Setelah selesai berdandan, Retno bergegas ke gym. Awalnya, ia ingin minta Egar mengantar, tapi ia urungkan; takut Egar sibuk janjian teman atau bantu orang tuanya jualan di pasar.
Sepanjang perjalanan, pikiran Retno terperangkap pada Egar. Senjata laras panjangnya yang sempat ia intip, begitu mendebarkan, membuat jantungnya berdegup tak karuan. Ini bukan Retno biasanya, ia tak pernah bergoda pria lain, meski rudal suaminya sudah lama tak disentuhnya.
Sekitar jam sepuluh pagi, ia tiba di gym yang sepi, tertutup rapat untuk Sabtu ini, dibooking Retno dan sebelas sosialita istri-istri pejabat menengah dari berbagai perusahaan. Ia duduk santai di depan kamar ganti, membaca cerita ‘Digilir Suami Orang’ karya Demar di Hinovel, larut dalam petualangan Vina dan Gilang yang panas membara.
“Eh, Bu Gofur udah duluan?” suara Diana mengagetkan, membuat Retno tersentak.
“Hai Din, baru bentar kok. Eh, itu siapa? Gebetan baru?” tanya Retno blak-blakan, mata tertuju pada lelaki muda agak jauh di sana.
“Hehe, bukan. Kevin, keponakan jauh suamiku,” jawab Diana sambil peluk cipika-cipiki Retno.
“Keponakan apaan? Dasar kamu mesum! Hati-hati kena karma, ya!” goda Retno sambil cengengesan.
“Eh, Kevin yang ngejar-ngejar aku, wek!” Diana menjulurkan lidah genit.
“Serah deh. aku ganti baju dulu,” Retno ngeloyor ke kamar ganti, tapi sempat melirik Kevin. Mahasiswa seusia Gifar, anak tirinya, tampan berwajah cerah, tapi Egar lebih gagah, ototnya berwibawa.
‘Kenapa aku bandingin semua cowok sama Egar? Ingat, Retno, kamu udah berumah tangga. Egar tetangga baik, jangan diganggu. Fokus suamimu’ bentaknya dalam hati, dadanya mendadak sesak.
Di geng sosialita, Diana paling muda, paling genit dan paling berani. Sering bawa cowok muda, pamer mesra, lalu ditawarin ke teman-temannya dengan harga. Retno satu-satunya yang belum pernah tergoda dengan dagangan Diana.
Keluar kamar ganti, Retno lihat Diana dan Kevin sedang melakukan pemanasan, tapi lebih mirip rayuan mesra. Matanya membelalak: selangkangan Kevin membuncit mencolok di celana gym ketatnya, bentuk rudal ereksinya jelas terbayang.
Pikiran Retno melayang ke Egar. ‘Begini kah punya dia? Gila, anak muda zaman now penisnya pada gede semua. Jangan-jangan semua anak tiriku juga…’ Ia telan menudah kering, mata susah terlepas, meski hati menjerit: “Stop, Retno! Kamu sudah gila apa?”
“Hai, sendirian aja, Bu?” Tepukan pundak tiba-tiba membuat Retno loncat. Farah!
“Eh, gak kok, ada Diana sama temennya. Bu Farah kapan dateng?” Retno gelagapan, pipinya memanas.
“Astaga, jangan panggil ‘Ibu’ dong, Ret! Rusak imageku di mata berondong,” Farah kedipkan mata seraya melirik Kevin yang tampak mesra bersama Diana.
“Hehe, maaf Sayang. Lupa kalau kamu masih aduhai penyuka daun muda,” Retno cekikikan.
“Kamu juga suka kan?” goda Farah.
“Enggak!” bantah Retno tegas.
“Ah masa sih, kok dari tadi matamu fokus sekali sama selangkangannya Kevin. Diana malah kamu cuekin tuh,” Farah terus menggoda Retno.
“Hah, fitnah saja kamu, Farah! Hahahaha.” Retno tak bisa lagi mengelak.
“Wajahmu langsung memerah dan tidak bisa bohongi aku lagi, Ret!” timpal Farah sambil mencubit pinggang Retno. Setelah itu mereka pun melanjutkan bincang-bincang kecil sambil sesekali memperhatikan Diana dan Kevin yang tampak makin berani.
Farah adalah istri pejabat sebuah departmen. Usianya sudah kepala empat, enam tahun lebih tua dari Retno, namun ia tidak rela dipanggil ‘Ibu’ saat sedang berkumpul santai dengan gengnya. Farah senantiasa tampil seksi dan agak terbuka pakaiannya hingga tampak lebih muda. Farah dan Diana memang kurang bisa menjaga privasi saat sedang berkumpul dengan para sahabatnya.
“DIANA, KEVIN, SINI!” Tiba-tiba Farah berteriak sambil melambaikan tangannya pada Diana dan Kevin.
Deg!
‘Jantung Retno seketika tersentak. Eh, mau apa sih Bu Farah ini?’ tanya Retno dalam hati, merasa tidak suka dengan sikap Farah. Namun, sebelum ia bisa protes dan mencegahnya, Diana dan Kevin sudah berdiri tepat di depan mereka.
“Bu Gofur, kenalkan ini namanya Kevin.” Diana langsung menyodorkan lelaki muda itu pada Retno.
“Kevin,” sang berondong itu pun tersenyum manis sambil menyelami Retno yang sama sekali tidak bisa menyebutkan namanya.
“Kalau suka, ambil saja, Bu! Gratis kok,” timpal Diana yang sontak membuat wajah Retno merah padam menahan malu dan emosi. Ia tak terima dipermalukan dan dilecehkan seperti itu oleh Diana yang usianya lima tahun di bawahnya dan suaminya pun bawahan Haji Gofur.
Retno segera membalikkan badan hendak masuk kembali ke kamar ganti. “Eh, Bu Gofur mau ke mana? Jangan marah begitu dong, Sayang. Diana kan cuma bercanda!” Farah menahan tangan Retno hingga ia tak jadi melangkah.
“Sudahlah Bu, jangan marah begitu dong. Coba lihat dulu senjatanya Kevin, besar sekali loh, Bu.” Diana sama sekali tak merasa bersalah, ia justru makin gila menggoda Retno sambil mengelus-elus dan meremas selangkangan Kevin yang tampak makin menyembul di balik celana gymnya.
Retno kembali tersentak, berdiri kaku dan melongo tak mampu berkata-kata.
“Cie, cie, cie yang terkesima dan penasaran sama isinya,” timpal Farah sambil menatap wajah Retno yang tegang, lalu ia pun ikut-ikutan meremas dan membelai benda di balik celana Kevin.
“HAH!” Retno kembali menjerit dalam hati, matanya terbelalak besar saat dengan santainya Farah menarik celana Kevin hingga melorot sampai setengah pahanya. Tak ayal, rudal Kevin yang besar dan panjang dalam keadaan ereksi itu seperti meloncat dan langsung ditangkap Farah.
“Gimana, besar dan panjang kan, Ret?” goda Farah, sambil mengayunkan rudal Kevin perlahan di depan mata Retno, seolah ingin memastikan Retno melihat dengan jelas setiap lekuk dan uratnya. Ngocoks.com
Retno melihatnya, merasakan panasnya yang entah mengapa seolah sampai ke dirinya. Kevin hanya tersenyum mesem, raut wajahnya bercampur bangga dan nikmat, saat rudalnya kini tidak hanya digenggam, tetapi juga mulai dimainkan oleh Diana dan Farah secara bergantian.
Mata Retno tak bisa lepas dari pemandangan vulgar itu. Ia melihat bagaimana jemari lentik Diana mulai membelai kepala rudal Kevin, mengusapnya perlahan ke atas dan ke bawah, sementara Farah mendekatkan wajahnya, menghirup aroma maskulin yang menguar.
Diana menunduk, bibirnya sedikit terbuka, dan mulai menjilat perlahan dari pangkal hingga ke ujung, sementara Farah memegang erat pangkal rudal Kevin, mengulumnya dengan sensual, membuat desahan tertahan keluar dari bibir Kevin.
Gerakan mereka sinkron, bergantian menyesap dan melumat, sesekali terdengar decapan basah yang memenuhi ruangan, berpadu dengan erangan Kevin yang semakin tak tertahankan.
Tubuh Retno tiba-tiba terasa begitu lemah, nyaris tak mampu menopang diri. Panas dingin menjalar, mengirimkan gelombang-gelombang aneh ke seluruh sistem sarafnya. Pemandangan itu, meski menjijikkan di satu sisi, tak dapat dipungkiri juga memicu sesuatu yang liar dalam dirinya, memanggil-manggil bayangan Egar yang sejak pagi mengganggu pikirannya.
‘Sialan! Benar-benar tidak punya malu. Menjijikkan sekali kamu, Kevin! Percuma tampan juga kalau hanya jadi gigolo murahan seperti itu!’ maki Retno dalam hati seraya menatap geram wajah Kevin yang menyeringai menahan nikmat karena Farah dan Diana kini sedang bergantian ‘mengoral’ rudalnya.
Tak lama kemudian, Retno tersadar dengan keadaan yang sudah sangat kacau itu. Retno bergegas meninggalkan dua sahabatnya yang sedang berebut rudal Kevin. Ia memutuskan untuk membatalkan gymnya sebelum dipaksa ikut dalam permainan gila dua sahabatnya.
Retno benar-benar merasa sial. Tadi pagi terpaksa melihat rudal Egar yang sangat mendebarkannya. Kini ia dipaksa melihat sesuatu yang benar-benar sangat gila.
Retno segera berkemas, setelah itu tanpa sepatah kata pun meninggalkan Farah dan Diana yang semakin menggila ‘menggumuli’ Kevin di pojokan arena. Ketiganya bahkan sudah dalam keadaan setengah telanjang.
Jadi itu yang mereka sebut kejutan pagi? Pantas saja aku diminta datang lebih cepat! SIALAN! maki Retno dalam hati sambil masuk ke dalam mobilnya.
Sesampainya di rumah, Retno langsung membenamkan dirinya di kamar. Meredam segala resah, gelisah, dan gejolak rasa yang berkecamuk. Bayangan rudal Egar terus menari-nari di kelopak matanya, ditambah dengan aksi brutal Farah dan Diana yang ‘mengoral’ rudal Kevin.
Retno merasa mudah melupakan Kevin karena tidak terlalu tertarik dengannya. Status Kevin sebagai gigolo justru telah membuatnya ilfeel, walau tampang dan rudalnya sangat menggiurkan. Retno justru meragukan kemampuannya menepis pesona Egar. Namun demikian, ia tetap bertekad untuk mempertahankan kesetiaannya pada Haji Gofur suami tercintanya.
Bersambung…
Cerita ini kurang lebih ada 20 episode, nantikan kelanjutannya yang akan di update hanya di situs Ngocoks.





