Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Kakek Tua

Kakek Tua

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Di tengah hamparan sawah yang luas, padi hijau bergoyang lembut ditiup angin sore. Langit mulai berwarna jingga, memantulkan cahaya hangat ke permukaan air irigasi yang mengalir pelan di antara petak-petak sawah. Dua lelaki sepuh duduk bersandar di pematang, mengaso setelah seharian mengawasi para pekerja memperbaiki saluran air yang sempat tersumbat lumpur.

Pak Darsa, pemilik sebagian besar sawah di hamparan itu, mengisap rokok kreteknya dalam-dalam. Asap putihnya mengepul, membentuk lingkaran samar sebelum lenyap di udara senja.

Di sebelahnya, Bah Mardi, tetangga sekaligus sahabat lamanya, duduk termangu menatap bentangan padi yang berkilau keemasan. Rokok di bibirnya sudah lama mati, tapi tetap dibiarkan menempel tanpa niat dibuang.

Beberapa menit mereka hanya diam. Heningnya sawah sore itu hanya dipecah oleh suara gemerisik padi dan kicau burung pipit yang pulang ke sarang. Ngocoks.com Hening yang bukan canggung, tapi nyaman, seperti dua orang yang sudah terlalu lama saling memahami tanpa perlu banyak bicara.

Sampai akhirnya Bah Mardi berdehem pelan. “Pak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

“Hmm?” sahut Pak Darsa tanpa menoleh, matanya masih menatap langit yang perlahan memerah.

“Saya… masih sering kepikiran,” ucap Bah Madi ragu.

Pak Darsa menoleh sedikit, keningnya berkerut. “Kepikiran apa?”

Bah Mardi menarik napas panjang. “Ya itu… masih ada rasa pingin sama kenikmatan perempuan, tapi Mak Siti sekarang udah nggak mau lagi. Katanya kita ini udah tua, nggak pantas begitu-begituan.”

Pak Darsa terkekeh kecil, suara tawanya berat namun tak mengejek. “Lha, kita umur udah segini, masa masih mikirin urusan ranjang terus, Bah.”

Bah Mardi ikut tertawa hambar. “Namanya juga manusia, Pak. Birahi ini masih suka muncul. Tapi itu tadi, istri kalau dipaksa malah marah. Bilang saya nggak tahu diri, lah. Saya kan jadi bingung, harus gimana, Pak.”

Pak Darsa menghela napas pelan, menepuk bahu sahabatnya. “Sabar, Bah. Kadang kita memang harus ngalah sama waktu. Kalau istrimu udah nggak mau, ya diterima. Hidup ini memang ada masanya masing-masing. Saya udah lima tahun sendiri, sejak almarhumah meninggal. Nggak pernah lagi mikirin yang begituan.”

Bah Mardi menunduk. Langit di atas sawah kini jingga kemerahan, angin sore membawa aroma tanah basah. “Hidup ini aneh ya, Pak,” ujarnya pelan. “Udah tua, bukannya makin tenang, malah makin banyak yang dipikirin.”

Pak Darsa tersenyum tipis. “Begitulah, Bah. Hidup nggak pernah kehabisan cara buat nguji kita.” Ia menatap sahabatnya, lalu dengan nada bercanda menambahkan, “Ya kalau gitu, coba aja rayu Neng Fitri.”

“Hah?” Bah Mardi langsung menoleh, kaget bukan main.

Pak Darsa tertawa lebar. “Lho, siapa tahu cocok. Kan dia sering main ke rumahmu. Lagian suaminya jarang pulang, kadang cuma sebulan sekali kan?”

“Edan kamu, Pak!” seru Bah Mardi, separuh malu separuh marah. “Fitri itu istri anak saya!”

Pak Darsa masih tertawa geli. “Hehehe, becanda, Bah. Tapi ya, jangan sampai beneran kejadian. Dosa besar itu.”

Bah Mardi menggeleng kuat-kuat, wajahnya merah. “Kalau beneran sampai ada yang begitu, artinya dunia ini memang udah rusak, Pak.”

Pak Darsa menatap sahabatnya sejenak, masih tersenyum samar. Ia tak benar-benar bercanda, gosip di kampung Cikupa memang sedang ramai. Saat ini sedang marak gosip perselingkuhan antar tetangga malah masih punya ikatan saudara.

Dan dari warung kopi beberapa hari lalu, telinganya sempat menangkap kabar, kalau Bah Mardi justru pelaku utamanya dalam semua perselingkuhan itu, termasuk dengan Eva yang sedang trending.

Obrolan siang itu pun berakhir menggantung. Tak ada kesimpulan, tak ada nasihat yang benar-benar menenangkan. Hanya dua lelaki tua yang tiba-tiba merasa lebih muda dari biasanya. Mereka kemudian beralih membicarakan harga gabah, buruh panen, dan irigasi yang mulai bocor lagi. Sampai akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.

Tapi di hati kecil Pak Darsa, masih menyimpan rasa yang janggal.

Tadi, ketika ia menyebut nama Neng Fitri, matanya sempat menangkap perubahan di wajah Bah Mardi, sekilas, tapi jelas. Ada sesuatu di sana, entah malu, entah terkejut, atau justru sesuatu yang lain.

“Jangan-jangan Bah Mardi beneran kepikiran sama menantunya,” gumam Pak Darsa dalam hati.

Senja hampir turun ketika Pak Darsa tiba di rumah besarnya. Halamannya luas, dikelilingi pohon mangga tua dan lumbung besar tempat menyimpan hasil panen. Ia menaruh topi caping dan cangkul yang tadi cuma ia bawa untuk gaya, sebab pekerjanya yang mengurus semua urusan kebun dan sawah.

Lalu mencuci kaki di pancuran belakang, kemudian duduk di kursi bambu di teras, dan menyalakan rokok. Asapnya melingkar-lingkar di udara yang mulai lembap. Di depan sana, kebun-kebun yang menjadi sumber rezeki banyak orang mulai gelap perlahan.

Pak Darsa mengembuskan asap terakhir, menatap jauh ke cakrawala. “Hidup ini lucu,” gumamnya pelan. “Semakin banyak yang kita punya, semakin sedikit yang bisa benar-benar kita nikmati.”

Pak Darsa, berusia 65 tahun, pensiun PNS yang kini merambah dunia bisnis bidang pertanian. Dengan rambut sebagian sudah memutih, tubuh tegap, dan sorot mata tajam, Pak Darsa adalah sosok yang paling disegani dan dihormati oleh semua warga Cikupa.

Walau telah lama menduda, kesetiaan pada mendiang istrinya tak tergoyahkan. Senantiasa menolak semua upaya banyak wanita yang mendekat. Dia merasa tak pernah kesepian karena hari-harinya diisi dengan olahraga, mengurus kebun, sawah, mengelola usaha, serta bersilaturahmi dengan sanak saudara baik yang dekat maupun jauh. Bahkan masih rajin mengunjungi anak dan cucunya yang tinggal di tempat lain.

Pak Darsa juga dikenal dermawan, tulus, tutur katanya lembut dan bijaksana, tak heran jika membuat banyak orang meminta nasihat darinya. Namun di balik ketenangannya, ia menyimpan banyak rahasia besar yang tak pernah diceritakan pada siapapun.

Sementara Bah Mardi setahun lebih muda dari Pak Darsa dan memang lebih terbuka, lebih gaul dan lebih mesum dalam kesehariannya.

^*^

Ketika Pak Darsa melangkah pulang dan menutup hari dengan rokok serta renungan, Bah Mardi justru membelokkan langkahnya.

Ia tidak langsung menuju rumah. Kakinya membawa tubuhnya ke arah kebun singkong di ujung kampung, tempat Mak Uun biasa memetik daun menjelang magrib. Matahari sudah rendah, sinarnya menembus sela daun singkong yang lebar, menciptakan bayang-bayang seperti jaring.

Mak Uun berdiri membungkuk, keranjang anyam di pinggangnya sudah setengah penuh. Kerudungnya sedikit longgar karena keringat, tapi gerakannya cekatan, terlatih.

“Assalamu’alaikum, Mak Uun,” suara Bah Mardi muncul dari balik batang singkong.

Mak Uun menoleh, agak terkejut. “Wa’alaikum salam. Eh, Bah Mardi. Kok sore-sore ke sini?”

Bah Mardi tersenyum, senyum orang yang seolah tidak punya maksud apa-apa. “Nengokin saja. Tadi dari sawah. Kepikiran cucu. Anak-anak sehat semua, Mak?”

Mak Uun kembali memetik daun. “Alhamdulillah. Cucu juga sehat. Paling bikin capek ya yang kecil, lari terus.”

Bah Mardi tertawa kecil. “Namanya juga cucu. Bikin capek, tapi kalau nggak ada, malah kangen.”

Ia mendekat sedikit, menjaga jarak yang masih pantas, tapi cukup dekat untuk membuat Mak Uun sadar akan kehadirannya.

“Pak Ukar gimana sekarang?” tanya Bah Mardi, nadanya berubah lebih lembut. “Masih sering pusing?”

Mak Uun menghela napas. “Masih. Tangan kanannya suka lemas. Kalau jalan juga nggak bisa jauh. Saya ya gini, Bah. Kebun, dapur, semua sendiri.”

Bah Mardi mengangguk-angguk, ekspresinya penuh simpati. “Kasihan, Mak. Istri setia memang berat bebannya.”

Mak Uun tersenyum tipis. “Sudah kewajiban.”

Bah Mardi melirik tangan Mak Uun yang memetik daun tanpa henti. “Mak Uun kuat, ya. Perempuan zaman sekarang jarang yang kuat begitu.” Ngocoks.com

Mak Uun tertawa kecil, agak kikuk. “Ah, Bah Mardi bisa saja.”

“Bener,” lanjut Bah Mardi. “Kalau perempuan kuat begitu, laki-laki jadi… ya kadang merasa kecil.”

Mak Uun berhenti memetik sebentar. “Maksudnya?”

Bah Mardi pura-pura berpikir. “Maksudnya, kadang laki-laki pengen berguna. Pengennya masih dibutuhin.”

Mak Uun menunduk, merapikan daun di keranjang. “Kalau sudah tua mah, yang penting saling ngertiin.”

“Iya,” sahut Bah Mardi cepat. “Tapi ngerti itu kan luas. Bukan cuma soal makan sama obat.”

Nada suaranya turun, hampir berbisik. Angin sore lewat, menggerakkan daun singkong, membuat suasana terasa lebih sempit.

Mak Uun berdehem. “Bah Mardi, ngomongnya kok jadi aneh.”

Bah Mardi langsung tertawa kecil, mengangkat kedua tangan. “Lho, jangan salah paham, Mak. Saya cuma kasihan sama orang-orang yang hidupnya sepi tapi nggak berani bilang.”

Mak Uun mengikat keranjang di pinggang, berdiri tegak. “Sepi itu urusan hati. Nggak semua perlu ditemani orang.”

Bah Mardi mengangguk, tapi matanya tidak sepenuhnya mundur. “Betul. Tapi kadang, ditemani ngobrol saja juga sudah cukup menghangatkan.”

Mak Uun menatapnya lama, lalu berkata tegas tapi pelan, “Bah Mardi, kita ini sama-sama sudah tua. Jangan bikin orang salah sangka.”

Bah Mardi tersenyum, kali ini lebih tipis. “Mak Uun benar. Saya kebablasan. Mungkin karena lihat Mak Uun masih segar, jadi lupa umur sendiri.”

Mak Uun menghela napas, lalu memalingkan wajah. “Saya pulang dulu. Magrib sebentar lagi.”

“Ati-ati, Mak,” kata Bah Mardi. “Salam buat Pak Ukar.”

Mak Uun melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Bah Mardi berdiri sendiri di kebun singkong, senyum di wajahnya perlahan pudar. Ia menghela napas panjang, lalu meludah kecil ke tanah.

“Dunia ini memang kejam,” gumamnya. “Yang dilarang justru sering kelihatan paling dekat.”

Senja turun perlahan, menutup kebun, menutup obrolan yang tidak selesai. Tapi seperti gosip lain di Cikupa, yang tidak selesai justru biasanya baru akan mulai.

Bersambung…

1 2 3 4 5
Bersambung Cantik Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleTabir Cinta 2 Dunia
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.3

    Tabir Cinta 2 Dunia

    9.5

    Surga Gangbang Selebriti

    9.3

    Fira the Office Girl

    9.7

    Mimpi Buruk di Kampus

    9.3

    Mimpi Buruk

    9.0

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Follow Facebook

    Recent Post

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Surga Gangbang Selebriti

    Fira the Office Girl

    Mimpi Buruk di Kampus

    Mimpi Buruk

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

    The Click

    Artis Papan Atas

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.