Jam empat pagi kurasakan ada seseorang yang sedang menghisap-hisap burungku. Ah, pikirku, ini pasti Mbak Vidya. Biasanya aku selalu tidur di kamar Mbak Vidya malamnya, kemudian kami bangun jam empat pagi untuk bersetubuh satu ronde, baru setelah itu aku akan kembali tidur ke ruang tidur untuk tamu.
Perlahan aku membuka mataku dan setelah aku lihat, aku terkejut mendapatkan Tante Hani hampir telanjang bulat, hanya mengenakan celana dalam saja, sedang asyik mengulum kejantananku sambil duduk di pinggir kanan ranjang.
“Tante?” suaraku masih berat karena baru bangun tidur.
Tante hanya melirik kepadaku dan mengedipkan matanya, namun mulutnya asyik menyedoti batangku yang sudah tegak. Tangan kirinya memegang bagian dasar batangku, sementara tangan kirinya perlahan meremasi kedua biji pelirku.
Aku yang baru bangun tak mampu berkata-kata lagi, tadinya aku ingin memperingatkan Tante Hani agar menghentikan aksinya, karena aku takut Mbak Vidya akan bangun dan masuk ke kamarku. Namun hisapan mulut Tante Hani dan keterampilan kedua tangannya mengelus-elus kejantananku membuat aku lupa segalanya.
Aku bangkit untuk duduk. Aku tarik celana dalamnya yang menjadi penutup tubuh satu-satunya. Tanteku itu membantuku sebentar sehingga akhirnya ia telanjang bulat. Aku tarik pinggulnya, iapun mengerti maksudku.
Sementara Tante Hani menggeser tubuhnya hingga kini kedua kakinya ditaruh mengapit kepalaku. Tak lama, ia menaruh memeknya yang sudah basah ke wajahku.
Ketika memek Tante Hani mencapai wajahku, dengan antusias aku menjilati kemaluannya itu. Bau memek Tanteku itu sangat jelas tercium hidungku. Cairan kemaluan Tante Hani yang sudah membasahi kemaluannya kujilat-jilat dengan penuh semangat.
Rasa memek Tante Hani agak asam dan sedikit pahit, selain itu terasa hangat di lidahku. Kedua pantatnya aku dekap dengan tangan kananku sambil kuremas-remas dengan gemas. dan tangan kiriku memelintir toket tante tante hani sambil sesekali aku remas. Sungguh nikmat rasanya menjilati memek wanita dewasa cantik.
Tak lama badan kami sudah penuh dengan keringat. Badan kami yang basah menempel satu sama lain. Aku mulai menggunakan jari telunjuk kanan untuk merogoh lubang memek Tante. Tante Hani mulai menggumam keras ketika merasakan jari-jemariku menerobos liang kenikmatannya.
Lubang vagina Tanteku itu sudah sangat licin dan hangat sehingga jariku tidak kesulitan bergerak masuk keluar bagaikan piston mesin bermotor, sementara lidahku asyik menjilat-jilat area sekitar klitoris tanteku itu.
Tante Hani mulai menggoyang-goyang pantatnya, menyebabkan kedua buah lututku merasakan ngilu yang nikmat yang merembet ke sekujur tubuhku. Kubalas dengan mulai mengenyot-ngenyot klitorisnya. Ini membuat Tante Hani tiba-tiba mengerang kenikmatan,
“Yessss………. Hisap kelentit Tantemu, Ari!”
Perlahan namun pasti aku memperkeras hisapanku pada klitoris Tante Hani. Tante Hani sudah lupa segalanya, ia kini bertumpu dengan kedua tangannya, sementara ia setengah menduduki wajahku dan pantatnya makin liar bergoyang dan menekan kepalaku sementara mulutku menempel ketat di kelentitnya tanpa mau terlepas lagi.
“sedot terus Ri!…. Terus……teruuuuss!!! TERUUUUUSSSSS!!! Tante sampaaaaiiiiiii!”
Memek Tanteku merembeskan banyak sekali cairan vagina yang membasahi tangan dan wajahku. Sementara aku kesulitan bernafas ketika selangkangannya menekan keras ke bawah selama ia orgasme.
Namun akhirnya otot selangkangannya mengendur dan Tante Hani menjatuhkan diri di sampingku, ia berbaring telentang dengan selangkangan masih sejajar dengan kepalaku sementara kepalanya sejajar dengan pahaku.
Tubuh Tante Hani yang basah oleh keringat tampak begitu seksi dan menggairahkan. Matanya yang terpejam dan ketelanjangannya membuat Tante Hani saat ini membuatnya terlihat sebagai wanita yang sangat sensual dan obyek seksual yang menjadi sarana pelampian nafsu bejat lelaki. Nafsu bejatku.
Aku segera duduk, lalu melebarkan kedua paha Tante Hani. Kuposisikan diri agar duduk di depan selangkangannya. Aku mengarahkan kontolku di depan liangnya dan dalam satu gerakan cepat dan indah, aku benamkan dalam-dalam kontolku yang sudah basah oleh air ludah Tanteku itu ke dalam lubang kemaluannya yang sangat licin dikarenakan cairan pelumasnya sendiri.
Setelah kontolku sudah bersarang di memek Tanteku itu, aku segera menindihnya dan memeluk tubuhnya erat-erat. Setelah mulutku menjepit pentil payudara kanan Tante Hani, aku mulai mengentoti Tanteku itu dengan penuh tenaga.
“PLOK! PLOK! PLOK! PLOK!…..”
Suara selangkanganku membentur selangkangan Tante Hani terdengar bertalu-talu. Pentil Tante yang sudah mengacung tegak kusedoti dengan rakus. Tante Hani menjawab dengan merangkul kepalaku dan mengelus-elus rambutku dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya meremasi pantat kananku.
Di bagian bawah, Tante Hani menggerakkan pantatnya memutar-mutar dan mendorong-dorong seirama dengan goyangan pantatku. Nikmat sekali rasanya mengentot dengan kakak kandung ibuku itu.
Tubuhnya yang bahenol dan semok sungguh empuk dan enak ditindih. Keringatnya yang membawa bau tubuh yang lembut namun jelas, kulitnya yang halus dengan otot yang kenyal, membuat Tante Hani pasangan ngentot yang ideal. sumber Ngocoks.com
Pentilnya yang besar juga membuat mulutku mudah sekali mengenyot, menjilat dan menghisapinya. Apalagi memek Tante Hani, selain sempit juga hangat dan licin, membuat kontolku mudah keluar masuk, namun masih merasakan jepitan lumayan keras.
Tante Hani lalu menjepit pantatku dengan kedua kakinya, kedua tangannya kini memeluk punggungku kuat-kuat. Seakan-akan Tante Hani berusaha menembus tubuhku dengan menggunakan tubuhnya sendiri.
Selangkangannya kurasakan membenturi selangkanganku dengan lebih keras, yang membuatku mengimbangi dengan juga menambahkan daya tumbuk selangkanganku di selangkangannya. Gerakan kami menjadi lebih cepat dari sebelumnya.
“entoti Tante, Ri….. Entotin yang keras……. Sodok memek Tante kuat-kuat, sayanggg……. Gagahi Tante…… Buntingin Tantemu seperti kamu ngebuntingin Mama kamu sendiri……. Tubuh ini milk kamu, Ri…… Entotlah Tante sesukamuuuu….”
“Tante Hani cantiiiikkkk….. Ari cinta Tante…. Ari pengen ngentotin Tante terus-menerusss….. Ari pengen nikmatin memek Tante…….. Ari pengen selalu ngentotin Tante…… Ari pengen tinggal di dalam memek Tante selamanyaaaa…….”
Lalu aku mulai menyedot puting sebelah kiri tante Hani. Entah berapa lama kami ngentot. Kami tidak dapat mengetahui waktu, karena seluruh konsentrasi kami tercurah pada persetubuhan kami yang tabu ini. Entah berapa kali mulutku pindah dari satu pentil ke pentil yang lain.
Entah berapa lama lidahku menjilati seluruh dada kakak kandung ibuku. Entah berapa kali kontolku menusuk sedalam-dalamnya di dalam vagina Tanteku itu. Entah berapa kali selangkangan kami beradu dan menimbulkan bunyi benturan keras yang memenuhi ruang tidur itu.
Yang jelas, saat Tante Hani menarik kepalaku ke arah kepalanya menggunakan dua belah tangannya, lalu Tante Hani menyerang bibirku dengan bibirnya, ketika lidahnya memasuki mulutku dan lidahku membalas dan kami berciuman selama beberapa menit, saat itulah tubuh Tante Hani menjadi kaku, pelukan tangan dan kakinya begitu ketat sehingga aku agak kesulitan bernafas, sementara perut dan dinding memek Tante Hani bergetar dan cairan vagina Tante Hani menyemprot. Tante Hani mencapai klimaksnya.
Daya tahanku juga jebol. Kenikmatan seksual yang sedari tadi kurasakan menguasai tubuh, sudah tidak mampu terbendung lagi. Spermaku yang terkumpul karena rangsangan birahi karena mengentot, akhirnya terlepaskan dengan hebatnya.
Kontolku yang kubenamkan dalam-dalam dan kuat-kuat, menyemprotkan air maninya berkali-kali, menyiram rahim Tante Hani yang subur sehingga jutaan spermaku menerobos rahim Tanteku itu dan memenuhi peranakannya.
Sejenak kami terdiam lemas dengan aku menindih Tante Hani dan kontolku masih menancap di dalam memeknya. Setelah beberapa menit aku mulai asyik menjilati ketiak licin Tanteku yang sebelah kiri. Tanteku hanya tersenyum sambil mengusap rambutku dengan tangan kanannya. Lidahku dengan perlahan namun kuat menekan dan menggeleser di sekujur ketiak putihnya.
Saat itu tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara Mbak Vidya,
“Mama! Ari! Kalian ngapain?!!!”
Tante Hani dan aku kaget dan melihat ke arah pintu. Mbak Vidya berdiri di sana dengan telanjang bulat, sementara baju tidurnya disampirkan di bahu kirinya. Tatapan mata Mbak Vidya menunjukkan rasa terkejut dan ketidak percayaan menyaksikan ibu kandungnya sedang telanjang bulat dan ditindih oleh sepupu yang ia cintai yang juga telanjang bulat, sementara sepupunya itu sedang asyik menjilati ketek ibunya itu!
Mbak Vidya menangis lalu lari meninggalkan kamar tidur itu.
“Vidya!” kata Tante Hani yang bergegas melepaskan diri dariku dan mengejar anaknya itu,”Ari. Lebih baik kamu di sini saja menunggu.”
Aku terdiam saja melihat tubuh sintal Tante Hani yang telanjang bulat meninggalkan kamarku untuk mengejar Mbak Vidya.
Dalam keheningan dan ketelanjangan aku duduk di ujung tempat tidur dan pikiranku menjadi kacau. Mbak Vidya jelas sekali mencintai aku, ia mengorbankan segalanya untukku, bahkan keperawanannya. Sementara, kini ia mendapati aku ‘berselingkuh’ dengan menyetubuhi ibu kandungnya.
Tentu saja Mbak Vidya merasakan kekecewaan, sakit hati dan cemburu. Namun nasi sudah menjadi bubur, apalagi aku memang sebenarnya bejat, aku telah meniduri tiga orang perempuan dan ketiganya adalah perempuan yang memiliki hubungan darah denganku dan aku menyukainya.
Lama kelamaan dipikir, bila Mbak Vidya menyuruh aku untuk memilih siapa yang menjadi kekasihku, Mbak Vidya atau ibunya, aku tetap tidak bisa menjawab. Aku menyukai semuanya. Aku suka mengentoti ibu kandungku sendiri, aku suka mengentoti kakak ibuku dan aku juga suka mengentoti Mbak Vidya.
Kalau bisa, aku ingin terus mengentoti mereka bertiga. Hanya memilih satu membuat aku tidak puas. Aku membutuhkan ketiganya. Aku menolak kalau harus memilih. Pemikiran ini membuat kepalaku pusing.
Sekitar satu jam aku duduk melongo dengan banyak pikiran di kepala, ketika aku dikejutkan dengan suara Tante Hani.
“Ari….”
Aku menatap pintu dan kulihat dua perempuan yang telanjang bulat memasuki kamarku. Aku terhenyak dan tidak menyangka-nyangka. Tante Hani dan Mbak Vidya tampak habis menangis karena matanya sembab. Namun kulihat mata Mbak Vidya tidak memancarkan kekecewaan dan kesedihan lagi. Mata itu memancarkan cinta. Sama halnya dengan sorotan Mata Tante Hani.
Kedua perempuan itu duduk mengapitku di ujung tempat tidur. Tante Hani di kanan dan Mbak Vidya di sebelah kiri.
“Tadi Tante sudah berbicara panjang lebar dengan Mbak Vidya,” kata Tante Hani,” Mbakmu sudah tahu semuanya. Ia tahu bahwa sebenarnya kamu sudah tidur dengan tiga orang wanita. Mamamu, Tante dan Mbak Vidya.
Bersambung…