Pagi itu, udara masih sejuk menyisakan embun tipis di rumput halaman belakang. Retno sudah terbiasa memulai hari dengan olahraga ringan sendirian: stretching, jogging kecil di tempat, dan beberapa gerakan yoga sederhana yang ia pelajari dari video online dan juga senam bersama ibu-ibu kompleks.
Ia mengenakan legging hitam ketat yang menonjolkan lekuk pinggul dan paha yang masih kencang, dipadukan kaos olahraga longgar berlengan pendek, serta jilbab modern warna abu-abu muda yang menutup dada dengan rapi.
Tubuhnya berkeringat tipis, napas teratur, pikirannya relatif tenang setelah hampir sebulan penuh berusaha melupakan kejadian-kejadian aneh nan tak terduga itu.
Arvin sudah sibuk dengan pilihan barunya dan Egar sudah pindah kost ke mess bengkel, jauh dari komplek. Nizar pun sudah kembali ke pesantren. Walau sebenarnya melupakan Nizar apalgi Egar sangatlah mudah, karena dua anak tiri orang itu, memang belum sampai meninggalkan jejak yang krusial di tubuhnya, hanya baru menyentuh perasaan dan angannya saja.
Kini tak ada lagi sapaan pagi di pagar dari Egar, tak ada lagi suara sapu daun atau angkat galon yang membuat jantungnya berdegup tak karuan. Retno sudah mulai meyakinkan diri bahwa semuanya hanyalah gejolak sesaat, fantasi kesepian seorang istri yang terlalu lama ditinggal.
Ia bahkan mulai tidur lebih nyenyak, tanpa mimpi-mimpi liar yang membuatnya terbangun basah. Pengalaman bersama Arvin sudah cukup membuatnya sadar jika lelaki muda memang hanya mencari pelampiasan.
Tiba-tiba…
Krek… krek…
Suara ranting kecil patah dari arah semak pembatas halaman. Retno tersentak, hampir kehilangan keseimbangan saat sedang melakukan pose warrior. Ia menoleh cepat, tangan refleks menahan dada.
Di sana, di sisi halaman tetangga yang dulu sering ia intip dari jendela, berdiri Egar.
Ia tampak baru selesai olahraga juga: celana pendek olahraga hitam yang agak pendek hingga memperlihatkan paha berotot kecokelatan, kaos tanpa lengan mirip tank top abu-abu gelap yang basah keringat menempel ketat di dada bidang dan perut six-pack yang terbentuk dari kerja fisik, bukan gym.
Sepatu kets lusuhnya masih berdebu tanah, rambutnya acak-acakan, dan keringat mengalir dari leher ke bahu. Napasnya masih agak cepat, tapi matanya langsung tertuju pada Retno.
Untuk sesaat, keduanya sama-sama membeku.
“…Tante Retno?” suara Egar pecah lebih dulu, terdengar kaget tapi juga… senang?
Retno buru-buru menegakkan badan, tangan menyeka keringat di dahi. Jantungnya langsung berdegup kencang lagi, seperti tombol replay yang ditekan setelah lama mati. “Egar? Kamu… kok di sini pagi-pagi?”
Egar tersenyum kecil, agak canggung, mengusap lehernya dengan punggung tangan. “Aku baru balik ke kostan bengkel semalam, Tan. Pagi ini rindu jalan pagi di komplek lama, jadi muter-muter aja. Kebetulan lewat sini…”
Ia berhenti bicara, matanya sempat melirik sekilas ke penampilan Retno, legging yang membentuk lekuk tubuh, kaos yang sedikit basah di bagian dada karena keringat, jilbab yang tetap rapi tapi wajahnya memerah karena olahraga atau karena kehadirannya?. Egar cepat-cepat memalingkan pandang, tapi Retno tahu ia sudah melihat.
Retno menelan ludah, mencoba bersikap biasa. “Oh… iya ya. Lama nggak ketemu. Kamu sehat?”
“Alhamdulillah, Tan. Tante juga kelihatan sehat… tambah fit malah,” balas Egar, suaranya pelan tapi ada nada hangat yang membuat Retno merinding halus. “Masih rajin olahraga pagi ya?”
“Iya… biar badan nggak kaku,” jawab Retno singkat, tapi suaranya agak bergetar. Ia buru-buru membungkuk pura-pura merapikan sepatu, menghindari tatapan Egar yang terasa terlalu dalam.
Mereka basa-basi sebentar: tentang kerja Egar di bengkel yang semakin ramai, tentang Pak Haji yang masih sering dinas luar, tentang cuaca yang akhir-akhir ini panas sekali. Percakapan ringan, seperti dulu saat pertama kali mereka ngobrol di taman malam itu.
Tapi ada yang berbeda sekarang, udara di antara mereka terasa lebih tebal, lebih elektrik. Setiap kali Egar mengangguk atau tersenyum, otot lengan tanpa lengan itu menonjol, keringat mengalir pelan, dan Retno harus berusaha keras agar tatapannya tak turun ke tonjolan familiar di celana pendek itu.
“Tan… aku dulu pindah karena mikir lebih baik jaga jarak,” kata Egar tiba-tiba, suaranya lebih rendah. “Tapi… ternyata susah lupa.”
Retno menatapnya, dadanya naik turun cepat. “Maksudnya Gar…”
Egar mengangkat tangan, seperti menenangkan. “Aku nggak maksud apa-apa, Tan. Cuma… senang bisa ketemu lagi. Bahkan cuma lewat gini.”
Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk hormat. “Aku lanjut jalan dulu ya, Tan. Hati-hati olahraganya.”
Egar berbalik, mulai berlari pelan menjauh. Retno memandang punggungnya yang lebar, kaos basah yang menempel, langkahnya yang kuat. Tubuhnya bereaksi lagi, panas merayap dari dada ke perut bawah, seperti api kecil yang tiba-tiba hidup kembali setelah sebulan redup.
Ia berdiri di tempat, tangan mengepal. Napasnya tersengal, bukan karena olahraga, tapi karena sesuatu yang lain.
“Ya Allah… lagi?” gumamnya pelan, tapi kali ini senyum kecil muncul di bibirnya, senyum yang campur antara takut dan… rindu.
Satu bulan usaha melupakan ternyata sia-sia. Garis batas yang dulu jebol, sekarang seperti baru saja retak lagi. Dan Retno tahu, pertemuan kembali pagi ini dengan Egar bukan akhir. Mungkin justru awal dari sesuatu yang lebih dalam… atau lebih berbahaya.
Setelah pertemuan pagi tadi di halaman belakang, Retno merasa seperti ada angin panas yang tiba-tiba menyapu seluruh tubuhnya. Jantungnya masih berdegup tak karuan, meski Egar sudah berlari menjauh dan menghilang di tikungan jalan komplek.
Ia buru-buru masuk ke rumah, menutup pintu belakang dengan pelan, seolah takut suara itu akan memanggil Egar kembali.
Hari Minggu. Bi Inah libur, seperti biasa. Rumah besar terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara angin di luar, ayam tetangga yang sesekali berkokok, dan detak jam dinding di ruang tamu. Ngocoks.com
Retno memutuskan untuk mengalihkan pikiran. Ia tak mau lagi membiarkan bayangan Egar, kaos tanpa lengan basah keringat, otot lengan yang menonjol saat berlari, celana pendek yang kembali membuat imajinasinya liar, menguasai kepalanya.
Ia mulai dari dapur. Membersihkan meja makan yang masih ada sisa sarapan, menyapu lantai keramik yang dingin di bawah telapak kakinya. Sambil bekerja, ia bersenandung pelan, lagu-lagu lama yang biasa ia dengar di radio dulu: “Bunga Citra Lestari… Kasih Putih…”, suaranya lembut, hampir seperti bisikan, seolah bernyanyi untuk menenangkan diri sendiri.
Tapi semakin ia bergerak, semakin sulit mengabaikan apa yang dirasakannya. Saat membungkuk mengambil ember dari bawah wastafel, legging hitamnya menempel lebih ketat di bokong dan paha.
Pikirannya langsung melayang: bagaimana kalau Egar melihatnya seperti ini? Bagaimana kalau Egar tiba-tiba muncul di pintu belakang lagi, seperti pagi tadi, dan melihatnya dalam posisi ini?
Retno menggeleng cepat, menampar pipinya sendiri pelan. “Astaghfirullah… Retno, stop.”
Ia pindah ke ruang keluarga, mengelap meja kaca dengan kain lap, menyusun bantal sofa yang sedikit berantakan. Setiap gerakan membuat payudaranya bergoyang ringan di balik kaos olahraga longgar, dan ia sadar sekali keringat pagi tadi belum sepenuhnya kering, kaosnya sedikit transparan di bagian dada, memperlihatkan garis bra olahraga yang tipis.
Sambil menyeka jendela, ia tak sengaja melirik ke luar, ke halaman belakang, ke pagar tanaman yang memisahkan rumahnya dengan rumah lama Egar. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Tapi bayangan Egar pagi tadi masih terasa nyata di sana, seperti jejak panas yang belum hilang.
Retno menghela napas panjang, meletakkan kain lap. Ia duduk di sofa, tangan menutup wajah. “Kenapa harus sekarang lagi, ya Allah… Sudah sebulan aku baik-baik aja.”
Tapi tubuhnya tak bohong. Ada hangat yang kembali merayap di perut bawahnya, lembab yang mulai terasa di antara paha. Ia menggeser posisi duduk, mencoba mengabaikan, tapi malah membuat sensasi itu lebih terasa.
Akhirnya, ia bangkit lagi, memutuskan membersihkan kamar tidur utama, kamar yang ia bagi dengan Pak Haji Gofur, meski sudah lama tak ada keintiman di sana.
Ia mengganti sprei, melipat selimut, menyusun bantal. Saat membungkuk untuk merapikan ujung sprei yang jatuh ke lantai, ia membayangkan Egar di belakangnya, tangan kuatnya memegang pinggulnya, napas panas di leher… seperti Arvin.
Retno tersentak sendiri, langsung berdiri tegak. Napasnya tersengal. “Cukup!”
Ia berjalan ke kamar mandi, membuka keran air dingin, mencuci muka berulang-ulang. Air mengalir deras, membasahi jilbabnya sedikit, membuat kain itu menempel di leher dan dada. Di cermin, wajahnya memerah—bukan hanya karena olahraga atau kerja rumah, tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam.
Retno memandang pantulan dirinya lama. Usia 37, garis halus di sudut mata, tapi tubuhnya masih responsif, masih haus akan sentuhan yang dulu pernah membuatnya merasa hidup kembali terutama saat bersama Arvin.
Ia tahu, hari ini ia berhasil menahan diri. Tapi pertemuan pagi tadi seperti membuka pintu yang sudah ia kunci rapat selama sebulan. Dan Retno tak yakin, apakah ia masih punya kekuatan untuk menutupnya lagi.
Sambil kembali ke dapur untuk membuat teh, ia bersenandung lagi, kali ini lebih pelan, lebih getir. Lagu yang sama, tapi nadanya kini terdengar seperti permohonan.
“Kasih putih… yang kau beri… tak pernah pudar…”
Tapi di hatinya, ia tahu: yang pudar bukan kasih, tapi ketenangannya sendiri. Dan Egar, pemuda yang seharusnya hanya tetangga, kini kembali menjadi bayangan yang tak mau pergi. Entah apa sebenarnya yang salah dengan Retno.
Bersama Haji Gofur, sudah jelas Retno punya empat anak tiri, tiga diantaranya laki-laki dewasa, namun justru kini sering terlihat sesuatu dengan anak-anak tiri orang lain. Arvin, Egar juga Nizar. Apakah ini hanya kebetulan atau justru…
Bersambung…




