Suara Ustadz Asep yang lantang membacakan ayat-ayat Al-Quran bergema di mushola kecil itu, diikuti hembusan angin malam yang membawa aroma tanah basah dari sawah di sekitar.
Para bapak-bapak duduk bersila di atas karpet, wajah-wajah mereka tenang, mata tertuju pada ustadz yang sedang menjelaskan tentang kesabaran menghadapi godaan dunia. Bah Mardi duduk di baris belakang, tangannya memegang tasbih, tapi jari-jarinya tak bergerak. Matanya kosong, menatap pola karpet mushola tanpa benar-benar melihat.
Bayangan Ratna terus menghantui. Wajah ayu itu, pipi memerah saat ia mendekat, lekuk punggungnya saat berjongkok di tepi irigasi, dan… tonjolan celananya yang sempat ia pamerkan dengan sengaja.
Bah Mardi menelan ludah, merasa panas di dada. Ia ingat betul bagaimana Ratna memalingkan muka, tapi matanya sempat melirik ke selangkangannya. Sebuah tatapan yang penuh kegugupan, tapi juga seolah terpikat.
“Kenapa harus terganggu anaknya sih?” gumamnya dalam hati. Ia mencoba fokus pada pengajian. Tapi semakin ia usir, semakin jelas gambar Ratna di rumahnya tadi sore, saat tangannya hampir menyentuh lengan wanita itu.
Ustadz Asep tiba-tiba menoleh ke arahnya, seolah merasakan kegelisahan. “Bah Mardi, bagaimana? Ada yang ingin ditanyakan tentang godaan syaitan yang sering mengganggu hati?” tanya sang ustadz dengan suara lembut tapi tegas.
Bah Mardi tersentak, wajahnya memerah. Ia buru-buru menggeleng. “Tidak, Ustadz. Saya… cuma lagi mikirin urusan sawah,” bohongnya, suaranya pelan.
Para bapak di sekitar tersenyum simpati, tapi Bah Mardi merasa seperti tertangkap basah. Ia menunduk, memutar tasbih lebih cepat, tapi pikirannya kembali melayang. Ratna… suaminya jauh di Kalimantan, rumah sepi, dan ia hampir saja… Astaghfirullah.
Rasa bersalah bercampur dengan hasrat yang tak kunjung padam, membuat dada sesak. Malam itu, pengajian terasa begitu panjang baginya.
Bah Mardi pulang dari mushola dengan langkah gontai, malam sudah gelap pekat, hanya diterangi cahaya lampu di teras rumah-rumah tetangga. Suara azan Isya masih samar-samar bergema dari masjid jauh, tapi pikirannya tak kunjung tenang.
Bayangan Ratna terus menempel seperti bayang-bayang panjang di bawah bulan sabit, membuat dadanya sesak. Ngocoks.com Ia membuka pintu kayu rumah sederhana itu, aroma masakan sederhana, sayur lodeh dan ikan asin, menyambutnya, tapi tak mampu mengusir kegelisahan.
Mak Siti sudah menunggu di ruang tengah, berdandan lebih rapi dari biasanya. Rambutnya disanggul sederhana, dasternya diganti dengan yang lebih baru, warna merah muda yang jarang ia pakai. Ada sentuhan bedak tipis di wajahnya yang mulai keriput, dan senyumnya agak genit saat melihat suaminya masuk.
Malam Jumat ini, ia pikir, mungkin kesempatan untuk mendekatkan diri lagi. Sudah lama mereka tak berbagi ranjang dengan mesra, dan Mak Siti merasa kesepian di balik rutinitas harian. “Bah, sudah pulang? Aku sudah siapkan makan malam,” katanya lembut, suaranya dibuat manja, sambil mendekat dan menyentuh lengan suaminya pelan.
Bah Mardi mengangguk singkat, tapi matanya menghindar. Ia duduk di bangku kayu, tangannya memainkan ujung kain sarung. “Capek hari ini, Siti. Sawahnya lagi rewel, irigasinya macet lagi,” gumamnya, alasan lama yang sudah sering ia lontarkan. Padahal, badannya tak benar-benar lelah; yang lelah adalah hatinya, terbelah antara rasa bersalah dari pengajian tadi dan hasrat yang membara pada Ratna.
Mak Siti tersenyum kecut, menyembunyikan kekecewaan di balik gerakan menyendok nasi. Ia duduk di sebelah suaminya, mencoba menyentuh tangannya lagi. “Bah, udaah lama kita nggak… deket-deketan.” Nadanya genit, tapi ada nada memohon di sana.
Namun Bah Mardi hanya menggeleng pelan, bangkit dan berjalan ke kamar tanpa sepatah kata lagi. Di balik pintu, ia berbaring menatap langit-langit gelap, pikirannya kembali ke Ratna, wajah memerah, bulu kuduk berdiri.
Bah Mardi gelisah sendiri berguling-guling di atas kasur tipis, bayangan Ratna masih menghantui seperti kabut pagi yang tak mau hilang. Akhirnya, ia bangkit pelan, mengenakan sarung dan kaus lusuh, lalu berjalan ke ruang tengah di mana Mak Siti masih duduk sendirian.
“Mak, Abah keluar sebentar ya. Mau ke rumah Pak Bahar, dia minta dipijat. Pinggangnya lagi pegel katanya. Sekalian ngobrol soal rencana penanaman padi bibit unggul, program desa yang katanya besok ada rapat,” kata Bah Mardi, suaranya dibuat biasa saja, tapi matanya menghindar.
Mak Siti menoleh, alisnya berkerut. Ia tahu betul itu hanya dalih. Sudah berapa kali suaminya ke Pak Bahar di malam-malam seperti ini, pulangnya pagi buta dengan bau kretek dan alasan capek yang tak masuk akal.
Cemberutnya semakin dalam, bibirnya mengerucut, tapi ia tak bisa mencegah. “Hati-hati di jalan, Bah. Jangan lama-lama,” gumamnya pelan, suaranya penuh kekecewaan yang tertahan. Ia bangkit, lalu mematikan saklar dengan keras mematikan lampu, seolah ingin memadamkan amarahnya sendiri. Di hati, Mak Siti bertanya-tanya, apa yang sebenarnya disembunyikan suaminya malam demi malam.
Bah Mardi mengangguk singkat, lalu melangkah keluar, pintu bambu berderit pelan di belakangnya. Udara malam dingin menyapa kulitnya, tapi hatinya justru panas. Bukan ke rumah Pak Bahar ia menuju, tapi pikirannya melayang ke arah lain, ke rumah Ratna.
Malam semakin sunyi, hanya suara jangkrik dan angin yang menggoyangkan daun-daun sawah. Bah Mardi menyeka keringat dingin di dahinya, tangannya gemetar saat hendak keluar dari persembunyiannya dan melangkah mendekat rumah Ratna.
Namun, saat ia hampir melangkah keluar dari balik pohon, sebuah cahaya senter tiba-tiba membelah kegelapan dari arah jalan setapak. Bah Mardi tersentak, cepat-cepat menarik tubuhnya lebih dalam ke balik rimbunnya dedaunan. Dari balik celah daun mangga, ia melihat Pak Bahar, mertua Ratna, berjalan mendekat dengan langkah tegap, membawa senter kecil.
Bah Mardi menahan napas. “Sial! Kenapa Pak Bahar datang malam-malam begini?” pikirnya kesal. Ia terpaksa tetap bersembunyi, mengawasi Pak Bahar yang kini sudah berada tepat di depan rumah Ratna, mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan terlihat Ratna menyambutnya dengan senyum.
Bah Mardi melihat Pak Bahar masuk ke rumah Ratna. Pintu rumah tertutup kembali. Seketika, pikiran Bah Mardi mulai berputar liar. Ada kecurigaan aneh yang timbul di benaknya. Mengapa mertuanya datang malam-malam begini? Dan mengapa Ratna masih menyalakan semua lampu? Ini tidak biasa.
Dengan rasa penasaran yang membuncah dan kecurigaan yang semakin menguet, Bah Mardi memutuskan untuk tidak pergi. Dia justru semakin merapatkan diri ke balik pohon mangga, mencoba mengintip ke dalam rumah Ratna dari celah gordeng jendela yang sedikit terbuka.
Dari balik kaca jendela, Bah Mardi melihat Ratna dan Pak Bahar sedang duduk berdua di ruang tamu, wajah Pak Bahar tampak merah padam seperti sedang marah.
“Pokoknya kalau si Mardi, datang lagi ganggu kamu. Langsung bilang sama Bapak. Kurang ajar tua bangka itu berani-beraninya mau ganggu menantuku.”
Wajah Bah Mardi seketika memucat, dengan perasaan yang tak menentu, dia mundur perlahan setelah itu kabur dengan tergesa-gesa. Tak menduga Ratna menceritakan semua yang terjadi tadi sore pada mertuanya. Bah Mardi sangat tahu siapa Pak Bahar, mantan jawara yang sudah tiga kali masuk penjara kasus penganiRian yang dua diantaranya hingga korban cacat permanen.
Bah Mardi berlari pulang, napasnya tersengal, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia membuka pintu rumah dengan tangan gemetar, lalu langsung menuju kamar. Di sana, Mak Siti sudah terbaring di ranjang, sepertinya sudah tertidur lelap setelah penantian panjang.
Ia melangkah mendekat ranjang, hatinya masih berdegup kencang karena ketakutan. Tanpa sepatah kata, ia merebahkan diri di samping istrinya, lalu menarik tubuh Mak Siti ke dalam pelukannya. Kepalanya menyembunyikan wajah pucatnya di bahu Mak Siti, seolah mencari perlindungan dari ancaman yang membayanginya.
Tubuh Mak Siti yang hangat, dan aroma minyak telon yang samar-samar, sedikit menenangkan gejolak ketakutan dalam dirinya. Ngocoks.com
Mak Siti tersentak, terkejut dengan pelukan mendadak itu. Ia mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan. Tidak biasanya Bah Mardi memeluknya seperti ini, apalagi setelah pergi dengan segala alasan. Ia merasakan tubuh suaminya bergetar dan napasnya yang tidak beraturan.
Ada keanehan yang kuat, tapi di sisi lain, ia juga merasakan kehangatan yang sudah lama hilang. Perlahan, Mak Siti membalikkan tubuh, menghadap suaminya. “Mau malam jumtan ya, Bah?” tanyanya parau.
“Iya, Mak,” balas Bah Mardi pelan.
Bah Mardi berusaha fokus, sekuat tenaga mencoba membangkitkan gairah yang sudah pudar, tapi pikirannya masih terpecah, antara ketakutan akan amarah Pak Bahar dan rasa bersalah yang menggerogoti, juga memenuhi keinginan istrinya untuk mengulang kembali kebersamaan yang sudah lama ia tinggalkan.
Namun, untuk malam ini, ia biarkan alur mengalir, seolah pelukan itu adalah benteng terakhirnya dari badai gosip kampung yang mungkin akan segera menderanya. Sambil menyusun kembali strategi jitu untuk petualangan selanjutnya.
Sementara di rumah Ratna ada pemandangan yang berbeda.
Bersambung…
Cerita ini kurang lebih ada 20 episode, nantikan kelanjutannya yang akan di update hanya di situs Ngocoks.





