“Panas ya, Neng?” tanya Ki Sadim lagi, kali ini suaranya lebih rendah, hampir berbisik di telinga Fitri. Napasnya yang hangat menyapu cuping telinga wanita itu.
Fitri tak menjawab langsung. Ia hanya mengangguk pelan, pipinya memerah. Tangan Ki Sadim kini turun lebih rendah, memijat pinggang Fitri dengan gerakan melingkar yang semakin lebar. Setiap kali jari-jarinya menyentuh sisi pinggul, kain daster tersingkap sedikit lebih tinggi, memperlihatkan garis paha yang mulus.
“Ki… kalau pijitnya begini, kok rasanya… beda,” ucap Fitri, suaranya hampir tak terdengar.
“Beda gimana, Neng?” Ki Sadim pura-pura tak mengerti, tapi senyum kecil di bibirnya mengkhianati. Tangannya kini berpindah ke paha luar Fitri, masih dengan gerakan memijat yang seolah-olah polos. Tapi tekanannya semakin dalam, jari-jarinya menyusuri bagian dalam paha dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda.
Fitri menahan napas. Pahanya mulai terasa licin lagi, panas yang tadi sempat reda kini kembali membara. Ia merasakan denyut di antara kedua pahanya, semakin kuat setiap kali jari Ki Sadim mendekati bagian yang paling sensitif—tapi tak pernah benar-benar menyentuh.
“Aku… takut Ki,” bisik Fitri, tapi tubuhnya justru merapat lebih dekat, mencari lebih banyak sentuhan.
“Takut apa? Aki kan cuma pijit biasa,” jawab Ki Sadim, suaranya penuh kepolosan pura-pura. Tapi saat ia mengucapkan kata itu, tangannya dengan sengaja menyelinap lebih dalam ke bagian dalam paha Fitri, hanya beberapa senti dari tempat yang sudah basah.
Jari telunjuknya menyentuh tepian celana dalam yang tipis—hanya sentuhan ringan, tapi cukup untuk membuat Fitri tersentak pelan.
“Ki…” Fitri mendesah, kepalanya terkulai ke belakang, bersandar di bahu lelaki tua itu.
Ki Sadim tak berhenti. Ia memijat lebih lambat sekarang, gerakannya seperti sapuan yang sengaja menahan diri. Setiap kali jarinya mendekati pusat kenikmatan Fitri, ia mundur lagi, membuat wanita itu semakin gelisah, semakin haus.
“Kalau Neng mau berhenti, bilang aja,” bisik Ki Sadim di telinga Fitri, suaranya serak penuh godaan. “Tapi kalau Neng mau lanjut… Aki bisa bikin Neng lupa sama kesepian malam ini.”
Fitri tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan tangan Ki Sadim terus menari di kulitnya, membiarkan ketegangan seksual itu semakin tebal, semakin panas, sampai akhirnya ia sendiri yang tak tahan lagi.
Tangan Fitri meraih pergelangan tangan Ki Sadim, membimbingnya lebih dalam, lebih berani.
“Terusin, Ki…” bisiknya, suaranya gemetar penuh hasrat. “Jangan berhenti.”
Ki Sadim tersenyum dalam gelap, matanya berkilat. Pijatan “biasa” itu kini resmi berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam—dan malam masih sangat panjang.
Ki Sadim merasakan getaran tangan Fitri yang membimbingnya, suara bisikannya seperti undangan yang tak bisa ditolak. Senyumnya melebar dalam kegelapan, tapi ia tak buru-buru.
Dengan gerakan yang masih pura-pura terkendali, jari-jarinya menyusuri tepian celana dalam yang sudah lembab itu, menyentuh dengan ringan, menggoda tanpa langsung menyerang. Kulit Fitri terasa panas di bawah sentuhannya, seperti api yang siap meledak.
“Neng… santai aja,” gumamnya, suaranya serak seperti hembusan angin yang membawa janji. Tangannya kini bergerak lebih berani, menyelinap di bawah kain daster yang tipis, menyentuh langsung permukaan yang basah dan hangat.
Jari telunjuknya melingkar pelan di sekitar klitoris Fitri, tekanannya ringan tapi ritmis, membuat tubuh wanita itu menegang dan melengkung tanpa sadar. Fitri mendesah lebih keras, napasnya tersengal, tangannya mencengkeram bahu Ki Sadim seolah mencari pegangan di tengah badai yang semakin kencang.
“Ahh… Ki, itu… enak sekali,” erang Fitri, matanya terpejam rapat, bibirnya tergigit untuk menahan ledakan sensasi yang menjalar dari perut bawahnya ke seluruh tubuh.
Ia merasakan denyut yang semakin kuat, seperti gelombang yang tak bisa dibendung. Tubuhnya merapat lebih dekat, dada naik-turun cepat, membuat tali daster di bahunya tergeser sedikit, memperlihatkan kulit dada yang putih dan lembut.
Ki Sadim tak berhenti. Ia menambahkan jari tengahnya sekarang, menyusup lebih dalam, merasakan kehangatan yang menyambutnya. Gerakannya lambat tapi pasti, seperti tarian yang dirancang untuk membangun ketegangan.
Setiap dorongan membuat Fitri menggeliat, pahanya terbuka lebih lebar tanpa ia sadari, mengundang lebih banyak. Napas Ki Sadim sendiri mulai berat, matanya tak lepas dari wajah Fitri yang memerah, ekspresinya campuran antara kenikmatan dan kerinduan yang lama tertahan.
“Ki… aku… panas banget,” bisik Fitri, suaranya parau penuh hasrat. Tanpa berpikir, tangannya bergerak sendiri, meraih kaus lusuh Ki Sadim, menariknya ke atas dengan gerakan yang tergesa.
Ki Sadim membantunya, membiarkan bajunya terlepas dari tubuhnya yang kurus tapi berotot karena kerja keras bertahun-tahun. Kulitnya yang gelap dan kasar terpapar, dada yang bidang naik-turun seirama dengan napasnya yang semakin cepat.
Fitri tak bisa menahan diri. Tangannya menyusuri dada lelaki itu, merasakan bulu-bulu halus dan hangat, jarinya menyentuh puting yang mengeras. Ngocoks.com
Ki Sadim mendesis pelan, tapi itu hanya membuatnya lebih ganas. Ia menarik Fitri lebih dekat, mulutnya menempel di leher wanita itu, mencium dengan lembut dulu, lalu menggigit ringan, meninggalkan jejak merah yang membuat Fitri merinding hebat.
“Pakaiannya… mengganggu, Neng,” gumam Ki Sadim di antara ciumannya, tangannya menyusup ke belakang, menarik tali daster Fitri dengan satu gerakan halus.
Kain tipis itu meluncur ke bawah, jatuh ke pinggang Fitri, memperlihatkan payudara yang montok dan puting yang sudah mengeras karena dingin malam dan hasrat yang membara. Fitri tak protes; sebaliknya, ia membantu, menggeliat agar daster itu terlepas sepenuhnya, meninggalkan tubuhnya hanya dengan celana dalam yang sudah basah kuyup.
Mereka saling menatap sejenak, mata Ki Sadim penuh kekaguman pada tubuh Fitri yang telanjang di depannya, seperti patung dewi yang hidup dalam cahaya temaram. Fitri merasa rentan tapi juga bebas, hasratnya membutakannya dari segala keraguan.
Tangannya bergerak lagi, membuka ikat pinggang celana panjang Ki Sadim, menariknya ke bawah dengan gemetar. Ki Sadim tak melawan; ia berdiri sebentar, membiarkan celana itu jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang telanjang, kejantanan yang sudah tegang dan siap.
Tanpa kata-kata lagi, mereka saling merapat, kulit bertemu kulit dalam pelukan yang panas dan lembab. Tangan Ki Sadim kembali ke antara paha Fitri, kali ini tanpa hambatan, jarinya menyusup dalam-dalam, membuat wanita itu mengerang panjang.
Fitri membalas, tangannya meraih penis Ki Sadim, menggenggam dengan lembut dulu, lalu mengusap dengan ritme yang semakin cepat, membuat lelaki tua itu mendesah serak.
Suasana semakin intens, napas mereka saling campur, tubuh bergesekan dalam gerakan yang tak terkendali. Mereka tak sadar lagi dengan sekitar—sofa tua itu berderit pelan di bawah berat mereka, bayang-bayang di dinding menari liar.
Fitri merasakan denyut kuat di telapak tangannya saat menggenggam penis Ki Sadim yang tegang itu. Batangnya panjang dan tebal, vena-vena menonjol di permukaannya seperti akar pohon tua yang kuat, kepalanya mengkilap karena pra-ejakulasi yang sudah menetes.
Meski usia Ki Sadim tak lagi muda, kejantanan itu terasa gagah, seperti senjata yang siap menaklukkan. Fitri menelan ludah, matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu, hasratnya membara hingga vaginanya terasa semakin basah dan berdenyut, mendambakan untuk diisi penuh.
“Aku… mau ini, Ki,” bisik Fitri parau, suaranya gemetar penuh nafsu. Tangannya mengusap pelan dari pangkal hingga ujung, merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. “Kontolmu besar banget… panjang… aku pengen ngerasain dia ngebor dalam memekku yang sudah basah ini.”
Ki Sadim mendesis pelan, matanya berkilat melihat Fitri yang begitu berani sekarang. Ia menarik pinggul Fitri lebih dekat, membiarkan tubuh mereka saling menempel dalam panas yang lembab.
“Neng… masukin aja sendiri,” gumamnya serak, tangannya meremas pantat Fitri dengan kasar, jarinya menyentuh celah di antara paha. “Aki pengen liat Neng yang genjot duluan… masukin kontol tua ini ke lobang memekmu yang sempit itu. Pasti enak, Neng… ketat dan panas.”
Fitri tak bisa menahan lagi. Dengan napas tersengal, ia naik ke pangkuan Ki Sadim, posisinya menghadap lelaki tua itu. Tangan kanannya memandu ujung penis yang besar itu ke bibir vaginanya yang sudah licin. Saat kepala penis menyentuh, Fitri mendesah panjang, sensasi penuh dan meregang membuatnya merinding.
“Ahh… Ki, gede banget… memekku kayaknya bakal robek,” erangnya, tapi itu hanya menambah gairah. Ia turun pelan, memasukkan sedikit demi sedikit, merasakan bagaimana dinding vaginanya meregang menyesuaikan ukuran yang luar biasa itu.
“Masukin lebih dalem, Neng… genjot aja,” bisik Ki Sadim vulgar di telinganya, napasnya panas menyapu leher Fitri. “Kontol Aki ini pengen ngebor lobang memekmu sampe dalem, sampe Neng jerit-jerit keenakan. Ayo, goyang pinggulmu… bikin kontol ini basah kuyup sama cairan memekmu yang becek itu.”
Fitri menggigit bibir, matanya tertutup rapat saat ia turun lebih dalam, penis itu menyusup penuh, mengisi setiap inci ruang di dalamnya. Rasa penuh yang luar biasa membuatnya mengerang, tubuhnya bergetar.
“Duuh Gustiii… enak banget, Ki… kontolnya ngeganjel dalem banget,” desahnya, mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun pelan dulu, merasakan gesekan yang kasar dan nikmat. Ki Sadim tak tinggal diam; tangannya meraih pinggul Fitri, membantunya genjot lebih cepat, dorongan dari bawah membuat penisnya menyodok lebih dalam.
Bersambung…




