Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Birahi di Pesantren

Birahi di Pesantren

Gairah Birahi Gelap di Pesantren
Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

BISIK BISIK DI RUANG 6URU

Siang itu, Pesantren Darul Hikmah diselimuti cahaya matahari yang lembut, seperti selimut hangat yang menyusup melalui celah-celah jendela kayu berukir di ruang 9uru. Udara terasa lembab tapi nyaman, bercampur aroma teh jahe yang mengepul dari cangkir-cangkir di meja panjang, dan hembusan angin sepoi dari halaman luar yang membawa wangi bunga kamboja.

Ruang 9uru itu seperti oasis kecil di tengah hiruk-pikuk pesantren – dinding kayu tua berwarna coklat gelap dihiasi rak-rak penuh kitab kuning usang, kursi-kursi empuk berlapis kain, dan papan tulis kecil di sudut yang sering dipakai untuk mencoret-coret jadwal mendadak.

Tapi hari ini, ruangan itu terasa lebih intim, lebih pekat, seolah cahaya siang yang menyinari setiap sudut menyembunyikan rahasia di balik bayangan panjang yang jatuh di lantai.

Alya duduk di salah satu kursi empuk dekat jendela, tubuh semampainya condong ke depan meja kecil pribadinya, tangan halusnya sibuk menyusun catatan pelajaran untuk kelas Tafsir besok pagi.

Gamis biru muda yang ia pilih hari ini mengalir lembut di lekuk pinggang idealnya, kain sutranya yang ringan bergesekan pelan dengan kulit putih bersih pahanya setiap kali ia bergeser, mengirim sensasi samar yang membuatnya tersadar pada dirinya sendiri.

Rambut hitam panjangnya terselip rapi di balik jilbab polos senada, tapi beberapa helai nakal menyembul di sisi wajah cantiknya, membingkai sorot mata coklat teduh yang kini dipenuhi kerutan kecil di dahi – tanda gelisah yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Sudah beberapa hari ia mengajar di sini, tapi setiap pagi, setiap siang, pesantren ini seperti teka-teki yang semakin rumit, menariknya pelan ke dalam labirin yang ia takut tapi penasaran.

Di depannya, mushaf terbuka di halaman Surah Al-Mu’minun, ayat tentang menjaga pandangan dan hati dari godaan duniawi. “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, dan orang-orang yang memelihara amanat-amanatnya dan janjinya…” gumam Alya pelan, jarinya menyusuri tulisan Arab yang halus, mencoba fokus pada makna yang dulu begitu mudah ia hafal di Kairo.

Tapi pikirannya melayang lagi, seperti kabut pagi yang tak mau hilang. Ia menarik napas dalam, mencoba mengusir bayangan itu, tapi justru membuat gamisnya bergeser sedikit, kainnya menyentuh kulit sensitif di lengan bawahnya, mengirim getaran halus yang membuat putingnya tegang samar di balik bra.

Hari ini ruang 9uru terasa ramai. Di sudut ruangan, Ustadzah Rani duduk santai di kursi panjang, kakinya bersilang dengan anggun, gamis hijaunya yang pas di tubuhnya mengalir seperti air, rambut bergelombangnya tersembunyi di balik jilbab biru muda yang selalu terlihat luwes.

Ia sedang mengobrol dengan Diah, yang duduk di sebelahnya dengan aura keibuan – kulit kuning langsatnya bersinar lembut di bawah cahaya siang, tubuh montoknya terbungkus gamis krem longgar tapi tak bisa sembunyikan lekuk dada yang penuh, matanya hangat tapi ada kilatan liar di baliknya saat ia tertawa pelan.

Shinta, sang janda muda berusia 31 tahun, berdiri di dekat rak kitab, tangannya menyusuri sampul buku tua dengan gerakan lambat yang hampir erotis, tubuh berisinya yang menggoda di balik gamis hitam ketat membuatnya terlihat seperti perpaduan berbau dewasa dan teka-teki.

Mereka bertiga membentuk lingkaran kecil yang rapat, tapi hari ini, ada tambahan. Sekelompok santri yang kebetulan mampir – Laila dan Nadia dari kalangan perempuan, serta Andi dan Faisal dari kalangan laki-laki – berdiri di dekat pintu, berpura-pura bertanya soal jadwal ekstrakurikuler, tapi interaksi mereka… berbeda.

Alya memperhatikan dari mejanya, matanya yang teduh tanpa sengaja tertarik ke sana, seperti magnet yang tak terlihat. Ngocoks.com

Rani sedang berbicara dengan Laila, tangan kanannya menyentuh bahu santriwati itu dengan lembut – bukan sentuhan sopan antara 9uru dan murid, tapi lebih akrab, jari-jarinya berlama-lama di kain jilbab Laila, menyusur pelan ke lengan sebelum ditarik kembali.

Laila tertawa pelan, matanya gelap berkilau saat membalas, tatapannya terhadap Rani terlalu intens, seperti sedang berbagi rahasia yang tidak perlu kata-kata.

“Ustadzah, nanti sore latihan hadrah lagi ya? Kami butuh… bimbingan tambahan,” pinta Laila dengan suara manis, tapi nada bisiknya rendah, hampir intim, saat ia condong dekat ke telinga Rani, napasnya hangat menyentuh kulit leher ustadzah itu.

Rani tersenyum, mengangguk pelan sambil menepuk paha Laila sekilas dengan gerakan cepat, tapi cukup untuk membuat Alya menelan ludah, jantungnya berdegup lebih cepat tanpa alasan jelas.

Di sebelah, Ustadzah Diah sedang berbincang dengan Nadia, santriwati pendiam yang kulit kuning langsatnya mirip dengan ustadzah itu sendiri.

Diah memegang tangan Nadia saat menjelaskan sesuatu tentang jadwal, tapi pegangannya tak lepas dari jari-jarinya yang saling terkait pelan, ibu jari Diah mengusap punggung tangan Nadia dengan gerakan melingkar yang lembut, seperti belaian kekasih.

Nadia tersipu, matanya menunduk tapi bibirnya melengkung senyum malu-malu, tatapannya terhadap Ustadzah Diah penuh kepercayaan yang terlalu dalam untuk sekadar murid dan 9uru.

“Iya, Ustadzah… kami siap ikut kegiatan itu. Pasti… menyenangkan,” bisik Nadia, suaranya hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Alya merasakan panas samar di pipinya. Sentuhan itu, tatapan itu, itu terlalu akrab, terlalu hangat untuk lingkungan pesantren yang seharusnya suci.

Ustadzah Shinta, yang paling berani, sedang berbicara dengan Andi dan Faisal di dekat rak kitab. Santri laki-laki itu berdiri dekat sekali, bahu Andi hampir menyentuh lengan Shinta, dan saat ustadzah itu tertawa atas lelucon Faisal, tangannya menyentuh dada Andi sekilas, bukan tepukan sopan, tapi tekanan ringan yang berlama-lama, jari-jarinya merasakan detak jantung santri itu melalui kain koko tipis.

Andi tersenyum lebar, tatapannya terhadap Shinta penuh gairah tersembunyi, seperti serigala yang mengintai mangsa, dan Faisal ikut condong, berbisik ke telinga Shinta.

“Ustadzah, nanti malam… kami tunggu bimbingan spesialnya.” Ustadzah Shinta mengangguk, matanya gelap berkilau, tangannya menyusuri lengan Faisal pelan sebelum ditarik, gerakan yang membuat udara di ruangan terasa lebih tebal, lebih berat.

Alya tak bisa berpaling. Matanya tertarik ke sana, seperti hipnotis, dan detak jantungnya mulai cepat, ritmenya seperti tepukan rebana yang pelan tapi tak berhenti. Ini bukan interaksi normal.

Di Kairo, hubungan antar 9uru dan murid itu sopan, jarak terjaga, tatapan menunduk. Tapi di sini, sentuhan itu seperti undangan halus, tatapan intens seperti janji rahasia, bisikan di telinga seperti hembusan angin panas yang menyusup ke aurat.

Alya merasakan kulit lengannya merinding halus, meski udara siang tidak dingin, bulu-bulu halus di lengan bawahnya berdiri seperti disentuh jari tak terlihat. Dadanya berdebar kencang, naik-turun lebih cepat di balik gamis biru muda, putingnya tegang samar bergesek kain bra, mengirim gelombang hangat ke perut bawahnya yang mulai bergejolak.

Rasa penasaran bercampur takut menyergapnya, rasa penasaran ingin tahu apa yang disembunyikan di balik sentuhan itu, apa rahasia yang membuat Laila tersenyum seperti itu, apa “bimbingan spesial” yang dijanjikan Faisal. Ia takut norma yang ia pegang bertahun-tahun di Kairo mulai retak, seperti dinding kertas yang robek pelan terkena angin.

“Kenapa… rasanya seperti ini?” batin Alya, tangannya tanpa sadar menyentuh lehernya, jarinya menyusuri garis jilbab yang rapat, merasakan panas kulit di bawahnya yang memerah.

Tubuhnya bereaksi lagi, paha dalamnya menekan rapat, merasakan basah tipis yang licin di celana dalam, denyut pelan di klitorisnya seperti bisikan nafsu yang bangun dari tidur.

Ia membayangkan, bagaimana rasanya sentuhan seperti itu di bahunya, tatapan intens seperti Rani ke Laila di matanya sendiri, bisik di telinga yang membuat telapak tangannya berkeringat.

Rasa penasaran itu seperti halnya gatal yang tak bisa digaruk, membuat napasnya pendek-pendek, dada berdebar seperti ingin lompat keluar, tapi ia takut – takut jatuh ke dalam, takut polosnya hilang selamanya.

Alya meninggalkan ruang 9uru dengan perasaan campur aduk. Langkahnya pelan di lorong siang yang hangat, cahaya matahari lembut menyinari gamis hijau zaitunnya yang mengalir, tapi pikirannya berputar kacau – sentuhan bahu Rani terhadap Laila yang terlalu intens, bisik Faisal terhadap Shinta yang penuh misteri, tatapan Nadia ke Diah yang seperti berbagi rahasia intim.

Itu bukan seperti interaksi 9uru dan murid biasanya. Itu seperti tarian halus di tepi jurang, di mana batas suci dan nafsu bergesekan pelan, dan Alya merasakan dirinya ditarik ke dalamnya.

Ia mulai menyadari bahwa pesantren ini berbeda dari apa yang dia bayangkan – bukan pondok pesantren suci yang dingin dan disiplin seperti di Kairo, di mana azan menggema dan kitab-kitab klasik jadi satu-satunya godaan.

Cerita Sex The Click

Di sini, Darul Hikmah seperti taman rahasia yang penuh bunga beracun. Halaman rindang dan masjid megah di permukaan, tapi di baliknya, lorong-lorong kayu dan ruang-ruang kosong menyimpan bisik-bisik yang seperti hembusan angin panas, sentuhan yang seperti belaian angin malam, tatapan yang seperti undangan ke kegelapan manis.

Alya berhenti sejenak di tikungan lorong, tangannya memegang dinding kayu dingin untuk menahan getaran samar di lututnya, napasnya pendek saat ingat dialog ambigu tadi, “bimbingan tambahan”, “kegiatan rahasia”, “spesial”.

Kata-kata itu seperti benih yang ditanam di hatinya, tumbuh pelan tapi pasti, membuat penasaran itu membesar seperti akar yang merayap.

Bersambung…

Cerita ini kurang lebih ada 20 episode, nantikan kelanjutannya yang akan di update hanya di situs Ngocoks.

1 2 3 4 5
Berlanjut Bersambung Cantik Gangbang Guru Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenikmatan Mesum Ngentot Pengalaman Perawan Perkosaan Pesta Petualangan Rame Rame Romantis Selingkuh Tante Tergila Ternikmat Threesome Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleAnak Tiri
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Anak Tiri

    9.5

    Kakek Tua

    9.3

    Tabir Cinta 2 Dunia

    9.5

    Surga Gangbang Selebriti

    9.3

    Fira the Office Girl

    9.7

    Mimpi Buruk di Kampus

    Follow Facebook

    Recent Post

    Birahi di Pesantren

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Surga Gangbang Selebriti

    Fira the Office Girl

    Mimpi Buruk di Kampus

    Mimpi Buruk

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.