Mereka berjalan ke meja kecil di samping, di mana gelas air putih sudah disiapkan. Pak Bahar mengambil satu gelas, menyerahkannya ke Ratna dengan tangan yang gemetar sedikit oleh gairah.
“Minum dulu, biar segar lagi,” katanya lembut, matanya tak lepas dari lekuk tubuh menantunya. Ratna tersenyum genit, meminum air itu pelan-pelan, air mengalir ke dagunya dan menetes ke dada-nya, membuat putingnya semakin basah dan mengkilap. Pak Bahar ikut minum, tapi tatapannya tetap pada Ratna, seperti sedang meminum keindahannya.
Setelah gelas kosong, mereka meletakkannya kembali. Pak Bahar menarik Ratna ke pelukannya lagi, tubuh mereka menempel erat, penisnya yang keras menyentuh perut Ratna, membuatnya mendesah pelan. Mulut mereka bertemu dalam ciuman mesra, lidah saling berpilin, rasa air putih bercampur dengan sisa-sisa kenikmatan sebelumnya.
Ciuman itu lambat dulu, penuh kelembutan, tangan Pak Bahar membelai punggung Ratna, turun ke bokongnya yang bulat dan kenyal, meremas pelan. Ratna membalas, tangannya memeluk leher mertuanya, jari-jarinya menyusup ke rambut yang sudah beruban tapi masih tebal.
Ciuman semakin panas, lidah mereka bertarung lebih liar, desahan kecil lolos dari mulut mereka. Pak Bahar menggigit bibir bawah Ratna pelan, membuatnya menggelinjang. “Ratnaaaa… kamu bikin Bapak gila setiap malam,” gumamnya di sela ciuman, napasnya panas menyapu wajah Ratna.
Ia memutar tubuh Ratna pelan, membuatnya membelakangi dirinya, tangannya tetap memeluk dari belakang, satu tangan meremas payudara, yang lain turun ke vagina yang masih sensitif.
Ratna menyandarkan punggungnya ke dada Pak Bahar, merasakan detak jantung mertuanya yang cepat. “Bapak… ambil aku lagi… aku siap,” bisiknya, suaranya bergetar penuh hasrat.
Pak Bahar tersenyum, tangannya membimbing Ratna ke sofa, membuatnya berlutut di depan sandaran sofa, tangan Ratna memegang erat bantal sofa untuk pegangan. Posisi doggy style, di ruang tengah rumah yang sunyi, dengan angin malam yang sesekali menyusup melalui jendela, membuat suasana semakin terlarang dan mendebarkan.
Pak Bahar berdiri di belakangnya, matanya menikmati pemandangan bokong Ratna yang terangkat, vagina-nya yang menganga sedikit, masih basah dan siap.
Ia memegang penisnya yang sudah licin oleh air liur Ratna sebelumnya, menggesekkan ujungnya ke bibir vagina luar, membuat Ratna mengerang pelan. “Sssst… enak ya, Nak? Bapak masuk pelan dulu,” desahnya, sebelum mendorong pelan, kepala penisnya menyusup masuk ke rongga hangat yang ketat itu.
Ratna menggigit bibir, merasakan peregangan yang nikmat, meski ukuran Pak Bahar tak sebesar Bah Mardi, tapi bentuknya yang kokoh dan pengalamannya membuat setiap dorongan terasa sempurna.
“Aaaah… Bapak… dalam sekali…” erangnya, pinggulnya bergoyang pelan mengikuti irama.
Pak Bahar mendorong lebih dalam, tangannya memegang pinggang Ratna erat, mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur dengan ritme lambat dulu, merasakan setiap inci dinding vagina yang memeluk penisnya erat.
Gerakan semakin cepat, suara basah dari gesekan daging mereka menggema di ruangan, bercampur dengan desahan keduanya. Pak Bahar mencondongkan tubuhnya, dada-nya menempel ke punggung Ratna, tangannya naik meremas payudara dari belakang, jari-jarinya memutar puting dengan kasar tapi penuh keahlian.
“Ratnaaaa… oooh… memek kamu ketat banget… bikin Bapak pengen terus…” mengerangnya, napasnya panas di telinga Ratna.
Ratna memegang sofa lebih erat, tubuhnya bergoyang maju-mundur mengikuti dorongan Pak Bahar, setiap hantaman membuat klitoris-nya tergesek, membangun gelombang kenikmatan baru. “Bapak… lebih keras… aaaah… jangan pelan-pelan…” pintanya, suaranya semakin tinggi, keringat menetes dari dahinya.
Pak Bahar mempercepat, pinggulnya menghantam bokong Ratna dengan suara plak-plak yang ritmis, tangannya turun ke klitoris, menggosok pelan sambil terus memompa. Ngocoks.com
Mereka begitu selama beberapa menit, tubuh saling bertabrakan dalam ritme yang semakin liar, desahan mereka semakin tak terkendali. Ratna merasa puncak mendekat lagi, vagina-nya berdenyut erat memeluk penis Pak Bahar.
“Bapak… aku… mau keluar lagi… aaaah!” jeritnya, tubuhnya menegang, gelombang orgasme kedua menyapu dirinya, cairan hangat menyembur membasahi penis mertuanya.
Pak Bahar merasakan itu, pelukan ketat yang membuatnya hampir tak tahan. Ia mengerang keras, dorongannya semakin cepat dan dalam, tangannya memegang pinggang Ratna seperti besi.
“Ratnaaaa… Bapak juga… oooh… sssst… keluar bareng!” erangnya, sebelum tubuhnya menegang, penisnya berdenyut-denyut, menyemburkan sperma hangat ke dalam vagina Ratna, gelombang demi gelombang, membuatnya terasa penuh dan lengket.
Mereka berdua ambruk ke sofa, napas tersengal, tubuh saling peluk dalam keringat dan kenikmatan yang baru padam. Pak Bahar mencium punggung Ratna pelan, tangannya membelai rambutnya. “Kamu luar biasa, Rat… Bapak sayang kamu,” bisiknya, sementara malam semakin pekat, menyembunyikan rahasia mereka yang semakin dalam.
Pak Bahar mengangkat kepala, matanya menatap Ratna dengan kelembutan yang penuh kasih, bibirnya menyentuh pipi wanita itu pelan.
“Ratna, kamu selalu bikin Bapak lupa segalanya. Setiap ngentot menjadi sangat luar biasa,” bisiknya mesra, tangannya melingksr di pinggang Ratna, menariknya lebih dekat seolah tak ingin melepaskan.
Ratna tersenyum, pipinya memerah tipis, jarinya mengusap dagu Pak Bahar yang beruban. “Bapak juga. Aku selalu merasa aman dan… lengkap bersama Bapak. Mas Badri jauh di sana, tapi aku tak pernah kesepian, Bapak selalu ada buat aku dan Ari,” balasnya lembut, suaranya mendayu, penuh keintiman yang sudah jadi kebiasaan mereka.
Ratna diam sejenak, tatapannya melayang ke langit-langit, lalu kembali ke mata Pak Bahar. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, seolah ragu, tapi akhirnya bicara dengan nada pelan.
“Pak… aku mau bilang sesuatu. Sudah satu bulan ini… aku telat. Haidku nggak datang-datang.” Kata-katanya menggantung di udara, tapi bukan ketakutan yang terdengar, melainkan harap yang tersembunyi.
Mata Pak Bahar membulat, lalu senyum lebar menghiasi wajahnya yang keriput. Ia tertawa kecil, bahagia yang tulus, tangannya naik memeluk wajah Ratna erat.
“Benarkah, Sayang? Alhamdulillah… itu pasti anak kita! Bapak senang sekali, sudah lama Bapak pengen punya cucu lagi, tapi kalau ini… ini spesial,” katanya gembira, suaranya bergetar karena emosi, mencium kening Ratna berulang kali.
Ratna ikut tersenyum, air mata bahagia menetes di sudut matanya, merasa lebih dekat dari sebelumnya dengan mertuanya yang kini seperti pasangan sesungguhnya.
Pak Bahar memeluk Ratna lebih erat, tubuh mereka masih saling menempel dalam kehangatan sisa kenikmatan sebelumnya. Keringat mereka bercampur, aroma tubuh yang akrab membuat malam terasa lebih intim. Ia mencium kening Ratna lagi, tangannya turun pelan membelai perutnya yang masih datar, seolah sudah bisa merasakan kehidupan baru di sana.
“Kita harus hati-hati sekarang, Sayang. Bapak nggak mau apa-apa terjadi sama kamu atau bayi kita,” bisiknya lembut, suaranya penuh kepedulian yang tulus, matahya penuh kasih sayang yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain.
Ratna mengangguk, tersenyum manja, tangannya memegang tangan Pak Bahar di perutnya. “Iya, Pak… aku juga senang. Tapi… aku masih pengen Bapak lagi malam ini. Cuma… pelan-pelan aja, ya?” katanya genit, suaranya bergetar pelan, hasrat yang masih membara meski tubuhnya lelah.
Ratna memiringkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke dada mertuanya, merasakan penis Pak Bahar yang mulai mengeras lagi menyentuh bokongnya. Udara di ruang tengah terasa lebih hangat, cahaya televisi yang samar menyinari kulit mereka yang telanjang, membuat bayangan erotis menari di dinding.
Pak Bahar tersenyum, tangannya naik membelai payudara Ratna dengan sangat lembut, jari-jarinya menyentuh puting yang sensitif tanpa menekan terlalu keras. “Baiklah, Nak… Bapak akan lembut banget. Kita lakuin yang nyaman buat kamu,” gumamnya, napasnya panas di leher Ratna.
Pak Bahar mencium telinga menantunya pelan, lidahnya menyentuh cuping telinga dengan ringan, membuat Ratna menggelinjang kecil. Tangannya turun lagi, menyusup ke antara paha Ratna, jari tengahnya menyentuh bibir vagina luar dengan kelembutan seperti menyentuh bunga yang rapuh, menggosok pelan di klitoris yang masih basah oleh sisa orgasme sebelumnya.
“Aaah… Pak… enak sekali…” desah Ratna, matanya terpejam, tubuhnya rileks dalam pelukan mertuanya.
Ia membuka pahanya sedikit lebih lebar, memberi ruang bagi jari Pak Bahar untuk menjelajah. Jari itu menyusup masuk pelan ke rongga vagina yang hangat dan licin, bergerak maju-mundur dengan ritme lambat, seperti sedang membuai.
Ratna merasakan setiap sentuhan, dinding vaginanya berdenyut pelan merespons, tapi tanpa rasa sakit—hanya kenikmatan yang membangun perlahan seperti ombak kecil di pantai.
Pak Bahar menarik jarinya pelan, lalu membalikkan tubuh Ratna menghadapnya, membuatnya duduk di pangkuannya di sofa. Penisnya yang sudah tegak lagi menyentuh perut Ratna, tapi ia tak buru-buru. Mulut mereka bertemu dalam ciuman lembut, lidah saling berpilin tanpa tergesa, rasa manis sisa air putih bercampur dengan napas mereka yang semakin cepat.
Tangannya memeluk punggung Ratna, membelai tulang belakangnya dari atas ke bawah, sementara Ratna membalas dengan tangannya yang memegang leher Pak Bahar, jari-jarinya bermain di rambutnya.
“Sekarang, Sayang… naik pelan aja,” bisik Pak Bahar, tangannya memandu pinggul Ratna naik sedikit. Ratna mengangguk, tangannya memegang penis mertuanya yang kokoh, mengarahkan ujungnya ke bibir vagina-nya. Ia turun pelan, merasakan peregangan yang nikmat tapi terkendali, penis itu masuk setengah dulu, membuatnya mendesah panjang.
“Ooooh… Pak… penuh sekali.. memek aku.” gumamnya, matanya bertemu mata Pak Bahar, penuh keintiman.
Pak Bahar memegang pinggang Ratna dengan kedua tangan, membantunya naik-turun dengan gerakan lambat dan ritmis, seperti sedang menari pelan.
Setiap dorongan ke atas, penisnya menyentuh dinding dalam yang sensitif, tapi tak dalam-dalam seperti sebelumnya—hanya cukup untuk membangun kenikmatan tanpa membebani tubuh Ratna yang sekarang lebih rapuh.
Ratna menggoyang pinggulnya melingkar pelan, merasakan gesekan di klitorisnya, membuat gelombang hangat menyebar ke seluruh tubuhnya. “Ya… begini… lembut banget, Pak… aku suka…” erangnya, tangannya naik meremas bahu mertuanya, kuku-kukunya menekan pelan tanpa melukai.
Mereka terus begitu, gerakan yang sinkron dan penuh kelembutan, desahan mereka seperti lagu malam yang syahdu. Pak Bahar sesekali mencium payudara Ratna, lidahnya menyentuh puting dengan ringan, menyedot pelan seperti bayi yang haus, membuat Ratna semakin basah.
Tangannya turun lagi, jempolnya menggosok klitoris Ratna dengan lingkaran kecil, mempercepat sedikit tapi tetap terkendali.
“Ratnaaaa… kamu makin enak sekarang… bayi kita pasti senang liat kita begini,” gumamnya genit, suaranya bergetar oleh hasrat yang dibendung.
Ratna tertawa kecil di sela desahan, tubuhnya mulai bergetar, tanda puncak mendekat. “Pak… aku… hampir… aaaah…” pintanya, gerakannya naik-turun semakin cepat tapi masih lembut, vagina-nya berdenyut erat memeluk penis Pak Bahar.
Pak Bahar merasakan itu, pinggulnya terangkat pelan untuk bertemu gerakan Ratna, tangannya memeluk erat. “Bareng ya, Sayang… Bapak juga mau…” desahnya, napasnya semakin tersengal.
Akhirnya, Ratna mencapai puncak dulu, tubuhnya menegang pelan, gelombang orgasme yang lembut menyapu dirinya seperti angin sepoi, cairan hangat membasahi penis mertuanya tanpa semburan liar seperti sebelumnya. “Aaaah… Pak… enak sekali…” erangnya, matanya berkaca-kaca oleh kenikmatan.
Pak Bahar mengikuti segera, penisnya berdenyut-denyut, menyemburkan sperma hangat ke dalam dengan dorongan pelan, gelombang demi gelombang yang membuat Ratna terasa lebih penuh dan aman.
Mereka berpelukan lagi, napas saling beradu, tubuh lemas dalam kepuasan yang mendalam. Pak Bahar mencium bibir Ratna pelan, tangannya kembali membelai perutnya.
“Istirahat dulu, Nak… besok pagi Bapak bikinin sarapan spesial buat kamu dan bayi kita,” bisiknya, sementara malam semakin larut, angin di luar menyanyi pelan, menyembunyikan rahasia bahagia mereka di rumah yang sunyi.
‘Aku masih penasaran dengan terong Pak Darsa. Benarkah paling besar, laing panjang dan palinf perkasa? Duuh, gimana ya rasanya punya beliau?’ batin Ratna.
Bersambung…




