Fitri dan Ki Sadim serentak menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu kamar, berdiri anaknya, putri kecil Fitri yang berusia tiga tahun, dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terpejam, mengusap-usap matanya yang masih mengantuk. Dia baru bangun tidur.
Wajah Fitri langsung memucat, terkejut dan malu luar biasa. Senyum Ki Sadim sedikit memudar, namun ia segera kembali ke ekspresi ramah seperti biasa.
“Eh, anak manis sudah bangun. Sini, sarapan sama Mama,” kata Fitri, berusaha terdengar setenang mungkin, meskipun jantungnya masih berpacu kencang.
Ia segera bangkit, mencoba menutupi kegugupannya dengan kesibukan. anaknya berjalan pelan ke arahnya, lalu melirik Ki Sadim dengan tatapan ingin tahu sebelum memeluk kaki Fitri.
Momen itu, kehadiran polos putrinya, seperti guyuran air dingin yang menyadarkan Fitri dari trans gairah sesaat. Ia merasa bersalah, bukan hanya kepada Herman, tetapi juga pada anaknya.
Namun, di sisi lain, perasaan mudah terangsang itu tak sepenuhnya hilang; ia hanya tertunda, tersembunyi di balik kesibukannya menyiapkan sarapan untuk putrinya.
Ki Sadim bangkit dari bangku kayu dengan gerakan pelan, meletakkan cangkir teh kosongnya di meja.
“Sudah, Neng, Aki pamit dulu ya. Terima kasih tehnya, enak sekali. Jangan lupa istirahat juga, jaga kesehatan,” katanya ramah, suaranya tetap tenang meski ada sisa ketegangan dari obrolan tadi.
Ia melirik anaknya yang kini duduk di pangkuan Fitri, tersenyum pada anak kecil itu sebelum berbalik menuju pintu dapur.
Fitri mengangguk, masih mencoba menenangkan napasnya sambil menggendong anaknya.
“Iya, Ki. Hati-hati di jalan.” Ia berdiri untuk mengantar Ki Sadim ke pintu, putrinya bergantung di pinggangnya seperti koala kecil.
Saat Ki Sadim melangkah melewati Fitri, ruangan dapur yang sempit membuat jarak mereka begitu dekat. Tanpa suara, tanpa tatapan yang mencurigakan, Ki Sadim sengaja menggesekkan selangkangannya ke pantat Fitri yang montok, sebuah sentuhan singkat tapi tegas melalui kain daster tipisnya.
Sensasi itu seperti sengatan listrik bagi Fitri; ia tersentak pelan, wajahnya memerah hebat, tapi tak berani bereaksi karena anaknya ada di dekatnya.
Ki Sadim tak berhenti, hanya melanjutkan langkahnya keluar pintu dengan senyum tipis yang tak terbaca, seolah tak ada yang terjadi.
Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Fitri berdiri di sana, jantung berdegup kencang, getaran panas kembali menyala di tubuhnya. Ia memeluk anaknya lebih erat, mencoba mengusir rasa gelisah yang kini bercampur antara syok dan hasrat tersisa, tapi bayangan gesekan itu tak kunjung pudar dari pikirannya.
‘Ternyata bener masih keras, tapi kuat gak kalau dipake?’ tanya Fitri dalam hati.
Pertanyaan itu melintas begitu saja, vulgar dan penasaran, seolah hasrat semalam dengan Bah Mardi telah membuka keran imajinasi yang tak bisa ditutup lagi.
Ia membayangkan Ki Sadim, lelaki tua 70 tahun dengan tubuh kurus tapi tegap, apakah penis itu hanya tampilan luar atau benar-benar bisa memuaskan seperti yang ia rasakan dari mertuanya?
Wajahnya memerah lebih dalam, tangannya tanpa sadar meremas pinggang anaknya sedikit terlalu kuat, membuat anaknya merengek pelan.
Fitri buru-buru melepaskan pelukan, membawa anaknya kembali ke dalam, tapi pikiran itu tak mau pergi, ia kini melihat setiap lelaki tua di desa Cikupa dengan lensa baru, penuh rasa lapar yang menakutkan namun juga menggairahkan.
Ia duduk di bangku dapur, menyiapkan bubur sederhana untuk anaknya, tapi konsentrasinya buyar. Setiap gerakan mengaduk panci, menuang air mengingatkannya pada sentuhan kasar, pada tonjolan yang ia lihat tadi. Penyesalan bercampur gairah, membuatnya gelisah; ia tahu ini bukan dirinya yang dulu, tapi pagi ini, kesepian dan perubahan itu terasa tak terelakkan.
Fitri meletakkan anaknya di kursi kecil dengan semangkuk bubur hangat di depannya, memastikan putrinya sibuk makan sebelum ia melangkah keluar.
Pikiran tentang Ki Sadim masih bergolak, tapi ia memutuskan untuk mengalihkan energi itu ke pekerjaan rumah, mungkin juga untuk menguji batas-batas baru yang kini terasa menggelitik di hatinya.
Ia mengenakan daster pendek sederhana, kain tipis yang hanya menutupi hingga pertengahan paha, tanpa ikatan ketat di dada, membuat lekuk tubuhnya terlihat lebih bebas saat bergerak.
Biasanya, ia memilih pakaian lebih sopan saat bekerja di halaman, tapi pagi ini, ada dorongan aneh: ingin melihat sejauh mana tetangga-tetangga pria di Cikupa tergoda, apakah perubahan dalam dirinya ini bisa memicu respons yang sama seperti hasrat yang kini membara di nadinya.
Ia mengambil sapu lidi dari sudut teras, mulai menyapu daun-daun kering yang berserakan di halaman depan rumah. Gerakan tangannya ritmis, pinggulnya bergoyang pelan mengikuti ayunan sapu, membuat daster pendek itu naik-turun sedikit, memperlihatkan garis paha mulusnya yang terkena sinar matahari pagi.
Angin sepoi-sepoi menyibak kainnya, dan Fitri merasakan sensasi dingin menyentuh kulitnya, yang justru memperkuat getaran birahi samar dari tadi. Ia melirik ke jalan setapak, berharap, atau takut, ada tetangga lewat, seperti Pak Darsa atau bahkan Ki Sadim yang baru saja pergi.
Apa mereka akan menatap lebih lama? Apa ada yang berani mendekat? gumamnya dalam hati, campuran rasa malu dan kegembiraan membuat napasnya lebih cepat.
Saat ia membungkuk untuk mengumpulkan tumpukan daun, daster itu menegang di belakang, menonjolkan bentuk pantatnya yang bulat. Ngocoks.com
Fitri tahu ia sedang bermain api, tapi perasaan ingin menguji itu terlalu kuat, seolah malam semalam dan pagi ini telah mengubahnya menjadi wanita yang haus akan perhatian, siap melihat reaksi dari lelaki-lelaki tua di desa yang selama ini ia anggap biasa saja. Ia melanjutkan menyapu, mata sesekali melirik ke sekitar, menunggu apa yang akan datang.
Fitri masih sibuk menyapu halaman, gerakan pinggulnya terayun lembut seiring dengan sapuan bambu. Ia merasakan tatapan—bukan dari jauh, melainkan dari dekat. Sebuah bayangan jatuh di sampingnya, dan aroma parfum murah yang menyengat namun familiar menguer di udara pagi.
Fitri mengangkat kepala, melihat seorang pemuda berdiri tak jauh darinya. Itu Rian, anak muda desa yang terkenal genit, usianya sekitar awal dua puluhan, dengan rambut disisir klimis dan senyum jahil yang selalu menghiasi wajahnya.
“Wah, rajin sekali pagi-pagi sudah bersih-bersih, Teh Fitri,” sapa Rian, suaranya dibuat-buat ramah, tapi matanya jelas menatap tubuh Fitri yang hanya terbalut daster pendek. Pandangannya menyapu dari atas ke bawah, tak luput dari paha Fitri yang terekspos.
“Pemandangan pagi-pagi begini bikin semangat ya, Teh.”
Fitri merasakan pipinya menghangat, bukan karena malu sepenuhnya, melainkan campuran antara terkejut dan getaran aneh yang lagi-lagi menyelinap di hatinya. Hasrat yang baru bangkit itu kini bereaksi pada godaan yang lebih muda, lebih terang-terangan. Ia tersenyum tipis, mencoba terlihat biasa.
“Ah, Rian ini. Ada-ada saja. Memang sudah tugasnya, Yan. Kalau kotor kan tidak enak dipandang.”
Rian melangkah sedikit lebih dekat, senyumnya semakin lebar. “Tidak enak dipandang bagaimana, Teh? Justru Teteh pakai daster begini malah makin enak dipandang. Cantiknya nggak luntur, malah makin segar kayak embun pagi.”
Matanya menatap Fitri lebih intens, berani, seolah mengukur reaksinya. Ia tahu Fitri adalah istri Herman, tapi gosip tentang Herman yang jarang pulang dan Fitri yang kesepian sudah beredar luas.
Fitri menelan ludah. Ini adalah reaksi yang ia inginkan, namun datang dari sumber yang tak terduga, seorang pemuda, bukan lelaki tua seperti yang ia bayangkan. Hatinya berdesir, merasakan tantangan baru. Ia tahu ini berbahaya, tapi sebagian dirinya merasa penasaran untuk melihat sejauh mana godaan ini akan berlanjut.
Fitri merasakan denyut jantungnya kian kencang saat Rian melangkah makin dekat, senyum genitnya berubah jadi seringai penuh arti.
Udara di antara mereka menipis, dan Fitri bisa mencium aroma rokok bercampur parfum murah yang kini begitu dekat. Ia mundur selangkah secara naluriah, tapi punggungnya membentur dinding rumah, menjebaknya.
“Pemandangan bagus begini, sayang kalau cuma dilihat dari jauh, Teh,” bisik Rian, suaranya kini lebih rendah dan mendesak.
Tangannya terangkat, bukan untuk menyentuh, tapi melayang di samping pinggang Fitri, sangat dekat sehingga ia bisa merasakan kehangatan telapak tangan pemuda itu. Matanya yang gelap menatap Fitri lekat-lekat, menelanjangi Fitri seolah daster tipis itu tak ada artinya.
“Rian… ada-ada saja,” kata Fitri, suaranya sedikit tercekat. Ia mencoba terdengar tegas, tapi getaran dalam suaranya mengkhianati kegugupan dan, yang lebih menakutkan, desiran hasrat yang kini tak bisa ia ingkari. Ia merasa dirinya seperti magnet, menarik godaan, dan Rian seperti pin besi yang tak bisa menahan diri.
Rian tak mengindahkan perkataan Fitri. Ia maju selangkah lagi, menempatkan tubuhnya begitu dekat hingga Fitri bisa merasakan napas hangatnya menerpa wajah.
Tangannya yang tadinya melayang kini menekan dinding di kedua sisi Fitri, menjebaknya sepenuhnya. Fitri merasa terpojok, tapi anehnya, ada bagian dari dirinya yang tidak ingin lari, yang ingin tahu sejauh mana Rian berani melangkah. Daster pendeknya yang tipis, kini terasa seperti godaan telanjang di hadapan pemuda ini.
“Teh Fitri tahu kan, kalau saya suka banget sama Teteh? Dari dulu, sejak nikah sama Kang Herman,” bisik Rian, matanya berkilat penuh hasrat. “Suami jauh di sana, Teteh di sini sendirian… kenapa nggak kita berdua aja yang bersenang-senang?”
Keberanian Rian yang terang-terangan itu membuat Fitri terkesiap. Ini bukan rayuan halus lagi, ini adalah ajakan yang vulgar, langsung, dan sangat berbahaya. Fitri tahu ia harus mengusirnya, tapi tubuhnya justru bereaksi lain, merasakan panas yang membakar dan hasrat.
Rian tak memberi Fitri kesempatan untuk menolak. Kata-kata terakhirnya yang penuh hasrat, dan keheningan Fitri yang disalahartikan, seolah menjadi lampu hijau baginya. Dengan gerakan cepat dan nekad, Rian meraih pergelangan tangan Fitri yang bebas, menariknya kuat.
“Ayolah, Teh,” bisik Rian lagi, suaranya mengandung campuran desakan dan keyakinan, “jangan malu-malu. Di dapur saja, biar nggak ada yang lihat.”
Bersambung…




