Kurang lebih lima belas menit kemudian, Retno keluar dari toilet umum dengan langkah hati-hati, menuju spot yang agak terpisah dari keramaian CFD, sebuah pinggir trotoar teduh di bawah pohon beringin besar, sesuai janji via WA tadi.
Jantungnya masih berdegup kencang, tapi ada kehangatan yang menyelimuti saat melihat sosok Arvin sudah menunggu di sana. Pemuda itu mengenakan helm full-face di tangan kiri, jaket kulit tipis hitam di atas kaos oblong, dan celana jeans ketat yang membentuk postur tegapnya. Motor sport hitam mengkilap terparkir rapi di sampingnya, siap meluncur.
“Assalamu’alaikum, Kak Retno,” sapa Arvin lembut, senyumnya melebar hangat saat melihat Retno mendekat.
Matanya berbinar, penuh kelegaan dan kegembiraan yang tulus. Ia melepas helmnya sepenuhnya, mendekat selangkah, dan tanpa ragu memeluk Retno pelan. Pelukan singkat tapi erat, seperti teman lama yang lama tak bertemu. Aroma sabun mandi segar bercampur angin pagi langsung menyapa hidung Retno, membuatnya tersipu.
“Maaf ya kemarin di toko, Kak. Ayah tiri emang suka ngomel. Senang banget Kakak mau ketemu.”
“Wa’alaikumsalam, Vin,” balas Retno, suaranya lembut dengan senyum malu-malu. Pipinya memerah saat pelukan itu berlangsung, tangannya ragu menyentuh punggung Arvin sebentar sebelum melepaskan diri.
“Nggak apa-apa. Kakak juga senang. Kamu kelihatan capek, meeting-nya panjang ya?”
Mereka berdiri berdekatan, obrolan mengalir hangat seperti air sungai. Arvin tertawa kecil menceritakan tim pecinta alamnya yang lagi rencanain pendakian ke Merapi, Retno balas cerita pengajian pagi tadi sambil sesekali menyentuh lengan Arvin ringan, gerakan alami yang penuh keakraban. Udara pagi CFD terasa semakin manis, dengan suara tawa mereka bercampur hiruk-pikuk jauh di belakang.
Arvin memandang Retno lama, matanya penuh kekaguman. “Kakak cantik banget pakai olahraga gini. Mau jalan kemana hari ini? Kopi dulu atau langsung petualangan?”
Retno terkikik, bahu mereka bersentuhan saat tertawa bareng. Mereka berfoto selfie cepat dengan latar motor Arvin, Arvin memuji “Kakak pose-nya natural banget!”
Hangatnya pertemuan itu membuat Retno lupa waktu, sampai Arvin menawarkan helm cadangan. “Naik yuk, Kak. Tapi kalau mau santai, mampir dulu ke kosku deket sini. Kita minum kopi enak. Tempatku aman, nggak ada yang ganggu. Biar kita ngobrol lebih enak.”
Retno ragu sesaat, tapi tatapan Arvin yang tulus dan pelukannya tadi membuat hatinya luluh. “Ya udah deh, sebentar aja ya,” jawabnya sambil naik ke belakang motor, tangannya pelan memeluk pinggang Arvin.
Motor Arvin melaju mulus melewati jalanan yang masih sepi pagi itu, angin menerpa lembut wajah Retno yang kini membonceng erat. Tubuhnya menempel dekat di punggung Arvin, tangannya melingkar pinggang pemuda itu, merasakan otot tegap dan detak jantungnya yang stabil.
“Pegang erat ya, Kak!” ucap Arvin pelan di tengah raungan mesin, membuat Retno tersenyum malu sambil mengangguk, pipinya bersandar sebentar di jaketnya. Perjalanan singkat hanya 10 menit, tapi terasa intim seperti petualangan rahasia.
Kos elite Arvin ternyata nyaman, gedung modern 3 lantai di gang tenang, dengan AC sentral, parkir motor aman, dan kamar luas lantai 2 miliknya sendirian fasilitas kos premium seperti ini populer di kalangan mahasiswa kelas atas. Arvin memarkir motor, membuka pintu kamar dengan kunci digital, dan mengajak Retno masuk.
Ruangan bersih: tempat tidur king single rapi, meja belajar penuh buku pecinta alam, lemari mini, dan AC dingin langsung menyambut.
“Santai aja, Kak. Mau kopi atau teh?” tanya Arvin sambil melepas jaket, kaos oblongnya membentuk dada bidang.
Retno duduk di tepi tempat tidur, jantungnya berdegup lagi. “Kopi aja,” jawabnya lembut, matanya menyusuri kamar maskulin itu.
Arvin buru-buru seduh kopi instan panas, menyajikannya di meja kecil sambil duduk di samping Retno. Obrolan mengalir hangat lagi, tentang segala macam yang sebenarnya tak terlalu penting. Arvin juga menceritakan ayah tirinya yang “galak tapi baik hati”. Jarak mereka semakin dekat, bahu bersentuhan, sampai tatapan mata bertemu lama.
Tanpa kata, Arvin mendekat pelan. “Kak Retno…” bisiknya serak, tangannya menyentuh pipi Retno lembut. Retno tak menolak, malah matanya memejam saat Arvin memeluknya erat, tubuh mereka saling menempel di atas kasur empuk. Pelukan itu hangat, penuh kerinduan.
Dada Arvin menekan payudara Retno yang naik turun cepat, tangan Retno merayap punggungnya, merasakan panas kulit di balik kaos. “Vin…” desah Retno pelan, hidung mereka bersentuhan. Ngocoks.com
Arvin tak tahan lagi. Bibirnya menyentuh bibir Retno pelan, ciuman lembut, hangat, lidahnya menyapa ujung bibirnya. Retno merespons, membuka mulutnya, lidah mereka saling melilit dalam ciuman dalam yang basah dan panas.
“Mmmh…” erangan Retno teredam saat Arvin mendesaknya telentang pelan, tubuhnya menindih ringan, tangan meremas pinggul Retno. Ciuman semakin liar: Arvin menggigit bibir bawahnya genit, lidah menari di mulut Retno, tangan menyusup ke balik jilbab menyentuh leher halusnya.
Retno balas gigit pelan, tangannya mencengkeram kaos Arvin, napas mereka tersengal bercampur aroma kopi dan gairah. Pelukan erat itu berubah jadi gelombang hasrat, bibir basah saling menempel berulang-ulang, membuat Retno lupa segalanya.
Arvin tak membuang waktu. Setelah ciuman panjang yang menguras napas, ia menarik diri sedikit, menatap mata Retno yang sayu penuh gairah. Tanpa kata, tangannya bergerak cepat. Dengan cekatan, ia melepaskan kancing-kancing baju Retno satu per satu, lalu menariknya perlahan dari bahu.
Retno tidak melawan, malah mengangkat tangannya sedikit, membiarkan Arvin menanggalkan pakaiannya. Kaus dan celana olahraga yang tadinya menutupi tubuhnya kini tergeletak di lantai, menyisakan Retno hanya dengan lingerie dan jilbabnya. Jilbab itu tetap bertengger rapi, kontras dengan tubuh Retno yang kini terekspos.
Arvin menggeser tubuhnya. Ia duduk di lantai di hadapan Retno yang kini setengah berbaring di tepi tempat tidur, kakinya menjuntai ke bawah. Matanya menyusuri setiap lekuk tubuh Retno dengan tatapan memuja. “Kakak cantik dan seksi banget…” bisiknya serak, sebelum menunduk.
Dimulai dari kaki, Arvin menjilat lembut punggung kaki Retno, naik perlahan ke betis, lalu ke paha. Lidahnya yang hangat dan basah meninggalkan jejak basah di kulit Retno. Retno mendesah pelan, punggungnya melengkung, merasakan sensasi asing namun menyenangkan yang sudah lama tak ia rasakan.
“Ngee Viin… jangan…” bisiknya, antara larangan dan permohonan.
Arvin tidak berhenti. Ia naik lebih tinggi, menjilat perut Retno yang sedikit menggelambir namun tetap sensual, lalu ke pusarnya. Setiap jilatan dan isapan Arvin terasa seperti sengatan listrik. Retno tak bisa lagi menahan desahannya. “Aah… Arvin…”
Perjalanan lidah Arvin terus berlanjut, ke bagian dalam paha Retno yang putih mulus, semakin dekat dengan pusat gairahnya. Retno sudah tak berdaya, seluruh tubuhnya panas, basah, dan merinding. Ia memejamkan mata, kepalanya terlempar ke belakang, hanya bisa menikmati sentuhan memabukkan dari Arvin.
Akhirnya, Arvin sampai pada tujuannya. Ia menyelami lautan gairah Retno, lidahnya menjelajahi setiap inci vaginanya yang basah dan bengkak. Ia menghisap klitoris Retno dengan lembut namun penuh hasrat, lidahnya menari-nari di antara labia, membuat Retno menjerit tertahan.
“Aaarrgghh… Vin… jangan… aahh…” Desahan Retno memenuhi kamar kos, bercampur dengan suara kecapan Arvin yang semakin dalam dan liar. Sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan kini menghantam birahinya dengan kekuatan penuh, membawa Retno ke ambang kenikmatan yang luar biasa.
Arvin menarik diri dari vagina Retno yang basah dan berdenyut, napasnya tersengal penuh gairah. Matanya gelap oleh hasrat saat ia berdiri cepat, menanggalkan kaos oblongnya memperlihatkan dada bidang berotot, lalu membuka resleting celana jeansnya.
Dengan gerakan mantap, ia melepaskan pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat, penisnya yang besar, panjang, hitam berurat sudah tegang maksimal, memerah dan berdenyut siap menyerang.
Retno menatapnya terpaku, birahinya meledak melihat “terong India” itu lagi, sama besarnya dengan milik Egar, membuat mulutnya terbuka tanpa sadar.
Arvin mendekat, lututnya di tepi kasur, tangan memegang batang penisnya yang keras. “Kak Retno… tolong…” bisiknya serak, menyodorkan penisnya tepat ke mulut Retno yang setengah terbuka.
Retno tak menolak, malah ia membuka lebar, lidahnya menyambut ujung glans yang licin pra-ejakulasi. Mulutnya membungkus kepala penis Arvin, menghisap kuat sambil tangan meremas batangnya, lidah berputar di urat-urat menonjol.
“Mmmh… enak, Kak…” erang Arvin, pinggulnya maju pelan menyetubuh mulut Retno, tangannya meraih rambut di balik jilbab. Retno menggeleng-geleng rakus, menelan lebih dalam hingga tenggorokannya tercekat, air liur meleleh di sudut bibirnya, membuat Arvin menggigil nikmat.
Bersambung…




