Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Kakek Tua

Kakek Tua

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Dengan satu dorongan kuat yang penuh determinasi, Pak Rosid menyatukan dirinya. Ujung penisnya memaksa masuk ke lubang anus Eva yang rapat, merobek ketegangan otot-otot di sana dengan rasa sakit yang menusuk tajamke jantung.

“Aaaaaah sakiiiiiit….” Eva menjerit tertahan, suaranya tercekat di tenggorokan, tubuhnya menegang kaku seperti kayu, jemarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa sakit itu tak terperi, seperti api membakar dari dalam, terasa seperti robekan panjang yang membelah tubuhnya dari belakang ke depan. Lebih sakit dari saat pertama kali diperawani oleh mantan pacarnya dulu saat di SMA.

Saat itu hanya rasa perih singkat, tapi ini… ini seperti pisau tumpul yang diputar pelan, setiap inci penetrasi membawa gelombang nyeri yang membuatnya sesak napas, keringat dingin membasahi seluruh kulitnya, dan air matanya mengalir deras tanpa henti.

“Ooooh bool istrinya Pak Ustadz ternyata nikmat sekaliiii aaaaah ssssst…” Pak Rosid mengerang puas saat merasakan ketatnya dinding anus Eva yang menjepit penisnya erat.

Sensasi panas dan gesekan yang begitu intens membuatnya hampir langsung kehilangan kendali. Ia berhenti sejenak, membiarkan Eva menyesuaikan, tangannya membelai punggung wanita itu pelan untuk menenangkan, tapi matanya masih liar penuh obsesi.

“Lihat, Eva… sudah masuk separuh. Santai… nanti juga enak,” desisnya, suaranya bergetar karena kenikmatan, sebelum mulai mendorong lebih dalam lagi, mengubah rasa sakit Eva perlahan menjadi campuran aneh yang asing dan memabukkan.

Tiba-tiba ada ketukan di pintu depan. Mereka pun tersentak dan keduanya segera memisahkan diri.

Pak Rosid bergegas masuk ke kamar mandi, sementara Eva merapikan pakaiannya dan menemui tamu di depan.

Eva membuka pintu dengan napas masih tersengal, wajahnya memerah karena campuran sakit dan kegelisahan yang belum reda. Anak kecil itu berdiri di ambang pintu, memegang keranjang anyaman berisi jambu batu merah segar, matanya polos tanpa curiga apa-apa.

“Bu Ustadzah, ini dari orang tua saya. Buat Pak Ustadz,” katanya ceria, menyodorkan keranjang itu.

Eva tersenyum paksa, tangannya gemetar saat menerima keranjang. “Terima kasih ya, Nak. Nanti Ibu kasih tahu Pak Ustadz. Kamu pulang aja sekarang, hati-hati di jalan,” balasnya cepat, suaranya sedikit parau, berusaha menutupi kegelisahan.

Anak itu mengangguk dan berlari pergi, meninggalkan Eva yang buru-buru menutup pintu, bersandar di dinding sejenak untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Rasa sakit di belakangnya masih menusuk, tapi untungnya tamu itu hanya anak kecil, jika suaminya yang datang, habis sudah.

Dari kamar mandi, Pak Rosid mengintip melalui celah pintu, napasnya lega tapi hasratnya masih membara. Ia menunggu hingga Eva kembali ke dapur, lalu keluar pelan.

“Siapa tadi, Bu? Hampir aja ketahuan,” bisiknya, tangannya menyentuh bahu Eva lagi, meski situasi kini terasa lebih tegang.

Eva menolak melanjutkan, wajahnya masih pucat karena rasa sakit yang menusuk di belakangnya, air mata sisa kegelisahan masih menggenang di sudut matanya.

“Tidak, Pak Rosid… cukup sudah. Saya nggak sanggup lagi. Sakit sekali, saya takut, saya belum pernah disodomi!” katanya tegas tapi lirih, tangannya mendorong dada Pak Rosid pelan, mundur selangkah dari pria itu.

Tubuh Eva gemetar, campuran antara trauma fisik dan rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak, membuatnya ingin segera mengakhiri pertemuan terlarang ini. Pak Rosid terlihat kecewa, matanya masih penuh hasrat sisa, tapi ia tak memaksa lagi, hanya mengangguk pelan sambil merapikan celananya.

Untungnya, tak lama kemudian suara motor Ustadz Asep terdengar dari kejauhan, deru mesin yang familiar semakin mendekat. Eva tersentak, wajahnya semakin memucat.

“Itu adik suami saya! Cepat, Pak, sembunyi dulu!” bisiknya panik, mendorong Pak Rosid menuju pintu belakang. ’Ah, kenapa Ustadz Asep yang datang, coba Pak Darsa, pasti beda rasanya,’ maki Eva, kesal dalam hati.

Pak Rosid buru-buru menyelinap keluar, hatinya berdegup kencang, menyusuri jalan setapak yang sama dengan tergesa-gesa, meninggalkan Eva yang merapikan daster dan meja dapur secepat mungkin. Ia berlari ke ruang tengah, berpura-pura duduk santai saat pintu depan terbuka dan Ustadz Asep masuk, lelah setelah seharian mengajar dan perlu mendadak pada Eva, salah satunya meminta jatah, karena dia tahu kakaknya sedang tidak ada.

Pak Rosid berlari tergesa-gesa menyusuri jalan setapak di kebun singkong Bah Mardi, napasnya tersengal karena campuran adrenalin, frustrasi, dan rasa sakit hati yang membara. Rencana sempurna yang ia susun pagi tadi—bertemu Eva di rumah sepi, melanjutkan obsesi terlarangnya—kini pupus begitu saja.

Rasa sakit yang ia timbulkan pada Eva, penolakannya yang tegas, dan suara motor Ustadz Asep yang datang tepat waktu seperti kutukan, membuat darahnya mendidih. “Sialan! Kenapa harus gagal lagi?!” gumamnya pelan, tangannya mengepal erat, wajahnya memerah karena amarah yang tak terkendali.

Saat melewati batas kebun singkong yang berbatasan dengan pekarangan Bah Mardi, Pak Rosid tak tahan lagi. Matanya tertuju pada segerombolan pohon pisang milik Bah Mardi yang tumbuh rindang di pinggir, daun-daunnya bergoyang pelan ditiup angin siang.

Dengan nafsu yang membabi buta, ia mendekat dan mulai menendangi pohon pisang itu keras-keras. Kakinya yang bersandal jepit menghantam batang pohon berulang kali, membuat daun pisang bergoyang hebat dan beberapa tandan buah muda berguguran ke tanah.

“Dasar sialan! Kenapa harus kacau begini?!” teriaknya pelan tapi penuh frustrasi, setiap tendangan disertai umpatan yang tertahan, napasnya semakin berat. Ngocoks.com

Pohon pisang itu seolah menjadi sasaran kemarahannya, simbol dari rencana yang gagal, hasrat yang tertunda, dan rahasia yang nyaris terbongkar. Bunyi tendangan dan daun yang berderak membuat Pak Rosid merasa sedikit lega, tapi juga semakin kesal. Ia tak sadar bahwa suara itu bisa menarik perhatian tetangga, termasuk Bah Mardi yang mungkin sedang di rumah. Setelah beberapa tendangan lagi, ia berhenti, menyeka keringat di dahinya.

Bah Mardi, yang sedang duduk santai di teras rumahnya sambil mengisap rokok kretek, tiba-tiba mendengar suara aneh dari kebun singkongnya. Bunyi derak daun pisang yang bergoyang hebat, diselingi tendangan keras dan umpatan pelan yang samar-samar terdengar, membuatnya menyipitkan mata curiga.

“Apa itu? Ada yang lagi bikin rusuh di kebun?” gumamnya kesal, meletakkan rokoknya di asbak darurat dan bangkit dari bangku bambu.

Ia melangkah ke pekarangan belakang, tangannya menggenggam tongkat kayu pendek yang biasa ia gunakan untuk mengusir ayam liar, siap menghadapi siapa pun yang berani mengganggu tanamannya.

Saat tiba di pinggir kebun singkong, Bah Mardi melihat sosok Pak Rosid yang sedang menendangi pohon pisang terakhir kali sebelum berhenti, wajahnya merah padam dan napasnya tersengal.

Beberapa daun pisang sudah tercabik, dan tandan buah muda berguguran ke tanah berlumpur.

“Eh, Pak Rosid! Apa-apaan ini? Kenapa Bapak nendang pohon pisang saya?” seru Bah Mardi lantang, suaranya penuh amarah tapi juga terkejut, tongkatnya diayunkan pelan sebagai peringatan. Ia mendekat dengan langkah tegas, matanya menyipit menatap tetangganya yang terlihat frustrasi berat.

Pak Rosid tersentak, wajahnya memucat seketika saat melihat Bah Mardi. Ia buru-buru merapikan bajunya, mencoba tersenyum kaku untuk menutupi kemarahannya.

“Eh, Bah Mardi… maaf, Bah. Saya… saya lagi kesal aja, urusan sawah tadi. Nggak sengaja lewat sini, eh pohonnya kayaknya menghalangi jalan. Maaf ya, nanti saya ganti buahnya,” jawabnya tergagap, suaranya dipaksakan ramah, tapi matanya menghindar, masih dipenuhi sisa frustrasi dari kegagalan dengan Eva.

Bah Mardi menggelengkan kepala, tak sepenuhnya percaya, tapi memilih tak mengejar lebih jauh, ia punya masalah sendiri dengan Eva dan wanita lainnya.

Setelah Pak Rosid pergi dengan langkah tergesa, meninggalkan Bah Mardi yang masih berdiri dengan tongkat di tangan, Bah Mardi memeriksa pohon pisangnya yang ternyata banyak yang rusak. Beberapa batang pohon pisang sudah miring, daun-daun tercabik, dan tandan buah muda berguguran ke tanah berlumpur, tak bisa lagi dipanen. Pohon singkongnya juga ikut kena imbas—beberapa tanaman tercabut akarnya, umbinya terpapar dan rusak karena tendangan sembarangan.

“Sialan, ini kerugian besar! Buah pisang ini bisa dijual, singkongnya juga sudah siap panen,” gumam Bah Mardi kesal, tangannya memetik daun rusak sambil menghitung kerugian di benaknya. Amarahnya yang tadinya tertahan kini meledak, terutama karena hari ini ia sudah gelisah dengan banyak urusan.

Tanpa pikir panjang, Pak Mardi langsung menyusul Pak Rosid yang masih terlihat di ujung jalan setapak. Langkahnya cepat, tongkatnya diayunkan seperti senjata.

“Pak Rosid! Tunggu! Ini bukan selesai begitu aja!” teriaknya lantang, suaranya menggema di kebun yang sepi.

Pak Rosid berhenti, wajahnya semakin pucat saat melihat Bah Mardi mendekat dengan tatapan marah.

“Bah… maaf tadi, saya emang lagi kesal. Nggak sengaja, Bah. Nanti saya ganti,” kata Pak Rosid tergagap, mencoba meredakan, tapi Bah Mardi tak mau dengar.

“Maaf doang nggak cukup, Rosid Lihat pohon pisang saya, rusak parah! Singkongnya juga ikut hancur. Ini kerugian ratusan ribu! Kalau Bapak nggak tanggung jawab, saya bawa ke jalur hukum. Lapor ke lurah, atau polisi desa kalau perlu. Bapak tahu saya nggak main-main!” tuntut Bah Mardi tegas, matanya menyala, berdiri menghadang Pak Rosid di tengah jalan.

Suaranya menarik perhatian beberapa tetangga yang kebetulan lewat, membuat situasi semakin tegang.

Pak Rosid menelan ludah, tahu reputasinya sebagai pemilik warung besar bisa tercoreng jika ini jadi gosip kampung. Ia menghela napas panjang, mengeluarkan dompet dari saku.

“Baiklah, Bah. Saya ganti rugi. Lima ratus ribu, cukup kan? Ambil aja sekarang, jangan sampai ribut besar.”

Bah Mardi memandang dompet itu sejenak, lalu mengangguk pelan, meski amarahnya belum sepenuhnya reda. Ia menerima uang itu, tapi tatapannya masih curiga. “Lima ratus ribu ya sudah. Tapi lain kali hati-hati, Pak. Jangan sampe keulang.”

Mereka berpisah dengan dingin, Bah Mardi kembali ke kebunnya untuk membersihkan kerusakan, sementara Pak Rosid melanjutkan pulang dengan hati yang semakin berat—frustrasi dari Eva kini ditambah masalah dengan tetangga.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Bersambung Cantik Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleTabir Cinta 2 Dunia
Next Article Anak Tiri
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Dinda Alaina Putri

    9.5

    Dark Soul

    9.5

    Office Cutie

    9.3

    Arabian Madness

    9.3

    Pussycat’s Blackman Island

    9.5

    Birahi di Pesantren

    Follow Facebook

    Recent Post

    Sang Pewaris

    Dinda Alaina Putri

    Dark Soul

    Office Cutie

    Arabian Madness

    Pussycat’s Blackman Island

    Birahi di Pesantren

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.