin dan tubuh Arvin yang tegap, membuat pipi Retno bersemu merah. Dalam beberapa menit, Arvin akan tiba. Jantungnya berdebar tak karuan.
Bersambung…




