Pagi itu di warung Pak Rosid, suasana ramai seperti biasa. Para pembeli datang silih berganti, membeli kebutuhan harian dari beras hingga sabun mandi. Pak Rosid, pria berusia sekitar 50 tahun dengan perut sedikit buncit tapi wajah ramah yang selalu tersenyum, sibuk melayani pembeli.
Warungnya adalah pusat informasi kampung, tempat gosip mengalir seperti air irigasi. Tapi hari ini, di balik keramaian itu, ada sesuatu yang berbeda. Saat pelanggan terakhir membayar dan pergi, Pak Rosid melirik jam dinding, sudah hampir jam 10 pagi, waktu yang ia tahu akan datang.
Tak lama kemudian, Eva muncul di pintu belakang warung, membawa tas belanja kecil sebagai kedok.
“Pagi, Pak Rosid. Saya mau beli sabun sama minyak goreng,” katanya santai, tapi matanya bertemu dengan Pak Rosid penuh arti, senyumnya sedikit genit saat ia mendekat ke etalase.
Pak Rosid tersenyum lebar, tangannya menyodorkan barang-barang itu sambil melirik ke sekitar memastikan tak ada yang memperhatikan.
“Wah, Bu Ustadzah pagi-pagi sudah mampir. Pak Ustadz lagi kemana ya? Duduk dulu, saya ambilkan stok yang bagus dari belakang,” ajaknya ramah, tapi nada suaranya lebih hangat dari biasa.
Eva mengangguk, mengikuti Pak Rosid ke ruang kecil di belakang, di mana tumpukan karung beras dan rak barang tersusun rapi. Pintu setengah tertutup, memberi privasi sementara dari hiruk-pikuk depan.
Di sana, kedekatan mereka mulai terlihat. Pak Rosid berdiri dekat Eva, tangannya menyentuh lengan wanita itu pelan saat membantu mengangkat tas.
“Kamu cantik sekali hari ini, Bu Ustadzah. Rambutnya wangi, pasti baru keramas,” pujinya lembut, matanya menelusuri wajah Eva yang kini memerah tipis.
Eva tertawa kecil, tak menarik diri. “Ih, Pak Rosid ini. Saya cuma mampir biasa kok. Suami lagi sibuk di sekolah.” Suaranya pelan, tapi ada nada menggoda di sana, tangannya sesekali menyentuh tangan Pak Rosid saat mengambil barang.
Mereka berdiri begitu dekat, obrolan ringan tentang harga sembako bercampur pujian halus. Pak Rosid melangkah lebih maju, bahunya hampir menyentuh Eva, dan wanita itu tak mundur. Udara di ruang sempit itu terasa lebih hangat, rahasia kecil mereka menggantung di antara tumpukan barang, menunggu momen yang lebih berani.
Pak Rosid meletakkan tas belanja Eva di rak, tapi tangannya sengaja berlama-lama menyentuh punggung tangan wanita itu, sebuah sentuhan ringan yang sudah jadi kode rahasia di antara mereka.
“Bu Ustadzah, kamu tahu nggak, tiap pagi saya nungguin ibu mampir. Warung ini sepi kalau nggak ada senyum ibu,” katanya pelan, suaranya mendayu seperti orang yang sudah lama saling mengenal, matanya menatap Eva dengan tatapan yang penuh arti, tak lagi seperti pemilik warung biasa.
Eva tersipu, pipinya memerah tipis, ia memiringkan tubuh sedikit, bahunya menyentuh dada Pak Rosid yang sedikit bidang.
“Ih, Pak Rosid ini manis banget bicaranya. Saya juga suka mampir ke sini, loh, karena di rumah sepi, suami sibuk dengan penyakitnya… saya juga kan butuh obrolan ringan kaya gini,” balasnya genit, tangannya naik menyentuh lengan Pak Rosid pelan, jari-jarinya mengusap kain kemeja pria itu seperti sedang menggoda.
Pak Rosid tertawa kecil, tangannya kini berani melingkar di pinggang Eva, menariknya sedikit lebih dekat. “Kapan-kapan, kalau nggak ada pelanggan, kita ngobrol lebih lama lagi, ya?
Saya punya cerita seru yang cuma buat Bu Ustadzah,” bisiknya, napasnya hangat di telinga Eva, membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya, hatinya berdebar antara rasa bersalah dan kegembiraan terlarang.
Tiba-tiba dari depan warung, terdengar suara langkah kaki mendekat dan suara pelanggan yang akrab. Ustadz Asep,9uru ngaji, yang kebetulan mampir untuk membeli rokok entah mau kemana. Ustadz Asep adiknya Ustadz Kholil, suaminya Eva.
“Pak Rosid! Ada orang nggak? Saya mau beli rokok dua bungkus!” serunya lantang, suaranya jelas terdengar.
Eva tersentak, wajahnya memucat seketika, tangannya buru-buru menarik diri dari pelukan Pak Rosid. Pak Rosid juga kaget, tapi cepat mengatur ekspresi ramahnya, melirik Eva dengan isyarat “tenang” sebelum bergegas keluar.
“Sabar, Pak Ustadz. Sebentar, saya ambil stoknya!” balasnya, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang.
Eva buru-buru merapikan tasnya, bersembunyi di balik rak barang, berharap suaminya tak tahu dengan keberadaannya.
Ustadz Asep kembali pergi dengan langkah terburu-buru. Ia tak menyadari bahwa kakak iparnya baru saja lolos dari situasi yang nyaris membongkar rahasia.
Setelah dipastikan aman, Eva keluar dari ruang belakang, berjalan melewati etalse dengan wajah sok santai. Ia mengambil belanjaannya yang sudah dibungkus Pak Rosid, lalu berpamitan.
Namun, sebelum benar-benar meninggalkan warung, ia menoleh sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Pak Rosid yang pura-pura sibuk menata barang.
“Nanti malam, saya sendirian di rumah,” bisiknya pelan, tatapan matanya penuh janji dan godaan.
Pak Rosid tertegun, jantungnya berdesir hebat mendengar bisikan itu. Kata-kata Eva seolah mantra yang mengundang, memunculkan bayangan-bayangan nakal di benaknya. Antara ingin menahannya, menariknya kembali ke ruang belakang dan melanjutkan apa yang tertunda, tapi terlanjur datang lagi pembeli lain yang masuk ke warungnya.
Seorang ibu-ibu dengan keranjang belanjaan di tangan, siap dilayani. Pak Rosid menghela napas tertahan, memaksakan senyum ramahnya, sementara Eva tersenyum simpul, menikmati efek dari bisikannya, lalu bergegas pergi. Pikirannya kini dipenuhi oleh janji manis yang baru saja ia terima.
Eva berjalan pelan meninggalkan warung Pak Rosid, tas belanjaannya digantungkan di lengan, langkahnya ringan seperti tak ada beban. Angin pagi masih sejuk, membawa aroma tanah basah dari sawah di pinggir jalan kampung.
Wajahnya masih memerah tipis dari kegembiraan rahasia tadi, bibirnya tersenyum sendiri mengingat bisikan yang baru saja ia lontarkan.
“Nanti malam,” gumamnya dalam hati, imajinasi liar mulai berputar di benaknya. Tapi ia tahu, kampung Cikupa ini penuh mata dan telinga—ia harus hati-hati.
Jalan pulangnya melewati rumah besar Pak Darsa, yang berdiri megah di tepi jalan utama dengan halaman luas penuh pohon mangga dan bunga-bunga rapi. Ngocoks.com
Pak Darsa sedang duduk di teras, seperti biasa pagi itu, membaca koran sambil menyeruput kopi hitam panas. Usianya yang 65 tahun tak membuatnya terlihat lemah; tubuhnya masih tegap, rambut putihnya tersisir rapi, dan sorot matanya tajam seperti orang yang banyak pengalaman.
Ia mendengar langkah kaki mendekat, lalu menoleh, dan hatinya langsung berdegup sedikit lebih cepat saat melihat Eva.
“Eh, Bu Ustadzah Eva. Pagi-pagi sudah belanja ya?” sapa Pak Darsa ramah, tapi suaranya sedikit tergagap, matanya tak bisa menahan untuk melirik sekilas pada sosok Eva yang berjalan mendekat. Gamisnya yang panjang dan rapi tak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang masih kencang, dan senyumnya pagi itu terlihat lebih cerah dari biasanya.
Eva berhenti di depan pagar rumah Pak Darsa, tangannya menyandarkan tas belanjaan ke pagar kayu sambil mencondongkan badan sedikit, membuat kerudungnya sedikit bergeser memperlihatkan leher putihnya yang halus.
“Pagi, Pak Darsa. Iya nih, mampir ke warung Pak Rosid sebentar. Panas ya hari ini, Pak? Saya sampai keringatan,” katanya manja, tangannya mengipas wajahnya pelan, tapi gerakannya sengaja lambat, seolah mengundang mata Pak Darsa untuk mengikuti.
Pak Darsa menelan ludah, merasa udara tiba-tiba lebih panas. Ia tahu gosip kampung tentang Eva—mantan penyanyi dangdut yang kini jadi istri Ustadz Kholil—tapi tak pernah ia bayangkan akan merasakannya sendiri.
“Ah, iya Bu Ustadzah. Musim sekarang ini memang gini. Duduk dulu di teras, minum teh atau apa. Sendirian aja?” tawarnya, berdiri setengah gugup, tangannya menyeka keringat di dahinya yang sebenarnya belum ada.
Eva tertawa kecil, suaranya seperti nada lagu yang menggoda, tangannya menyentuh pagar lebih erat, tubuhnya condong lagi sedikit lebih maju.
“Wah, baik sekali Pak Darsa. Saya sebentar aja kok, takut suami nunggu. Tapi… Pak Darsa ini kelihatan segar banget pagi ini. Rahasianya apa sih, biar tetap bugar gitu? Sawahnya luas, pasti capek ngurusnya sendirian.”
Matanya menatap Pak Darsa dari atas ke bawah, senyumnya miring, jari-jarinya bermain-main di pegangan tas, seperti kode halus yang tak bisa diabaikan.
Pak Darsa merasa pipinya memanas, jantungnya berdegup tak karuan. Ia yang biasa tenang dan bijaksana, kini kelabakan seperti anak muda.
“Ah, Bu Ustadzah ini bisa aja. Rahasia? Ya olahraga pagi, makan sehat. Tapi kalau Bu Ustadzah yang nanya, rasanya saya tambah semangat aja.” Ia tertawa gugup, tangannya menggaruk kepala, mata berusaha menatap ke koran tapi malah kembali ke wajah Eva. Dalam hati, ia bergumam,
“Ini perempuan, halus banget caranya. Gosip kampung beneran nih.”
Eva tersenyum lebar, puas melihat efeknya. “Kalau gitu, kapan-kapan saya mampir lagi ya, Pak. Minta tips bugarnya.
Saya pulang dulu, takut gosip lagi.” Ia melambai tangan pelan, langkahnya berbalik, tapi sebelum benar-benar pergi, ia menoleh lagi dengan tatapan yang penuh janji, membuat Pak Darsa berdiri mematung di teras, kopinya terlupakan.
Sepanjang pagi itu, Pak Darsa duduk kembali, tapi pikirannya tak lagi di koran.
“Luar biasa, bandot tua macam aku, masih bisa digoda gini,” gumamnya sambil tersenyum tipis, antara geli dan tergoda. Di Cikupa, gosip memang tak pernah berhenti—dan sekarang, mungkin namanya akan ikut terseret ke sungai cerita yang mengalir deras.
Eva berjalan menyusuri jalan setapak pulang ke rumah, tas belanjaannya bergoyang ringan mengikuti irama langkahnya yang santai.
Senyumnya tak pudar, malah semakin lebar saat angin pagi menyapu wajahnya, membawa aroma bunga kamboja dari kebun-kebun tetangga. Dalam hati, ia senyum-senyum sendiri, mengingat “petualangan” kecilnya selama beberapa bulan di Cikupa.
Kampung ini, yang awalnya terasa asing dan kaku baginya sebagai mantan penyanyi dangdut, kini seperti panggung baru, penuh rahasia dan godaan yang ia pelajari dengan cepat.
Ia sudah banyak menyerap info dari gosip yang mengalir deras seperti sungai Cikupa itu. Para lelaki “bandot” di sini, yang katanya sudah tua tapi hasratnya masih menyala, tak luput dari radarnya.
Istilah ‘Makin Tua Makin Nikmat’ memang bukan isapan jempol semata. Semua bisa ia buktikan sendiri, dalam pertemuan-pertemuan rahasia yang halus, seperti bisikan angin malam.
Mulai dari yang sangat loyo, seperti Ustadz Kholil suaminya sendiri, yang umurnya sudah membuatnya lebih mirip cucu daripada pasangan, sampai yang masih membara seperti Bah Mardi, dengan “galak dalemnya” yang bisa ngegas sampai pagi. Pak Bahar, tetangga sawah yang suka pura-pura polos tapi tangannya lincah saat “bantu-bantu” di dapur.
Bahkan Ustadz Asep, adik suaminya, yang tadi pagi nyaris memergokinya di warung Pak Rosid, suaranya tegas saat mengajar ngaji, tapi di balik mushola, ia bisa lembut seperti madu yang menetes pelan. “Berbagai rasa sudah kuecap,” gumam Eva dalam hati, tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangan.
Rasanya seperti mencicipi menu di pesta, ada yang hambar, ada yang pedas membara, semuanya membuat hari-harinya di kampung ini tak lagi membosankan.
Tapi di antara semua itu, cerita tentang Pak Darsa yang paling membuatnya penasaran. Duda istiqomah, setia pada almarhumah istrinya selama lima tahun, tak pernah tergoda meski banyak janda yang mendekat
Bersambung…




