Bima tidak tahu harus bereaksi apa
Di satu sisi dia merasakan kenikmatan yang tidak dia alami sebelumnya. Kontolnya dikulum kakeknya sendiri. Mbah Sinyo memejamkan mata dan menjilati setiap jengkal kontolnya.
Selangkangannya basah karena ludah Mbah Sinyo. Jembutnya diciumi Mbah Sinyo. Dan dia terus-terusan berkata, “Aduh putuku wis gede (Aduh cucuku sudah besar),” sambil kemudian menjilati kepala kontol Bima.
Sebelum Bima bereaksi kemudian Mbah Sinyo menjilati biji kontol Bima dan Bima merasakan kenikmatan yang tiada sara. Dia tidak tahan untuk tidak bilang “asu” saat Mbah Sinyo memasukkan kedua bijinya ke dalam bijinya. Pak Trisno menggosok kepala Bima dan tersenyum bangga.
“Iki, Nak, ojo lali hadiah ulang tahunmu (Jangan lupa ini hadiah ulang tahunmu),” kata Pak Trisno sambil memajukan kontolnya ke wajah Bima.
Bima tadinya sungkan karena tentu saja ini adalah bapaknya. Walaupun dia mempunyai fantasi yang tidak-tidak soal bapaknya terutama setelah kejadian Mbah Sinyo dan Pak Trisno di sawah, tapi dia tidak bisa melakukan ini. Tapi nafsu berkata lain. Kontolnya merasakan kenikmatan yang tiada tara. Dan Bima hanya bisa mendesah dan membuka mulutnya.
Akhirnya Bima menyerah. Kepala kontol Pak Trisno yang besar masuk ke dalam mulutnya. Dan dengan segera Bima mencium bau kontol.
Rasanya ternyata memabukkan. Rasanya campuran keringat, pesing dan bau lainnya. Tapi entah kenapa perpaduan itu membuat Bima ingin segera memasukkan batang kontol bapaknya sendiri lebih banyak ke dalam mulutnya.
“Hmmmphhh…” desah Bima.
“Wis ngelak koyoke awakmu, Le (Sudah haus sepertinya kamu, Nak),” kata Pak Trisno sambil menggosok kepala anaknya.
“Hmmmpphhh…” kata Bima sambil mencoba menyedot-nyedot kontol bapaknya. Kontol bapaknya terasa begitu penuh di dalam mulutnya. Bima tidak tahu harus menyedot atau menjilatinya. Bima memilih hanya mencoba memasukkan semuanya ke dalam. Tapi ini masalah karena kontol Pak Trisno panjang dan begitu tebal. Akhirnya Bima hanya bisa muat memasukkan separuhnya saja.
Bima menatap bapaknya. Air matanya keluar. Pak Trisno menatap Bima penuh dengan kebanggaan. Di temaram kamar tersebut, Bima menyaksikan dada Pak Trisno yang berotot dan puting yang mencuat keluar berwarna hitam. Menatap dada Pak Trisno, Bima ingin menyedot puting ayahnya sendiri. Hal ini membuat Bima makin ngaceng dan akibatnya dia menyedot kontol bapaknya sendiri dengan lebih bernapsu.
“Aduh, kowe kok pinter, Le, gak perlu diajari (Aduh, kamu kok pinter, Nak, nggak perlu diajari),” kata bapaknya.
“Kontolmu gede tenan, Le. Aku jan seneng duwe putu koyok awakmu. Seneng aku. Pasti iki pejuhe akeh (Kontolmu gede banget, Nak. Aku senang punya cucu seperti kamu. Pasti pejuhnya banyak),” kata Mbah Sinyo di sela-sela menghisap kontol cucunya.
Plak plak plak
Mbah Sinyo mengeluarkan kontol Bima dari mulutnya kemudian dia menampar-namparkan sendiri kontol cucunya ke wajahnya. Wajahnya basah terkena ludahnya sendiri.
“Waduh… jemek men kontolmu, Le. Iki akeh pejuhe mesti. Enak iki gawe aku (Basah sekali kontolmu, Nak. Banyak pejuhnya pasti. Enak buat aku),” kata Mbah Sinyo kemudian dia langsung menghisap kontol cucunya lagi. Dia mengempot-ngempotkan mulutnya kemudian bergerak maju mundur.
Kontol Bima sendiri sebenarnya memang besar. Ketika tadi Pak Trisno dan Mbah Sinyo mengendap-ngendap ke kamar Bima, Mbah Sinyo kaget melihat kontol cucunya. Dia menoleh ke anaknya dan bilang, “Waduh tibake kontole Bima koyok kontolmu, No. Gedi (Waduh ternyata kontolnya Bima kayak kontolmu, No. Besar),” kata Mbah Sinyo.
Malam tadi Mbah Sinyo memang sengaja membuat teh bersama ramuan keluarga yang akan membuat Bima ngaceng semalam. Ramuan ini sudah menjadi ramuan turun temurun keluarga.
Dan karena Bima ulang tahun yang ke-18 malam ini, dia akan mengetahui rahasia keluarga. Mbah Sinyo mendesah keenakan ketika dia menghisap kepala kontol cucunya untuk pertama kalinya.
“Aduh, No, aku wedi ketagihan karo kontole anakmu (Aduh, No, aku takut ketagihan sama kontolnya anakmu),” kata Mbah Sinyo.
“Yo rapopo. Ben ra bosen karo kontolku (Ya nggak papa, biar nggak bosen sama kontolku),” jawab Pak trisno sambil tersenyum melihat bapaknya begitu binal menelan penuh kontol Bima. Kontol Bima panjangnya sekitar 19 sentimeter dan lumayan tebal.
Warnanya cokelat muda dan lurus tegak. Bijinya besar sekali. Dan Mbah Sinyo bisa memasukkan semua kontolnya ke dalam mulutnya. Membuat Pak Trisno terharu karena Mbah Sinyo memang semaniak itu dengan kontol besar.
Pak Trisno kemudian membuka kaos Bima pelan-pelan dan mulai mengikat kedua tangan dan kakinya. Ini dilakukan agar dia tidak melarikan diri karena kaget. Karena ketika pertama kali kontol Pak Trisno dihisap Mbah Sinyo dan Romo Jarwo (kakek Pak Trisno), Pak Trisno panik dan lari dari kamar. Walaupun akhirnya Pak Trisno berhasil ditaklukkan tapi dia tidak ingin kejadian tersebut terjadi malam ini.
Bima masih merasakan kenikmatan tiada tara. Entah apa yang terjadi, tubuhnya terasa panas. Dia pernah merasakan nafsu. Rasa ingin ngentot atau mengeluarkan pejuh. Tapi dia belum pernah merasakan rasa ini sebelumnya.
Rasanya benar-benar tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. Mbah Sinyo yang terhormat terlihat begitu binal dengan kontolnya di mulutnya. Suara yang keluar di mulutnya hanya “hmmpphh…” atau suara seperti kecekik karena Mbah Sinyo memaksa masuk semua kontol Bima ke dalam mulutnya.
Sementara itu Bima bisa menikmati kontol bapaknya sendiri yang spektakuler. Tidak heran Mbah Sinyo begitu suka menjilati, menghisap dan menyedoti kontol Pak Trisno. Begitu kontol Pak Trisno masuk ke dalam mulutnya, Bima tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau dia tidak bisa menghisap kontol bapaknya.
Rasanya sangat legit dan enak. Apalagi ketika kepala kontol Pak Trisno mengeluarkan pre-cum. Rasanya asin dan segar. Bima terus menyedoti kontol bapaknya.
Pak Trisno paham bahwa anaknya merasa kenikmatan. Dan untuk itulah dia berencana memberikan pengalaman yang lebih dahsyat. Pak Trisno membungkukkan tubuhnya dan menjilati pentil Bima.
“AHHH ASUUUU…” kata Bima melepaskan kontol bapaknya dari mulutnya.
“Opoo, Le (kenapa, nak),” tanya Mbah Sinyo kaget.
Ketika dia melihat apa yang terjadi. Bahwa Pak Trisno sedang menjilati pentil Bima, Mbah Sinyo paham. Dia segera menghisap kembali kontol Bima dan menjilati batangnya dengan penuh nafsu.
“Aduh, aku gak sabar manen pejuhmu, Le,” kata Mbah Sinyo.
“Aduhhh, Pak, enak iku didilat… (Aduh, Pak, eak itu dijilat),” kata Bima tak taham. Dia memejamkan mata.
“Hmmm…?” Pak trisno hanya berdehem dan terus menjilati pentil anaknya. Pentil Bima melenting keras. Warna cokelat muda dan terasa sangat keras di lidahnya.
“Slurrrpp….” Pak Trisno bahkan dengan iseng menjilat dan menyedoti pentil anaknya kemudian sesekali menggigit kecil kontol anaknya.
Ketika Pak Trisno menggigit kecil pentil Bima, pinggul Bima langsung naik karena badannya tidak bisa menerima kenikmatan yang sedemikian rupa. Kaki dan tangannya ingin bergerak. Dia ingin menyentuh dada, lengan, badan ayahnya yang seksi.
Dia ingin mencium ayahnya. Dia ingin menikmati ini semua dengan lebih total. Tapi rasa terkekang ini justru membuat nafsunya melambung. Dan karena ini kontol Bima mengeluarkan lebih banyak pre-cum yang membuat Mbah Sinyo tersenyum kesenangan.
Dia terus melakukan sedotan terhadap kontol Bima yang semakin terasa keras dan kaku di dalam mulutnya. Kepala kontolnya berkedut-kedut ingin mengeluarkan sesuatu. Dan Mbah Sinyo tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan cairan putih kental yang menjadi makanan favoritnya sehari-hari.
Saat Bima menaikkan pinggulnya dan menusuk-nusukkan kontolnya ke tenggorokan Mbah Sinyo, Mbah Sinyo melenguh keras penuh kenikmatan.
“Hmmmhhh… Terusno, Le,” kata MBah Sinyo masih dengan mulut penuh kontol. Cara Mbah Sinyo menyenangkan kontol Bima benar-benar spektakuler. Mbah Sinyo yang sudah menghisap kontol sejak umur 15 tahun memang sudah tahu bagaimana cara memanjakan para pria. Ketika jaman perang, banyak tentara membuang pejuh ke tenggorokan Mbah Sinyo.
Pak Trisno melepaskan bibirnya dari pentil Bima yang melenting. Bima menatap bapaknya dengan tatapan penuh nafsu. Dia mendesah dan membasahi bibirnya.
Pak Trisno kemudian tersenyum, memegang wajah Bima dan mencium bibir anaknya. Ketika bibir mereka bertemu, Bima langsung mendesah dan menggeliat. Aroma Dji Sam Soe di bibir Pak Trisno, kumisnya yang tebal dan lidahnya yang agresif membuat Bima merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Bima sama sekali tak menyangka dia akan merasakan ini. Ciuman dengan Pak Trisno. Bima ingin sekali menyentuh Pak Trisno tapi ikatan di tangannya membuat ini semua menjadi terasa lebih liar dan panas.
Pak Trisno melepas ciumannya, tersenyum kemudian menghajar lagi bibir Bima.
“Cpok cpok cpok…” begitu suara yang keluar dari duel lidah antara Pak Trisno dan Bima.
Tangan kapalan Pak Trisno menyentuh dan memainkan pentil kiri Bima yang membuat Bima menggeliat. Saat itulah Bima merasakan sesuatu akan meletus dari tubuhnya. Bima mau berteriak bahwa dia akan keluar, tapi bibirnya terikat dengan bibir bapaknya.
Pak Trisno tahu bahwa Bima akan muncrat dan itu sebabnya dia malah melepas ciumannya dan menyedot dengan keras pentil Bima sebelah kanan. Ngocoks.com
Bima menggelepar-gelepar. Dia menaik turunkan pinggulnya, mengentoti mulut kakeknya sendiri. Bima menatap bapaknya sedang menyervis pentilnya dan kakeknya menelan mentah-mentah kontolnya yang besar.
“Asuuuu aku metu, Pak (aku keluar, Pak),” kata Bima.
Bima menusukkan kontolnya ke tenggorokan Mbah Sinyo dengan lebih dalam dan akhirnya
CROT CROT CROT CROT CROT CROT…
Enam buah semprotan pejuh tebal masuk ke dalam mulut Mbah Sinyo. Bima melemas. Kontolnya masih tegang.
Mbah Sinyo mengeluarkan kontol dari mulutnya kemudian dia memuntahkan kembali pejuh Bima di permukaan kontol Bima. Bima dan Pak Trisno bersama Mbah Sinyo kini melihat berapa banyak dan seberapa kental kontol Bima. Pak Trisno dan Mbah Sinyo kemudian menyerbu kontol Bima dan mereka menjilati setiap permukaan kontol Bima dan menelan pejuh anak dan cucu mereka.
Bima yang sudah lemas masih shock menatap bapak dan kakeknya rebutan pejuhnya. Ketika Mbah Sinyo menjilat pejuh terakhir yang ada di biji Bima, Pak Trisno menoleh ke Bima dan berkata, “Saiki wayahe awakmu dikentu, Bapak, Le (Sekarang waktunya kamu dientot, Bapak, Nak).”
Bersambung…