Mentari baru saja menyentuh atap-atap rumah warga bumi ketika aroma bawang putih dan daun salam menyeruak dari dapur Retno.
Ia menjadi tuan rumah untuk acara syukuran keberhasilan suaminya, yang memenangkan proyek besar bersama rekannya.
Pagi menjelang siang, dapur Retno mendadak berubah jadi arena komando ibu-ibu. Panci besar mendidih di atas kompor, ulekan saling beradu dengan batu cobek, dan suara teriakan kecil ibu-ibu yang saling memanggil seperti suara pasar kecil.
Bu Rani, si blak-blakan yang selalu jadi bintang dalam tiap keramaian, sedang mengiris terong ungu panjang dengan ekspresi jenaka.
“Waduh, ini terong kayaknya cocok banget buat Bu Haji! Lihat deh, bentuknya… jangan-jangan, sama kaya punya Pak Haji segini juga ya? Hihihi,” ujarnya sambil tertawa ngakak, mengedipkan mata nakal ke arah Retno.
Ibu-ibu yang lain langsung tergelak. Beberapa menutup mulut pakai punggung tangan, sebagian pura-pura sibuk sambil menahan tawa. Biar bagaimana pun Retno adalah istrinya seorang pejabat, walau memang dia sangat ramah dan dekat dengan semua warga.
Bu Tina ikut menyambar, “Hahaha… bisa jadi lauk darurat tuh, Bu. Ini terong gak kaleng-kaleng. Besar, panjang, aduh, bisa kenyang cuma lihatnya!”
Retno tersenyum kaku. Ia berusaha tetap tenang, meski pipinya mulai memerah. “Ah, kalian ini, suka ada aja ya diomonginnya, terus aja menjurus ke situ.” Suaranya pelan, tapi jelas terdengar ada kecanggungan.
Namun candaan belum berhenti. Mbak Srri, si pendiam yang kadang suka ‘mengejutkan’, ikut nimbrung, “Terong itu banyak manfaatnya, loh! Bikin awet muda, kencengin kulit, kayak Bu Haji tuh! Ini pasti rahasianya… si terong ya!”
Retno pun tak tahan, tertawa kecil, mencoba melunak. “Kalau soal awet muda, saya sih lebih percaya sama serum dan salon, ya. Tapi ya… boleh lah nanti coba makan terong tiap pagi.” Matanya mengedip manja ke Mbak Srri, mencoba mengimbangi suasana.
Tawa riuh meledak lagi.
Tiba-tiba, Bi Inah nyeletuk, “Eh, tapi ibu-ibu yang lain nyebutnya itu ‘Terong Basri’, hihihi…”
Mbak Mia, yang dari tadi fokus menanak nasi, langsung menoleh. Tatapannya tajam seperti pisau. Mulutnya mencibir tanpa suara, tapi gesturnya bicara lantang: Kamu lagi, Inah?
Bu Rani ikut menyambar tanpa rasa bersalah. “Hahaha, iya bener! Aku tuh mau ngomong, tapi gak enak ada Mbak Mia. Lha ternyata Bi Inah duluan!”
Mbak Mia yang wajahnya mulai memerah mencoba tetap diam. Tapi Retno, dengan ekspresi polosnya, malah menimpali, “Mbak Mia, emangnya itu terong dari kebun Mang Basri? Lha saya beli di supermarket kok. Apa sekarang Mang Basri selain jualan bubur, masok sayuran juga ke supermarket?”
“Eh… gak tahu, Bu… coba tanya Bi Inah aja tuh!” sahut Mbak Mia dengan nada tinggi, matanya mendelik tajam.
Bu Rani tertawa lagi. “Bukan gitu, Bu Haji… yang dibilang ‘Terong Basri’ tuh… yaa itu… konon katanya, punya Mang Basri tuh segede terong ini. Itu masih tidur loh, belum bangun! Hahahahaha!”
Tawa meledak lagi. Tapi tidak dari Mbak Mia.
“Astagfirullah!” Retno kaget, meski ekspresinya seperti menahan geli.
Mendadak… suasana membeku.
Mbak Mia berdiri. Napasnya naik-turun. Wajahnya merah padam.
“Maaf, ibu-ibu…” suaranya bergetar. “Apa sih untungnya ngatain orang sebaik Mang Basri kayak gitu?”
Semua langsung diam. Tidak ada suara ulekan. Tidak ada suara sendok. Hanya detak jam dinding yang terdengar.
Mbak Mia berkacak pinggang. Matanya menyapu wajah satu per satu. “Apa salah Mang Basri sama kalian semua?”
Tak ada yang menjawab.
Mbak Mia melanjutkan, nadanya makin kuat. “Dia memang ipar saya, tapi bukan karena itu saya marah. Dia itu seperti kakak sendiri buat saya! Dia pedagang bubur, suka bertani, bahkan kadang bantu ngajarin anak-anak kita baca Qur’an, kadang ngajar ibu-ibu kalau ke pengajian!”
Mbak Srri mencoba mencairkan suasana. “Mbak Mia, maaf ya… Bi Inah cuma bercanda. Nggak niat nyinggung…”
“Bercanda?” sahut Mbak Mia cepat, matanya menyala. “Itu bukan bercanda, itu pelecehan! Kalau mau bercanda pun harus ada batasnya! Coba kamu, Bi Inah… suka gak kalau orang bilang mertuamu punya ‘terong’? Dibilangin ‘Terong Pak Dani’ gitu?”
Bi Inah mendadak pucat. Bu Rani ikut menunduk.
Mbak Mia menarik napas panjang. “Mang Basri itu bukan kyai besar. Dia cuma petani, pedagang bubur juga. Tapi dia orang baik. Dia ngajarin kita ngaji dengan ikhlas, tanpa minta byaran. Dan kita balas dengan kata-kata kayak gitu?”
Suara Mbak Mia mulai bergetar. “Dia emang belum naik haji, karena belum mampu. Tapi akhlaknya? Lebih tinggi dari kita yang tiap kumpul-kumpul atau arisan cuma bisanya gosip, ngomongin orang dan sebagainya.!”
Matanya berkaca-kaca. Tangannya mengepal.
“Maaf, Bu Haji… saya pamit dulu. Udah gak enak lagi kumpul-kumpul di sini.”
Dengan langkah cepat, Mbak Mia meninggalkan dapur. Suaranya makin jauh, tapi keheningan yang ia tinggalkan… masih menggantung di udara.
Retno tercekat. Ia ingin mengejar, tapi bingung harus berkata apa. Dapur yang tadi ramai kini jadi sunyi. Hanya suara panci yang mendidih pelan, dan aroma bawang yang menyengat hidung.
Tak menduga Mbak Mia akan selebay itu, padahal dia menilai obrolan ibu-ibu itu bukan pelecehan, hanya candaan biasa.
Setelah beberapa detik, Retno menoleh ke Bi Inah. Matanya menyipit jahil.
“Eh… tapi… Bi Inah, tapi beneran ‘Terong Basri’ itu segede itu ya?”
Seketika, ibu-ibu langsung meledak tawanya. Bi Inah gelagapan, mukanya merah. “A-a-aduuh Bu, saya cuma denger dari… eh… dari tetangga… yang lain… Paling hanya gosip aja, hahahaha.”
“Coba tunjukin segede yang mana?” cecar Retno sambil mengangkat alis, ekspresinya super kepo.
Semua ibu-ibu mulai cekikikan. Ada yang pura-pura motong kol, ada yang pura-pura ngulek sambal tapi jelas mereka semua mendengarkan. Ngocoks.com
“Udah deh… gak usah diterusin,” ucap Retno akhirnya sambil menepuk dahi. “Kita mau syukuran loh ini, bukan ajang gibah!”
Semua mengangguk, tapi senyuman masih mengembang di bibir mereka.
“Mulai sekarang,” lanjutnya lebih serius, “gak ada lagi yang nyebut ‘Terong Basri’. Bener kata Mbak Mia, Mang Basri itu gurru kita. Lagian… gimana kalau sampai anaknya denger? Bisa-bisa satu desa disemprot!”
“Tapi… kalau penasaran gimana, Bu Haji?” celetuk Mbak Srri, disambut tawa tumpah ruah seisi dapur.
Retno tak tahan, ikut tertawa. “Dasar emak-emak… ada aja bahan gibahnya!”
Ia berdiri, meluruskan punggung. “Saya ke atas dulu ya ibu-ibu, mau rebahan bentar. Dari kemarin belanja mulu, belum sempat selonjoran!”
“Iyaaaaa, Buuu!” jawab mereka kompak, sambil masih tertawa geli.
Dan dapur itu, yang sempat dibungkam oleh kemarahan Mbak Mia, perlahan kembali bernyawa. Tawa-tawa kecil mulai bertebaran lagi, menggoda udara yang sejak tadi penuh aroma bawang, santan, dan rempah-rempah khas dapur desa.
Obrolan ringan khas emak-emak mulai menggeliat, meski tak sekeras sebelumnya. Ada rasa canggung, tapi juga keinginan untuk mencairkan suasana.
Tak lama, Retno turun kembali dari lantai atas. Wajahnya masih terlihat lelah, tapi sorot matanya menyiratkan kegelisahan.
“Eh…” ucapnya pelan, seolah mengingat sesuatu, “Bi Inah… atau siapa kek, susulin Mbak Mia ya. Jangan dibiarkan pergi dengan hati panas. Kita gak boleh bermusuhan sesama warga, apalagi sesama ibu-ibu pengajian.”
Suasana langsung hening lagi. Ibu-ibu saling pandang. Wajah mereka menunjukkan rasa tak enak. Tadi mereka memang ikut menertawakan, bahkan menyulut candaan yang membuat Mbak Mia akhirnya meledak.
Mbak Srri yang sedang memotong kentang pura-pura tak mendengar, tapi Retno menatap langsung ke arahnya. “Mbak Srri aja, ya… paling tua, paling tenang, paling bisa ngomong baik-baik.”
Mbak Srri mendongak, wajahnya sedikit pucat. “Haduh…” desahnya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia tahu, Mbak Mia bukan tipe yang gampang dilunakkan kalau sudah kecewa. Meski perasaannya lembut, tapi hatinya teguh. Kalau sudah merasa dilecehkan atau orang terdekatnya dipermalukan, maka pintu maaf tak langsung terbuka. Butuh waktu, butuh kesungguhan.
Namun Mbak Srri juga tahu, kalau bukan dia yang maju, mungkin tak ada yang cukup berani untuk menghadap Mbak Mia saat ini.
Dengan langkah pelan, ia menyeka tangannya di celemek dan berjalan keluar dari dapur. Suasana di belakangnya masih hening. Ibu-ibu yang lain hanya menatap punggung Mbak Srri dengan rasa waswas, seolah sedang mengantar prajurit ke medan perang.
Sementara itu, Retno kembali naik ke lantai dua. Tangannya memegang pinggang, punggungnya sedikit pegal. Tapi pikirannya masih berkecamuk. Ia memejamkan mata sejenak begitu sampai di atas. Duduk di tepi ranjang sambil menarik napas panjang.
Bersambung…




