Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Kakek Tua

Kakek Tua

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Langit senja semakin pekat, mewarnai sawah dengan nuansa ungu dan oranye. Bah Mardi berjalan pulang menyusuri pematang, langkahnya agak gontai.

Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Pak Darsa. Rayuan Pak Darsa tentang Fitri, menantunya sendiri, terngiang-ngiang. Walaupun ia menyangkal keras, ada gejolak aneh di dadanya setiap kali nama Fitri disebut.

Dari kejauhan, sosok seorang wanita sedang berjongkok di tepi saluran irigasi. Rambutnya yang panjang terurai, punggungnya melengkung indah saat membilas beras di dalam baskom. Bah Mardi menyipitkan mata. ‘Ah, itu pasti Ratna, istrinya Badri.’

Feeling Bah Mardi benar, dia memang Ratna, yang suaminya sedang pergi merantau, kerja memabngun IKN di Kalimatan. Badri jarang pulang, sama seperti Herman, suami Fitri. Bahkan hingga berbulan-bulan.

Bibir Bah Mardi terusngging, dia pikir ini kesempatan emas.

Ia melangkah mendekat dengan santai, seolah tak sengaja berpapasan. “Lho, Neng Ratna? Kok sore-sore begini masih di sawah sendirian?” sapa Bah Mardi, nadanya dibuat ramah dan sedikit genit.

Ratna sedikit terkejut, mendongak. Wajahnya yang masih muda dan ayu terlihat memerah tipis.

“Eh, Bah Mardi. Iya ini, berasnya kotor kena pasir sedikit, jadi saya cuci ulang di sini biar bersih,” jawabnya lembut sambil menunduk lagi, melanjutkan cuciannya. Ngocoks.com

Bah Mardi berdiri di dekatnya, pura-pura melihat air irigasi yang mengalir. “Memang rajin sekali ya, Neng Ratna ini. Pantas saja Badri sangat sayang dan bangga sama istrinya. Pasti masakannya juga enak,” pujinya, sengaja mengaitkan dengan Badri yang sedang tidak ada.

“Neng sering sendirian begini, apa tidak takut? Banyak tikus sawah berkeliaran, loh. Atau… jangan-jangan takut ada yang nyulik?” Kali ini, nada suara Bah Mardi lebih dalam, diselingi kekehan kecil yang disengaja.

Ratna mengangkat wajahnya lagi, tatapan matanya bertemu pandang dengan Bah Mardi. Ada sedikit kegugupan di sana, tapi juga sebersit rasa penasaran. “Ah, Abah ini ada-ada aja. Saya sudah biasa kok,” katanya, mencoba menutupi kegugupannya dengan senyum tipis.

Bah Mardi semakin mendekat, satu tangannya bersandar di pohon pisang yang tumbuh di tepi pematang.

“Biasa apanya, Neng? Abah yakin, kalau ada Abah di sini, hati Neng Ratna pasti lebih tenang?” ucapnya, memamerkan senyum termanis yang ia punya. Mata tuanya tak lepas dari wajah Ratna yang kini semakin memerah.

Ratna buru-buru berdiri, jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba mencari alasan untuk pergi. “Sa-saya sudah selesai, Bah. Maaf mau cepat-cepat pulang, takut keburu gelap.”

Bah Mardi tidak mudah menyerah. Ia malah melangkah sedikit lebih maju, menghalangi jalan Ratna.

“Buru-buru kenapa, Neng? Justru kalau gelap begini, obrolan kita akan semakin hangat, tidak ada yang mendengar,” bisiknya, suaranya kini terdengar begitu dekat di telinga Ratna, membuat bulu kuduk wanita alim itu berdiri. Tangannya bergerak pelan, seolah ingin meraih sesuatu.

Ratna terkesiap, mundur selangkah. Ia menatap Bah Mardi, matanya mencari tanda bahaya. Namun, yang ia lihat hanya sorot mata tua yang penuh ‘rayuan’, ditambah senyum mengembang yang membuatnya semakin cemas.

“Bah… Abah ini kenapa?” ucap Ratna, suaranya tercekat. Ia mencoba melangkah ke samping, namun Bah Mardi dengan sigap kembali menghalangi.

“Kenapa? Abah kan cuma pengen ngobrol sama Neng Ratna. Kan jarang-jarang kita bisa berduaan begini,” ujar Bah Mardi, suaranya melunak, namun tangannya kini perlahan terangkat. Jari-jari keriput itu hampir menyentuh lengan Ratna, namun Ratna buru-buru menepis.

“Maaf, Bah. Saya benar-benar harus pulang. Anak saya sendirian di rumah…” Ratna berbohong. Ia ingat betul anaknya, Ari, sedang bermain di rumah neneknya di ujung kampung.

Bah Mardi terkekeh pelan. “Oh, anak Neng Ratna? Bukannya lagi main di rumah neneknya? Abah tadi lewat sana, lihat kok.”

Mata Ratna membulat. Ia tak menyangka Bah Mardi tahu. Rasa malu dan takut bercampur aduk. Ia mencoba berpikir cepat. “T-tapi… saya harus masak, Bah. Suami saya nanti pulang…”

“Suami Neng kan di Kalimantan. Pulangnya juga masih lama, kan?” potong Bah Mardi dengan cepat, matanya berbinar licik.

“Sudahlah, Neng. Tidak usah buru-buru. Kalau Abah temani jalan pulang, bagaimana? Sekalian Abah mampir sebentar ke rumah Neng, mau minta air minum, haus sekali Abah habis dari sawah.”

Ratna berdiri mematung. Pikirannya kalut. Ia ingin menolak, namun takut Bah Mardi akan berbuat lebih nekat di tempat sepi seperti ini. Lagipula, ia tidak punya alasan kuat lagi untuk menolak. Dengan terpaksa, ia mengangguk pelan. “Ba-baik, Bah.”

Bah Mardi tersenyum lebar penuh kemenangan. Ia menyingkir dari jalan Ratna, lalu berjalan di sampingnya dengan langkah yang kini terasa lebih ringan.

Sepanjang jalan pulang, Bah Mardi tak henti-hentinya melontarkan pujian dan candaan genit, membuat Ratna semakin tidak nyaman. Sesekali ia mencoba mencuri pandang, mengamati lekuk tubuh Ratna yang berjalan di sampingnya.

Ketika sampai di depan rumah Ratna, Bah Mardi langsung masuk tanpa diminta. Rumah itu terasa sepi, hanya ada suara jangkrik dari pekarangan. Ratna melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. “Bah. Saya ambilkan minum dulu.”

“Tidak perlu buru-buru, Neng. Pelan-pelan saja,” kata Bah Mardi, matanya menelusuri setiap sudut ruangan.

Ia duduk di kursi tamu yang terbuat dari bambu, merasa nyaman seolah rumah itu miliknya sendiri. Pandangannya terpaku pada bingkai foto Badri dan Ratna yang terpajang di dinding.

“Sayang sekali Badri tidak ada, ya, Neng? Neng Ratna pasti sering kesepian di rumah sebesar ini sendirian,” ujarnya, nadanya kini lebih mendayu.

Ratna datang dengan segelas air putih. Tangannya sedikit gemetar saat menyodorkannya. “Iya, Bah. Lumayan sepi,” jawabnya lirih, ia enggan menatap mata Bah Mardi.

“Nah, kalau begitu… mungkin Abah bisa menemani Neng Ratna sesekali, biar tidak terlalu sepi,” ucap Bah Mardi, menerima gelas itu. Matanya tak lepas dari Ratna, seolah sedang menelanjangi setiap ketakutan dan kegelisahan wanita muda itu.

Ratna meneguk ludah. Matanya tanpa sengaja menangkap pandangan ke arah selangknagan Bah Mardi. Sebuah tonjolan yang jelas, mengintip dari balik kain celana Bah Mardi yang sudah lusuh.

Otaknya seketika berkelebat pada semua gosip miring yang beredar di antara ibu-ibu kampung. Bah Mardi, si tua-tua keladi, yang katanya ‘jago’ di ranjang, bahkan melebihi pria-pria muda. Desas-desus tentang bagaimana ia bisa “ngegas sampai pagi” tanpa lelah, dan bagaimana beberapa wanita yang pernah dekat dengannya berakhir klepek-klepek.

Perasaan Ratna campur aduk. Ketakutan, rasa tidak nyaman, namun juga… sebersit rasa penasaran yang memalukan. Sudah berbulan-bulan suaminya merantau. Rumah terasa begitu kosong dan sunyi, dan kebutuhan seorang wanita muda sepertinya terpendam begitu dalam. Tonjolan di celana Bah Mardi itu seolah menjadi simbol dari semua gosip yang selama ini ia dengar, menggerogoti pertahanannya.

“Jadi, Neng Ratna bagaimana? Mau Abah temani, biar tidak sepi?” suara Bah Mardi kembali memecah keheningan, nadanya kini lebih berani, seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di benak Ratna. Matanya menatap Ratna lekat, penuh arti, seakan menantang. Senyum liciknya semakin melebar.

Ratna memalingkan wajah, pipinya terasa terbakar. Ia berpegangan erat pada sisi meja, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin menggila.

“A-Abah… jangan begitu,” katanya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Ia berusaha mencari kekuatan, mencari alasan untuk menolak, untuk mengusir pria tua itu. Namun, di antara ketakutan yang mencekam, ada bisikan lain dalam dirinya, bisikan dari naluri yang sudah lama terabaikan.

Bah Mardi, melihat reaksi Ratna, semakin yakin. Ia perlahan beranjak dari duduknya, mendekati Ratna yang masih berdiri kaku di samping meja. Ngocoks.com

“Kenapa, Neng? Abah kan cuma mau bantu Neng biar tidak kesepian. Abah tahu kok, bagaimana rasanya ditinggal suami lama-lama,” bisiknya, iai berdiri begitu dekat hingga Ratna bisa merasakan napas hangat Bah Mardi di rambutnya. Tangannya terulur, mencoba meraih lengan Ratna.

Ratna memejamkan mata. Pertarungan antara moralitas dan hasrat, antara rasa takut dan rasa penasaran, sedang berkecamuk hebat dalam dirinya.

“Mamaaaaa…” Tiba-tiba suara seorang anak berteriak dari kejauhan, dia baru kembali dari main di rumah neneknya.

Suara cempreng Ari itu memecah ketegangan seperti pecahan kaca. Bah Mardi kaget setengah mati. Matanya melotot, seringainya luntur seketika. Tanpa pikir panjang, ia bergegas membalikkan badan, melewati Ratna, lalu melesat keluar lewat pintu dapur, kabur secepat kilat.

Ratna membuka mata. Tubuhnya lunglai, bersandar pada meja. Ia menarik napas dalam-dalam, lega yang teramat sangat membanjiri relung hatinya. Air mata nyaris menetes. Ia berucap syukur, terlepas dari godaan buaya darat itu.

“Tapi…. sepertinya gede dan panjang juga anunya…,” pikir Ratna penasaran juga kagum.

Bersambung…

1 2 3 4 5
Bersambung Cantik Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleTabir Cinta 2 Dunia
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.3

    Tabir Cinta 2 Dunia

    9.5

    Surga Gangbang Selebriti

    9.3

    Fira the Office Girl

    9.7

    Mimpi Buruk di Kampus

    9.3

    Mimpi Buruk

    9.0

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Follow Facebook

    Recent Post

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Surga Gangbang Selebriti

    Fira the Office Girl

    Mimpi Buruk di Kampus

    Mimpi Buruk

    Boneka Cantik yang Bodoh

    Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

    The Click

    Artis Papan Atas

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.