Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Birahi di Pesantren

Birahi di Pesantren

Gairah Birahi Gelap di Pesantren
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Cerita Sex Birahi di Pesantren – Selamat malam sobat Ngocokers. Perlu diingat untuk para pembaca Ngocokers yang setia bahwasanya tulisan ini hanyalah sebatas hiburan semata. Cerita ini tidak ada tujuan untuk menjelekkan salah satu agama manapun.

Saya harap para pembaca Ngocokers untuk bijak dalam cerita dewasa ini. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian ataupun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan dari penulisnya.

Ngocoks Ketika Alya, seorang akhwat yang baru pulang dari pendidikannya di Kairo, hendak mengunjungi adiknya di sebuah pesantren. Awalnya terasa biasa saja, namun dia menyadari ada nuansa gelap di balik pesantren itu. Situasi yang sama sekali belum pernah dia alami. Keadaan semakin buruk saat Alya menerima tawaran untuk mengajar di sana. Apakah Alya berhasil menepisnya? Atau Alya akan terperosok dalam jurang kegelapan yang menariknya?

Cerita Sex Terbaru Birahi di Pesantren
Cerita Sex Birahi di Pesantren

Disclaimer: Cerita ini mengandung deskripsi eksplisit tentang aktivitas seksual, kekerasan ringan, atau tema dewasa lainnya yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca ngocokers. Konten ini dimaksudkan hanya untuk individu berusia 18 tahun ke atas. Penggandaan, distribusi, atau modifikasi tanpa izin penulis dilarang. Mohon bantu report jika kalian menemukan siapa pun yang men-copas atau menggunakan konten ini tanpa izin.

JEJAK PERTAMA

Mobil hitam itu meluncur di sepanjang jalan sepi, dikelilingi pepohonan tinggi yang menunduk seolah menyambut tamu baru. Sopir keluarganya, Pak Hendra, memegang setir dengan tenang, sesekali menoleh untuk memastikannya nyaman. Suara mesin yang halus berpadu dengan aroma udara sore, menciptakan keheningan yang damai.

Ponsel di tangannya bergetar, menampilkan nama “Maya”. Ia tersenyum, mengangkat telepon dengan sopan.

“Assalamualaikum, Dek,” ucapnya dengan suara lembut.

“Waalaikumsalam, kak. Kakak udah sampai mana? Masih jauh?” tanya suara di balik telepon, nadanya ceria tapi terdengar rindu.

“Kakak baru saja keluar dari kota, sebentar lagi sampai,” jawabnya. Ia menyesuaikan jilbabnya yang rapi, memastikan auratnya tertutup sempurna, mata coklatnya tetap menelusuri jalan di depan.

“Eh, kak… aku seneng banget! Nanti aku mau langsung kenalin kakak sama teman-temanku,” ucap suara di seberang dengan antusias.

Ia tersenyum ringan, walaupun menahan rasa penasaran yang muncul dari suasana sekeliling jalan. “Alhamdulillah… Kakak juga senang bisa ketemu kamu lagi, Maya… tapi suasana di sini kok terasa agak beda ya?”

Pak Hendra menoleh sebentar ke arahnya, tersenyum ringan. “Tenang saja, Non. Sebentar lagi sampai.”

Perempuan itu bernama Alya Safira Ramadhani, seorang akhwat muda berusia 24 tahun yang akan mengunjungi adiknya di sebuah Pesantren.

Alya menatap jalan yang membentang di depannya dari balik kaca mobil hitam yang nyaman. Rambut hitam panjangnya terselip rapi di balik jilbab polos yang menutupi seluruh auratnya, menegaskan kesan sederhana namun menawan. Mata coklatnya yang tajam memindai setiap detail di sepanjang jalan, penuh ketenangan tapi juga rasa penasaran yang samar.

Alya baru saja menyelesaikan pendidikan di Kairo, sebuah kota yang terkenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di dunia. Kota Kairo, dengan jalan-jalan berliku, bangunan-bangunan tua bercampur modern, dan sungai Nil yang membelahnya, selalu memberi kesan hidup yang sibuk tapi penuh sejarah.

Suasana kota yang ramai dengan pedagang kaki lima, kendaraan yang berdesakan, dan panggilan azan yang menggema dari menara-menara masjid, menjadi latar keseharian Alya selama kuliah.

Alya menempuh jurusan Tafsir dan Hadis, dengan fokus pada metodologi pengajaran Al-Qur’an, pemahaman hadis, dan pengembangan akhlak.

Hari-harinya di Kairo selalu sibuk. Subuh hingga dhuha diisi dengan kuliah Tafsir, pengkajian sanad hadis, dan terkadang mengajar murid-murid lokal, siang dihabiskan di perpustakaan untuk menelaah kitab-kitab klasik seperti Tafsir al-Jalalain dan Sahih Bukhari, sore dan malam untuk mengajar kelas kecil di komunitas muslim sekitar kampus.

Ia dikenal teman-temannya sebagai sosok rajin, cerdas, dan selalu menjaga diri dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Setiap gerak tubuhnya selalu elegan dan sopan.

Tangan yang bersih selalu menempel rapi di sampingnya, sesekali ia menyesuaikan jilbab yang menutupi rambut panjang hitamnya. Mata coklatnya selalu waspada, mengamati lingkungan dengan cermat, namun tetap lembut saat berbicara dengan teman, 9uru, maupun muridnya.

Di tengah kesibukan kota besar dan hiruk-pikuk Kairo, Alya tetap bisa menyeimbangkan kehidupan akademik, kegiatan dakwah, dan pengembangan diri.

Rutinitas yang disiplin itu membentuknya menjadi sosok Islami yang tangguh, mandiri, tapi tetap hangat dan penuh kasih – terutama terhadap adik perempuannya, Maya, yang selalu ia lindungi dan bimbing meski jarak memisahkan mereka selama kuliah.

Matahari sore mulai merunduk di balik pepohonan, menyinari halaman Pesantren Darul Hikmah dengan cahaya lembut keemasan. Jalan setapak berbatu menuju gerbang besar terlihat sepi, hanya sesekali terdengar burung-burung berkicau di pohon-pohon rindang di sekeliling pesantren.

Mobil hitam berhenti di depan gerbang. Dari dalam, Alya menatap sekeliling dengan rasa penasaran yang samar. Setelah empat tahun menimba ilmu di Kairo, Mesir, kembali ke tanah air selalu memberi sensasi berbeda – kagum sekaligus waspada.

Pak Hendra bicara setelah mematikan mesin mobil. “Non Alya, kita sudah sampai, Alhamdulillah perjalanan lancar,” ucapnya dengan suara lembut.

Alya tersenyum, menegaskan jilbabnya, dan membuka pintu mobil perlahan. Udara sore yang segar menyambutnya, membawa aroma tanah basah dan bunga dari taman pesantren.

Di halaman, beberapa santri dan 9uru tampak sibuk menata buku dan perlengkapan sekolah, namun tatapan mereka sesekali tertuju padanya – tidak sembarangan, tapi ada rasa ingin tahu yang halus dan misterius.

“Kakak!” suara riang terdengar. Maya berlari dari sisi taman, senyum lebar menghiasi wajahnya. Tanpa ragu, ia memeluk Alya erat.

Maya Shafa Ramadhani, 21 tahun, adalah adik kandung Alya. Berbeda dari kakaknya yang lebih tenang dan Islami, Maya memancarkan energi muda yang ceria dan sedikit nakal, meski tetap sopan dan santun di depan 9uru-9uru.

Maya adalah santri di Pondok Pesantren Darul Hikmah, pesantren yang jauh dari keramaian kota besar, terletak di pinggiran dengan bangunan klasik dan halaman luas.

Pesantren ini terkenal dengan pengajaran agama yang mendalam, disiplin tinggi, dan komunitas santri yang solid. Maya sudah lama menempuh pendidikan di sana, memahami setiap sudut sekolah, dan dikenal sebagai santri yang berprestasi serta disegani teman-temannya karena kecerdasan dan kepeduliannya.

“Kak… akhirnya kakak datang juga,” kata Maya, matanya berbinar penuh kegembiraan.

Alya membalas pelukan itu dengan lembut. “Alhamdulillah… Kakak juga senang bisa ketemu kamu, Maya… tapi suasananya kok kayak aneh ya?”

Maya tertawa ringan, melepaskan pelukan dan meraih tangan kakaknya. “Ah, nanti kakak juga terbiasa kok. Tapi aku yakin kakak pasti betah di sini.”

Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak menuju gedung utama pesantren. Bangunan klasik dengan ornamen kayu dan kaca patri yang tampak megah, menegaskan kesan pesantren yang serius tapi elegan.

Di lorong, beberapa ustadzah menyapa Alya dengan senyum hangat, namun ada kilatan pandang misterius di mata mereka yang membuat Alya sedikit tidak nyaman. Ngocoks.com

Setiap langkah Alya terasa seperti menapaki dunia baru. Ada ketenangan, tapi juga rasa penasaran yang samar. Ia menyesuaikan diri, tetap menjaga tutur kata Islami, menundukkan pandangan ketika melihat pengajar laki-laki, namun matanya tetap waspada.

Sesampainya di depan kamar – Pondok Pesantren Darul Hikmah mempunyai kamar kosong untuk anggota keluarga santri yang menginap, ia menurunkan koper hitam besar yang dibawa Pak Hendra. Bunyi roda koper menyentuh lantai dengan lembut, sementara Alya menyesuaikan napasnya sejenak.

“Terima kasih banyak, Pak Hendra. Alhamdulillah perjalanannya lancar,” ucap Alya sambil tersenyum ramah.

Pak Hendra membalas dengan sopan, menundukkan kepala. “Alhamdulillah, Non Alya. Semoga betah di sini. Kalau ada apa-apa, nanti bisa hubungi saya.”

Alya mengangguk. “InsyaAllah, Pak. Terima kasih ya..”

Pak Hendra tersenyum hangat, lalu melangkah mundur perlahan, memastikan Alya aman sebelum berjalan menuju mobilnya. Ia melambaikan tangan sekali, menandai perpisahan, sebelum akhirnya mobil itu meluncur pergi meninggalkan halaman pesantren.

Alya menutup pintu kamarnya perlahan, suara engsel yang berderit tipis terasa seperti gema di ruangan yang sunyi. Koper besar yang tadi dibawanya kini berdiri di sudut, menunggu untuk dibongkar. Ia merapikan jilbab dan menyibakkan sedikit rambut panjangnya, menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri setelah perjalanan panjang.

Langkah Alya membawa dirinya ke jendela besar di samping tempat tidur. Pandangannya tertuju pada halaman pesantren yang luas – pepohonan rindang yang tertiup angin sore, bunga-bunga yang menebarkan aroma manis, dan bangunan klasik dengan lorong-lorong panjang yang seolah menyimpan rahasia.

Mata Alya menyapu setiap sudut halaman. Ada ketenangan, tapi juga sesuatu yang lain – sebuah energi halus yang sulit dijelaskan. Tatapan beberapa santri yang melintas di halaman, senyum 9uru-9uru yang penuh arti, semuanya membentuk atmosfer yang membuat hatinya berdebar samar.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menundukkan kepala sejenak, berdoa agar Allah memberinya petunjuk dan kekuatan. “Ini… aneh,” bisiknya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin yang menyelinap melalui jendela.

Sore itu, di balik cahaya keemasan yang menempel di jendela kamar, Alya duduk tenang. Ia menatap halaman luas, membiarkan dirinya merenung, ia tidak menyadari bahwa hari-hari pertamanya di Pesantren Darul Hikmah akan membawa pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

*

Alya menuruni tangga utama gedung, langkahnya ringan namun penuh perhatian. Di aula depan, seorang pria paruh baya dengan jenggot rapi dan sorban putih menunggu dengan senyum hangat – Kyai Ahmad Fauzi, kepala Pesantren Darul Hikmah. Pakaian gamis yang sederhana namun rapi memancarkan wibawa, namun tetap menyiratkan keramahan yang membuat siapa pun merasa diterima.

“Assalamu’alaikum, Bu Alya,” sapa Kyai Ahmad, suaranya lembut namun tegas. “Selamat datang di Pesantren Darul Hikmah. Kami semua sangat senang menyambutmu.”

Alya membalas dengan senyum sopan. “Wa’alaikum salam, Kyai. Alhamdulillah, senang bisa sampai di sini dengan selamat.”

Kyai Ahmad tersenyum lembut, menatap Alya dengan mata yang hangat. “Alhamdulillah, Ibu Alya. Adik ibu, Maya… dia memang sudah dikenal di sini. Santri yang cerdas dan penuh semangat, selalu aktif dalam kegiatan, dan… ya, bisa dibilang cukup populer di antara teman-temannya.”

Alya tersenyum malu-malu, sedikit terkejut mendengar pujian itu. “Iya, Maya memang energik dan ramah. Tapi, semoga dia tidak merepotkan terlalu banyak di sekolah, Kyai.”

Kyai Ahmad tertawa ringan, suaranya hangat namun penuh arti. “Tidak, tidak… itu justru membuatnya menonjol. Para santri menghormati dan menyukai kepribadiannya.”

Alya mengangguk, hatinya sedikit hangat mendengar cerita Kyai Ahmad. Ia membayangkan adiknya, sosok ceria dan bersemangat, berjalan di lorong-lorong pesantren. Ia penasaran, bagaimana Maya bisa menjadi begitu populer, dan apa yang tersembunyi di balik kehidupan santri di sekolah ini?

Kyai Ahmad lalu melangkah ke samping dan memanggil seorang wanita muda dengan jilbab rapi, wajah ramah, dan mata yang bersinar penuh semangat. “Ustadzah Rani, tolong dampingi Ibu Alya berkeliling pesantren, tunjukkan beberapa ruangan, ruang kelas, dan lorong-lorong.”

Perempuan itu membungkuk hormat. “Baik, Kyai. Selamat datang, Ibu Alya. Saya akan menemani ibu melihat-lihat lingkungan pesantren.”

Alya mengangguk sopan, merasa sedikit lega dengan pendampingan Ustadzah Rani. Bersama Ustadzah Rani, Alya mulai berjalan menelusuri lorong-lorong pesantren. Dinding-dinding kayu klasik dan jendela tinggi memancarkan nuansa tradisional dan tenang, namun ada aura tertentu – sebuah kesunyian yang hampir terasa “mengintimidasi”.

Mereka melewati beberapa ruang kelas, setiap pintu tertutup rapat, suara aktivitas pelajaran terdengar samar. Alya memperhatikan detail – papan tulis, rak buku penuh kitab, dan perabotan sederhana tapi rapi.

Di beberapa lorong, tatapan mata beberapa santri yang kebetulan lewat membuatnya merasa sedikit gelisah, seakan mereka mengamatinya lebih dari sekadar perempuan.

Rani tersenyum tipis, seakan membaca pikiran Alya. “Tenang saja, Alya… tatapan mereka memang selalu begitu. Pesantren ini juga kadang terasa sepi, tapi setiap sudutnya punya cerita tersendiri,” katanya, nada suaranya ringan namun sedikit misterius.

Alya tersenyum balik, sedikit ragu. “Terima kasih, Ustadzah Rani… saya memang agak cemas melihat lorong-lorong ini. Semua terasa… sepi tapi berbeda.”

Rani mengangguk, menepuk bahu Alya dengan lembut. “Kamu akan terbiasa nantinya. Kenalin, aku Rani, salah satu pengajar di sini.”

“Senang bertemu denganmu, Ustadzah Rani. Nama saya Alya,” balas Alya.

Rani tersenyum hangat, lalu menatap Alya dengan mata bersinar lembut. “Oh iya, Alya… kalau kita lagi berdua saja, bicaranya jangan terlalu formal. Santai saja, kita bisa ngobrol seperti teman, tidak perlu terlalu kaku.”

Alya tersenyum, merasa lega. “Ah… baik, Rani. Aku senang kalau bisa ngomong santai. Kadang bicara terlalu formal memang bikin aku lumayan canggung.”

Rani tersenyum tipis. “Yuk, kita mulai tur-nya. Ini ruang kelas utama,” kata Rani sambil menunjuk papan tulis dan kursi-kursi kayu. “Di sinilah para santri belajar. Sore-sore juga kadang ada kegiatan ekstrakurikuler.”

Alya menatap sekeliling dengan mata penasaran. “Wah, rapi ya… Benar juga katamu tadi, rasanya tiap sudut kayak punya cerita sendiri.”

Rani terkekeh ringan. “Iya, kadang ceritanya yang….gitu deh. Jangan kaget kalau kamu ngeliat hal-hal yang beda dari pesantren lainnya di sini.”

Alya tersenyum tipis, napasnya sedikit lega meski rasa penasaran tetap muncul. “Oke… aku akan coba tenang dan beradaptasi.”

Rani membalas senyum, menepuk bahu Alya dengan ringan. “Sip, santai aja. Aku akan nemenin kamu jalan-jalan sambil ngobrol, jadi nggak perlu kaku.”

Mereka lalu melangkah ke lorong-lorong yang lebih sepi, Alya mengikuti sambil berusaha tetap tenang, perlahan mulai menikmati suasana baru yang penuh misteri itu.

“Di sisi kanan ini, ada ruang baca,” jelas Rani sambil membuka pintu. Rak-rak penuh kitab berjejer rapi, aroma kertas dan kayu tua memenuhi udara. Beberapa santri terlihat sedang membaca, kepala menunduk khusyuk, sesekali menatap Alya dengan tatapan hangat tapi ingin tahu.

Alya menunduk sopan, tersenyum pada mereka. “Hmm… mereka kelihatan serius banget.”

Rani mencondongkan badan, berbisik santai, “Iya, tapi jangan salah. Di balik keseriusan itu, banyak hal yang kadang mereka lakuin dengan main-main. Mereka juga selalu penasaran sama 9uru baru, terutama yang datang dari luar.”

Mereka melanjutkan perjalanan, melewati beberapa ruang kelas kosong. Setiap pintu tertutup rapat, namun Alya bisa merasakan aktivitas di baliknya – tawa pelan, suara langkah, bahkan obrolan samar dari kegiatan ekstrakurikuler. Ia menahan rasa penasaran, mencoba fokus pada tur, tapi ada getaran aneh yang membuatnya sedikit gelisah.

“Ini koridor menuju asrama santri,” Rani menunjuk sambil menunduk. “Lorongnya panjang dan agak sepi kalau sore. Biasanya, di sini banyak yang menunggu kegiatan malam, atau sekadar ngobrol santai.”

Alya mengangguk, matanya menatap jendela besar di ujung lorong, cahaya sore menyinari halaman sekolah yang rapi. Ada sesuatu yang memikat sekaligus membuatnya waspada – suasana tenang tapi penuh dorongan halus yang belum ia pahami.

“Kalau kamu mau, kita bisa masuk ke Aula Serbaguna sebentar,” Rani menawarkan. “Di sana biasanya para santri mengekspresikan diri mereka. Bisa jadi kamu bakal lihat hal-hal yang berbeda dari sekadar pelajaran biasa.”

Alya tersenyum tipis, hatinya campur aduk antara penasaran dan rasa segan. “Oke, ayo… aku juga penasaran.”

Mereka pun berjalan perlahan menuju Aula Serbaguna, setiap langkah Alya terasa membawa dirinya lebih dalam ke dunia pesantren yang tenang, rapi, namun penuh misteri.

Rani membuka pintu Aula Serbaguna, Alya disambut dengan pemandangan yang berbeda dari ruang sekolah biasa. Di sekelilingnya, kanvas-kanvas berisi kaligrafi indah berjejer rapi, beberapa santri sedang menulis ayat-ayat Al-Qur’an dengan tinta hitam dan emas. Di sudut lain terdengar suara rebana lembut, beberapa santri sedang berlatih hadrah dengan gerakan tertata.

“Ini Aula Serbaguna. Di sini para santri dan pengajar mengekspresikan diri melalui seni Islami,” kata Ustadzah Rani sambil tersenyum. “Oh iya, Alya, ini Ustadzah Diah dan Ustadzah Shinta. Mereka pengajar yang sering mendampingi kegiatan di sini,” ucap Rani sambil menunjuk dua akhwat yang terlihat sibuk.

Diah, wanita sekitar 29 tahun, mengenakan jilbab rapi berwarna krem yang menutupi rambut panjangnya. Ia memakai gamis panjang warna navy yang sederhana tapi elegan, lengan sedikit mengembang sehingga memberi kesan anggun.

Diah menoleh dan tersenyum hangat. “Salam kenal. Kamu kakaknya Maya, ya? Senang akhirnya bisa bertemu langsung. Maya sudah cerita sedikit tentang kamu.”

Shinta, 31 tahun, wajah ceria, mata bersinar, mengenakan jilbab hijau muda yang menutupi rambutnya dengan rapi. Ia memakai gamis abu-abu muda yang pas di badan namun longgar di bawah, memberi kesan santai namun rapi. Shinta melangkah maju. “Halo, Alya. Aku Shinta. Wah, kamu kakaknya Maya yang kuliah di Kairo ya? Keren banget!”

Alya tersenyum sopan. “Salam kenal, Diah, Shinta. Ruangannya… indah dan terasa tenang. Aku senang bisa melihat langsung kegiatan di sini.”

Rani menepuk bahu Alya ringan. “Lihat? Mereka ramah kan? Tapi kadang di sini, ramah itu… punya banyak arti,” bisik Rani sambil menyingkap senyum misterius.

Diah tertawa pelan, suaranya hangat namun ada nada misterius samar. “Tenang saja, Alya. Di Aula Serbaguna ini, kadang kita belajar lebih dari sekadar seni. Banyak hal yang bikin penasaran kalau kamu mau coba buat lihat lebih dekat.”

Shinta mencondongkan tubuh, matanya menatap Alya penuh perhatian. “Kalau kamu mau, aku bisa tunjukkan beberapa teknik kaligrafi atau hadrah… dan kegiatan lain yang biasanya bikin suasana di sini makin asyik.”

Alya menelan ludah pelan, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Baiklah… aku mau coba lihat.”

Rani tersenyum tipis, membimbing Alya menyusuri ruangan. Kanvas berkaligrafi dan alat rebana tertata rapi, beberapa santri sibuk berlatih di pojok ruangan. Alya mengikuti sambil menatap Diah, Rani, dan Shinta, merasakan aura ramah tapi misterius yang membuatnya penasaran – suatu desakan halus yang belum sepenuhnya ia pahami.

Rani menuntun Alya menyusuri ruangan, sambil menunjuk beberapa sudut. “Di sini, para santri biasanya menghabiskan waktu luang mereka. Ada kaligrafi, hadrah, dan kadang latihan musik Islami. Semua kegiatan ini bersifat wajib dan pen9urus selalu mengawasi.”

Diah menambahkan sambil tersenyum. “Kalau soal jadwal di pesantren, setiap pagi selalu dimulai dengan tahajjud, sholat subuh berjamaah, lalu sarapan. Setelah itu, mereka ada pelajaran umum dan keislaman. Sore hari biasanya kegiatan ekstrakurikuler, seperti olahraga, seni, atau belajar kelompok.”

Shinta ikut menyelipkan penjelasan dengan santai. “Dan setiap Jumat ada waktu khusus untuk kegiatan kreativitas. Kalau mau, kamu bisa ikut mendampingi. Kita sering mengadakan lomba kaligrafi atau pentas hadrah.”

Alya mengangguk, mencoba menyerap semuanya sambil tersenyum. “Wah, cukup padat ya… tapi aku suka konsepnya. Rasanya seru kalau bisa terlibat langsung.” Ngocoks.com

Rani menepuk bahu Alya ringan, nada suaranya lebih hangat. “Aku akan tunjukkan beberapa trik supaya kamu cepat akrab dengan santri,” ucapnya dengan kerling nakal.

Diah tersenyum samar, menambahkan. “Ya, Alya. Pengajar di sini juga ramah-ramah, kadang kami juga suka bikin event-event supaya suasana di pesantren tetap seru.”

Shinta mencondongkan tubuh, matanya menatap Alya dengan perhatian. “Kalau kamu mau, nanti aku bisa ajak ikut kegiatan ekstra. Banyak yang bisa dipelajari, dan kadang lebih seru kalau ikut langsung.”

Alya tersenyum, sedikit tertarik tapi tetap merasa ada hal misterius yang samar. “Baiklah… aku ingin lihat semuanya. Rasanya berbeda dari pengalaman mengajar di Kairo.”

Rani, Diah, dan Shinta saling bertukar senyum tipis, sambil membimbing Alya menyusuri Aula Serbaguna, suasananya hangat tapi ada sentuhan misteri yang membuat Alya penasaran.

Saat Alya mengikuti Rani, Diah, dan Shinta berkeliling ruang Aula Serbaguna, matanya tertumbuk pada beberapa santri yang tengah sibuk menulis kaligrafi atau berlatih hadrah. Sekilas pandang mereka terlihat biasa, tapi Alya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Beberapa santri – baik laki-laki maupun perempuan – menatapnya sekilas, lama, dengan sorot mata yang membuat jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat. Ada sesuatu dalam cara mereka memandangnya, seperti campuran rasa ingin tahu dan ketertarikan halus yang sulit dijelaskan.

Alya menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangan ke kanvas kaligrafi di depannya, tapi aura itu terus terasa menyelimuti Aula Serbaguna. Setiap langkah Alya seolah diikuti tatapan mata yang penuh misteri, senyum tipis yang tak pernah lepas dari bibir beberapa santri.

“Kalau kamu perhatikan, mereka kadang memang suka begitu,” bisik Rani lembut sambil menepuk bahu Alya. “Santri di sini… mereka terbiasa dengan suasana yang berbeda. Kadang mata mereka bisa lebih ‘tajam’ dari yang kita kira.”

Alya menoleh, matanya bertemu dengan seorang santri perempuan yang tersenyum samar. Senyum itu bukan sekadar ramah – ada nada permainan dan misteri di baliknya. Hati Alya bergetar, campuran penasaran dan sedikit gelisah yang tak bisa ia pahami sepenuhnya.

Shinta menambahkan ringan, “Tenang, Alya. Jangan terlalu tegang. Aura di sini memang berbeda… tapi nanti kamu akan terbiasa. Yang penting, lihat dulu semua kegiatan, rasakan suasananya.”

Alya mengangguk, menahan rasa penasaran yang perlahan mulai tumbuh. Ia sadar, Aula Serbaguna ini lebih dari sekadar tempat belajar seni. Ada atmosfer misterius, hampir memanggilnya untuk lebih dekat, untuk menyelami rahasia yang tersembunyi di balik senyum-senyum tipis para santri.

*

Malam mulai menyelimuti pesantren, cahaya lampu hangat di lorong berbaur dengan remang-remang bulan yang menembus jendela kamar Alya. Ia menaruh kopernya di sudut ruangan, membuka jendela lebar yang menghadap halaman sekolah. Angin malam menampar wajahnya lembut, membawa aroma pepohonan dan tanah basah.

Alya duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang. Rasa penasaran dan ketegangan bercampur dalam dadanya. Setiap senyum misterius Rani, tatapan pengajar lain, hingga sorot mata para santri yang ia rasakan siang tadi, terus berputar di pikirannya. Ada sesuatu yang berbeda di pesantren ini – perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, sulit dijelaskan.

Ia menyentuh jilbabnya, menarik napas lagi, mencoba menenangkan hati. Namun perasaan ingin tahu itu semakin kuat, seolah memanggilnya untuk menyelami apa yang tersembunyi di balik ketenangan pesantren.

Alya tersenyum pelan, menegaskan pada dirinya sendiri bahwa ia hanya akan mengamati dulu, menyesuaikan diri. Tapi jauh di sudut hatinya, sebuah rasa penasaran baru mulai tumbuh, lembut namun menggelora, membaur dengan ketenangan malam yang hening.

Dengan perlahan, Alya merebahkan diri, menutup mata, tapi bayangan sore itu – tatapan, senyum misterius, dan aura di Aula Serbaguna – terus menempel dalam pikirannya. Ia tahu, hari pertama ini hanyalah awal dari sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mungkin akan mengubah pengalamannya di pesantren itu selamanya.

Bersambung…

1 2 3 4 5
Berlanjut Bersambung Cantik Gangbang Guru Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Perawan Perkosaan Pesta Petualangan Rame Rame Romantis Selingkuh Tante Tergila Ternikmat Threesome Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleAnak Tiri
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Anak Tiri

    9.5

    Kakek Tua

    9.3

    Tabir Cinta 2 Dunia

    9.5

    Surga Gangbang Selebriti

    9.3

    Fira the Office Girl

    9.7

    Mimpi Buruk di Kampus

    Follow Facebook

    Recent Post

    Birahi di Pesantren

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Surga Gangbang Selebriti

    Fira the Office Girl

    Mimpi Buruk di Kampus

    Mimpi Buruk

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.