Fitri berdiri di halaman belakang rumah, keranjang pakaian basah di tangannya terasa lebih berat dari biasanya. Pagi itu, angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam, tapi pikirannya masih bergulat dengan perubahan aneh yang menyelinap ke dalam dirinya.
Saat ia menggantung kain salah satu daster, matanya tanpa sengaja melirik ke arah jalan setapak yang membelah sawah. Di sana, Pak Darsa berjalan santai, mengenakan kain sarung batik sederhana yang melilit pinggangnya dan koko putih yang longgar, sosoknya yang kharismatik seolah menyatu dengan pemandangan desa Cikupa yang tenang.
Dari kejauhan, pandangannya tertuju pada bagian sarung yang menutupi selangkangan lelaki itu, garis samar yang bergoyang pelan mengikuti langkahnya.
Jantung Fitri tiba-tiba berdebar kencang, napasnya tersengal seolah ada tangan tak terlihat yang meremas dadanya. Bukan sekali dua kali Fitri mendengar tentang betapa besar dan panjangnya penis Pak Darsa, namun ia juga tahu, tak ada seorang pun yang bisa merasakannya, kecuali almarhum istrinya.
Ingatannya seketika terpaut pada beberapa waktu lalu, saat ia tak sengaja menyaksikan Pak Darsa mandi di pancuran belakang rumahnya sambil berdiri.
Meski jaraknya cukup jauh serta cahaya senja redup, ia masih bisa melihat batang di selangkangan Pak Darsa panjang, besar dan gagah seperti milik pria muda, bahkan beda jauh dengan milik Mertua dan suaminya.
Tangan Fitri gemetar saat menggantung daster terakhir, pandangannya masih terpaku pada bayangan Pak Darsa yang menjauh di jalan setapak. Obsesinya pada lelaki paruh baya itu kini terasa lebih nyata dan membakar.
Hasrat yang semalam belum sepenuhnya padam, kini bercampur dengan gambaran Pak Darsa, memanaskan tubuhnya. Fitri tahu, duda kharismatik itu adalah tantangan besar. Sulit didekati, digoda apalgi ditaklukan.
Namun, gairah yang membara dalam dirinya tak bisa diabaikan. Ia harus mencari cara untuk mendekat, memuaskan rasa penasaran yang membelenggu setiap inci tubuhnya.
Fitri masih berdiri di halaman belakang, tangannya sibuk menggantung pakaian terakhir di tali jemuran, tapi pikirannya melayang jauh, terperangkap antara getaran aneh di tubuhnya dan bayangan Pak Darsa yang baru saja lewat.
Angin pagi membawa suara langkah kaki pelan dari arah gerbang samping rumah, membuatnya menoleh. Di sana, muncul sosok lelaki tua lain yang jarang ia lihat belakangan ini.
Kakek Sadim, atau biasa disapa Ki Sadim, tetangga sebelah yang berusia sekitar 70 tahun, dengan tubuh kurus tapi tegap seperti pohon jati tua. Ia mengenakan kaus lusuh dan celana pendek, membawa keranjang bambu berisi sayur dari kebunnya, wajahnya yang keriput dihiasi senyum ramah yang khas.
Ki Sadim berhenti di pagar kayu rendah, melambai santai. “Pagi, Neng Fitri. Masih rajin jemur pagi-pagi ya? Kebetulan, ini bawa cabe rawit dari kebun, ambil aja kalau butuh,” katanya dengan suara serak tapi hangat, suaranya yang tenang seperti angin pagi.
Ia mendekatkan keranjangnya, dan saat Fitri maju untuk mengambil segenggam cabe, matanya tanpa sengaja melirik ke bawah, ke bagian celana pendek yang longgar, di mana garis samar tonjolan terlihat bergoyang pelan mengikuti gerakannya. Jantung Fitri berdegup lagi, lebih kencang dari tadi, seolah tubuhnya yang baru berubah ini tak mau diam.
Ia teringat cerita-cerita desa samar-samar tentang Ki Sadim, yang meski duda sejak lama, dulu dikenal sebagai lelaki pekerja keras dengan stamina tak terduga di sawah, membuat imajinasinya liar: apakah di balik penampilan sederhana itu tersembunyi penis seperti Bah Mardi atau bahkan lebih?
Wajah Fitri memerah, ia buru-buru mengalihkan pandang, tapi sensasi panas di perut bawahnya semakin kuat, membuat pahanya terasa licin.
“Terima kasih, Ki Sadim. Cabe-nya segar sekali,” balasnya tergagap, suaranya sedikit bergetar.
Ki Sadim mengangguk, tak sadar akan gejolak di hati Fitri. Bagi Fitri, kemunculan lelaki tua ini seperti godaan baru, memperkuat perasaan bahwa dirinya kini rentan terhadap daya tarik tersembunyi di setiap sudut desa Cikupa, terutama lelaki tua yang ternyata masih perkasa.
“Ki Sadim mau kopi atau teh hangat dulu?” tanya Fitri cepat, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian dari pikiran-pikiran liarnya, sekaligus mengundang Ki Sadim masuk, entah mengapa.
Tawaran itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sebuah gestur keramahan desa yang biasa, namun pagi ini terasa bermakna ganda.
Ki Sadim menghentikan langkahnya, menoleh dengan senyum tulus. “Wah, jangan repot-repot, Neng. Tapi kalau memang tak merepotkan, teh hangat sepertinya nikmat di pagi hari begini,” jawabnya, suaranya yang lembut dan ramah membuat Fitri sedikit lega, sekaligus menambah kehangatan di dadanya.
“Tidak merepotkan sama sekali, Bah. Mari masuk, tehnya biar saya siapkan,” kata Fitri, membuka pintu samping rumahnya lebih lebar.
Dengan canggung namun hormat, Ki Sadim melangkahkan kaki ke dalam dapur Fitri yang sederhana. Aroma bumbu dapur yang samar bercampur dengan kehangatan pagi menyambutnya.
Fitri mempersilakan Ki Sadim duduk di bangku kayu dekat meja kecil, sementara ia bergegas menyalakan kompor dan mengambil cangkir.
Saat Fitri membelakangi Ki Sadim, menuang air panas ke dalam teko berisi teh, ia bisa merasakan tatapan lelaki tua itu di punggungnya. Bukan tatapan nakal atau penuh hasrat seperti Bah Mardi, melainkan tatapan yang terasa lebih… mengamati.
Fitri menahan napas, dadanya berdesir. Ia mencoba memfokuskan diri pada bunyi air mendidih dan aroma teh melati yang mulai menguer, tapi pikirannya kembali melayang.
Bagaimana jika Ki Sadim, dengan segala cerita masa lalunya, juga memiliki rahasia lain yang tersembunyi? Kehadiran lelaki tua di dapurnya ini, di pagi hari setelah malam yang penuh gejolak, seolah menguji batas-batas baru yang mulai muncul dalam dirinya.
Fitri meletakkan cangkir teh hangat di depan Ki Sadim, uapnya mengepul lembut di udara dapur yang sederhana. Ia duduk di bangku seberang, tangannya memegang cangkirnya sendiri untuk menyembunyikan getaran kecil di jarinya.
“Silakan diminum dulu, Ki. Masih panas,” katanya sambil tersenyum tipis, mencoba menjaga nada suaranya tetap biasa.
Ki Sadim mengangguk, meniup permukaan teh sebelum menyeruputnya pelan.
“Terima kasih, Neng. Enak sekali, bikin hati adem pagi-pagi gini.” Ia meletakkan cangkir, matanya yang bijak menatap Fitri dengan ramah.
“Eh, ngomong-ngomong, Herman gimana kabarnya? Sudah lama sekali nggak kelihatan mukanya. Kerjaannya di kota pasti sibuk terus ya?”
Pertanyaan itu sederhana, basa-basi khas tetangga, tapi bagi Fitri, seperti menyentuh luka yang masih basah. Ia menatap cangkirnya, jarinya mengelilingi pinggirannya.
“Mas Herman… ya, Bah, jarang pulang. Sudah mau tiga bulan ini. Saya di sini sendirian sama anak, ngurus rumah, kadang rasanya kesepian banget. Kayak… nggak ada yang nemenin, nggak ada yang ngertiin.” Suaranya pelan, tapi ada getar emosi yang tak bisa ia tahan.
Ki Sadim mendengarkan diam-diam, wajahnya yang keriput menunjukkan empati. Ia mengangguk pelan, menyeruput teh lagi sebelum bicara. Ngocoks.com
“Ah, Neng, Aki paham rasanya. Aki juga hidup sendirian sejak istri meninggal sepuluh tahun lalu. Rumah terasa sepi, malam-malam panjang tanpa obrolan. Dulu kami sering duduk di teras, ngobrol kecil-kecilan, sekarang… ya begini, cuma Abah sama ingatan. Tapi ya sudahlah, hidup harus jalan terus.”
Obrolan itu mengalir pelan, seperti angin pagi yang membawa kelegaan sementara bagi Fitri. Ada ikatan tak terucap di antara mereka, dua jiwa kesepian yang bertemu di dapur sederhana, meski di baliknya, pikiran Fitri masih bergulat dengan perubahan aneh yang membuatnya gelisah.
Obrolan mulai menyentuh relung hati Fitri yang paling sepi. Ia menemukan dirinya mengangguk-angguk setuju pada setiap cerita Ki Sadim tentang kesendiriannya, merasa ada benang merah yang menghubungkan pengalaman mereka, terlepas dari perbedaan usia.
Fitri mulai bercerita lebih banyak, tentang malam-malam tanpa suaminya, tentang betapa hampa rumah ini sering terasa, bahkan tentang kebutuhannya akan kehangatan yang tak terpenuhi. Ada rasa lega sekaligus takut saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, seolah ia sedang berjalan di tepi jurang.
“Kadang, Ki,” ucap Fitri pelan, matanya menatap cangkir teh yang sudah setengah kosong, “Saya cuma butuh seseorang untuk diajak bicara. Atau sekadar ada di samping saya.”
Ki Sadim menggeser duduknya sedikit, mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya penuh pengertian. “Tentu saja, Neng. Manusia itu butuh ditemani. Aki juga begitu. Dulu, malam-malam terasa dingin sekali, sampai bingung harus gimana.”
Saat Ki Sadim bergerak, celana pendeknya yang longgar sedikit tertarik ke atas, dan di saat itulah, mata Fitri tak sengaja tertuju pada area selangkangannya.
Di bawah kain tipis celana itu, ia melihat atonjolan yang tadi samar, kini tampak lebih jelas, sedikit membesar seiring dengan gerakan dan posisi duduk Ki Sadim.
Jantung Fitri berdebar lebih kencang, kali ini bukan karena imajinasi semata, tapi karena penampakan nyata yang ada di hadapannya. Napas Fitri tertahan. Ia merasakan aliran panas menjalar dari perutnya, menuruni pangkal paha, membuat kulitnya merinding halus.
“Maaf Ki, kalau lelaki seusia Aki memang masih punya hasrat?”
Ki Sadim terdiam sejenak, matanya yang bijak menatap Fitri dengan campuran kejutan dan pemahaman. Ia tersenyum tipis, tapi yang hangat dan jujur, seolah ia sudah terbiasa dengan pertanyaan semacam itu dari tahun-tahun kesendiriannya.
“Pasti, Neng,” jawabnya tenang, suaranya serak tapi mantap. “Mau Aki buktikan?”
Kata-kata itu menggantung di udara dapur yang sederhana, membuat jantung Fitri berdegup kencang seperti palu. Ia tak menyangka jawaban seblak itu, tapi tubuhnya yang sudah berubah, mudah terangsang sejak pagi, merespons dengan gelombang panas yang lebih kuat, membuat pahanya terasa makinlicin.
Ki Sadim tak bergerak mendadak, hanya mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, tatapannya penuh pengertian, seolah menunggu isyarat dari Fitri.
Udara di antara mereka terasa tebal, aroma teh hangat bercampur ketegangan yang baru lahir, dan Fitri merasa dirinya berada di persimpangan baru, antara mundur atau melangkah lebih dalam ke jurang hasrat yang kini menjeratnya.
Sebelum Fitri sempat mengeluarkan sepatah kata pun, sebelum ia bisa memutuskan antara menolak atau menerima tawaran yang menggiurkan itu, sebuah suara kecil memecah ketegangan. “Ma… mama?”
Bersambung…




