Aku terus mencoba mencium bibir Tante Hani tapi berulang kali ia memalingkan wajah dan memohon agar aku menghentikan aksiku ini. Setelah sekitar dua menit, ketika ia memalingkan wajah ke sekian kalinya, aku meneruskan ciumanku ke pipinya.
“Ari….. jangan dong…. Ini kan incest….. hentikan Ari!”
Lucunya Tante Hani berkata tanpa berteriak dan tanpa melawan. Aku pikir Tanteku ini orangnya sangat menjaga image. Ia tidak mau terlihat seperti wanita murahan, namun sebenarnya ia menyukainya. Namun melakukannya di sofa membuatku tidak leluasa. Maka aku berkata,
“Tante…. Tidur yuk, Ari sudah ngantuk nih…..” lalu aku berdiri. Tante Hani terdiam beberapa saat sambil beberapa kali menghela nafas. Lalu ia beranjak dari sofa lalu berjalan ke kamarnya. Aku mengikutinya.
Ketika Tante Hani masuk, ia menutup pintu sebelum aku masuk, namun ia menutupnya dengan lambat sekali sehingga aku berhasil menyelusup masuk.
Tante Hani menunjukkan wajah kaget, katanya,
“Ari! Kamu ngapain di kamar Tante? Tante mau tidur.”
Aku menutup pintu sambil berkata,
“Tidur aja Tante. Ari juga ngantuk mau tidur.”
“Ya udah kamu tidur di kamar kamu. Kamu ga boleh di sini.”
Ketika aku membalikkan badan kulihat Tante Hani sudah berjalan ke tempat tidur lalu merebahkan dirinya di tempat tidurnya yang besar setelah mendorong bed cover dengan kakinya sehingga kini ia tidur tanpa berselimut.
Aku cepat-cepat membuka bajuku hingga telanjang. Tante Hani kulihat memalingkan wajah ke arah berlawanan. Tak lama aku duduk di samping tempat tidur tepat di sebelah Tante Hani. Tante Hani menoleh kepadaku,
“Ari! Keluar! Tante mau tidur.” Suara tanteku itu bernada teguran, namun tidak berteriak. Aku perlahan menindihnya. Tante berkata lagi,” Ari! Jangan kurang ajar sama Tante!”
Kedua tangannya menolak pelan bahuku, kupegang tangannya lalu aku menahan tangannya di samping kedua kepalanya. Barulah kemudian dadaku menindih dadanya yang besar dan kenyal.
“Tante mau diapain Ari? Hentikan, Ari! Jangan kurang ajar!” kini suaranya lebih pelan, walau ada penekanan di kata-katanya bagaikan orang yang benar-benar marah. Baru kali ini aku dengar ada orang yang marah dengan suara pelan.
Aku cium bibirnya. Tante Hani tidak memalingkan wajahnya melainkan menutup mulutnya rapat-rapat sambil menggeleng-geleng kecil sambil menggumam seakan menolak. Kedua tanganku melepaskan pegangan pada tangannya lalu menahan kepalanya agar aku leluasa mencium bibirnya.
Kedua tangannya gantian memegang pergelangan tanganku, mendorong tanganku pelan sambil sesekali menampar tanganku, ingin menunjukkan perlawanan. Tapi sebenarnya perlawanan pura-pura saja.
Kini kepalanya tak dapat bergerak. Barulah Tante Hani mulai berbicara lagi, namun kini membuat mulutnya terbuka sehingga lidahku dapat masuk ke mulutnya.
“Ari..mmmphhhh…. hentikan….mmmphhhh…… Ari…..mmpmmp sudahhhh…..mmmmphhhh”
Tiap kali ia berbicara, lidah kami bergesekkan dan tiap kali dia menggumam mmmppphhh sebenarnya Tante Hani mengenyot balik. Apalagi kini tangannya ikut aktif mendorong tanganku dan menampar tanganku. Walaupun hanya perlahan, tetapi anehnya membuat libidoku bangkit secara cepat sekali.
Aku yang selama kami bergulat merasakan kekenyalan tubuhnya, segera duduk di samping tubuhnya, lalu menarik dasternya ke atas badannya. Posisi Tante Hani tiduran telentang, sehingga susah membukanya. Namun, Tante Hani bergeliat-geliat di saat yang tepat sehingga sebenarnya membantuku dalam usaha membuka dasternya itu. Ketika dasternya berada di bawah pantatnya ia bergeliat dengan mengangkat pantat itu sambil terus mengoceh.
“Kamu mau apa Ari? Mau perkosa Tante? Jangan Ri! Tolong Ri! Hentikan!”
Selang semenitan lebih daster itu sudah kubuang ke lantai. Kedua teteknya bagaikan buah kelapa besarnya. Kalau ibu bagai kelapa yang diparut, kalo Tanteku ini bagaikan kelapa yang belum diparut.
Namun bentuknya bulat dan kokoh. Hanya saja karena usia dan pernah melahirkan, payudaranya sedikit turun dan puting yang sedikit tertunduk ke bawah. Namun melihat ukurannya yang besar, sungguh bisa disebut tobrut!
Tante Hani tidak menutup kedua dadanya yang besar sama sekali melainkan ia malah menutup celana dalamnya sambil berkata,
“Jangan dibuka celana dalam ini, Ri! Tante ga mau!”
Melihat perilaku seperti ini, malah aku mengerti maksud Tanteku agar melorotkan CDnya. Maka aku segera menarik CDnya yang putih itu. Tante menggeliat lagi saat CD itu melewati pantatnya. Dan tak lama CD itu menemani daster Tante Hani di lantai. Aku tidak mau daster itu kesepian. Hehehehe.
Tante Hani mengangkang, namun dengan kedua tangan menutupi selangkangannya. Aku duduk di bawah selangkangan itu. Lalu aku tarik kedua tangan Tante Hani yang hanya memberikan perlawanan setengah hati sehingga membebaskan mataku melihat Vagina Tante Hani yang juga tidak memiliki rambut sama sekali! Licin bagaikan pualam.
Sementara, kulihat memek Tante sudah basah oleh cairan kewanitaanya sendiri. Bau tubuh Tante Hani kini menguasai udara kamar. Tak lama aku mulai menjilati memeknya yang indah itu. Memek itu berbeda dengan memek ibuku. Memek Tante Hani memiliki bibir luar yang lebih tipis dan bibir dalam yang tebal sehingga terlihat.
Cairan kewanitaannya pun tampak lebih banyak dari ibu maupun Mbak Vidya. Baru sebentar saja, mulutku sudah kebanjiran cairan. Tubuh bohai Tante Hani menggelinjang terus bahkan ia mendorong selangkangannya agar menekan mulutku sementara kini kedua tangannya sudah menjambak rambutku sambil menarik kepalaku agar lebih menekan selangkangannya. Anehnya, sepanjang kami bergumul ia tetap mengutarakan penolakannya padaku,
“Jangan jilati memek Tante, Ri! Tante bukan Mbak Vidyamu! Tante bukan budak seks kamu! Tante bukan Mama kamu, perempuan jalang yang tidur sama anaknya sendiri!”
Untuk sejenak aku kaget. Ternyata Tante Hani ini pintar. Ia tahu segalanya. Ibuku tak mungkin menceritakan aib kami, pasti Tante Hani curiga dari telpon nikmat yang dulu ibuku dan aku lakukan ketika kami bersetubuh saat ibu telponan dengan Tante Hani! Dan mengenai aku dan Mbak Vidya, dia pasti pernah melihat kami ngentot di rumah ini.
Ketika Tante Hani orgasme, cairan kewanitaanya bagai menyemprot keluar. Pengalaman baru bagiku. Ibu dan Mbak Vidya tidak sampai sebegininya. Orgasme Tante Hani terjadi beberapa saat, sekitar satu menit sampai akhirnya ia dengan lemas memejamkan matanya. Tubuhnya tak bergerak selama beberapa saat.
Aku dengan sigap segera memposisikan kontolku di lubang vagina Tante Hani, dan dengan sentakan keras aku mendorong masuk kontolku hingga dalam satu tusukkan seluruh penisku terbenam dalam rongga memek Tanteku itu. Walaupun lorong kencing Tante Hani tidak sesempit Mbak Vidya, namun ternyata masih sedikit lebih kencang dari memek Ibuku. Sungguh nikmat rasanya kemaluanku dijepit dinding kemaluan Tanteku itu.
Tante Hani membuka mata dan menatapku sambil berkata lirih,
“Ari! Kenapa kamu masukkin? Kamu sudah memperkosa Tante! Hentikan, Ri!”
Aku menindihnya lagi, Tante Hani memeluk kedua pantatku. Aku menekuk sedikit kepalaku dan dengan bantuan tanganku aku memegang payudara besar Tante Hani lalu menyedotinya dengan rakus sementara tangan yang satu asyik meremasi yang sebelah.
Sungguh berbeda rasanya menetek pada perempuan berpayudara jumbo. Empuk, kenyal dan luas sekali. Apalagi saat meremasnya, payudaranya seakan tak ada habis-habisnya!
Kedua kaki Tante Hani menjepit pantatku dan kedua tangannya seirama dengan tusukan-tusukanku terhadap organ intim kewanitaannya. Tubuh Tante Hani yang semok dan bohai sungguh enak di tindih. Empuk sekali.
Aku bagaikan orang gila menyedot menghisap kedua buah payudara jumbo milik Tante Hani sehingga tak lama hampir keseluruhan dada Tante Hani sudah basah oleh ludahku dan terhias cupangan penuh nafsu di sana-sini. Sementara mulut Tante Hani terus meracau,
“Bajingan kamu Ri! Kamu sudah menggagahi Tantemu sendiri! Dasar bocah cabul! Bocah mesum! Kamu suka mengentoti keluarga sendiri! Tante tahu waktu kamu pertama sampai di sini, pasti kamu juga menggagahi ibu kamu waktu di jalan, kan? Bau memek ibu kamu Tante sudah hafal.
Waktu itu bau memek ibu kamu keras sekali tercium, apalagi ada bau peju laki-laki. Pasti kamu ngecrot di dalam rahim ibu kamu, kan?
“Tante duga pasti bayi yang ada di perut ibu kamu adalah anak kamu. Dasar kamu bocah ngeres otaknya! Kamu menghamili ibu kamu sendiri! Kemarin saja Mbak Vidya kamu paksa ngentot di tangga. Tante lihat kamu menikmati menyemprot pejumu di dalam tubuh Mbakmu. Pasti kamu mau menghamili dia juga, kan? Dasar bocah gendeng! Bocah edan!
“Sekarang kamu ngentotin Tantemu ini tanpa perlindungan apapun. Tanpa kondom. Tante juga ga pake kontrasepsi. Kontol kamu yang telanjang itu masuk dan menerobos memek Tante yang tidak terlindungi.
Kalau kamu ejakulasi di dalam memek Tante, pejumu akan menyirami rahim Tante yang subur. Kamu pasti akan bikin Tante hamil. Tante mohon, jangan hamili Tante, Ri. Tante ga mau kamu hamili. Please Ri.”
Aku mendengar ocehan Tanteku semakin bersemangat. Entotanku semakin cepat dan kuat. Tante Hani pun tampaknya juga semakin hot. Goyangannya makin hebat saja. Bahkan ia mengatur bantalnya agak tinggi sehingga tubuh atasnya agak menekuk. Lalu tanpa malu ia menarik kepalaku lalu merunduk lalu mencium bibirku dengan buas.
Kami berciuman secara liar. Dapat kurasakan air liur Tante Hani kadang memerciki dagu dan hidungku. Hebatnya ia menciumiku sambil terus mengoceh di sela-sela ciuman,
“hmmmppp….. kamu…..hmmmmphh…. bajingan…………….hmmmpppphh… kamu suka……hmmmmphhh…..hmmmphhhh…. ngentotin hmmmphhhh…. hmmmppphh Tante?…. hmmmphhh……hmpphhh…….hmpmmmphhh….. puas? Hmmmphhhhh……”
Lama kelamaan orgasme kami mendekat, dan kini ocehan Tante sudah tidak terdengar lagi. Karena kini kami asyik melumat bibir kami masing-masing. Malah terkadang kami asyik menjilati wajah satu sama lain. Semakin dekat orgasme kami, kami sudah tidak lagi berciuman, tapi saling menjilati. Kami bagai dua ekor anjing yang sedang birahi saja.
Berhubung aku lelaki. Saat-saat terakhir aku menekap kepala Tante Hani dan menjilati seluruh wajahnya. Jidat, mata, pelipis, pipi, dagu, hidung, kuping Tante Hani tidak ada satu sentipun yang tidak kujilat. Bahkan lubang kuping dan lubang hidungnya juga aku jilati sejauh yang lidahku dapat capai.
Ketika orgasme kami sudah di depan pintu, kami memalingkan muka kami ke kiri dan kanan sehingga lidah kami kini menempel bagian atas dengan bagian atas, dan sekuat tenaga kami saling menekan lidah kami untuk mengecap lidah satu sama lain dengan sangat kuat sementara bibir kami saling menghisap.
Di saat itulah aku membenamkan kontolku sedalam-dalamnya dan memuntahkan pejuku sejauh mungkin ke dalam perut Tanteku. Dan sedetik kemudian kurasakan cairan memek Tanteku menyembur pula diiringi dinding kemaluan Tanteku membuka menutup, memijat sekujur batang penisku yang sedang ejakulasi.
Aku ambruk di atas tubuh Tante setelah mengalami orgasme hebat. Tanteku memelukku dan membelai kepalaku dengan tangan kirinya. Kedua tubuh kami penuh berkeringat, sementara dari memeknya, pejuku memenuhi memeknya sehingga ada sebagian kecil yang luber keluar. Lidah Tante Hani masih menjilat-jilat pelan lidahku.
Setelah beberapa saat, aku mulai tersadar lagi. Kontolku sudah lepas dari memeknya dan aku beringsut ke samping kiri badannya. Kami berhadapan menyamping, sementara lidah kami saling menjilat perlahan. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kami saling berpelukan erat mencampurkan keringat dan ludah.
Ku angkat tangan kanannya dan kujilati lagi. Bau ketek ini sudah sangat santer tercium karena Tante Hani keringatan bagaikan mandi saja. Tak lama kontolku keras lagi. sumber Ngocoks.com
Tante Hani kini mendorong badanku lalu menduduki selangkanganku. Ia mengangkat pantatnya sambil tangan kanannya memegang kontolku, ia mengarahkan kontolku di lubang memeknya yang basah itu, lalu mendudukiku lagi. Kontolku amblas lagi di dalam kemaluannya.
Gantian Tante Hani menindihku. Namun ia menggunakan kedua tangannya untuk menjadi tumpuan sehingga tidak seluruh berat tubuhnya menindihku. Kemudian ia mulai bergoyang perlahan. Ronde kedua kami tidak seliar ronde pertama. Kami berciuman perlahan, sama perlahan dengan gerakan pantat Tante Hani. Ini baru bercinta. Bukan ngentot.
Sepanjang persetubuhan kami, kami berciuman. Tante Hani mulai bicara lagi kini dengan suara yang berbisik.
“Kontolmu enak banget, Ri. Lebih gede dari punya Om-mu.”
“Memek Tante legit dan sempit. Lebih sempit dari Memek Ibu,”jawabku.
Kurasakan tubuhnya yang basah dan semok menempel di tubuhku. Keringat Tante Hani yang mengucur membuat tubuhnya makin licin saja. Kedua tanganku mengusap punggungnya yang agak lebar dan halus itu. Kami terus berciuman sambil berbicara.
“Tante ketagihan kontol kamu, keponakanku.”
“Ari ketagihan Tante. Ga hanya memek Tante yang sempit. Semua dari Tante Ari suka. Keringat Tante, ludah Tante, Tetek Tante, Ketek Tante, wajah Tante yang cantik, tubuh Tante yang bohai. Semuanya. Semuanya.”
“Tante jatuh cinta sama kamu. Sama kayak Mbak Vidyamu.”
“Ari juga. Tante jadi isteri Ari saja….”
“Sekarang kan Tante lagi jadi isteri Ari. Hanya suami yang boleh masukkin kontolnya ke dalam memek seorang perempuan. Saat ini Tante adalah isteri kamu, sayangku…”
Sebenarnya maksudku adalah menikah secara sah. Namun tampaknya Tanteku ini salah duga. Biarlah, toh aku anak kecil yang tidak terlalu ditanggapi secara serius oleh orang dewasa. Tapi, aku sudah punya rencana ke depannya.
Biarlah nanti waktu yang memutuskan. Untuk saat itu, aku hanya menjawab dengan bercinta dengan Tanteku sampai pagi. Hari itu aku empat kali ejakulasi ke dalam rahim Tanteku.
Paginya aku tidur di kamar tamu. Masih banyak keraguan dariku sebelum aku tidur pulas pagi itu. Bagaimana dengan ibu dan Mbak Vidya? Apa yang akan terjadi? Biarlah waktu yang berbicara…
Bersambung…