Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Kakek Tua

Kakek Tua

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Malam semakin larut. Pak Darsa masih tidak bisa tidur. Pikirannya terasa berat dan dadanya sesak seperti ditindih batu. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Nisaya, dan Fitri yang datang sore tadi terus muncul di benaknya.

Ia menduga jangan-jangan Nisya juga korban yang tak berdaya seperti Fitri. Nisya mungkin tak bisa lagi diselamatkan dari godaan Ustadz Asep, tetapi Fitri dia pikir masih bisa diselamatkan.

Wajah Fitri yang cantik namun gelisah, mata yang tampak jujur dan penuh keraguen, bibir yang sedikit gemetar saat berbicara. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa janggal, seperti ada bisikan samar di telinganya yang tak bisa ia abaikan.

Apakah itu intuisi seorang tetangga yang sudah lama mengenal kampung ini, atau hanya kegelisahan malam yang sebenarnya sudah sangat biasa ia alami.

Pak Darsa duduk di tepi ranjang kayu yang sudah usang, menatap jam dinding yang berdetak pelan seperti detak jantungnya sendiri. Jarumnya menunjukkan hampir setengah sepuluh malam. Angin bertiup dari jendela yang setengah terbuka, membawa suara anjing menggonggong di kejauhan, disertai hembusan dingin yang menyusup ke kulitnya.

Tanpa berpikir panjang, ia bangkit. Diselimutinya tubuhnya dengan jaket lusuh yang tergantung di kursi, lalu melangkah keluar rumah dengan langkah gontai. Pintu depan berderit pelan saat ia tutup, seolah memprotes gangguen malam itu.

Langit di atas kampung Cikupa kelabu pekat, tak berbElsag, hanya kabut tipis yang menyelimutinya. Lampu-lampu rumah sudah banyak yang padam, meninggalkan desa dalam kesunyian yang mencekam. Jalan tanah yang mengarah ke pematang sunyi, hanya suara sandal jepitnya sendiri yang terdengar, bergema pelan di antara pepohonan yang bergoyang ditiup angin.

Pak Darsa berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang berliku, pikirannya melayang-layang. Kenapa ia ke sanai?

Mungkin hanya untuk memastikan Fitri baik-baik saja, atau mungkin ada firasat buruk yang mendorongnya.

Tak lama ia berhenti di depan rumah Fitri, rumah sederhana dengan dinding bambu dan atap genteng yang sudah lapuk. Gelap gulita, tapi ada cahaya samar dari kamar Fitri yang mengusiknya, seperti lilin yang hampir padam. Gorden kamar itu tak sepenuhnya tertutup, meninggalkan celah tipis yang seolah memanggilnya.

Kening Pak Darsa berkerut, alisnya saling bertaut. Ia mendekat, langkahnya hati-hati, menghindari ranting kering yang bisa berderit. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tertahan saat ia bersembunyi di balik semak belukar rendah di samping rumah.

Dari celah gorden yang terbuka, Pak Darsa mencondongkan tubuh, mata tuanya yang tajam mengintip ke dalam. Samar-samar, di bawah cahaya kuning dari lampu di dalam, pemandangan di depannya membuat napasnya tertahan seketika.

Di atas ranjang yang berderit pelan di bawah berat tubuh mereka, Fitri dan Bah Mardi tenggelam dalam pusaran nafsu yang tak terkendali. Cahaya lampu yang redup menerangi kulit mereka yang basah oleh peluh, berkilau seperti embun pagi di sawah.

Fitri, dengan rambut hitam panjangnya yang menjuntai liar menutupi punggung telanjangnya, mendominasi posisi di atas. Tubuhnya yang ramping tapi berisi melengkung sempurna, pantatnya bergoyang dengan ritme ganas, merendah menekan wajah Bah Mardi ke dalam kehangatan vaginanya.

Setiap gerakan Fitri penuh kekuatan primal, ia menggoyangkan pinggulnya maju-mundur, kadang melingkar lambat untuk membangun tekanan, kadang menekan keras hingga Bah Mardi mengerang tertahan di antara desahannya sendiri.

Bah Mardi terbaring telanjang di bawah, tubuhnya yang tua dan kurus, menegang seperti busur siap meluncur. Tangannya yang kasar, penuh urat dari tahun-tahun bekerja di sawah, mencengkeram erat paha Fitri, jari-jarinya menekan kulit halus menantunya hingga meninggalkan bekas merah samar.

Wajahnya terkubur di antara kaki Fitri, lidahnya bekerja tanpa ampun, menjilat vagina menantunya dengan panjang dan dalam, menghisap klitoris Fitri dengan tekanan yang membuat istri Herman menggeliat liar.

Bah Mardi sesekali menggigit lembut, menarik napas dalam untuk menangkap aroma manis-musky yang memabukkan, sementara tangan satunya meraih ke atas, meremas payudara Fitri yang bergoyang bebas, jempolnya memilin puting yang mengeras hingga Fitri menjerit pelan, “Ahh… Paaaak… jangan berhenti!”

Fitri membalas dengan rakus, kepalanya tertunduk ke selangkangan Bah Mardi. Bibirnya membungkus batang ereksi Bapak mertuanya yang tegang. Menelan sepanjang mungkin hingga tenggorokannya terasa penuh.

Ia mengisap dengan kuat, lidahnya berputar di sekitar kepala penis mertuanya yang sensitif, kadang menarik mundur untuk menjilat urat-urat yang menonjol, membuat Bah Mardi menggelinjang dan mengerang kasar.

“Neeeng Fitri… kamu gila… lebih dalam lagi!” Gerakannya sinkron dengan pinggulnya sendiri.

Setiap kali pantat Fitri menekan ke bawah untuk merasakan lidah Bah Mardi di vaginanya, ia juga menyelam lebih dalam mengulum penis dalam mulutnya, menciptakan lingkaran kenikmatan yang saling menguetkan.

Peluh menetes dari dahi Fitri, jatuh ke perut Bah Mardi, sementara kamar dipenuhi suara basah dari hisapan dan jilat mereka, bercampur desahan nafsu yang semakin memburu. Ritme mereka semakin liar, tak lagi terkendali.

Fitri mempercepat goyangan pantatnya, menekan wajah Bah Mardi lebih dalam hingga hidungnya menyentuh kulit sensitifnya, tubuhnya bergetar hebat saat gelombang pertama kenikmatan mendekat. “Paaaak aku mau muncraaaat…..” desahnya.

Bah Mardi merespons dengan agresif, lidahnya bergerak lebih cepat, jarinya kini ikut menyusup ke dalam vagina Fitri, membelai dinding dalamnya sambil menghisap tanpa henti. Ngocoks.com

Fitri melepaskan batang Bah Mardi sejenak, erangannya memecah kesunyian, “Paaaaak aku… mau… muncraaat aaaah nikmaaaat!” Tubuhnya menegang, pinggulnya kejang-kejang, cairan hangat membasahi wajah Bah Mardi saat orgasme pertama menerpanya seperti badai, membuatnya ambruk ke depan, napas tersengal.

Tapi Bah Mardi tak mau berhenti; ia membalikkan keadaan dengan dorongan kuat, menarik Fitri agar tetap di posisi sambil melanjutkan serangannya. Fitri, masih bergetar dari puncaknya, kembali menelan batang Bah Mardi dengan lebih rakus, tangannya memijat bola-bolanya yang tegang.

Bah Mardi mengerang lebih keras, pinggulnya terangkat dari ranjang, dorongannya ke mulut Fitri semakin brutal.

“Neng Fitri… Bapak hampir muncraaat juga…” Napasnya memburu, otot-ototnya menegang, dan dalam hitungan detik, ia meledak. Cairan panas menyembur ke tenggorokan Fitri, yang menelannya dengan lahap sambil terus mengisap hingga tetes terakhir.

Tubuh Bah Mardi bergetar hebat, erangan panjangnya bergema pelan, sebelum ia terkulai lemas, menarik tubuh Fitri ke pelukannya yang basah keringat.

Keduanya terbaring terengah-engah, tubuh saling menempel lengket, ranjang basah oleh jejak gairah mereka. Fitri tersenyum samar, mencium dada mertuanya yang naik-turun, sementara tangan Bah Mardi masih membelai-belai vagina menantunya yang basah. Mereka terhanyut dalam kepuasan yang masih berdenyut, namun tahu itu masih setengah perjalanan.

Dalam hitungan detik berikutnya, hasrat kembali membara di mata Bah Mardi. Meskipun baru saja mencapai puncak, penisnya yang perkasa ternyata masih berdiri tegak. Tanpa basa-basi, Bah Mardi yang badannya kurus, langsung membalikkan posisi. Ia menindih tubuh Fitri yang masih lemas di bawahnya, menarik kedua kaki jenjang Fitri untuk merangkul pinggangnya.

“Kita lanjut, Neng?” bisik Bah Mardi, suaranya serak namun penuh perintah.

Fitri hanya bisa mengangguk, matanya sayu namun penuh kerinduan, pinggulnya sudah mulai terangkat, menyambut dorongan penis mertuanya yang langsung menusuk dalam vaginanya. “Aaaah… Pak… iyaaa… nikmaat bangeeet,” erangnya, suara kenikmatan yang bercampur kelelahan.

Bah Mardi mulai menggenjot dengan penuh gairah, setiap dorongan diiringi decitan ranjang yang menyayat kesunyian malam. Tubuh mereka saling beradu, bunyi kulit yang bertemu basah menciptakan melodi liar yang memenuhi kamar.

Fitri mendesah keras, kedua tangannya melingkar erat di leher Bah Mardi, menariknya mendekat, menciumi bibir, leher, hingga bahu mertuanya dengan rakus. Pinggulnya mengikuti irama Bah Mardi, mengangkat dan menurunkan tubuhnya untuk menerima setiap hantaman dengan maksimal.

Keringat kembali mengucur deras, membasahi tubuh keduanya. Bah Mardi terus menggenjot, tempo gerakannya semakin cepat dan dalam, wajahnya memerah, otot-otot di lengannya menonjol saat ia menahan berat badannya. Fitri menjerit tertahan, “Lebih cepat, Pak! Lebih daalaaam lagiiii!”

Sementara di luar kamar, Pak Darsa mulai tak tahan dengan gejolaknya sendiri, dia mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras sejak awal mengintip. Batangnya yang lebih panjang dan besar dibanding milik Bah Mardi, berdiri tegak di udara malam yang makin dingin, namun tubuhnya justru terasa makin panas.

Ia merasakan denyut hangat di telapak tangannya saat mengocok penisnya. Matanya tak lepas dari celah gorden, masih terpaku pada Bah Mardi dan Fitri yang kini semakin liar dan menggila.

Desahan dan erangan mereka semakin nyata dan vulgar, untuk memacu puncak kenikmatan keduanya. Tangan Pak Darsa pun makin menggila dan kencang, mengocok batangnya yang sudah terbakar birahi membara.

Pak Darsa terus mempercepat gerakannya, bahkan meremas kepala penisnya yang sensitif hingga setitik cairan bening muncul di ujungnya. Suara desahan yang makin jelas dari kamar seperti bensin yang menyulut api lebih besar; ia membayangkan dirinya di posisi Bah Mardi, merasakan kehangatan tubuh Fitri yang basah dan rakus.

Sejurus kemudian tubuh Pak Darsa menegang, lututnya sedikit gemetar, tapi ia tak bisa berhenti, nafsu yang terbakar itu menguesai sepenuhnya, membuatnya terhanyut dalam fantasi gelap di samping rumah Fitri.

Akhirnya, dengan erangan tertahan yang nyaris tak terdengar, Pak Darsa mencapai puncaknya. Cairan panas dari batang kejantanannya menyembur ke dinding dan tanah di depannya, tubuhnya bergetar hebat sebelum ambruk pelan ke belakang, bersandar pada batang pohon kecil.

Napasnya tersengal, rasa bersalah mulai merayap di benaknya, tapi untuk sesaat, kepuasan masih menyelimuti seperti selimut hangat di malam dingin Cikupa.

Pak Darsa merasakan darahnya berdesir dingin, dadanya sesak karena kenyataan pahit yang terpampang di depan matanya. Ucapan Fitri sore tadi tentang mertuanya yang suka menggodanya dan dia sendiri takut diganggu, kini terasa seperti bumerang yang membalikkan kebenaran.

Mengoyak keyakinannya saat tadi kalau Fitri menantu yang jadi korban, dan Bah Mardi mertua yang kebablasan. Kini terbukti keduanya ada di sana, telanjang, dalam posisi intim yang tak terbantahkan. Sama sekali tak ada tanda-tanda pemaksaan, semua terjadi atas dasar suka sama suka.

Pak Darsa balik badan, langkahnya terhuyung, seolah baru saja menanggung beban beribu ton. Ia berjalan menjauh dari rumah itu, dari rahasia kotor yang baru saja ia saksikan, kembali ke kegelapan jalan setapak yang sunyi, meninggalkan pemandangan yang akan menghantuinya untuk waktu yang sangat lama.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Bersambung Cantik Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleTabir Cinta 2 Dunia
Next Article Anak Tiri
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Dinda Alaina Putri

    9.5

    Dark Soul

    9.5

    Office Cutie

    9.3

    Arabian Madness

    9.3

    Pussycat’s Blackman Island

    9.5

    Birahi di Pesantren

    Follow Facebook

    Recent Post

    Sang Pewaris

    Dinda Alaina Putri

    Dark Soul

    Office Cutie

    Arabian Madness

    Pussycat’s Blackman Island

    Birahi di Pesantren

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.