Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Sedarah»Anak Tiri

Anak Tiri

Ketagihan Dientot Anak Tiri
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Pagi itu sebenarnya biasa saja. Matahari baru naik setengah, ayam tetangga masih ribut, dan pasar masih belum sepenuhnya ramai. Tapi buat Retno… rasanya kayak ada sesuatu yang berubah di udara.

Dari jendela lantai duanya, tirai tipis melambai pelan kena angin. Ia hanya bermaksud melihat halaman belakang sebentar, cek tanaman, cek cucian, hal-hal kecil yang biasa ia lakukan sebelum mulai hari. Tapi pandangannya otomatis tertarik pada sosok di bawah seseorang yang mulai sedikit mengganggu pikirannya.

Egar sedang menyapu daun-daun kering di halaman rumahnya. Kaosnya entah di mana, hanya celana pendek lusuh dan bertelanjang kaki, tapi justru itu yang bikin semuanya terasa… terlalu nyata. Kulitnya gelap kecokelatan, otot-ototnya kebentuk karena kerja, bukan gym. Keringatnya mengilap, mengalir turun mengikuti garis tubuh yang dulu tak pernah ia perhatikan sedetail ini.

Jantung Retno berdetak lebih cepat dari seharusnya.

“Kenapa aku jadi begini…” bisiknya sambil menempelkan punggung tangan ke bibir sendiri, seperti hendak menahan sesuatu yang tak seharusnya muncul.

Dulu, Egar cuma anak yang sering main sama Gerald. Remaja polos yang kadang datang ikut makan, nonton bola, atau bantu-bantu kecil di rumah ketika Gerald masih tinggal bersama mereka. Bahkan pernah menginap di kamar Gerald sambil belajar kelompok. Retno ingat, Gerald memperlakukan Egar seperti sepupu jauh, Retno sendiri menilai Egar sebagai sahabat terbaik anak tirinya itu..

Tapi semenjak mereka ngobrol berdua di malam itu, dan pagi ini… entah kenapa cara pndangnya kini mulai berubah. Garis itu sepertinya mulai goyah. Mungkin karena malam itu Egar bercerita panjang, membuka sisi hidup dirinya yang selama ini tak pernah Retno ketahui.

Tentang ibu titinya, ibu kandungnya juga ayah dan kedua adik tirinya.. Tentang bengkel tempatnya bekerja dan tentang beberapa gadis yang berusaha mendekatinya namun selalu dia tolak dengan halus karena tidak percaya diri. Juga tentang hidupnya yang kadang kesepian, kadang sibuk yang sebenarnya tak perlu. Tentang masa kecilnya di Malaysia yang ia sendiri samar-samar mengingatnya.

Retno menelan ludah.

Di bawah sana, Egar berhenti sebentar, mengusap keningnya dengan punggung tangan. Gerakannya tampak natural, nggak dibuat-buat. Dia bahkan nggak sadar sedang diperhatikan.

Retno buru-buru memalingkan wajah, tapi hanya sedetik, karena rasa penasaran menarik kepalanya kembali ke jendela.

Aneh. Retno merasa seperti remaja lagi, yang sembunyi-sembunyi melihat seseorang dari kejauhan. Ada getaran aneh di dadanya. Bukan takut. Bukan salah. Lebih seperti… tersentuh campur deg-degan, nuansa yang jarang ia rasakan sejak lama.

Ia menutup tirai perlahan.

“Sudahlah, Retno… jangan konyol,” gumamnya pada diri sendiri.

Tapi tubuhnya tetap hangat. Dan jantungnya masih belum mau tenang.

Egar selesai menyapu dan berjalan ke arah semak-semak di sudut halaman, tepat di bawah jendela kamar Retno. Ia bergerak santai, sama sekali tidak menoleh ke atas. Jelas ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari balik tirai.

Retno semula hanya mengintip sekilas, tapi begitu melihat Egar melangkah ke area itu, tempat yang sering dipakai lelaki kampung untuk buang air kecil kalau lagi buru-buru, hatinya refleks menegang.

“Eh… jangan bilang dia… mau…” Retno menahan napas.

Dan benar saja. Setelah menengok kanan-kiri memastikan tidak ada orang lewat, Egar melakukan hal yang sangat… biasa bagi lelaki yang hidup di kampung, tapi sangat tidak biasa untuk disaksikan secara langsung dari sudut pandang seseorang yang seharusnya tidak melihat.

Ia membungkuk sedikit ke depan, bersiap buang air kecil.

Refleks, Retno menutup mulutnya dengan tangan. Ia sempat memalingkan wajah, tapi… rasa terkejut dan rasa lain yang ia sendiri tak bisa definisikan membuat tubuhnya kaku di tempat. Ngocoks.com

Ia tidak melihat apa-apa secara detail, tirai dan jarak jendela membuat segalanya tertutup bayangan, tapi postur tubuh Egar, kepercayaan dirinya, dan ketidaksadarannya bahwa sedang diperhatikan… justru membuat detak jantung Retno melonjak.

“Astaga… Egar…” gumamnya dengan suara hampir hilang.

Ada sensasi aneh di dada Retno, campuran antara kikuk, canggung, dan sesuatu yang ia tidak berani beri nama. Bukan karena apa yang dilakukan Egar, tapi karena dirinya sendiri… karena ia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak terasa.

Ia buru-buru mundur dari jendela, memegang dadanya, mencoba bernapas lebih pelan.

“Retno, kamu itu kenapa…” ucapnya lirih.

Tapi bayangan Egar barusan tetap menempel di kepala, bukan hal yang dia lakukan, tapi cara Egar bergerak… cara ia sama sekali tidak sadar sedang membuka celananya scara natural, Bayangan hitam batang rudal Bangla-nya yang tampak begitu besar dan panjang walau dalam keadaan loyo terlihat sangat nyata. Mengingatkan Retno pada dildo yang pernah menjadi teman akrabnya saat kesepian dulu dan kini sudah dibuangnya.

Retno mundur selangkah dari jendela, punggungnya bersandar dinding kamar yang dingin. Napasnya masih tersengal, tapi bukan karena lelah, malah sebaliknya, ada panas yang merayap dari dada ke perutnya, lambat tapi pasti.

Ia menggigit bibir bawah, mencoba mengusir bayangan itu: siluet gelap rudal Egar begitu jelas. ‘Gila, besar panjang banget, bahkan saat sedang tidak berdiri, Pikiran itu muncul begitu saja, tanpa diundang, membuat pipinya mendadak merah.

Ia berjalan pelan ke cermin kecil di sudut kamar, memandang wajahnya sendiri. Usia 37 garis halus di sudut mata, tapi matanya masih tajam, bibirnya penuh.

“Retno, kamu gila ya?” gumamnya lagi, tapi suaranya tak meyakinkan.

Suaminya, sudah lama tak membuatnya merasa seperti ini, stamina menurun, rutinitas yang hambar. Anak-anak sudah besar, rumah terasa sepi. Egar? Dia bukan lagi anak kecil. Dia lelaki, berdarah Bangladesh dengan darah panas yang terpancar dari setiap gerakannya.

Tiba-tiba, suara langkah di tangga bawah membuatnya tersentak.

Egar? Atau cuma imajinasi? Hatinya berdegup kencang. Ia buru-buru merapikan daster tipisnya yang sedikit tergeser, memperlihatkan lekuk pinggulnya yang masih kencang.

Pintu kamar terbuka pelan dari luar, bukan Egar, tapi Bi Inah yang biasa membantu membersihkan rumhanya pagi-pagi.

“Bu, sarapan sudah siap. Ada Egar juga mau bantu angkat galon,” kata Bi Inah polos.

Retno mengangguk cepat, tapi pikirannya melayang lagi ke halaman belakang.

‘Apa jadinya kalau Egar naik ke sini?’ pikirannya kotor dan tubuhnya bereaksi sendiri, hangat di antara paha.

Retno menelan ludah, memutuskan turun, mungkin bertemu Egar di dapur, bicara biasa, tapi dengan tatapan yang kini berbeda. Garis batas itu semakin tipis, dan Retno tahu, hari ini bukan hari biasa lagi.

Retno turun hendak sarapan. Ia langsung menelan ludah, jantungnya berdebar kencang saat Egar berjalan melewati ambang pintu dapur, masih mengenakan celana pendek kolor. Udara di dapur seolah menipis, dan setiap gerakannya menarik perhatian Retno.

Egar membungkuk untuk mengangkat galon, dan saat itulah, garis batas pandangan Retno melampaui kebiasaan. Siluet rudal Egar yang besar dan panjang terpampang jelas di balik kain tipis celana kolornya.

Bentuknya yang menonjol dan memanjang, bahkan dalam kondisi rileks, membuat napas Retno tertahan. Sebuah getaran aneh menjalari tubuhnya, campuran antara keterkejutan dan daya tarik yang tak terduga.

Retno buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura sibuk membolak-balikkan sarapan di piring. Pikirannya kalut. Ini bukan lagi sekadar bayangan samar dari jendela, ini adalah pemandangan yang begitu dekat, begitu nyata.

Aroma keringat Egar yang maskulin, bercampur dengan bau sabun, menusuk indra penciumannya. Ia mencoba menenangkan diri, mengingatkan statusnya sebagai ibu rumah tangga, seorang istri, namun sensasi aneh yang dirasakannya begitu kuat.

Egar sendiri tampak tidak menyadari apa-apa, ia hanya fokus mengangkat galon dan meletakkannya di dispenser.

“Berat juga ya, Tan,” katanya sambil sedikit terengah. Suaranya yang serak dan dalam membuat Retno semakin tak fokus.

Retno hanya bisa bergumam “Iya, Gar,” tanpa berani menoleh lagi.

Retno menunggu hingga suara langkah Egar menghilang di halaman belakang, pintu gerbang berderit pelan menutup. Napasnya yang tertahan sejak tadi baru dilepaskan, tapi panas di tubuhnya justru semakin membara.

Tanpa pikir panjang, ia bergegas naik tangga menuju lantai dua, daster tipisnya menempel lengket di kulit karena keringat halus yang muncul entah dari mana. Kamarnya sudah menanti, ranjang dengan sprei katun putih yang rapi, tirai masih setengah tertutup menyisakan cahaya pagi yang lembut.

Retno merebahkan diri di ranjang, punggungnya menyandar bantal empuk. Tangan kanannya gemetar saat menyusup ke bawah daster, menelusuri paha dalam yang sudah lembab. Mengulang kembali kebiasaan lama, masturbasi. Namun kali tanpa dildo di tangannya, tapi isi kepalanya penuh oleh imajinasi lair oleh dildonya Egar.

“Egar… astaga,” desahnya pelan, mata terpejam rapat.

Bayangan rudal Bangla yang besar dan panjang di balik celana kolor tipis Egar, menonjol tegas dengan gairs urat-uratnya yang samar terlihat sepertinya dia juga sedang berdiri. Retno sangat yakin Egar tak mengenakan sempak di balik kolornya.

“Oooh gede bangeeet Egaaar…” lenguhnya, membayangkan bagaimana nikmatnya jika rudal yang diperkirakan ukurannya mencapai 21+ sentimeter itu menelusup masuk ke dalam dirinya. Jari-jarinya mulai bergerak lincah, menggesek klitoris yang sudah bengkak sensitif, sementara dua jari lainnya menyusup ke dalam yang basah kuyup.

Gerakan tangannya makin cepat, ritmis, mengikuti imajinasi liar, membayangkan Egar di atas tubuhnya, dada bidangnya menekan payudaranya yang montok, pinggulnya mendorong kuat, rudal raksasanya mengisi penuh hingga ke rahimnya.

“Ah… Egar, masukin yang dalam-dalam… gede banget punya kamu,” erangnya tertahan, pinggulnya terangkat sendiri, bokongnya menggeliat di sprei.

Keringat mengalir di lehernya, putingnya mengeras menonjol di balik daster, ia meremas payudara kirinya dengan tangan kiri, mencubit puting hingga sensasi listrik menjalar ke seluruh tubuh.

Puncaknya datang tiba-tiba, tubuhnya menegang kaku, lembah basahnya berdenyut kuat menyemburkan cairan hangat membasahi jari dan sprei.

“Egaaarrr!” erangnya berbisik, menggigit bantal agar tak terdengar Bi Inah di bawah.

Gelombang orgasme bergulung dua kali, tubuhnya kejang pelan, napas tersengal panjang. Ia terbaring lemas, mata setengah terbuka, tapi bayangan Egar masih menari-nari, membuatnya tersenyum nakal.

Retno terkulai lemas di ranjang, tubuhnya basah kuyup keringat, sprei kusut menempel lengket di paha dan pinggulnya. Orgasme yang baru saja mengguncangnya begitu hebat, gelombang kenikmatan yang sudah lama tak ia rasakan.

Bersambung…

1 2 3 4 5
ABG Anak Kecil Anak Polos Berlanjut Bersambung Cantik Gangbang Keluarga Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Rame Rame Sedarah Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKakek Tua
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Kakek Tua

    9.3

    Tabir Cinta 2 Dunia

    9.5

    Surga Gangbang Selebriti

    9.3

    Fira the Office Girl

    9.7

    Mimpi Buruk di Kampus

    9.3

    Mimpi Buruk

    Follow Facebook

    Recent Post

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Surga Gangbang Selebriti

    Fira the Office Girl

    Mimpi Buruk di Kampus

    Mimpi Buruk

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

    The Click

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.