Pak Darsa mundur lebih jauh, langkahnya hati-hati agar tak menimbulkan suara, pikirannya berputar liar tentang apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Rahasia ini terlalu besar untuk disimpan sendirian.
Pak Darsa merasa lututnya lemas, hampir ambruk di tempat. Tubuhnya yang biasanya kokoh karena bertahun-tahun menggarap sawah kini terasa seperti daun kering yang siap diterbangkan angin. Napasnya tersengal pendek-pendek, mulutnya kering seperti habis menelan debu panas di musim kemarau.
Ia mundur lagi, satu langkah, dua langkah, sampai punggungnya menyentuh batang pohon jati kecil di belakang semak. Tangannya mencengkeram kulit pohon itu keras-keras, seolah mencari pegangan agar tak jatuh, atau agar tak berteriak.
Di depannya, Nisya dan Ustadz Asep masih saling merapikan pakaian dengan gerakan tergesa. Gamis Nisya sudah diturunkan kembali, meski kusut dan sedikit berlumur tanah di bagian pinggang.
Ustadz Asep menarik jubahnya ke bawah, lalu dengan cepat merapikan sorban yang sedikit miring di kepalanya, seolah ingin segera kembali menjadi sosok yang dikenal seluruh kampung: ustadz yang lembut bicara, yang selalu mengingatkan umat tentang dosa dan taubat.
Nisya menunduk, menyeka pipinya dengan ujung lengan gamis. Wajahnya masih merah, tapi kini lebih karena malu yang terlambat daripada gairah. “Paman Ustadz… kalau ada yang tahu…” suaranya hampir tak terdengar, terbawa angin.
“Tak ada yang tahu,” potong Ustadz Asep cepat, suaranya sudah kembali ke nada tenang yang biasa ia pakai saat khotbah Jumat. “Kita sudah hati-hati. Ini tempat yang aman. Dan… Paman janji ini yang terakhir, Nisya. Sungguh.”
Nisya hanya mengangguk lemah, tapi matanya tak menatap wajah Ustadz Asep. Pandangannya jatuh ke tanah, ke rumput yang baru saja mereka injak bersama.
‘Punya Paman Ustadz sama aja sama suamiku kurang memuaskan. Duh makin penasaran sama punya Pak Darsa. Gosipnya rame banget punya dia luar biasa,’ batin Nisya.
Pak Darsa merasakan sesuatu yang panas naik ke tenggorokannya—campuran antara amarah, jijik, dan rasa tak percaya yang membuat kepalanya pening. Ia ingin berteriak.
Ingin lari ke sana, menarik Ustadz Asep dari kerah jubahnya, dan menampar Nisya sampai sadar. Ingin memanggil seluruh kampung supaya mereka lihat sendiri apa yang dilakukan oleh orang yang selama ini mereka hormati sebagai “9uru agama” dan menantu yang “penurut”.
Tapi kakinya tak bergerak.
“Kalau aku maju sekarang… apa yang terjadi?” pikirnya berulang-ulang, seperti mantra yang tak bisa menenangkan. “Mereka bisa bilang aku bohong. Atau lebih buruk lagi—mereka bisa bilang aku yang mengada-ada karena iri. Atau… ya Allah, kalau mereka bilang aku mata-mata, pengintip… malu aku, Pak Darsa, malu aku di depan istri dan anak-anak.”
Ia membayangkan wajah anak, menantu dan cucu-cucunya yang akan memucat karena malu dan marah.
Dan yang paling menakutkan: kalau sampai terbongkar, bisa jadi ada pembunuhan. Bisa jadi ada orang gila karena malu. Bisa jadi rumah tangga hancur, anak-anak yatim piatu secara hidup.
Dan Pak Darsa tahu, dalam hati kecilnya, bahwa ia bukan pahlawan. Ia hanya seorang insan berusia senja yang hidupnya ingin tenang yang masih takut kehilangan nama baiknya.
Ustadz Asep dan Nisya mulai berpisah. Ustadz Asep berjalan lebih dulu, menyusuri jalur kecil menuju jalan kampung, langkahnya cepat tapi berusaha terlihat biasa.
Nisya menyusul beberapa menit kemudian, dari arah yang berbeda, supaya tak terlihat keluar bersama. Mereka sudah mahir melakukan ini, pikir Pak Darsa dengan getir. Sudah bukan pertama kali.
Saat bayangan mereka menghilang di balik pepohonan, Pak Darsa baru berani berdiri tegak. Tubuhnya masih gemetar.
Ia menatap pohon waru tua itu—batangnya yang berlumut, tempat punggung Nisya tadi bersandar, tempat dosa itu terjadi. Pohon itu diam saja, seperti tak peduli. Alam tak pernah menghakimi.
Pak Darsa menoleh ke arah rumahnya yang jauh. Cangkulnya masih tergeletak di sana, seperti mengingatkan bahwa hidupnya seharusnya sederhana: bekerja, pulang, makan, tidur. Tapi malam ini, segalanya berubah.
Ia mulai berjalan pulang, langkahnya pelan dan berat. Setiap langkah terasa seperti membawa batu besar di dada. Pikirannya berputar liar:
Diam saja, pura-pura tak tahu.
Ceritakan ke teman sebaya, biar ada yang tahu.
Sampaikan ke suami Nisya yang sedang berdakwah di luar kota.
Atau… langsung ke Ustadz Asep, bicara empat mata, minta berhenti.
Tapi setiap pilihan terasa seperti jurang yang sama dalamnya.
Sampai di rumah, ia duduk di ambang pintu, menatap sawah yang gelap. Angin sore menuju malam semakin dingin, tapi keringat masih mengucur di dahinya. Ia menggenggam tangannya sendiri, jari-jarinya saling mencengkeram keras sampai terasa sakit.
“Ya Allah,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Tunjukkan jalan yang benar. Aku takut salah langkah… aku takut jadi bagian dari dosa ini kalau aku diam. Tapi aku juga takut kalau bicara, malah jadi fitnah.”
Malam itu, Pak Darsa tak tidur. Ia hanya duduk di situ, menunggu fajar, menunggu kekuatan untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan dengan rahasia yang kini menggerogoti jiwanya seperti rayap di kayu tua.
Dan di kejauhan, suara adzan Subuh mulai berkumandang, lembut tapi mengiris, seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan—dan dosa, mau disembunyikan sehati-hati apa pun, pada akhirnya akan menuntut bayaran.
^*^
Pak Darsa berdiri di saf paling belakang mushola kecil itu, tubuhnya ikut bergerak mengikuti takbiratul ihram, tapi hatinya terasa seperti batu yang mengganjal.
Di depan, Ustadz Asep berdiri tegak sebagai imam, suaranya yang merdu membaca surah Al-Fatihah dengan tartil yang biasa membuat jamaah khusyuk.
Tapi bagi Pak Darsa, setiap ayat yang keluar dari mulut Ustadz Asep terasa seperti jarum yang menusuk telinga dan dada sekaligus.
“Subhanaka Allahumma wabihamdika…”
Pak Darsa mencoba menutup mata, mencoba fokus pada gerakan rukuk dan sujud, tapi bayangan kemarin sore di balik pohon waru terus muncul: tangan Ustadz Asep yang meraba, gamis Nisya yang tersingkap, desahan yang tertahan angin. Setiap kali Ustadz Asep mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”, Pak Darsa merasa ingin menjawab
“Rabbana wa lakal hamd” dengan suara yang keras, seolah ingin mengingatkan bahwa Tuhan mendengar segalanya, termasuk yang disembunyikan di hutan kecil itu.
Shalat selesai. Salam pertama ke kanan, salam ke kiri. Para jamaah mulai berdoa pribadi, beberapa berjabat tangan. Ustadz Asep berjalan ke arah saf belakang, tersenyum ramah seperti biasa, menyalami tangan-tangan yang terulur.
Ketika giliran Pak Darsa, tangan Ustadz Asep menyentuh telapak tangannya—hangat, kering, seperti tak pernah melakukan apa-apa semalam.
“Semangat pagi, Pak Darsa. Sawahnya bagaimana?” tanya Ustadz Asep dengan nada santai.
Pak Darsa hanya mengangguk kaku. “Alhamdulillah, Ustadz,” jawabnya singkat, lalu buru-buru menarik tangan dan berjalan keluar mushola. Dadanya terasa sesak, seolah udara pagi yang segar tak cukup untuk mengisi paru-parunya.
Ia tak langsung pulang. Kakinya justru membawanya ke warung Pak Rosid, saudara sepupunya yang terletak di pinggir jalan kampung, tak jauh dari mushola.
Warung itu sudah ramai seperti biasa setiap pagi: ibu-ibu membeli minyak goreng, sabun colek, roti tawar, dan telur ayam. Anak-anak SD berhamburan membeli permen dan gorengan sebelum berangkat sekolah.
Pak Rosid, yang sedang menggoreng pisang di belakang meja, langsung melambai begitu melihat Pak Darsa masuk. “Masuk, Kang Darsa! Kopi apa teh?”
“Kopi, Sid. Pahit. Panas,” jawab Pak Darsa sambil duduk di bangku kayu panjang yang sudah licin karena bertahun-tahun dipakai.
Tak lama, secangkir kopi hitam mengepul sudah terhidang. Aroma kopi tubruk yang kuat sejenak mengalihkan pikiran Pak Darsa. Ia meniup uapnya pelan, lalu menyeruput sedikit. Panasnya menyengat lidah, tapi justru terasa enak—seperti hukuman kecil yang ia terima pagi ini.
Pak Rosid menyeka tangan ke celemek, lalu duduk di seberangnya. “Kok pagi-pagi udah muka kusut gitu, Kang? Sawah banjir lagi?” Ngocoks.com
Pak Darsa menggeleng pelan. Ia sebenarnya datang dengan niat: ingin menasihati sepupunya ini. Sudah beberapa minggu terakhir terdengar bisik-bisik di kampung—Pak Rosid katanya sering terlihat berduaan dengan Ustadzah Eva, istrinya Ustadz Kholil yang baru pindah ke kampung setengah tahun lalu. Ustadzah Eva yang cantik, yang suaranya lembut konon sering “minta tolong pada lelaki manapun.”
Pak Darsa sudah berniat bicara blak-blakan: “Sid, hati-hati. Orang kampung mulai ngomongin kamu sama Ustadzah Eva. Jangan sampai jadi bahan gunjingan. Kamu kan sudah beristri, anak lima. Kalau sampai ketahuan sama anak-anak Ustad Kholil, gimana?” Tapi kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan.
“Eh, Sid,” Pak Darsa akhirnya membuka mulut, tapi suaranya pelan. “Kamu… akhir-akhir ini baik-baik aja kan?”
Pak Rosid tertawa kecil, mengibaskan tangan. “Baik dong, Kang. Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Akang kok kayak orang mau ngasih wejangan.”
Pak Darsa menyeruput kopi lagi, mencari kekuatan. Tapi saat itu, seorang ibu masuk membeli dua bungkus mi instan dan sebotol kecap. Lalu menyusul bapak-bapak yang minta rokok kretek.
Lalu anak kecil minta tambah gula di tehnya. Warung kecil itu tiba-tiba ramai, suara orang saling sapa, tawar-menawar harga telur, dan bunyi koin logam di meja kasir.
Pak Rosid bangun, melayani pelanggan satu per satu dengan cekatan. “Bentar ya, Kang Darsa. Ini pagi-pagi emang gini. Nanti kalau agak sepi kita ngobrol.”
Pak Darsa mengangguk, tapi dalam hati ia tahu: mungkin ini bukan saat yang tepat. Atau mungkin ia sendiri yang tak cukup berani. Ia melihat Pak Rosid tertawa lepas saat mengobrol dengan pelanggan, wajahnya cerah, tak ada tanda-tanda rasa bersalah.
Dan tiba-tiba Pak Darsa bertanya pada diri sendiri: “Apa aku biarkan saja segalanya terjadi, toh dosa-nya juga ditanggung masing-masing? Atau… apa aku cuma pengecut yang lebih suka diam?”
Ia menatap kopinya yang mulai dingin. Uapnya sudah hilang. Seperti semangatnya pagi ini untuk bicara jujur.
Beberapa menit kemudian, ketika warung mulai agak lengang, Pak Rosid kembali duduk. “Nah, sekarang cerita. Ada apa sebenarnya, Kang?”
Pak Darsa menatap mata sepupunya itu lama. Banyak hal yang ingin dikatakan: tentang Ustadz Asep dan Nisya, tentang bisik-bisik yang mulai beredar tentang dirinya dan Ustadzah Eva, tentang betapa rapuhnya kepercayaan di kampung kecil ini.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya kalimat pendek: “Jaga nama baik keluarga, Sid. Itu aja.”
Pak Rosid mengernyit, tapi lalu tertawa lagi. “Lha, iya dong, Kang. Emangnya saya nakal? Akang kok kayak orang takut saya kabur bawa istri orang.”
Pak Darsa tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke mata. Ia menyeruput sisa kopi dinginnya, lalu berdiri. “Akang balik dulu, Sid. Katanya Devi mau menelpon pagi ini.”
“Eh, bayar dulu, Kang!” Pak Rosid bercanda sambil menunjuk cangkir kosong.
Pak Darsa mengeluarkan uang lima ribu, meletakkannya di meja, lalu berjalan keluar. Matahari pagi sudah mulai naik, menerangi sawah yang basah embun. Di kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan anak-anak berlari ke sekolah.
Tapi di dalam dada Pak Darsa, kegelapan masih menggelayut. Ia tahu, rahasia yang ia simpan dan rahasia yang mungkin disembunyikan sepupunya sendiri sedang menunggu waktu untuk meledak.
Dan ia tak yakin, apakah ia akan punya keberanian untuk menghentikannya, atau justru akan ikut terbakar bersama.
Bersambung…




