Setelah menyeruput kopi yang masih mengepul hangat, Pak Bahar meletakkan cangkirnya di meja kecil, matanya tak lepas dari wajah Ratna yang diterangi cahaya samar televisi. Malam terasa lebih hangat ditemani gemericik angin di luar yang menyertai keheningan yang syahdu.
Ratna menyandarkan punggungnya lebih dekat, bahunya menyentuh lengan mertuanya yang kokoh,
“Kalau Bapak nggak datang lagi malam ini, aku pasti gelisah sendirian,” bisik Ratna pelan, suaranya lembut seperti hembusan angin sawah, tangannya tanpa ragu menyentuh jari-jari mertuaya dan mengusap pelan kulit kasar itu.
Pak Bahar tersenyum tipis, tangannya naik menyentuh pipi Ratna dengan kelembutan yang tak biasa untuk seorang ayah mertua.
“Mana mungkin Bapak biarin kamu sendirian. Bapak selalu mikirin kamu, setiap malam hanya kesempatan saja yang kadang menghalangi,” balasnya, nadanya mendayu, matanya menatap dalam seperti berbagi rahasia lama.
Pak Bahar menarik Ratna lebih dekat, bahu mereka kini benar-benar menempel, dan tangannya melingkar pelan di pinggang wanita itu.
“Mas Badri jauh di sana, tapi Bapak di sini, kan? Biar Bapak yang jagain kamu, seperti biasa.” Suaranya rendah, penuh kehangatan yang membuat jantung Ratna berdetak lebih cepat, meski ini bukan pertama kalinya.
Ratna tertawa kecil, pipinya memerah tipis, tatapannya semakin sayu. Ia memiringkan kepala, menyandarkannya di bahu Pak Bahar, tangannya kini memegang pinggang mertuanya erat.
“Iya, Bapak selalu tahu cara bikin aku tenang. Kalau nggak ada Bapak, rumah ini terasa kosong dan hampa,” katanya genit, suaranya bergetar pelan.
Mereka lantas berbagi pelukan ringan dan bisikan mesra, seperti pasangan yang sudah lama saling mengenal, sampai aroma kopi pudar dan malam semakin pekat, menyembunyikan rahasia mereka dari kampung yang tertidur.
Mata Pak Bahar menatap Ratna lekat, senyum hangatnya semakin lebar. Tangannya naik perlahan, membelai lembut pipi Ratna yang bersandar di bahunya. Jantung Ratna berdegup kencang, sebuah debaran yang penuh hasrat terlarang dalam kehangatan mertuanya. Ia mengangkat wajahnya sedikit, matanya bertemu pandang dengan mata Pak Bahar.
Udara di antara mereka menipis. Bisikan-bisikan mesra yang tadi saling berbalas kini terhenti. Hanya napas mereka yang beradu pelan, semakin cepat. Pak Bahar mencondongkan tubuhnya, gerakannya lambat, penuh makna. Ratna memejamkan mata, memberi isyarat persetujuan yang tak terucap.
“Kamu makin cantik saja, Rat…” desahnya. Perlahan, mulut mereka berpagutan lembut namun sejurus kemudian berubah liar, desahan kenikmatan mulai lolos dari mulut keduanya.
Tangan Pak Bahar meremas dada Ratna dengan penuh nafsu, jari-jarinya yang kasar tapi pengalaman menekan lembut melalui daster tipis, membuat Ratna menggelinjang pelan.
Tangan Ratna membelai penis Pak Bahar yang sudah berdiri tegak di balik kain sarungnya yang sudah hampir terlepas, gerakannya lambat dan menggoda, seolah mengenang kenangan malam-malam sebelumnya yang sempat mereka lewatkan.
Saat itulah Ratna menyadari jika penis mertuanya lebih kecil dari milik Bah Mardi yang sempat ia lihat sekilas tadi sore. Namun baginya punya Pak Bahar sangat mendebarkan dengan segala kemampuannya yang kuat berkali-kali dalam semalam, tak pernah lelah seperti pria muda, selalu tahu cara membuatnya mencapai puncak berulang kali.
“Ratnaaaa menantuku oooh sssst..”
Ratna tersenyum penuh hasrat, matanya yang sayu menatap wajah Pak Bahar yang sudah memerah oleh gairah. Ia perlahan menurunkan tubuhnya, berlutut di depan mertuanya yang duduk di sofa, tangannya dengan lembut menarik kain sarung yang sudah longgar itu.
Penis Pak Bahar terbebas, tegak dan berdenyut, ukurannya memang tak sebesar milik Bah Mardi, tapi vena-veanya yang menonjol dan bentuknya yang kokoh membuat Ratna selalu tergoda. Kulitnya gelap dan kasar, tapi hangat, seperti janji kenikmatan yang tak pernah mengecewakan.
“Oh, Bapak… ini milikku malam ini,” gumam Ratna genit, suaranya bergetar penuh nafsu. Tangannya memegang pangkal penis itu dengan lembut, jari-jarinya melingkar erat, merasakan detak jantung Pak Bahar melalui daging yang mengeras itu.
Ia mulai mengusap pelan dari bawah ke atas, gerakannya lambat dan menggoda, seperti sedang membangunkan binatang buas yang sudah siap menerkam. Pak Bahar mendesah panjang, tangannya menyusup ke rambut Ratna, membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang yang bercampur nafsu.
“Ratnaaaa… menantuku sayang… oooh sssst… ya begitu, Nak… bikin Bapak gila kamu…”
Ratna tak menunggu lama. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, hidungnya menyentuh ujung penis itu, mencium aroma maskulin yang kuat, campuran keringat dan hasrat yang membuatnya semakin basah di antara pahanya.
Bibirnya yang merah dan lembab membuka pelan, lidahnya keluar dulu, menyentuh kepala penis dengan ujungnya yang basah, menjilat lingkaran kecil di sekitar lubang kecil itu. Rasa asin dan hangat segera membanjiri lidahnya, membuatnya mendesah pelan.
“Aaah… Bapak enak sekali,” bisiknya, sebelum mulutnya menelan kepala penis itu perlahan. Bibirnya melingkar erat, menyedot lembut sambil lidahnya berputar-putar di sekitar glans yang sensitif itu. Ia bisa merasakan setiap tonjolan, setiap vena yang berdenyut, dan ia mempercepat gerakan tangannya di pangkal, memompa naik-turun sambil mulutnya naik-turun mengikuti irama.
Pak Bahar menggeliat, pinggulnya sedikit terangkat, mendorong lebih dalam ke mulut Ratna. “Sssst… ya ampun, Rat… mulutmu panas banget… terus… jangan berhenti…” Desahannya semakin kasar, tangannya menekan kepala Ratna lebih dalam, tapi tidak kasar—hanya cukup untuk menunjukkan dominasinya sebagai mertua yang berpengalaman.
Ratna mengikuti, mulutnya kini menelan lebih dalam, hampir setengah panjang penis itu masuk ke rongga mulutnya yang hangat dan basah. Ia menyedot kuat, lidahnya menekan bagian bawah, merangsang urat-urat sensitif di sana. Air liurnya menetes pelan dari sudut bibir, membasahi tangannya yang masih memompa, membuat gerakan semakin licin dan cepat.
Ia sesekali melepaskan, hanya untuk menjilat seluruh batang dari pangkal hingga ujung, lidahnya berputar seperti ular yang menggoda, sebelum menelan lagi dengan lebih rakus.
“Ratnaaaa… oooh… kamu pintar sekali… Bapak nggak tahan lama kalau gini…” Pak Bahar mengerang, matanya terpejam menikmati sensasi itu. Ratna tersenyum dalam hati, tahu betul bagaimana membuat mertuanya mencapai puncak—dan ini baru permulaan malam mereka.
Mereka terus begitu, dengan Ratna yang semakin liar, mulutnya bekerja tanpa henti, hingga desahan Pak Bahar semakin tak terkendali, tubuhnya menegang menandakan klimaks yang mendekat. Malam itu, rahasia mereka semakin dalam, tersembunyi di balik dinding rumah yang sunyi.
Tubuh mereka saling menempel lebih erat di kursi panjang itu, sarung Pak Bahar kini benar-benar melorot, membiarkan tangan Ratna menjelajah bebas. Ngocoks.com
Pak Bahar, dengan napas masih tersengal setelah kenikmatan yang baru saja diberikan Ratna, tersenyum penuh nafsu. Tubuhnya yang kokoh bergerak cepat, mengangkat Ratna dari lututnya dan merebahkannya di sofa dengan lembut tapi tegas.
Matanya menatap tubuh menantunya yang terbuka, daster tipisnya sudah naik hingga pinggang, memperlihatkan paha mulus dan celana dalam hitam yang sudah basah oleh hasrat.
“Oh, Ratna… sekarang giliran Bapak balas budi,” gumamnya dengan suara parau, penuh janji. Tangannya menyusup ke bawah daster, menarik celana dalam itu pelan-pelan, memperlihatkan vagina Ratna yang sudah mengkilap oleh cairan alaminya.
Bulu-bulu halus di sekitarnya membuatnya tampak lebih menggoda, bibir luarnya yang merah muda membengkak oleh gairah, dan klitoris kecil yang menonjol seperti permata yang menunggu disentuh.
Pak Bahar menunduk, wajahnya mendekat ke selangkangan Ratna. Hidungnya menyentuh bulu-bulu itu dulu, mencium aroma manis dan musky yang membuat penisnya kembali mengeras.
“Kamu wangi sekali, Nak… Bapak suka ini,” desahnya, sebelum lidahnya keluar, menyentuh bibir vagina dengan ujungnya yang basah. Ia menjilat pelan dari bawah ke atas, merasakan rasa asin-manis yang membuatnya semakin lapar.
Ratna menggelinjang, tangannya menyusup ke rambut Pak Bahar yang sudah beruban, menekan kepalanya lebih dalam. “Aaaah… Bapak… lidah Bapak… panas banget…” erangnya, pinggulnya terangkat sedikit, mendorong vagina ke mulut mertuanya.
Pak Bahar tak membuang waktu. Mulutnya membuka lebar, menyedot bibir vagina luar dengan lembut, lidahnya berputar-putar di sekitar klitoris yang sensitif itu, menekan dan menjilat bergantian.
Jari-jarinya yang kasar ikut bermain, menyusup ke dalam lipatan, membuka lebih lebar agar lidahnya bisa menyelam lebih dalam. Ia menjilat rongga dalam, lidahnya bergerak seperti ular yang rakus, menyedot cairan yang semakin banjir, membuat suara basah yang menggema di ruangan sunyi.
“Sssst… Ratnaaaa… memek kamu enak sekali… manis seperti madu,” gumamnya di sela-sela, napasnya panas menyapu kulit sensitif itu. Ia sesekali gigit lembut bibir vagina, membuat Ratna mengerang lebih keras, tubuhnya bergetar hebat. Tangannya naik, meremas payudara Ratna melalui daster, jempolnya memutar puting yang sudah mengeras.
Ratna tak bisa menahan, pinggulnya bergoyang mengikuti irama mulut Pak Bahar, desahannya semakin tak terkendali. “Bapak… terus… jangan berhenti… aaaah… aku mau keluar…” Ia merasa puncak mendekat, gelombang kenikmatan yang dibangun oleh lidah mertuanya yang berpengalaman.
Pak Bahar mempercepat, lidahnya fokus pada klitoris, menyedot kuat sambil jarinya menyusup masuk ke dalam vagina, menekan dinding dalam yang sensitif.
Ratna akhirnya meledak, tubuhnya menegang, cairan hangat menyembur ke mulut Pak Bahar yang ia telan dengan rakus. Ia terus menjilat pelan, membersihkan setiap tetes, sampai Ratna lemas di pelukannya.
Malam itu semakin panas, rahasia mereka semakin dalam, dengan Pak Bahar yang tak pernah lelah memuaskan menantunya.
Ratna terbaring lemas di sofa, napasnya masih tersengal-sengal setelah gelombang orgasme yang baru saja menyapunya. Tubuhnya berkeringat tipis, dada naik-turun cepat, dan matanya setengah terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih berdenyut di antara pahanya.
Vagina-nya masih basah dan berdenyut pelan, cairan hangat yang tadi disemburkan ke mulut Pak Bahar kini menetes pelan ke kain sofa yang sudah lembab. Ia tersenyum lemah, tangannya menyentuh wajah mertuanya yang masih menunduk di selangkangannya, membersihkan sisa-sisa dengan lidahnya yang rakus.
“Aaah… Bapak… luar biasa,” gumam Ratna, suaranya parau tapi penuh kepuasan. Pak Bahar mengangkat kepalanya, bibirnya mengkilap oleh cairan Ratna, senyumnya lebar dan penuh nafsu yang belum padam.
Penisnya masih tegak keras, berdenyut-denyut di udara malam yang hangat, menunjukkan bahwa ia belum mencapai puncaknya. Matanya menatap Ratna dengan lapar, seperti singa yang belum kenyang setelah memangsa mangsanya.
“Belum selesai, Nak… Bapak masih pengen lebih,” bisik Pak Bahar, suaranya rendah dan mendayu, tangannya naik membelai perut Ratna yang datar, naik lagi ke payudaranya yang masih mengeras. Ia berdiri pelan, menarik Ratna bangun bersamanya.
Mereka berdua telanjang bulat sekarang, daster Ratna sudah tergeletak di lantai, sarung Pak Bahar entah di mana. Tubuh Pak Bahar yang kokoh, berotot dari kerja keras di sawah, kontras dengan kulit Ratna yang halus dan putih, membuat pemandangan itu semakin erotis di bawah cahaya redup televisi yang masih menyala samar.
Bersambung…




