Fitri tersentak, mencoba menarik tangannya dari cengkraman Rian, tapi kekuatan pemuda itu jauh melampauinya. Ia tak sanggup lagi menolak. Tubuhnya seperti lumpuh, perlawanan yang harusnya ia tunjukkan tak kunjung datang.
Antara kaget, ketakutan, dan desiran aneh yang mengkhianati dirinya, Fitri membiarkan Rian menariknya, melewati pintu samping, dan masuk ke dalam dapur yang tadi pagi menjadi saksi bisu obrolan hangatnya dengan Ki Sadim.
Dapur yang tadinya terang dan hangat kini terasa pengap dan gelap, seolah bayangan kejadian semalam dan pagi ini berkumpul di sana. Fitri hanya bisa pasrah terseret, daster tipisnya tersingkap sebagian, napasnya terengah-engah.
Matanya melebar, bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena menyadari bahwa ia telah kehilangan kendali, sepenuhnya ditarik oleh arus hasrat dan kesempatan yang ia sendiri seolah undang.
Fitri berdiri di ambang pintu dapur yang menghubungkan ke ruang tengah, napasnya tersengal saat Rian mendorongnya pelan tapi tegas dari belakang. Matanya tertuju pada anaknya yang duduk di kursi kecil, sibuk menyendok bubur hangat dengan lahap, tak sadar akan apa yang terjadi di belakangnya.
“Sayang, makan yang pelan-pelan ya, Nak,” bisik Fitri, suaranya bergetar tapi ia paksa terdengar normal, seolah sedang mengawasi anaknya seperti biasa. Hatinya bergejolak, antara rasa bersalah yang menusuk dan hasrat aneh yang membuatnya tak bisa bergerak, membiarkan momen ini berlanjut.
Rian, dengan napas panas di leher Fitri, tak membuang waktu. Tangannya yang kasar naik ke pinggang Fitri, mengangkat daster pendek itu perlahan dari belakang, kain tipisnya tersingkap memperlihatkan pantat bulatnya. Fitri menggigit bibir, tubuhnya tegang tapi tak melawan;
Ia hanya menatap anaknya yang tertawa kecil saat bubur menetes di dagunya. Tak lama, jari Rian menyusup ke celana dalam Fitri, menariknya turun dengan cepat hingga terlepas, meninggalkan keintiman Fitri terbuka di udara pagi yang sejuk.
“Sst… jangan berisik, Teh,” gumam Rian serak, sambil membuka celananya sendiri.
Tak lama kemudian, penis Rian melesak masuk dari belakang, dorongan awal yang kasar membuat Fitri tersentak pelan. Ia terhenyak bukan karena nikmat yang membara seperti semalam dengan Bah Mardi, melainkan karena kejutan atas ukuran itu, sangat kecil walau panjang, seperti ular tipis yang menyusup tanpa mengisi sepenuhnya.
Sensasi itu aneh, kurang memuaskan, membuat Fitri merasa hampa di tengah ketegangan. Ia menahan desah, tangannya mencengkeram meja dapur untuk menjaga keseimbangan, sementara anaknya masih asyik dengan buburnya, tak tahu rahasia terlarang yang sedang terjadi tepat di hadapannya.
Hanya dalam beberapa hentakan yang terburu-buru, Rian sudah mencapai puncaknya. Cairan hangat itu menyembur tanpa peringatan, membuat Fitri terhenyak, bukan karena nikmat, melainkan karena rasa hampa dan kejutan yang tidak menyenangkan. Ia merasakan tubuh Rian menegang sesaat, lalu melonggar.
“Duh,” desah Rian pelan, suaranya sedikit malu-malu dan kelelahan. Ia buru-buru menarik penisnya keluar, membuat Fitri merasa semakin kesal dan jijik.
Perasaan digunakan, namun tidak dipuaskan, meninggalkan bekas yang pahit. Rian dengan cepat merapikan celananya, mengancingkan resletingnya dengan gerakan gugup, tanpa berani menatap Fitri.
Setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rian berbalik dan kabur begitu saja dari dapur Fitri, seperti maling yang tertangkap basah.
Ia melangkah cepat melewati pintu samping, bahkan tidak menoleh ke belakang, meninggalkan Fitri berdiri di sana, daster masih terangkat sebagian, celana dalamnya tergeletak di lantai, dan anaknya masih asyik dengan buburnya.
Fitri berdiri di ambang dapur, tangannya gemetar saat ia buru-buru menarik dasternya ke bawah dan mengambil celana dalam yang tergeletak di lantai. anaknya masih sibuk dengan buburnya, tak sadar akan kekacauan yang baru saja terjadi, tapi Fitri merasa dunia seolah runtuh di sekitarnya.
Ia membersihkan diri secepat mungkin, mencuci tangan berulang kali di wastafel sederhana, seolah air bisa membasuh rasa jijik yang menempel di kulitnya.
Kekesalan membara di dadanya, bukan hanya pada Rian yang kabur seperti pengecut, tapi pada dirinya sendiri yang membiarkan semuanya terjadi, yang membiarkan hasrat aneh pagi ini menguesai akal sehatnya.
Sepanjang hari itu, Fitri kesal seharian. Ia membersihkan rumah dengan gerakan kasar, menyapu halaman lebih keras dari biasanya, dan bahkan saat menyiapkan makan siang untuk anaknya, pikirannya tak henti berputar pada kejadian memalukan tadi.
Tidak akan lagi, tekadnya dalam hati, berulang seperti mantra. Tidak akan tergoda oleh pemuda menjijikan seperti Rian. Ia membayangkan wajah Rian yang genit dan lemah itu, ukurannya yang mengecewakan, dan bagaimana ia meninggalkannya dalam keadaan hampa, membuat penyesalan semakin dalam.
Hari berlalu penuh penyesalan, matahari siang yang terik seolah mengejek kegagalannya menjaga batas, sementara angin sore membawa suara desa yang biasa, kontras dengan gejolak di hatinya. Fitri duduk di teras saat senja, memeluk lutut, berjanji pada diri sendiri untuk kembali ke kehidupan normal, setidaknya, sampai godaan lain datang lagi.
^*^
Malam harinya, setelah matahari tenggelam di balik bukit dan suara jangkrik mulai mengisi keheningan Kampung Cikupa, Fitri tak bisa tidur. Tubuhnya masih panas, seperti bara yang belum padam sepenuhnya sejak kejadian dengan Rian pagi tadi.
Rasa hampa itu malah membuatnya semakin gelisah. Bayangan Ki Sadim terus muncul: senyum ramahnya yang bijak, tangan keriput yang kokoh memegang keranjang sayur, dan yang paling tak bisa ia lupakan, gesekan singkat tapi penuh arti saat lelaki tua itu melewatinya di pintu dapur.
Fitri duduk di tepi ranjang, memeluk lutut. anaknya sudah tertidur pulas di kamar sebelah, napasnya teratur seperti lagu pengantar tidur. Rumah terasa terlalu sepi lagi. Herman masih di kota, mungkin sedang tertidur lelap di kosannya tanpa tahu istrinya sedang bergulat dengan api yang tak pernah ia sangka akan membakar habis dirinya.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu samping. Jantung Fitri langsung melonjak. Siapa lagi yang datang malam-malam begini kalau bukan…
Ia bangkit, mengenakan daster tipis yang sama seperti pagi tadi—tanpa bra, tanpa apa pun di bawahnya. Langkahnya ringan menuju pintu.
Saat membukanya sedikit, cahaya lampu teras menerangi wajah Ki Sadim yang berdiri di sana, masih dengan kaus lusuh dan celana pendek yang sama. Matanya yang bijak menatap Fitri dengan tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda—lebih dalam, lebih lapar.
“Aki… malam-malam begini?” suara Fitri pelan, hampir berbisik.
Ki Sadim tersenyum tipis. “Tadi pagi, Neng bilang butuh seseorang buat nemenin. Aki pikir… mungkin malam ini Neng masih butuh.” Ngocoks.com
Fitri menelan ludah. Tanpa kata lagi, ia membuka pintu lebih lebar. Ki Sadim melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Udara dapur yang tadi siang jadi saksi obrolan mereka kini terasa lebih tebal, lebih hangat.
Mereka berdiri saling berhadapan di ruang tengah yang remang. Ki Sadim tak buru-buru. Ia hanya mengulurkan tangan keriputnya, menyentuh pipi Fitri dengan lembut, seperti menyapa teman lama.
“Neng takut?” tanyanya serak.
Fitri menggeleng pelan. “Takut… tapi lebih takut kalau besok pagi aku menyesal karena nggak melakukannya.”
Itu adalah pengakuan terakhir sebelum semuanya lepas kendali.
Ki Sadim menarik Fitri ke pelukannya, tapi ia tak langsung membawanya ke kamar. Sebaliknya, dengan gerakan yang tenang dan penuh kendali, ia memandu Fitri menuju sofa tua di sudut ruang tengah.
Cahaya lampu temaram dari sudut ruangan hanya menyisakan bayang-bayang lembut di dinding kayu, membuat suasana terasa semakin intim, hampir seperti rahasia yang dijaga rapat oleh malam.
“Duduk dulu, Neng,” bisik Ki Sadim serak, suaranya rendah seperti hembusan angin malam yang membawa aroma tanah basah. Ia duduk lebih dulu di sofa, tubuhnya yang kurus tapi tegap bersandar santai, lalu menepuk tempat di sampingnya dengan telapak tangan yang kasar namun hangat.
Fitri menurut, meski jantungnya berdegup tak karuan. Ia duduk di sebelahnya, paha mereka hampir bersentuhan. Daster tipisnya tersingkap sedikit di bagian paha saat ia melipat kaki, tapi ia tak buru-buru menutupinya. Ada bagian dirinya yang sengaja membiarkan kain itu tetap begitu—terbuka, mengundang.
Ki Sadim tak langsung menyentuh lagi. Ia hanya menatap Fitri lama, matanya yang bijak menyusuri wajah wanita itu: dari alis yang sedikit berkerut karena gugup, turun ke bibir yang sedikit terbuka, lalu ke leher yang naik-turun karena napas yang tak tenang.
“Pernah dipijat, Neng?” tanyanya tiba-tiba, suaranya tetap lembut tapi ada nada main-main yang terselip.
Fitri tersenyum kecil, mencoba meredakan ketegangan. “Kadang Mas Herman kalau lagi capek, tapi… jarang. Sudah lama sekali.”
Ki Sadim mengangguk pelan. “Biar Aki yang pijitin. Cuma pijit biasa, biar badan Neng rileks. Malam ini kan panjang.”
Tanpa menunggu jawaban, tangan keriputnya naik ke bahu Fitri. Jari-jarinya yang panjang dan sedikit bengkok karena usia mulai menekan pelan, memijat bahu kanan dulu dengan gerakan melingkar yang terasa sangat terampil.
Tekanan itu pas—tak terlalu keras, tapi cukup dalam hingga Fitri merasakan otot-otot yang selama ini tegang mulai meleleh.
“Ahh…” desah Fitri pelan tanpa sadar, matanya terpejam sejenak.
“Bagus, Neng. Lepasin aja,” gumam Ki Sadim. Tangannya bergerak lebih lebar, menyusuri leher Fitri, lalu turun ke punggung atas. Jari-jarinya menyelinap di bawah tali daster yang tipis, menyentuh kulit telanjang di sana. Sentuhannya masih terasa “pijat biasa”, tapi kehangatan telapak tangannya yang kasar itu membuat bulu kuduk Fitri merinding.
Mereka diam sejenak, hanya terdengar napas mereka yang mulai saling mengejar, dan bunyi kecil gesekan kain saat tangan Ki Sadim bergerak.
“Ki… kok tahu caranya begini?” tanya Fitri, suaranya agak parau.
Ki Sadim tertawa kecil, suara seraknya terdengar lebih dalam di kegelapan. “Dulu, waktu istri Aki masih ada, tiap malam dia minta dipijat. Katanya enak. Lama-lama Aki hafal semua titik yang bikin badan lemes… atau malah tambah panas.”
Kata-kata itu seperti percikan api kecil. Fitri merasakan getaran halus di perut bawahnya. Ia menggigit bibir bawah, mencoba menahan desah saat jari Ki Sadim menekan titik di antara tulang belikatnya—tepat di tempat yang selama ini selalu tegang karena menggendong anaknya atau membersihkan rumah sendirian.
Bersambung…




