Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Sedarah»Anak Tiri

Anak Tiri

Ketagihan Dientot Anak Tiri
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Di lantai dua rumahnya, Retno duduk di dekat jendela. Jemarinya menggenggam sebuah terong yang diam-diam ia ambil dari dapur sebelum naik ke atas.

Ia menatapnya lekat-lekat, memiringkan kepala seolah sedang membaca rahasia yang tersembunyi di balik bentuk dan teksturnya.

“Terong Basri…?” gumamnya lirih. ‘Masa sih segede dan sepanjang ini? Hampir mirip dengan punya Egar? Emangnya Mang Basri keturunan Banglades juga?’

Ada rasa penasaran yang mulai merayap diam-diam di sudut pikirannya. Ia ingat betul bagaimana tadi Bi Inah sempat gelagapan saat ditanya soal gosip yang ramai beredar. Semakin ditutup-tutupi, semakin mencurigakan.

Ia menimbang terong itu di tangannya, meremasnya pelan, lalu menggeleng.

“Ya Allah… aku ini kenapa malah mikir beginian?”

Tapi meskipun protes pada diri sendiri, rasa ingin tahu itu tak kunjung surut. Malah semakin mengendap.

Dulu, Retno tak pernah terpikir soal ‘ukuran’ atau ‘rasa’ terong siapa-siapa. Hidupnya lurus. Cukup dengan Pak Haji, lelaki tua yang kini menjadi suaminya dan percayai selama beberapa tahun ini.

Tapi belakangan ini, banyak yang berubah. Terutama setelah melihat rudalnya Egar dan Kevin. Dia merasa anak muda sekarang memang tak bisa dianggap sepele.

Bukan hanya karena bisik-bisik ibu-ibu yang mulai terbuka soal “selera dan ukuran”, tapi juga karena sikap Pak Haji sendiri. Suaminya itu makin hari makin menjauh.

Dulu, mungkin tak terlalu ia hiraukan soal peluk atau cium pagi. Tapi setelah semua itu hilang, barulah ia merasa… kosong. Dingin. Tak diperhatikan.

Dan diam-diam, kegetiran itu mengikisnya. Pikiran itu menampar batinnya sendiri. Ia mendesah panjang, memejamkan mata, dan tepat saat ia membuka mata kembali—

Kreeeek.

Pintu terbuka perlahan. Retno refleks panik. Tangannya terpeleset, dan… swoosh! Terong ungu yang sedang dia pegang itu meluncur ke udara, jatuh lurus ke arah pintu.

“Ya Allah!” teriaknya.

Di ambang pintu, berdiri Bi Inah dengan mata membelalak. Terong itu jatuh tepat di dekat kakinya. Ia menatap benda itu, lalu menoleh ke Retno yang wajahnya merah padam seperti habis kepergok mencuri gorengan.

Bi Inah mengangkat satu alis. “Bu Haji, ngapain di sini sama… ‘Terong Basri?” tanyanya curiga.

Retno buru-buru bangkit, tangan melambai-lambai panik. “Eh… anu… saya cuma… anu… uji kualitas! Iya! Ngecek kualitas terong! Bagus apa nggaknya!”

Bi Inah menyipitkan mata. “Ngecek kwalitas terong, sampai harus dibawa ke atas segala?”

Retno tertawa hambar, buru-buru meraih terong dan menyembunyikannya di balik punggung. “Iya… iseng aja, Bi.”

Bi Inah masih menyeringai. “Sebenarnya Bu, mereka salah sebut tadi,” ucapnya dengan nada misterius.

“Salah sebut apanya?” Retno masih belum paham.

“Bukan ‘Terong Basri. Yang bener itu…’ Terong Nizar.’”

Retno mengerutkan kening. “Lho, Nizar? Maksudmu anaknya Mang Basri yang jualan bubur itu kan?”

Bi Inah mengangguk mantap. “Yang mereka pernah lihat itu… ya, ‘punya’ Nizar, bukan punya bapaknya. Katanya sih gede banget. Ada yang pernah lihat saat Nizar mandi di sungai cuma pakai sarung, keliatan terongnya, karena sarungnya basah. Gak pake celana dalam.”

Retno memegangi dadanya. “Astaghfirullah! Itu anak masih delapan belasan, sama dengan Gifar, Bi”

“Nah itu dia yang bikin heboh, Bu… justru karena masih muda, masih suka bebas. Kadang kepergok… ya, kelihatan. Dan katanya sih, seusia gitu masih bisa nambah loh ukurannya, heheheh.”

“Astaga…” Retno menepuk pipinya sendiri. Antara syok dan malu.

Bi Inah makin santai, malah bersandar ke kusen pintu. “Ibu suka merhatiin Nizar gak?”

“Hah?! Enggaklah! mana sempat!” sangkal Retno.

Bi Inah nyengir. “Kalau dia lagi jualan bubur kata kemarin itu, keliatan gak? Dia kan masih pake sarung juga, hehehe. Coba deh besok-besok kalau beli bubur lagi perhatiin. Pasti ibu malah makin sering beli buburnya, hehehe…”

Retno tercekat. Ia memang sempat memperhatikan itu saat beli bubur, namun sama sekali tidak terlihat ada yang berbeda dengan selangkangan Nizar. Mungkin karena belum terlihat secara nyata, seperti Egar yang buanng air kecil di halaman belakang dan mengeluarkan penisnya langsung dari celananya.

‘Masa sih punya Nizar sama dengan punya Egar. Memangnya Nizar keturunan India? Setahuku dia asli orang sini, gak ada gurat India di wajahnya.’ Pikiran Retno melayang. Dan entah kenapa, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.

“Ibu mau buktikan langsung?” tantang Bi Inah sambil tersenyum penuh makna.

“Ah, apaan sih! Kita malah ngobrolin Nizar,” sergah Retno cepat-cepat, wajahnya mulai hangat, entah karena malu atau karena ada sesuatu yang baru saja tumbuh makin subur tanpa izin. Setelah hati terguncang oleh Egar, kini oleh Nazar, sama-sama anak tiri, walau bukan anak tirinya.

Ia lantas menarik lengan Bi Inah agar ikut turun ke dapur. “Udah ah, kebanyakan ngobrol gak jelas. Nanti malah kebablasan ngomongin urusan terong orang melulu!” Ngocoks.com

Mereka tertawa kecil sambil berjalan menuruni anak tangga, tapi dalam hati Retno tak bisa menahan gelombang pikiran yang mulai menerjang seperti ombak.

Bi Inah dan Retno kembali ke bawah dengan langkah ringan. Aroma bumbu opor dan santan makin harum menyambutnya. Tapi bukan itu yang membuat mata Retno membulat.

Di pojok dapur, di dekat rak tempat menyimpan beras dan bumbu dapur, sudah berdiri Mbak Mia. Masih dengan celemek yang sama, rambutnya sedikit kusut, tapi wajahnya sudah lebih tenang.

Retno mendekat perlahan. Semua ibu-ibu yang tadinya berceloteh, langsung diam. Seperti tahu akan ada momen penting yang akan terjadi.

“Eh… Mbak Mia…” suara Retno pelan, nyaris seperti bisikan. “Maaf ya. Tadi semua keterlaluan. Saya tahu itu nggak lucu buat Mbak Mia.”

Mbak Mia menoleh. Wajahnya masih sedikit datar, tapi bukan dingin, lebih seperti capek, tapi sudah reda amarahnya.

“Iya Bu Haji, saya juga minta maaf kalau terlalu meledak-ledak,” jawabnya pelan. “Cuma kadang… ya gitu. Saya gak tahan kalau orang yang saya hormati digituin. Apalagi cuma karena candaan yang… ya, gak penting banget.”

Retno mengangguk cepat. “Iya, iya bener. Kita semua keterlaluan. Harusnya bisa jaga lisan.”

Bi Inah mengangkat tangan seperti menyerah. “Aduh, iyaaa… saya juga minta maaf. Sungguh. Tapi… boleh jujur ya.”

Semua menoleh ke Bi Inah.

“Sebenernya…” ucap Bi Inah sambil menunduk malu-malu, “gosip yang saya denger tuh… salah alamat. Bukan… bukan Terong Basri, tapi… Terong Nizar!”

Beberapa detik hening. Lalu Bu Rani yang pertama kali tertawa. Disusul Mbak Srri. Lalu yang lain tak bisa menahan, termasuk Mbak Mia yang akhirnya menutup mulutnya sendiri karena geli.

“TERONG NIZAR?!” teriak Mbak Srri sambil tertawa ngakak, sampai menepuk-nepuk paha. “Ya Allah, kenapa baru bilang sekarang, Bi?! Tadi udah heboh kayak mau perang!”

Bi Inah nyengir. “Saya juga baru keinget barusan… yang cerita ke saya tuh tetangga saya, dan dia bilang Nizar! Bukan Basri! Duh Gustiii…”

“Ya tapi sebenarnya sama aja sih, mereka kan bapak dan anak, hahahaha.”

“Ya ampun… jadi Mang Basri gak bersalah apa-apa toh!” ucap Mbak Srri sambil mengelap air mata karena kebanyakan ketawa.

“Kasihan dia,” celetuk Bu Rani, “ngajiin orang, eh malah keseret fitnah terong ankanya, hahahaha…”

Semua tertawa lagi. Tapi kali ini… tak ada rasa bersalah. Hanya rasa syukur dan kedekatan sebagai sesama ibu-ibu satu desa.

“Sebenarnya terong siapapun, tidak layak buat kita omongin, itu kan rahasia mereka. Namanya juga kemaluan, jadi malu kalau dibicarakan secara jelas, hehehe.”

Dapur itu pun kembali ramai dengan tawa. Panci mendidih, suara ulekan bersahutan, dan aroma masakan menggoda makin memenuhi udara. Tapi tak ada lagi yang membahas “terong”—kecuali yang akan dimasak sambal balado.

Dan Retno, diam-diam tersenyum lega. Acara syukuran ini mungkin akan jadi cerita yang lain dari biasanya. Tapi justru di sanalah letak keindahannya, di tengah riuh, di antara canda, dan dalam benang-benang persaudaraan yang kadang sedikit kusut, tapi selalu bisa diluruskan bersama.

Gaul dengan ibu-ibu kampung yang rumahnya di luar kompelks, ternyata memang jauh lebih indah. Tidak ada pamer-pameran, hanya kadang candaan mereka memang suka terlalu nyerempet.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
ABG Anak Kecil Anak Polos Berlanjut Bersambung Cantik Gangbang Keluarga Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Rame Rame Sedarah Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleKakek Tua
Next Article Birahi di Pesantren
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Dinda Alaina Putri

    9.5

    Dark Soul

    9.5

    Office Cutie

    9.3

    Arabian Madness

    9.3

    Pussycat’s Blackman Island

    9.5

    Birahi di Pesantren

    Follow Facebook

    Recent Post

    Sang Pewaris

    Dinda Alaina Putri

    Dark Soul

    Office Cutie

    Arabian Madness

    Pussycat’s Blackman Island

    Birahi di Pesantren

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.