Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Birahi di Pesantren

Birahi di Pesantren

Gairah Birahi Gelap di Pesantren
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

PERSIAPAN MENGAJAR

Siang itu, Pesantren Darul Hikmah diselimuti cahaya matahari yang lembut, menyusup melalui celah-celah jendela kayu berukir yang tinggi, menciptakan pola bayangan panjang di lantai lorong yang terbuat dari papan-papan kayu tua. Udara terasa hangat tapi tidak pengap, bercampur aroma wewangian bunga melati liar yang tumbuh di pinggir halaman.

Lorong pesantren yang menghubungkan gedung utama dengan deretan ruang kelas terasa sepi, hanya sesekali terdengar langkah kaki santri yang bergegas atau suara pintu yang berderit pelan. Tapi di balik kesunyian itu, ada getaran halus – seperti hembusan angin yang tak terlihat, membawa bisik-bisik samar yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.

Alya Ramadhani melangkah pelan di lorong itu, tangan kirinya memegang erat tas kain berisi buku-buku tafsir dan catatan pelajaran, sementara tangan kanannya menyesuaikan jilbab hitam polos yang menutupi rambut panjangnya dengan rapi.

Tubuh semampainya, setinggi 165 cm, bergerak dengan anggun tapi hati-hati, gamis panjang kremnya mengalir lembut mengikuti langkahnya, menonjolkan lekuk pinggang ideal dan pinggul yang melengkung halus.

Cahaya matahari yang menyinari dari samping membuat bayangan tipis jatuh di dinding, memperlihatkan siluet tubuhnya secara tak sengaja – garis dada yang naik-turun pelan dengan setiap napas, dan kaki jenjang yang tersembunyi di balik kain tapi terasa begitu hidup di bawahnya.

Ia baru saja meninggalkan ruang baca setelah diskusi singkat dengan Ustadz Reza, tapi pikirannya masih terbelah – kehangatan tulus Fahri yang seperti pelindung, kontras dengan pesona membara Reza yang membuat perutnya bergejolak aneh.

“Besok harus siap,” gumam Alya pelan pada diri sendiri, mencoba fokus pada tugas mengajar pertamanya. Tapi langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, seperti ada mata-mata tak terlihat yang mengikuti setiap gerakannya.

Ia menoleh sekilas ke belakang, lorong kosong, tapi perasaan itu tak hilang – seperti kulit putih bersihnya yang sensitif merasakan hembusan angin yang terlalu hangat, terlalu dekat.

Di ujung lorong, dekat pintu masuk ke deretan ruang kelas kosong, sekelompok santri senior – dua perempuan dan dua laki-laki – berdiri bersandar ke dinding, berpura-pura mengobrol santai sambil memegang buku tebal di tangan.

Mereka adalah Laila, Nadia, dan dua santri laki-laki bernama Andi dan Faisal, semua berusia sekitar 20-21 tahun, senior yang sudah lama terbiasa dengan “tradisi” tersembunyi pesantren ini.

Laila, dengan wajah cantik berbibir tebal dan mata gelap yang mengintimidasi, adalah yang pertama menangkap sosok Alya. Tatapannya tak sekadar penasaran – itu lapar, menelusuri garis leher jilbab Alya yang tertutup rapat, seolah bisa membayangkan kulit lembut di baliknya.

“Lihat tuh, yang baru dari Kairo. Cantik banget, ya? Tubuhnya kayak patung, sempurna buat… dimainin,” bisik Laila pelan, suaranya rendah tapi penuh nada menggoda, bibirnya melengkung nakal.

Nadia, yang lebih pendiam dengan kulit kuning langsat dan senyum malu-malu, tersipu tapi tak bisa menahan tatapannya. Matanya turun ke lekuk pinggang Alya yang terlihat samar di balik gamis, bayangan cahaya matahari membuat kain itu seperti transparan tipis. “Iya, Lail.

Kayaknya alim banget. Tapi pasti ada sisi nakalnya. Ingat nggak, dulu aku juga gitu pas pertama kali digodain Ustadzah Rani?” balas Nadia, tangannya tanpa sadar menyentuh lengan Andi di sebelahnya, jarinya menggambar lingkaran kecil di kulitnya – gerakan mesra yang sudah jadi kebiasaan di antara mereka.

Andi, santri laki-laki berbadan kurus tapi tatapannya tajam, menyeringai lebar. “Kalau ustadzah itu ikut pesta, pasti langsung ketagihan. Aku aja udah tegang bayangin dia, cantik banget.” Faisal terkekeh pelan, menepuk bahu Andi, tapi matanya tak lepas dari Alya yang semakin dekat. Bisik-bisik mereka samar, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih tebal, seperti kabut nafsu yang menyusup ke lorong sunyi itu.

Alya merasakannya – tatapan itu. Bukan tatapan sopan seorang santri pada 9uru baru, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih panas. Jantungnya berdetak lebih cepat, seperti rebana yang dipukul pelan tapi ritmenya tak berhenti. Lengannya merinding halus, walaupun udara siang saat ini tak terasa dingin.

Ada sensasi aneh di selangkangannya – seperti gatal yang ingin digaruk, tapi ia tak berani. Ia menundukkan pandangan, berusaha menjaga adab, tapi tubuhnya mengkhianati – napasnya pendek-pendek, dada naik-turun lebih cepat, membuat lekuk payudaranya yang ideal bergesekan pelan dengan kain bra di bawah gamis.

“Kenapa… rasanya seperti lagi ditelanjangi?” pikirnya, pipinya memanas di bawah jilbab. Ia mempercepat langkah, tapi justru membuat gamisnya bergoyang, menonjolkan siluet pinggulnya yang melengkung, dan bisik-bisik santri itu semakin terdengar jelas di telinganya – kata-kata samar seperti “enak” dan “mantap” yang membuat perut bawahnya berdenyut samar, basah tipis yang ia coba abaikan.

Saat Alya melewati mereka, Laila tak tahan untuk menyapa. “Assalamualaikum, Ustadzah Alya! Senang bisa ketemu lagi. Besok kelas Tafsir ya? Kami tunggu ilmunya…” sapa Laila dengan suara manis, tapi matanya berkedip nakal, tatapannya turun sekilas ke dada Alya sebelum kembali ke wajahnya.

Nadia tersenyum diam, tapi tangannya menyentuh bibirnya pelan, seperti membayangkan ciuman. Andi dan Faisal hanya mengangguk, tapi senyum mereka lebar, mata mereka seperti menyimpan hasrat gelap.

“Wa’alaikumsalam,” balas Alya cepat, suaranya sedikit gemetar. Ia tersenyum sopan, tapi hatinya bergejolak – campuran takut dan penasaran yang aneh, seperti ingin lari tapi juga ingin tahu apa yang disembunyikan di balik tatapan itu.

Langkahnya terburu-buru menuju ruang kelas kosong di ujung lorong, pintu kayu yang setengah terbuka mengundangnya masuk. Ngocoks.com

Di dalam, cahaya matahari menyinari meja-meja kayu sederhana dan papan tulis hitam yang kosong, aroma kapur dan kayu tua memenuhi udara. Alya menutup pintu di belakangnya, bersandar ke dinding sejenak, napasnya tersengal.

“Astaghfirullah… ini cuma perasaanku,” bisiknya, tapi tangannya tanpa sadar menyentuh dada, merasakan detak jantung yang liar di bawah kain. Sensasi itu tak hilang – malah semakin kuat, seperti tubuhnya mulai bangun dari tidur panjang, penasaran dengan sentuhan yang belum pernah ia rasakan.

Tak lama, suara langkah kaki mendekat dari lorong. Alya menegakkan tubuh, berusaha tampak tenang saat pintu terbuka lagi. Masuklah tiga sosok yang sudah ia kenal – Ustadzah Rani, Diah, dan Shinta – teman-teman senior yang ia temui di Aula Serbaguna kemarin.

Rani memimpin, dengan rambut panjang bergelombang tersembunyi di balik jilbab biru muda yang pas di wajah cantiknya, tubuh tingginya bergerak dengan langkah supel, gamis hijaunya mengalir seperti air.

Di belakangnya, Diah dengan wajah manis dan kulit kuning langsat, tubuh montoknya terlihat lembut di balik gamis krem longgar, auranya keibuan tapi ada kilatan liar di matanya.

Shinta, yang paling matang dengan usia 31 tahun, berjalan dengan percaya diri – tubuh berisinya menggoda di balik gamis hitam ketat, aura dewasanya seperti magnet yang menarik siapa saja.

“Alya! Lagi nyiapin kelas ya? Wah, rajin banget,” sapa Rani dengan suara ramah, tapi nada bicaranya ambigu – seperti ada lapisan tersembunyi di balik kata-kata polos itu. Ia mendekat, bahunya hampir menyentuh Alya, aroma parfum mawarnya yang manis menyusup ke hidung, membuat Alya mundur selangkah tanpa sadar.

“Kami tadi lewat lorong, lihat santri-santri pada heboh. Kayaknya mereka udah nggak sabar diajarin sama kamu. Apalagi yang senior… mereka kayak semangat banget, loh.”

Diah tertawa pelan, suaranya hangat seperti ibu yang menenangkan, tapi matanya menelusuri lekuk tubuh Alya dengan perhatian yang terlalu lama. “Iya, Rani. Alya, hati-hati aja sama tatapan mereka. Di sini, mata bisa lebih nakal dari tangan.

Tapi tenang, kalau kamu capek, ada kami kok – kami bisa dampingi, atau… ikut bantu.” Kata “bantu” itu dia ucapkan pelan, dengan senyum yang melebar, tangannya menyentuh lengan Alya sekilas – sentuhan lembut, tapi cukup untuk membuat kulit Alya merinding lagi, panas tipis menyebar dari titik itu ke seluruh lengan.

Shinta, yang paling berani, ikut bergabung, berdiri di sisi lain Alya sehingga ia terjepit di antara ketiganya. Auranya dewasa, penuh pengalaman, matanya yang gelap menatap Alya seperti membaca rahasia.

“Kamu keliatan tegang, Alya. Pertama kali ngajar di pesantren kayak gini pasti deg-degan. Tapi percaya deh, setelah satu-dua kali, kamu bakal ketagihan. Apalagi kalau ada ‘mentor’ yang bener.

Kayak kami… kami bisa ajarin banyak hal, nggak cuma tafsir.” Nada suaranya rendah, ambigu, seperti janji yang dibungkus kata-kata. Ia mencondongkan tubuh, napasnya hangat menyentuh pipi Alya, dan berbisik pelan. “Badan kamu bagus banget, lho. Pasti enak kalau… dibikin rileks.”

Alya menelan ludah, jantungnya berdegup kencang seperti ingin lompat keluar dari dada. Bisik-bisik itu seperti racun manis, menyusup ke pikirannya yang polos, membuat imajinasinya berlari liar – bagaimana rasanya jika tangan Shinta menyusuri punggungnya, atau Diah yang memeluknya dengan tubuh montoknya yang lembut?

“Ustadzah… terima kasih. Saya… saya baik-baik aja. Cuma butuh persiapan,” balasnya tergagap, suaranya lembut tapi goyah. Tubuhnya merespons lagi – putingnya mengeras di balik bra, bergesekan pelan dengan kain gamis setiap kali ia bernapas, dan ada basah samar di antara pahanya yang membuatnya menggeser kaki tanpa sadar. Penasaran bercampur takut – takut jatuh ke dalam godaan ini, tapi juga penasaran ingin tahu rasanya “rileks” yang mereka janjikan.

Rani tersenyum licik, tangannya menepuk bahu Alya dengan ringan – sentuhan yang terlalu lama, jarinya hampir menyusuri leher. “Santai aja, Alya.

Kami cuma mau bilang, jangan lakukan apapun sendirian. Di pesantren ini, ‘teman’ itu penting. Nanti sore, kalau senggang, mampir ke kamar kami yuk. Bisa ngobrol… atau lakuin apa pun yang bikin kamu nyaman.” Mereka bertiga saling pandang, senyum mereka sinkron, seperti rahasia bersama yang Alya belum pahami.

Sebelum Alya bisa menjawab, suara langkah kaki tegas terdengar dari lorong. Pintu ruang kelas terbuka lebar, dan masuklah Ustadz Reza, tubuh atletisnya yang tinggi memenuhi ambang pintu seperti bayangan maskulin yang mendominasi.

Kulit sawo matangnya berkilau samar di bawah cahaya matahari, baju koko putihnya ketat di dada yang berotot, dan tatapannya langsung tertuju pada Alya – intens, penuh gairah yang tak disembunyikan.

“Assalamualaikum, para ustadzah. Maaf ganggu. Alya, saya cuma mau konfirmasi materi besok. Santri-santri udah nggak sabar, loh.” Suaranya dalam, seperti belaian panas, matanya menelusuri wajah Alya sebelum turun ke lekuk tubuhnya yang diterangi cahaya – garis pinggang, pinggul, dan kaki yang tersembunyi tapi terasa begitu mengundang.

Rani, Diah, dan Shinta saling pandang sekilas, senyum mereka melebar sebelum mereka pamit dengan sopan. “Kami tinggal dulu ya, Alya. Sampai jumpa nanti,” pamit Diah, suaranya penuh arti. Mereka keluar, meninggalkan Alya sendirian dengan Reza di ruang kelas yang tiba-tiba terasa lebih sempit.

Tatapan Reza tak bergeming. Ia melangkah mendekat, tubuhnya begitu dekat hingga Alya bisa mencium aroma maskulinnya – campuran sabun segar dan sedikit keringat siang yang membuat perutnya bergejolak.

“Kamu keliatan… berbeda. Mukanya lebih… cerah. Apa karena besok pertama kali ngajar?” Matanya gelap, penuh pesona, menelusuri bibir Alya yang tipis, seolah ingin merasakan kelembutannya.

Alya merasa geli – sensasi aneh yang menjalar dari dada ke selangkangan, membuat pahanya berdenyut pelan, basahnya semakin terasa. Tubuhnya merespons tanpa sadar – napasnya cepat, kulit lehernya panas, dan ia tanpa sadar menggigit bibir bawah, gerakan kecil yang membuat Reza tersenyum nakal.

“Saya… baik, Ustadz. Cuma deg-degan aja,” balas Alya, suaranya hampir berbisik. Tatapan tajam itu membuatnya penasaran – ingin tahu bagaimana rasanya disentuh oleh tangan kuat itu, atau bibirnya yang tebal menekan lehernya. Tapi ia mundur selangkah, menabrak meja di belakangnya, membuat buku-bukunya bergeser.

Reza condong lebih dekat, tangannya menyentuh tepi meja di samping Alya, memerangkapnya tanpa benar-benar menyentuh. “Deg-degan itu bagus, Alya.

Artinya kamu bersemangat. Kalau butuh bantuan, bilang aja. Saya siap… dampingi kapan pun.” Kata-katanya ambigu, napasnya hangat menyentuh wajah Alya, dan tatapannya turun ke dada yang naik-turun cepat, seolah bisa melihat puting tegang di balik kain gamis.

Alya menelan ludah, jantungnya seperti mau meledak. Sensasi itu candu – geli yang samar, penasaran yang membara, membuat selangkangannya berdenyut lebih kuat, cairan hangat yang licin menempel di celana dalamnya. “Terima kasih, Ustadz. Saya… saya bisa urus sendiri,” katanya tergagap, tapi suaranya lemah.

Reza tersenyum, mundur pelan. “Oke, Alya. Sampai besok.” Ia keluar, meninggalkan Alya sendirian lagi, napasnya tersengal, tangannya menekan dada untuk meredam degupan.

Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi – Alya heran sekali kenapa hari ini ia ditakdirkan untuk bertemu banyak orang. Ustadz Fahri masuk, wajah tampannya teduh di bawah cahaya matahari, mata coklatnya penuh kehangatan tulus.

Tubuhnya bergerak dengan wibawa alami, baju kokonya longgar tapi tak menyembunyikan bahu lebarnya yang kuat. “Alya, bagaimana rasanya besok pertama kali mengajar di sini? Saya lihat kamu keliatan agak tegang tadi di ruang baca.” Suaranya lembut, seperti angin sepoi yang membawa kedamaian, tatapannya langsung ke mata Alya, penuh perhatian tanpa gairah liar.

Alya merasa lega seketika, seperti pelukan hangat yang tak terucap. “Ustadz Fahri… Alhamdulillah, baik. Cuma… suasananya beda dari Kairo. Santri-santri pada ramah, tapi tatapannya… aneh.” Ngocoks.com

Suaranya lebih tenang sekarang, kontras dengan kegelisahan tadi. Fahri membuatnya merasa aman, seperti jangkar di tengah badai – tak ada panas membara seperti tatapan Reza.

Fahri mengangguk, matanya penuh pengertian. “Iya, pesantren ini punya… aturannya sendiri. Tapi ingat, Alya, jaga hati kamu. Kalau ada yang mengganggu, bilang ke saya.

Saya… peduli sama kamu.” Kata-katanya sederhana, tapi ada nada pelindung yang membuat hati Alya hangat, kontras tajam dengan bisik-bisik Rani dan tatapan Reza yang membuatnya gelisah. Kebingungannya muncul – siapa yang harus ia percaya? Kegelapan yang menggoda atau cahaya yang menenangkan?

“Terima kasih, Ustadz. Saya akan menjaga diri,” balas Alya, tersenyum tulus untuk pertama kalinya hari itu.

Fahri tersenyum balik, salam perpisahannya singkat tapi penuh makna, sebelum ia keluar meninggalkan Alya sendirian lagi.

Di ruang kelas kosong itu, Alya akhirnya duduk di salah satu bangku, tangannya gemetar saat membuka buku tafsir. Emosinya bergolak – kulitnya masih merinding dari tatapan para santri, dada berdebar dari bisik-bisik ustadzah, dan sensasi geli dari Reza yang membuat tubuhnya basah dan berdenyut.

Ia berusaha fokus, membaca ayat-ayat tentang menjaga pandangan, tapi pikirannya terganggu terus – bayangan tangan Shinta di pahanya, napas Reza di lehernya, senyum Fahri yang aman tapi membingungkan.

“Kenapa tubuh aku… kayak gini? Penasaran, tapi takut. Ini dosa, tapi… rasanya enak,” pikirnya, tangannya tanpa sadar menyentuh paha, merasakan panas di balik kain gamis. Ia menggelengkan kepala, berdoa pelan, tapi ketegangan itu tak hilang – malah semakin membesar, seperti api kecil yang siap membakar.

Sore mulai meredup saat Alya akhirnya bangkit, membawa tasnya menuju ruang 9uru di lantai atas. Ruangan itu nyaman, meja kayu panjang dipenuhi kitab-kitab usang dan cangkir teh hangat yang ditinggalkan rekan kerjanya.

Ia duduk di kursi empuknya, menata buku dan perlengkapan mengajar satu per satu – mushaf di tengah, catatan di samping, pena disusun rapi seperti benteng.

Cahaya matahari senja menyinari wajahnya, membuat sorot matanya yang teduh terlihat lebih polos, tapi di balik itu, ada kilatan gelisah. Rasa penasaran membesar – ingin tahu rahasia di balik tatapan itu, bisik-bisik itu, sentuhan yang belum terjadi.

Ketegangan seksual tersirat itu seperti benang halus yang melilit tubuhnya, menariknya pelan ke kegelapan yang menggoda. Besok, kelas Tafsir bukan lagi soal ilmu – itu panggung untuk godaan yang lebih intens, dan Alya tahu, ia mungkin tak bisa menolak sepenuhnya.

Bersambung…

1 2 3 4 5
Berlanjut Bersambung Cantik Gangbang Guru Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Perawan Perkosaan Pesta Petualangan Rame Rame Romantis Selingkuh Tante Tergila Ternikmat Threesome Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleAnak Tiri
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Anak Tiri

    9.5

    Kakek Tua

    9.3

    Tabir Cinta 2 Dunia

    9.5

    Surga Gangbang Selebriti

    9.3

    Fira the Office Girl

    9.7

    Mimpi Buruk di Kampus

    Follow Facebook

    Recent Post

    Birahi di Pesantren

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Surga Gangbang Selebriti

    Fira the Office Girl

    Mimpi Buruk di Kampus

    Mimpi Buruk

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.