Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Kakek Tua

Kakek Tua

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Pak Darsa baru saja akan masuk ke rumah, terdengar suara langkah pelan dari arah pagar bambu. Ketika ia menoleh, tampak seorang perempuan muda berdandan syar’i ala ustdzah berdiri ragu di bawah cahaya lampu teras.

“Assalamualaikum, Pak,” sapa suara lembut itu.

Pak Darsa sedikit terkejut. “Waalaikumsalam… Eh, Neng Fitri? Tumben sore-sore ke sini.”

Fitri melangkah maju dengan senyum sopan. Ia membawa tas kain kecil di tangan, wajahnya tampak letih tapi tetap terawat.

“Maaf ganggu, Pak. Saya cuma… pengin ngomong sebentar,” katanya pelan.

Pak Darsa menepuk kursi di sebelahnya. “Duduk aja, Neng. Ada apa?”

Fitri duduk, tapi tampak gelisah. Tangannya meremas ujung dasternya sendiri, matanya tak berani menatap langsung ke arah Pak Darsa.

“Gini, Pak…” suaranya mulai bergetar pelan. “Saya nggak enak ngomong sama siapa-siapa. Tapi saya bingung juga kalau cuma dipendam sendiri.”

Pak Darsa mengangguk pelan. “Ngomong aja, Neng. Insyaallah, kalau bisa dibantu, saya bantu.”

Fitri menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke depan. “Saya… sebenarnya agak jengah sama Bapak, eh maksud saya, sama Bah Mardi, bapak mertua saya. Akhir-akhir ini, beliau sering… ya, kayak… suka menggoda saya gitu, Pak.”

Pak Darsa terdiam sejenak, pandangannya membeku. “Maksudnya gimana, Neng?” tanyanya hati-hati.

Fitri menunduk.

“Kalau suami saya gak ada, beliau suka nyeletuk aneh-aneh. Suka bilang saya cantik lah, cocok jadi istri muda lah… awalnya saya kira cuma bercanda, tapi makin lama makin nggak enak rasanya. Kadang kalau saya lagi nyapu di halaman, beliau suka berdiri di dekat saya, matanya itu lho, Pak… bikin nggak nyaman.”

Ia berhenti sebentar, mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. “Saya takut ngomong ke orang lain, nanti malah dikira saya fitnah. Tapi saya nggak sanggup terus begini. Saya datang ke sini karena saya tahu cuma Bapak yang bisa ngomong sama beliau. Kalau Bapak yang negur, mungkin didengarnya.”

Pak Darsa meletakkan rokoknya di asbak kaleng di meja bambu. Wajahnya berubah serius. Ia terdiam lama, berusaha mencerna kata-kata Fitri satu per satu.

Dalam hati, sesuatu seperti rasa bersalah muncul, ia teringat betul beberapa waktu lalu, betapa enteng ia melempar candaan soal Fitri kepada Bah Mardi. Ia bahkan sempat tertawa mendengarnya. Kini, candaan itu terasa seperti duri yang menusuk balik ke dadanya.

“Ya Allah…” gumamnya lirih.

“Pak?” Fitri menatap Pak Darsa cemas.

Pak Darsa menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Neng. Bapak paham maksudmu. Terima kasih udah mau jujur bercerita. Memang nggak gampang ngomong soal beginian., apalgi sama mertua sendiri,” Ia menatap Fitri lembut.

“Bapak kenal betul sama Bah Mardi. Mungkin dia cuma kebablasan, nggak sadar kalau ucapannya bikin kamu risih. Tapi tetap aja, nggak benar begitu. Besok-besok biar Bapak coba ngomong baik-baik sama dia.”

Fitri mengangguk pelan, perasaannya sedikit lega. “Terima kasih, Pak. Saya cuma nggak mau rumah tangga saya sama Mas Herman rusak gara-gara salah paham. Saya juga nggak mau bikin malu keluarga. Bagaimana kalau sampai ketahuan sama Mak Siti, ibu mertua saya.”

Pak Darsa tersenyum tipis. “Kamu bijak, Neng. Kalau semua perempuan di kampung ini sebijak kamu, mungkin kampung Cikupa nggak bakal seramai gosipnya sekarang.”

Fitri ikut tersenyum, tapi wajahnya tetap menyimpan gurat resah. “Saya takut, Pak. Kadang kalau saya sendirian di rumah, beliau suka datang tiba-tiba, pura-pura nyari sesuatu, nanyain anak dan nanya yang aneh-aneh. Saya udah beberapa kali mengelak, tapi kok rasanya makin sering.”

Pak Darsa menatap Fitri cukup lama, dengan campuran iba dan marah yang ditahan. “Neng,” katanya lembut tapi tegas, “kalau sampai dia berbuat lebih dari sekadar ngomong, kamu jangan diam. Langsung datang ke Bapak, ya. Jangan takut.”

Fitri mengangguk cepat. “Iya, Pak. Terima kasih banget.”

Mereka terdiam beberapa saat. Angin malam bertiup membawa aroma padi yang baru dipanen. Suara tonggeret di kejauhan terdengar samar.

Pak Darsa akhirnya berdiri, menatap langit yang mulai gelap. “Udah terlalu sore. Kamu pulang ya, Neng. Nanti dikira orang yang bukan-bukan kalau lama-lama di sini.”

Fitri ikut berdiri, mengangguk sopan. “Iya, Pak. Sekali lagi maaf mengganggu. Saya nggak tahu harus cerita ke siapa lagi.”

“Nggak apa-apa. Justru bagus kamu ngomong. Kadang diam malah bikin salah paham makin besar.”

Fitri tersenyum samar. “Iya, Pak. Makasih banyak.”

Fitri berjalan pergi perlahan, melewati jalan setapak menuju rumahnya. Pak Darsa berdiri di depan rumah, menatap punggung Fitri sampai hilang di balik bayangan pohon pisang.

Pak Darsa membersihkan diri. Seperti biasa, tanpa beban, ia membuka pakaiannya dan membasuh tubuhnya dalam keadaan berdiri. Air pancuran yang dingin di belakang rumahnya mengalir membasahi kulitnya yang keriput.

Sesekali, tangannya mengelus benda pusakanya yang sudah lama tak difungsikan masimal. Tak tersentuh oleh kehangatan wanita sejak istrinya meninggal dunia bertahun-tahun lalu. Ngocoks.com

Pikirannya kembali melayang pada masa mudanya, saat tubuhnya masih kuat dan penuh semangat. Ia membayangkan dirinya yang dulu, berjalan di sawah hijau Cikupa dengan langkah tegap, dikelilingi angin segar yang membawa aroma bunga liar.

Dalam imajinasinya, ada sosok perempuan misterius dari masa lalu, bukan siapa-siapa yang spesifik, hanya bayangan samar yang lembut, dengan senyum hangat dan sentuhan ringan yang membuat darahnya bergolak. Ditambah bayangan Nisya yang sedang digenjot oleh Ustadz Asep.

“Sepertinya sedang ada fenomena baru. Di kampung ini justru yang tua-tua yang lagi naik daun. Hah, semoga aku tidak terlibat. Jadi beneran istilah Makin Tua Makin Nikmat, rupanya di kampung ini benar-benar nyata.”

Sebagai lelaki normal, walau sudah tua, ia pun sama memiliki keinginan untuk merasakan kembali kehangatan itu, desiran hasrat yang kini muncul seperti kenangan pudar yang tiba-tiba hidup kembali. Namun demikian Pak Darsa menccoba menahan diri, dia sadar kalau sekali saja lansung keujian, mungkin dengan mudah dia mengalahakn para bandot-bandot mesum itu.

Pak Darsa terus merenung dan tanpa sadar, tangannya mengelus-elus penisnya, dan benda itu pun kembali berdiri tegak.

Ini adalah satu-satunya cara yang biasa dia lakukan ketika hasratnya tak tertahankan, sebuah ritual pribadi di mana ia membiarkan khayalan masa mudanya mengalir bebas, tanpa nama, tanpa wajah nyata, hanya kenangan manis yang membuatnya tersenyum sendirian di bawah guyuran air.

Matahari mulai condong ke barat, menuruni bukit kecil di ujung kampung Cikupa. Cahaya jingganya menimpa atap-atap seng yang masih hangat, memantulkan kilau samar seperti bara yang mulai padam.

Dari dapur rumah-rumah, asap tipis mulai mengepul; ibu-ibu menyalakan tungku, menyiapkan makan malam. Aroma kayu bakar dan sambal terasi menembus angin sore yang mulai sejuk.

Anak-anak yang sedari tadi bermain layangan di lapangan dipanggil pulang satu per satu. Burung-burung kembali ke dahan mangga di depan surau, dan dari kejauhan terdengar azan magrib menggema, lembut tapi tegas, menandai peralihan waktu yang khidmat.

Tak lama, lampu-lampu mulai menyala di teras rumah. Sebagian cahaya kuning dari bohlam tua, sebagian lagi berasal dari lampu minyak. Jalan tanah perlahan tenggelam dalam remang, hanya diterangi cahaya-cahaya kecil dari jendela yang berbaris rapat.

Malam akhirnya turun sepenuhnya, menyelimuti kampung Cikupa dalam ketenangan. Suara jangkrik mengambil alih, menandai bahwa kehidupan di kampung sedang beristirahat, sederhana, tapi terasa hangat dan utuh.

Fitri menatap Bah Mardi dengan tatapan campuran tegang dan lega. “Bapak yakin Pak Darsa akan percaya sama semua omongan saya?” bisiknya, nyaris tak terdengar.

Bah Mardi menyandarkan punggung ke kursi, tertawa kecil dengan suara serak. “Pasti percaya. Pak Darsa itu orangnya polos kalau urusan beginian. Selama ngomongmu terdengar meyakinkan, dia nggak bakal curiga, Neng.”

Fitri menunduk, memutar-mutar ujung kerudungnya. “Tapi tadi waktu saya bilang Bapak suka ganggu, saya takut nadanya terlalu berlebihan.”

“Justru bagus,” jawab Bah Mardi santai. “Makin lebay, makin dia yakin. Lagian, siapa yang bakal menyangka kalau kita bisa sepintar ini. Istri Bapak, alias ibu mertuamu aja gak pernah curiga, hehehe.”

Fitri memaksakan senyum, tapi matanya gelisah. “Saya cuma takut, Pak. Kalau sampai ketahuan, bukan cuma Bapak yang malu… tapi status saya sebagai menantu Bapak juga mungkin akan tamat.”

Bah Mardi mencondongkan badan sedikit, suaranya menurun lebih pelan. “Tenang aja, Neng. Kita cuma perlu hati-hati. Selama Pak Darsa percaya kamu korban gangguen lelaki, nggak akan ada yang berani ngomong macem-macem.”

Bah Mardi terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada sinis, “Lucu juga ya, Pak Darsa itu. Tadi siang dia malah sempat nyuruh Bapak godain kamu. Sekarang dia justru kasihan sama kamu. Dunia emang aneh.”

Fitri tersenyum kecut. “Jadi semua ini memang sudah diatur dari awal ya, Pak?”

“Bukan rencana besar, cuma taktik kecil,” sahut Bah Mardi pelan. “Kadang, untuk nutup satu kesalahan, kita harus bikin cerita yang lebih besar. Dan Pak Darsa baru aja jadi saksi yang paling kita butuhin.”

Fitri menatapnya lama. “Tapi sampai kapan, Pak?”

Bah Mardi menghela napas panjang, memandang ke arah jendela yang berembun.

“Sampai waktunya pas., sampai kita sama-sama ingin menghentikannya Sekarang yang penting, diam dan nikmati permainan ini. Di depan orang, terutama di depan Pak Darsa, kita tetap seperti biasa, layaknya mertua dan menantu. Jangan sampai ada yang curiga.”

Fitri menelan ludah, lalu mengangguk pelan.

Hening kembali memenuhi ruangan. Suara detak jam dinding terdengar jelas. Lalu Bah Mardi berdiri, melangkah menuju jendela dan menyingkap tirai sedikit. Dari luar, samar-samar terlihat bayangan rumah Pak Darsa di kejauhan, temaram dan sepi.

“Pak Darsa selamanya harus percaya kalau kita orang baik,” gumamnya lirih, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.

Kehening malam kampung Cikupa hanya dipecah oleh suara detak jam dinding dan hembusan angin pelan dari celah jendela.

Fitri berdiri di dekat meja kayu, tangannya masih memegang ujung kerudung yang ia pakai tadi saat ke rumah Pak Darsa. Wajahnya campur aduk, lega karena rencana mereka berhasil, tapi juga gelisah akan masa depan rumah tangganya dengan Herman.

“Bapak gak bisa nginap malam ini, tapi masih bisa dua ronde buat muasin kamu,” bisik Bah Mardi sambil memeluk menantunya dengan lembut.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Bersambung Cantik Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleTabir Cinta 2 Dunia
Next Article Anak Tiri
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Dinda Alaina Putri

    9.5

    Dark Soul

    9.5

    Office Cutie

    9.3

    Arabian Madness

    9.3

    Pussycat’s Blackman Island

    9.5

    Birahi di Pesantren

    Follow Facebook

    Recent Post

    Sang Pewaris

    Dinda Alaina Putri

    Dark Soul

    Office Cutie

    Arabian Madness

    Pussycat’s Blackman Island

    Birahi di Pesantren

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.