Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Kakek Tua

Kakek Tua

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Pagi itu, Pak Darsa sedang menyesap kopi hangatnya di teras depan. Uap tipis mengepul dari cangkir seng kesayangannya, sementara matanya mengawasi kebun mangganya yang rimbun dan terawat. Daun-daun bergoyang pelan ditiup angin pagi, seperti sedang berbisik tentang rahasia kampung yang tak pernah benar-benar sepi.

Langkah kaki yang sudah dikenalnya sejak puluhan tahun lalu terdengar mendekat.

Suara batuk kecil mengiringi kedatangan Bah Juni, tetangga jauhnya yang memang terbiasa mampir tanpa janji. Bah Juni, pensiunan satpam sebuah bank swasta yang dulu dikenal galak tapi rapi, kini rambutnya sudah memutih, namun tubuhnya masih tegap.

Ada sisa-sisa wibawa seragam satpam yang belum sepenuhnya tanggal dari caranya berjalan dan memandang sekitar. Ia duduk bersila di bangku bambu di samping Pak Darsa, wajahnya penuh rahasia yang seolah sudah tak sabar untuk dikeluarkan.

Pak Darsa melirik sekilas. Dalam hati, ada sesuatu yang mengganjal. Entah kenapa, akhir-akhir ini Bah Juni sering terdengar menyebut nama Pak Rosid dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar cerita kampung biasa. Ada getar lain, seperti rasa iri yang disamarkan.

Pak Darsa melirik sekilas. Ia menangkap gelagat aneh dari Bah Juni pagi itu. Ada sorot mata yang terlalu bersemangat, seperti orang yang membawa kabar besar. Entah kenapa, di benaknya terlintas pikiran bahwa Bah Juni seolah menyimpan rasa iri pada Pak Rosid. Bukan iri yang diucapkan, tapi terasa di sela nada dan bahasa tubuhnya.

“Selamat pagi, Pak Darsa. Sudah lama tak ngopi bareng,” sapa Bah Juni, mengambil cangkir kopi yang disodorkan Pak Darsa.

“Pagi juga, Bah. Ada kabar apa pagi ini? Kok wajahnya berseri-seri begitu,” balas Pak Darsa, tersenyum tipis, tapi dalam hati ia sudah menduga akan ada berita hangat yang datang.

Bah Juni mendekatkan badannya, suaranya dibuat pelan, nyaris berbisik. “Ini Pak… saya kok punya firasat nggak enak ya sama Pak Rosid. Pemilik warung besar itu lho.”

Pak Darsa mengangkat alis, berusaha tetap tenang. “Pak Rosid? Ada apa dengan dia? Setahu saya dia orang baik, rajin sedekah juga.” Ngocoks.com

“Betul Pak, orangnya baik memang. Tapi… kok akhir-akhir ini saya sering lihat dia terlalu akrab sama Eva,” kata Bah Juni, matanya melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mendengar. “Padahal kan… istrinya Pak Rosid juga masih seger, lagian Eva kan punya suami.”

Pak Darsa menyeruput kopinya, ekspresinya tetap tenang, namun otaknya mulai bekerja cepat. Ia tidak langsung percaya, tapi juga tidak menolak mentah-mentah. Di kampung kecil seperti Cikupa, cerita seperti ini jarang muncul tanpa jejak.

Kecurigaan Bah Juni terhadap Pak Rosid menambah daftar panjang benang kusut di Kampung Cikupa. Pak Darsa teringat pada Bah Mardi, Pak Bakar, dan Bah Danu, nama-nama yang belakangan ini sering muncul dalam percakapan setengah berbisik. Kini, nama Pak Rosid ikut masuk ke pusaran itu.

“Memang kalau urusan hati, bisa bikin mata gelap ya,” tambahnya, lebih sebagai komentar untuk dirinya sendiri daripada pertanyaan pada Bah Juni.

Bah Juni mengangguk-angguk setuju. “Iya, Pak. Makanya saya jadi curiga. Apa jangan-jangan… mereka ada main mata di belakang layar ya? Makanya saya sampaikan ke Bapak, Bapak kan masih saudaranya dengan Pak, suapaya dinasihatin.”

Pak Darsa tersenyum ramah. Senyum orang yang tahu, mendengar adalah bagian dari menjaga kampung, tapi menelan mentah-mentah cerita adalah hal yang berbeda.

“Terima kasih infonya, Bah. Saya akan perhatikan. Memang kita harus saling mengingatkan kalau ada yang tidak beres di kampung.”

Kopi di cangkirnya tinggal setengah. Pak Darsa menatap kebun mangganya lagi. Ia tahu, pagi itu bukan sekadar tentang kopi dan obrolan tetangga. Ada cerita panjang yang baru saja mulai ditarik benangnya, dan siapa pun yang salah menarik, bisa membuat semuanya kusut.

Di balik senyum itu, Pak Darsa tahu satu hal. Di Kampung Cikupa, bukan hanya rahasia yang beredar. Rasa iri pun bisa berjalan pelan, menyamar sebagai kepedulian.

Setelah Bah Juni pamit, Pak Darsa kembali duduk sendirian. Daftar orang yang patut dicurigai kini bertambah. Jika tadinya ia berencana menyelidiki tiga teman dekatnya kini bertambah lagi, Pak Rosid yang tak lain adalah sepupunya sendiri.

Sebenarnya tidak terlalu aneh, Rosid muda terkenal agak nakal. Namun setelah anaknya menikah tidak terdengar lagi, mungkin sadar karena sudah pnuya cucu atau perkakasanya sudah tidak maksimal berukuran cenderung kecil. Atau keuangannya seret karena dikendalikan oleh Bu Rosid, istrinya.

“Kalau bener ada main. Apa yang diincar Eva dari Rosid? Kurang apa Ustadz Kholil? Kurang perkasa? Si Rosid juga sama. Lagian kenapa Eva nikah sama Ustadz Kholil dari fsisiknya aja udah keliatan aki-aki’ gumannya dalam hati.

Pak Darsa baru saja berganti pakaian hendak pergi ke sawah, kemeja lengan panjangnya sudah rapi terselip di balik celana kain. Topi caping tergeletak di meja samping pintu, siap dikenakan. Namun, belum sempat ia melangkah keluar, tiba-tiba terdengar suara salam dari pintu depan.

“Assalamualaikum, Pak Darsa…”

Pak Darsa menoleh, senyum tipisnya mengembang melihat Mak Siti berdiri di ambang pintu, membawa piring yang ditutupi tudung saji kecil. Aroma gurih goreng singkong renyah langsung menyebar di udara.

“Waalaikumussalam, Mak Siti. Wah, bawa apa ini?” sambut Pak Darsa ramah, meskipun dalam hati ia sudah sedikit curiga. Biasanya, jika Mak Siti datang dengan membawa sesuatu, ada udang di balik batu, atau lebih tepatnya, ada permintaan pinjaman uang di balik makanan.

Mak Siti melangkah masuk, meletakkan piring berisi goreng singkong di meja. Wajahnya terlihat agak gelisah, senyumnya pun dipaksakan. “Ini Pak, sedikit oleh-oleh. Tadi saya goreng singkong, kebetulan renyah. Jadi saya bawakan untuk Bapak,” ucapnya, matanya menatap lantai, menghindari pandangan Pak Darsa.

Pak Darsa mempersilakan Mak Siti duduk. “Terima kasih banyak, Mak. Jadi merepotkan. Ada apa ini, kok tumben pagi-pagi sudah ke rumah saya?” tanyanya, langsung ke inti, tahu bahwa Mak Siti tidak akan datang hanya untuk mengantar goreng singkong.

Mak Siti menghela napas panjang. Wajahnya kini berubah murung, sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ia memainkan ujung jilbabnya, lalu dengan agak malu-malu dia mengutarakan maksud kedatangannya.

“Begini, Pak. Saya mau minta tolong sama Bapak. Tolong nasihati Bah Mardi, suami saya.”

Pak Darsa terdiam sesaat, menyeruput kopi sisa. Ia menduga masalah rumah tangga, tapi tidak menyangka akan secepat ini. “Nasihati bagaimana, Mak? Memangnya Bah Mardi kenapa?” tanyanya lembut, mempersiapkan diri mendengar keluh kesah.

Air mata Mak Siti mulai menggenang di pelupuk matanya. “Saya sudah lama, Pak, merasa Bah Mardi itu kurang peduli lagi sama saya. Sudah tidak seperti dulu. Malam-malam sering keluar, dengan alasan macam-macam. Tapi pulangnya… ah, sudahlah Pak. Pokoknya saya merasa dia sudah jauh berubah.”

“Saya ini cuma mau suami saya kembali peduli lagi sama saya, Pak. Bapak kan panutan di kampung ini, Bah Mardi juga pasti dengar nasihat Bapak.” Ia mengusap air mata yang kini mulai menetes di pipinya.

Pak Darsa mendengarkan dengan saksama.

“Saya mengerti, Mak. Sabar ya. Saya akan coba bicara dengan Bah Mardi. Tapi saya juga minta Mak Siti untuk lebih bersabar dan terus berdoa. Semoga hati Bah Mardi bisa kembali terang,” kata Pak Darsa menenangkan, meski dalam benaknya, ia tahu ini bukan masalah sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan nasihat.

Mak Siti mengangguk, merasa sedikit lega. “Terima kasih banyak, Pak Darsa. Saya percaya sama Bapak.”

Setelah Mak Siti pamit pulang, Pak Darsa kembali duduk, pandangannya kosong menatap piring goreng singkong di depannya. Kepalanya pusing. Ngocoks.com Tiba-tiba sebuah ingatan lama melintas di benaknya seperti hembusan angin sepoi dari masa lalu.

Ia teringat pesan mendiang istrinya, yang disampaikan dengan suara lembut tapi tegas saat ia masih sehat, sebelum sakitnya merenggutnya lima tahun lalu.

“Pak, jangan ikut campur urusan orang lain, apalagi masalah rumah tangga. Itu bisa jadi bumerang. Bisa menimbulkan salah paham yang tak terduga, dan akhirnya kita sendiri yang terluka,” kata istrinya waktu itu, sambil memegang tangannya erat, matanya penuh kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup panjang.

Pak Darsa menghela napas panjang, tangannya meraih cangkir kopi yang sudah kosong, seolah mencari pegangan. Pesan itu terngiang jelas, seperti bisikan yang tak pernah pudar. Ia sadar, kecurigaannya terhadap Bah Mardi, gosip Pak Rosid, atau siapapun bisa saja membawanya ke jurang yang dalam jika ia terlalu mendalami.

Kampung Cikupa memang penuh rahasia, tapi apakah tugasnya untuk mengungkap semuanya?

Sebagai duda sepuh yang dihormati, ia tahu reputasinya bisa tercoreng jika salah langkah, terutama jika nasihatnya untuk Bah Mardi justru memicu konflik lebih besar, seperti yang dikhawatirkan istrinya.

“Benar juga kata almarhumah,” gumamnya pelan, matanya menatap ke kebun mangga yang hijau, mencoba menimbang antara rasa tanggung jawab dan kehati-hatian.

Akhirnya, Pak Darsa memutuskan untuk menarik diri sementara. Ia akan tetap mengawasi dari jauh, tapi tak akan campur tangan langsung. Mungkin, waktu yang akan mengungkap kebenaran, tanpa ia harus menjadi pusat badai.

Bersambung…

1 2 3 4 5
Bersambung Cantik Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleTabir Cinta 2 Dunia
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.3

    Tabir Cinta 2 Dunia

    9.5

    Surga Gangbang Selebriti

    9.3

    Fira the Office Girl

    9.7

    Mimpi Buruk di Kampus

    9.3

    Mimpi Buruk

    9.0

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Follow Facebook

    Recent Post

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Surga Gangbang Selebriti

    Fira the Office Girl

    Mimpi Buruk di Kampus

    Mimpi Buruk

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

    The Click

    Artis Papan Atas

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.