Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Hijab»Kakek Tua

Kakek Tua

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Gosip di sungai bilang “terongnya Pak Darsa super jumbo,” panjang dan gede seperti black mamba, masih perkasa meski usia sudah 65. Tapi ia tak pernah memamerkannya, malah hidup tenang dengan sawah luas, bisnis pertanian, dan sikap bijaksana yang membuat semua warga hormat.

“Kenapa Pak Darsa sangat beda?” pikir Eva, langkahnya melambat saat melewati rumah Pak Darsa lagi, meski sebenarnya ia bisa ambil jalan lain, tapi sengaja lewat sini.

Tadi pagi, saat berhenti sebentar, ia lihat bagaimana Pak Darsa kelabakan, matanya yang tajam jadi gugup, tangannya menggaruk kepala seperti anak kecil. Itu membuatnya semakin penasaran. Bukan cuma soal “terong super jumbo” yang digosipkan emak-emak kampung di warung, tapi soal pria yang bisa menahan diri, tak seperti bandot-bandot lain yang mudah digoda.

“Apa dia beneran setia, atau cuma nunggu yang pas?” gumamnya, senyumnya miring sambil membayangkan bagaimana rasanya “mencicipi” yang satu itu.

Di rumah, Eva meletakkan tas belanjaan di dapur, lalu duduk di kursi kayu sambil menatap ke luar jendela. Ustadz Kholil masih di pengajian kampung sebelah, mengajar anak-anak pesantren dengan suaranya yang pelan karena sakit pinggang yang semakin sering kambuh.

Ia tahu, malam ini suaminya mungkin lagi-lagi tak bisa “berdaya,” seperti selama ini. Tapi itu justru memberinya ruang—ruang untuk penasaran yang semakin membesar terhadap Pak Darsa.

Sore itu, Eva memutuskan untuk “kebetulan” lewat sawah Pak Darsa. Ia pakai gamis longgar tapi pas di badan, kerudung rapi tapi rambutnya sedikit terurai di tepi, aroma parfum manis yang bisa bikin orang ingat lama.

Sawah hijau bergoyang, angin sore sejuk, dan di pematang, Pak Darsa sedang mengawasi buruh panen, tubuh tegapnya basah keringat di bawah matahari senja.

“Assalamualaikum, Pak Darsa. Lagi sibuk ya?” sapa Eva dari kejauhan, langkahnya mendekat pelan, senyumnya lembut tapi mata berbinar. Ngocoks.com

Pak Darsa menoleh, terkejut tapi cepat menyembunyikannya dengan senyum ramah. “Waalaikumsalam, Bu Ustadzah. Iya nih, cek panen sebentar. Mau lewat mana? Hati-hati licin jalannya.”

Eva berhenti di dekatnya, tangannya menyentuh tangkai padi pelan, tubuhnya condong sedikit ke arah Pak Darsa.

“Saya lagi jalan-jalan aja, Pak. Capek di rumah sendirian. Sawah Pak Darsa luas banget, pasti enak kalau punya teman ngobrol di sini.” Suaranya manja, seperti nada akhir lagu dangdut yang ditahan, tangannya “tak sengaja” menyentuh lengan Pak Darsa saat menunjuk ke hamparan hijau.

Pak Darsa merasa jantungnya berdegup lagi, seperti pagi tadi. Ia mundur sedikit, tapi mata tak bisa lepas dari wajah Eva. “Ah, Bu Ustadzah ini. Saya mah biasa sendiri. Tapi kalau mau istirahat, duduk dulu di pondok sana. Saya punya air kelapa segar.”

Eva tertawa kecil, mendekat lagi. “Wah, baik sekali. Tapi jangan bilang-bilang ya, Pak. Nanti gosip lagi di kampung.” Matanya menatap tajam, penuh penasaran—dan godaan. Dalam hati, ia berpikir, “Ayo, duda istiqomah, tunjukin kalau gosip itu bener.”

Pak Darsa menelan ludah, tangannya memegang cangkul lebih erat. “Gosip mah biasa di Cikupa, Bu. Tapi saya… saya setia sama yang sudah ada.” Tapi suaranya ragu, dan Eva tahu, api penasaran itu sudah mulai menyala di keduanya.

Eva mengikuti ajakan Pak Darsa menuju pondok kecil di pinggir sawah, tempat biasa buruh istirahat. Pondok itu sederhana, atap daun kelapa kering, dinding bambu, dengan bangku panjang dan meja kayu usang.

Angin siang menuju senja semakin sejuk, membawa aroma padi yang hampir matang, sementara matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit jingga. Buruh-buruh sudah pulang lebih dulu, meninggalkan sawah sepi, hanya suara burung pipit dan gemericik air irigasi yang menemani.

Pak Darsa membuka termos air kelapa yang ia simpan di sana, menuangkannya ke dua gelas bambu. “Ini segar, Bu Ustadzah. Minum dulu, biar adem,” katanya ramah, duduk di bangku seberang, menjaga jarak aman.

Tapi Eva duduk lebih dekat, di ujung bangku yang sama, tubuhnya condong sedikit, kerudungnya sedikit bergeser lagi, memperlihatkan rambut hitamnya yang bergelombang.

“Terima kasih, Pak,” jawab Eva pelan, mengambil gelas itu dengan tangan gemetar sedikit—bukan karena dingin, tapi sengaja untuk memancing perhatian. Ia menyeruput pelan, lalu tiba-tiba wajahnya berubah. Senyum genitnya lenyap, diganti ekspresi pilu dan sedih, matanya memandang ke hamparan sawah seolah membawa beban dunia.

“Pak Darsa… sebenarnya saya lagi capek banget hari ini. Kayak ada yang mengganjal di hati.”

Pak Darsa mengerutkan kening, tangannya memegang gelas lebih erat. Ia bisa lihat perubahan itu, dan dalam hati mulai waspada. “Ada apa, Bu? Kalau mau cerita, silakan. Saya mah pendengar aja. Tapi kalau urusan rumah tangga, mungkin lebih baik sama suami atau keluarga.”

Eva menggeleng pelan, air matanya mulai menggenang—bukan air mata palsu, tapi campuran antara akting lama dari panggung dangdut dan rasa kesepian yang memang ada.

“Suami saya… Ustadz Kholil, dia baik, Pak. Nafkah lahir nggak pernah kurang. Rumah nyaman, makan enak, anak-anaknya juga hormat sama saya. Tapi… nafkah batin? Saya nggak tahu kalau dia sudah… loyo gitu. Umurnya kan beda jauh, saya pikir awalnya biasa aja, tapi ternyata…” Suaranya terputus, ia menunduk, tangannya memainkan ujung gamisnya, seperti gadis yang kebingungan.

Pak Darsa menelan ludah, merasa tidak nyaman. Ia tahu gosip kampung, tapi mendengar langsung seperti ini bikin dadanya sesak.

“Bu Ustadzah, itu urusan pribadi. Saya nggak pantas ikut campur. Mungkin bisa dibicarain baik-baik sama suami, atau minta nasihat kiai lain.”

Tapi Eva tak berhenti. Ia angkat wajah, matanya basah, suaranya semakin lirih, seperti bisikan rahasia. “Saya terpaksa nikah sama lelaki tua kayak gini, Pak. Dulu hidup saya beda, bebas, nyanyi-nyanyi, banyak yang naksir. Tapi sekarang? Saya merasa kayak burung di sangkar emas.”

Pak Darsa kembali menelan ludah.

“Kadang pengen kabur aja, cari pelarian yang bisa bikin hati senang lagi. Tapi takut dosa, Pak. Dosa besar kalau selingkuh atau tinggalin suami. Saya kan sekarang dipanggilnya saja ustadzah, orang kampung ngeliatin terus.

Tapi malam-malam sendirian, rasanya… hampa.” lanjutnya, tangannya “tak sengaja” menyentuh lutut Pak Darsa saat ia condong lebih dekat, aroma parfumnya menyeruak, manis dan menggoda.

Pak Darsa merasa panas dingin. Jantungnya berdegup kencang, bayangan-bayangan tak pantas mulai muncul di benaknya, yang selama ini ia kubur dalam-dalam demi setia pada almarhumah istrinya. Tangannya gemetar ingin menarik diri, tapi ia paksa tetap diam.

“Bu Ustadzah, jangan gitu. Saya paham susahnya, tapi hidup ini ujian. Saya sendiri lima tahun menduda, nggak pernah mikir yang macam-macam. Setia itu pilihan, bukan paksaan. Kalau Bu Ustadzah butuh nasihat, saya saranin sholat malam, minta petunjuk Gusti Allah. Jangan cari pelarian yang bisa bikin rusak semuanya.”

Eva tersenyum tipis di balik air mata, puas melihat Pak Darsa kelabakan meski berusaha kuat. Ia tahu, api itu sudah menyala pelan.

“Pak Darsa bijaksana banget. Makanya saya suka cerita sama Bapak. Mungkin besok saya mampir lagi, ya? Siapa tahu ada cara lain buat hilangin hampa ini.” Ia bangun pelan, menyentuh bahu Pak Darsa sekilas sebelum berbalik, langkahnya ringan meninggalkan pondok.

Pak Darsa duduk mematung, napasnya tersengal. “Ya Allah, jaga hati hamba,” gumamnya pelan, tangannya memegang dada. Sore mulai gelap, angin membawa bau tanah basah, tapi di hatinya, badai mulai bergolak. Di Cikupa, cerita seperti ini tak pernah berhenti di situ—besok, mungkin gosip baru akan mengalir lagi, lebih deras dari sebelumnya.

Ketika Eva sudah menghilang di balik pepohonan pinggir sawah, siluetnya lenyap ditelan senja yang mulai turun, Pak Darsa menghela napas panjang. Hatinya masih berdegup tak karuan, campur aduk antara lega dan gelisah.

“Ya Allah, ujian apa lagi ini,” gumamnya pelan, berdiri dari bangku pondok sambil menepuk-nepuk celananya yang berdebu. Ia ambil cangkul dan capingnya, berniat pulang ke rumah besarnya yang tak jauh dari sana. Langit jingga mulai memudar, angin sore membawa dingin tipis, dan suara jangkrik mulai bernyanyi pelan.

Tapi sebelum langkahnya benar-benar bergerak, matanya sedikit menyipit melihat sesosok perempuan di kejauhan. Itu Nisya, istri anak bungsunya Ustadz Kholil—perempuan muda berusia sekitar 23 tahun, cantik dengan kulit sawo matang dan langkah yang biasanya tenang seperti orang pesantren.

Tapi sore ini beda; ia tergesa-gesa, gamisnya berkibar cepat, kepala menunduk seolah menghindari tatapan orang, menuju ke arah hutan kecil di belakang sawah yang jarang dilewati orang.

“Ada apa Neng Nisya sore-sore ke hutan begini?” gumam Pak Darsa dalam hati, alisnya berkerut.

Hutan itu bukan tempat biasa untuk perempuan sendirian, apalagi menjelang magrib, penuh semak belukar, kadang ada ular atau binatang liar, dan gosip lama bilang itu tempat rahasia bagi yang ingin “sembunyi”.

Pak Darsa mundur sedikit ke balik pondok, tak ingin kelihatan, tapi rasa penasaran membuatnya tak bisa berpaling. Nisya berhenti sebentar di pinggir hutan, melirik kiri-kanan seperti memastikan tak ada yang melihat, lalu menyusup masuk ke dalam pepohonan.

“Anaknya Ustadz Kholil lagi sakit apa ya? Atau ada urusan mendadak?” pikir Pak Darsa, tapi instingnya bilang ada yang tak beres. Ia ingat gosip samar di warung kopi beberapa minggu lalu, tentang Nisya yang sering “keluar malam” sendirian, katanya cari obat untuk suaminya yang lemah, tapi mata kampung melihat lebih dari itu.

Tak lama kemudian, Pak Darsa kembali dikejutkan dengan seseorang yang sepertinya menyusul Nisya. Sosok itu muncul dari arah jalan setapak kampung, langkahnya cepat tapi hati-hati, jubah putihnya berkibar pelan. Itu Ustadz Asep, adik Ustadz Kholil, pria berusia 50-an dengan jenggot rapi dan suara tegas saat khotbah.

Ia melirik sekitar, lalu ikut menyusup ke hutan yang sama, tepat ke arah Nisya menghilang. Mereka memang paman dan keponakan ipar, Ustadz Asep paman suami Nisya, tapi ada sesuatu yang mencurigakan.

Kenapa sore-sore begini?

Kenapa tak bicara di rumah?

Pak Darsa merasa jantungnya berdegup lagi, ingat bisik-bisik di pos ronda: Ustadz Asep yang “lembut” pada menantu kakaknya, sering “bantu” urusan rumah tangga saat kakaknya sakit. “Jangan-jangan…” gumam Pak Darsa, tapi ia cepat gelengkan kepala, tak mau buruk sangka.

Dari balik pondok, Pak Darsa mengamati pelan. Tak ada suara, hanya daun bergoyang dan angin yang semakin dingin. Rasa penasarannya mulai tumbuh.

Pak Darsa tak berani mendekat lebih jauh, takut ketahuan dan bikin ribut. Namun rasa penasarannya tak bisa lagi di tahan. Akhirnya dia mengendap-endap mencari keberadaan mereka.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Bersambung Cantik Hijab Ibu Muda Istri Orang Kenangan Kenikmatan Mesum Ngentot Selingkuh Tergila Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleTabir Cinta 2 Dunia
Next Article Anak Tiri
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.5

    Dinda Alaina Putri

    9.5

    Dark Soul

    9.5

    Office Cutie

    9.3

    Arabian Madness

    9.3

    Pussycat’s Blackman Island

    9.5

    Birahi di Pesantren

    Follow Facebook

    Recent Post

    Sang Pewaris

    Dinda Alaina Putri

    Dark Soul

    Office Cutie

    Arabian Madness

    Pussycat’s Blackman Island

    Birahi di Pesantren

    Anak Tiri

    Kakek Tua

    Tabir Cinta 2 Dunia

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2026 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.