Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Bersambung»Sebuah Jimat (Amulet)

Sebuah Jimat (Amulet)

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Jason berbaring di tempat tidurnya, pikirannya dipenuhi dengan apa yang telah dilihatnya sebelumnya. Dia telah kembali beberapa saat yang IaIu dari rumah pasangan Rader, dan sudah memuaskan diri dengan tangannya sendiri ketika kenangan dari Tom dan Beth masih segar dalam pikirannya. Ini sama sekali tidak seperti apa yang telah ia saksikan malam lalu antara Danny dan Chief Lobeaux, yang, bisa dikatakan, hanya pertukaran cairan tubuh.

Dia telah menyaksikan seks antara dua orang yang saling mencintai, dan untuk beberapa alasan dia tak bisa paham, mengapa gambar Sam tetap datang ke pikiran. Dia merasa penasaran karena gambaran yang paling kuat bukanlah apa yang ada diantara kedua kakinya, tapi wajah Sam saat dia tidur dengan puas setelah itu.

Lamunannya terpotong oleh suara ibunya memanggilnya dari lantai bawah. Dia keluar di lorong ke puncak tangga, dan melihat ibunya berdiri di bagian bawah dengan telepon menempel dadanya.

“Kau dapat telepon,” katanya, IaIu menambahkan dengan berbisik,

“Ini cewek.”

Jason bingung. Seorang cewek menelepon dia? Yang mana itu belum pernah terjadi sebelumnya. Siapa yang dia kenal yang akan meneleponnya? Sam akan datang jika ia ingin bicara, dan selain itu, ibunya akan mengenali suaranya.

“Siapa itu?” Tanyanya.

“Dia tidak bilang,” ibunya menjawab, masih berbisik.

Jason melangkah menuruni tangga masih memakai kaus kaki, dan mengambil telepon. Mengangkat ke telinga, dia dengan gugup berkata,

“Halo?” Sebuah suara merdu cewek berkata, “Jason? Apakah ini Jason?”

“Aku sendiri, mm, mm, ya, aku Jason.”

“Hai Jason, kuharap kau nggak keberatan aku meneleponmu, ini Becky Johnson.” Otaknya langsung berhenti. Dia tak bisa berpikir. Dia tahu dia harus mengatakan sesuatu, tapi mulutnya tidak mau bekerja sama.

“Jason? kau masih di sana?”

“Hai Becky,” itu yang bisa ia katakan. Suara itu tidak terdengar seperti suaranya sendiri. Ibunya menatapnya penuh rasa ingin tahu, tapi ia tidak menyadarinya.

“Hai Jason,” ulangnya,

“Dengar, aku minta maaf mengganggumu seperti ini, dan aku tahu itu menit-menit terakhir, tapi aku bertanya-tanya apa kita bisa ketemu malam ini buat ngobrol.”

“Ngobrol? Tentang apa?” Dia tergagap. Dia memukul telapak tangannya di dahinya. Dia mengoceh seperti idiot.

“Tentang sesuatu,” katanya, “Apakah kau mau?”

“Tentu. Aku mau.”

“Bagus. Bisakah kau menjemputku sekitar jam delapan? Apakah kau tahu di mana aku tinggal?”

“Yah,” katanya, dan menyadari bahwa ia mungkin terdengar seperti penguntit.

“Sudah beres. Sampai nanti Jason. Bye.”

“Bye,” katanya, tapi ia mendengar bunyi dia menutup telepon ketika mengatakan itu. Tertegun, ia berpaling ke ibunya yang masih berdiri mengawasinya, dan berkata,

“Ma, aku perlu pinjam mobil malam ini.” Ibunya tersenyum, mengamatinya bergegas kembali menaiki tangga menuju kamarnya.

Dia berbaring di tempat tidurnya, pikirannya berputar kencang. Ini tak masuk akal. Mengapa dia menelepon? Apa yang dia ingin bicarakan? Dia berpikir tentang percakapan kemarin malam dengan Donna, yang bertanya apakah dia tahu kenapa Becky tak pernah berbicara dengannya. Dia tahu sesuatu yang dia tidak mengatakan kepadanya, tetapi ia tidak tahu apa itu. Tapi sekarang Becky menelepon. Pasti Donna telah berbicara dengannya. Jadi apapun alasan Donna pasti dia salah. Dia tersenyum sendiri.

Lima jam penuh penantian kemudian dia berhenti di depan rumah Becky Johnson, rumah modern besar di salah satu komplek baru di luar kota. la mengenakan pakaiannya yang paling keren – jaket hitam, celana hitam, kemeja hitam, dan dasi hitam.

Adik perempuannya menilainya sebelum dia pergi, dan memberinya persetujuan. Dia bahkan mengenakan satu celana dalam baru. Bukan karena dia pikir itu penting, tapi siapa tahu. Dia memutuskan untuk meninggalkan kalung itu di rumah, menyembunyikannya ke dalam laci.

la menimbang untuk mampir sebentar membelikannya bunga di jalan, tapi dia telah mengatakan bahwa mereka bertemu untuk bicara, jadi memberi bunga mungkin terlalu menyolok. Dia keluar dari mobil dan berjalan ke pintu depan, mengagumi rumput yang terawat baik terbelah oleh jalan setapak. Menekan bel pintu muncul nada elegan berpadu dari dalam. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, tapi tak ada siapapun di sana. Bingung, ia menjulurkan lehernya untuk melihat ke dalam.

“Halo?”

la kebetulan melihat ke bawah, di mana ia melihat anak kecil berdiri di ambang pintu yang terbuka. Anak itu tak mungkin lebih dari lima tahun.

“Um, hai bung kecil,” kata Jason, berbicara dengan lambat dan keras sama seperti ketika orang berbicara dengan anak kecil dan orang asing,

“Aku di sini untuk ketemu Becky. Apakah dia kakakmu?” Anak itu menatapnya. Jason menunggu. Tapi anak itu terus menatap.

“Becky?” Dia mengulangi,

“apa dia ada?” Tak ada jawaban dari anak itu. Jason berlutut pada satu lutut, tapi masih harus melihat ke bawah pada anak. Anak itu tidak terlihat autis.

“Hei,” katanya,

“Becky? Kau tahu, cewek cantik yang tinggal di rumah ini? Bisakah kau pergi memanggilnya?” Anak itu terus menatap, satu tangan di gagang pintu, yang lain pada bingkai pintu. Ini tidak berhasil. Dia mencoba lagi.

“Namaku Jason, siapa namamu?” Dia menawarkan jabat tangan pada anak. Tak ada respon

Dia punya ide. la menekan tombol bel pintu lagi. Lonceng terdengar, kali ini jauh lebih keras dan pintu terbuka.

Berhasil juga. la mendengar langkah kaki dan kemudian

“Joshi, pergi dari situ.” Sebuah tangan dari balik pintu dan menarik Joshi pada bahunya, menariknya kembali ke dalam rumah.

Beberapa detik kemudian ia digantikan di ambang pintu oleh Becky, yang tampak sangat menakjubkan, terutama dari posisi Jason melihatnya, masih berjongkok dengan satu lutut. Dia mengenakan rok hitam pendek ketat, dengan sepatu hak tinggi hitam.

Di atasnya, dia memakai atasan putih ketat yang memamerkan setiap lekuk tubuhnya, dan memiliki potongan garis leher yang rendah, yang memamerkan belahan payudaranya. Rambut hitamnya disisir ke belakang, dan dia memakai lipstik yang hanya dapat digambarkan sebagai merah darah.

Jason mencoba untuk tidak menatap terlalu lama, tapi ia tak bisa menahannya. Becky sepertinya tak keberatan, pada kenyataannya, ia sepertinya sudah biasa dikagumi seperti itu. Becky menatap kearah bawah dimana Jason setengah berlutut.

“Jika kau di sini untuk melamar, bukankah kita harus saling kenal satu sama lain dulu sebelum kita membuat suatu komitmen?”

“Hah?” Katanya, dan menyadari ia masih berlutut dan baru sadar akan leluconnya. Dia tertawa dan berdiri, IaIu berkata,

“Anak yang manis.”

“Maaf tadi. Itu adikku Josh. Kami telah mengajarkan padanya jangan bicara dengan orang asing, dia belajar dengan baik. Kami juga mengajarinya agar jangan membuka pintu depan ketika bel pintu berdering, tapi dia nggak begitu bagus. Seperti baru saja kau melihat, dia membuka pintu dan berdiri di sana. Suatu kali seorang salesman berdiri di sini selama lima belas menit sebelum dia melihatnya. Nggak seperti kau, dia nggak cukup tanggap untuk membunyikan bel lagi.”

“Nggak perlu minta maaf,” katanya,

“aku suka ditemani dia. Kupikir kami berbagi suatu tatapan yang berarti. Dia dan aku seperti ini sekarang” la mengangkat tangan dengan jari-jarinya dikaitkan. Becky tertawa, dan dia tampak sedikit terkejut.

“Kau siap untuk pergi?” Tanyanya.

Ibunya mengingatkan dia dua puluh kali sebelum ia pergi agar selalu membuka pintu mobil untuknya, karena, seperti katanya, “Kesan pertama adalah kesan abadi.” Ibunya pasti akan bangga sebab ia mengingatnya. Ketika mereka berada di dalam mobil, ia bertanya,

“Ada tempat tertentu yang ingin kau tuju?” “Aku belum makan. Ingin makan sesuatu?”

“Kedengarannya bagus,” jawab Jason, tapi dia terlalu

gugup untuk makan apapun.

“Bagaimana kalau Angelo?” Tanyanya.

“Angelo boleh juga,” katanya, tapi ada sesuatu yang mengganggunya pikirannya. Sesuatu tentang Angelo. Oh yah, ia nanti juga akan ingat.

Mereka tiba di tempat nongkrong populer anak SMU, sebuah restoran Italia kecil di mana band-band lokal bermain pada Jumat malam. Ketika Jason berjalan masuk dengan Becky, ia bisa merasakan semua mata di tempat itu tertuju pada mereka. Beberapa anak menunjuk. Dia tersenyum dalam hati.

Mereka mendapat meja di belakang, dan ia menarik kursi bagi Becky saat ia akan duduk, kemudian menggantung jaketnya di bagian belakang kursi sebelum ia juga duduk. Si pelayan, seorang cewek berpenampilan eksotis dengan rambut gelap, datang dan mengambil pesanan soft drink mereka.

Mereka mempelajari menu, dan memutuskan untuk berbagi sebuah pizza pepperoni. Setelah pelayan itu pergi dengan pesanan mereka, Jason menatap Becky mengharap dia mengatakan sesuatu.

“Apa?” Katanya, melihat pandangan bertanya di mata Jason.

“Aku ingin tahu apa yang ingin dibicarakan,” katanya, mencoba terdengar acuh tak acuh.

“Oh, kau ternyata orang tak sabaran,” katanya sambil tersenyum.

“Maaf,” katanya, pikirannya bekerja. “Gimana kabarnya cheerleader?”

“Bagus. Kita akan berkompetisi tingkat negara bagian bulan depan, dan kupikir kami benar-benar punya kesempatan bagus untuk menang.”

“Hebat, apakah kau pernah menang sebelumnya?” “Tunggu sampai kau lihat kamar tidurku. Aku punya segala macam piala cheerleader dan selempang di sana. Ini seperti satu tempat pameran kecil.” Napasnya tercekat di tenggorokan. Apakah Becky bilang apa yang dia pikir akan dia lakukan?

“Bagaimana denganmu?” tanya Becky,

“Apa yang kau lakukan untuk bersenang-senang?”

‘Aku berubah jodi tak terlihat dan menonton orang di soot-saat intim mereka. Melihat satu posongan hebot beberapa jam IoIu.’ Dia bertanya-tanya seperti apa reaksinya jika benar-benar ia mengatakan itu.

“Nggak banyak. aku telah berkonsentrasi pada nilaiku belakangan ini. aku perlu dapat A semua untuk mendapat kesempatan beasiswa.”

“Yah, aku tahu kau cukup cerdas. kau selalu tahu jawaban di kelas, dan ada juga desas-desus bahwa kau membantu Danny Mazzelli memperbaiki nilainya.”

“Siapa yang bilang begitu?” la bertanya, tiba-tiba serius. Dia belum pernah memberitahu siapapun tentang itu, dan ia sangat yakin Danny tak akan pernah mengatakannya.

Orang yang dicurigai adalah adik perempuannya, yang berada di rumah ketika mereka belajar, tapi dia bukan tipe orang yang suka mengoceh.

“Maaf,” katanya,

“aku nggak tahu itu masalah sensitif buatmu. Maksudku adalah itu pujian buatmu.” Tapi Jason masih tersinggung, marah karena orang menyebarkan rumor tentang dia.

“Hei,”    kata       Becky,   mencoba             mengalihkan pembicaraan,

“Apa kau pernah berada di sini saat band sedang bermain? Apa kau punya band favorit?”

“Aku biasanya selalu datang ke sini,” katanya, dengan berseri,

“Salah satu teman lama aku, Dustin Brown, biasanya

bermain drum di band di sini. Dia adalah seorang drummer hebat. Sangat bagus sampai-sampai dia meninggalkan band dan pindah ke LA untuk cari peruntungan di sana. Belum dengar kabarnya dari dia dalam beberapa tahun, tapi aku masih berharap melihat dia muncul pada satu lagu hits suatu hari nanti.”

“Apa kau pernah ke sini akhir-akhir ini menonton

band?”

“Nggakjuga,”katanya,

“kenapa?”

“Aku ingin tahu apakah kau mungkin mau datang

nonton berdua kapan-kapan.” la menatap kembali. “Berdua, seperti kau dan aku sekarang?”

“Ya, apa salahnya? Kau dan aku berdua sekarang,

kan?” Dia menatapnya lama. Akhirnya, ia berkata, “Ada apa sebenarnya Becky?”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, kita belum pernah bicara sepatah katapun dalam dua tahun, dan sekarang kau sedang bicara tentang kita berdua seperti kita adalah pasangan.

“Jason,” katanya, memegang tangannya, “beberapa cewek lebih kolot daripada yang lain.”

“Aku nggak paham,” kata Jason, tapi suka sentuhan tangannya.

“Beberapa cewek pergi keluar dan mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi ada juga cewek-cewek lain yang lebih tradisional, dan menunggu untuk di telepon.” Dia masih bingung.

“Dan kau termasuk yang mana?”

“Sampai kemarin, aku adalah cewek tradisional, menunggu untuk di telepon.” Sekarang dia mulai mengerti.

“Tapi hari ini,” lanjutnya,

“aku memutuskan aku nggak mau menunggu lebih lama lagi. Waktuku hampir habis.”

“Jadi … tunggu dulu, kau bilang kau menunggu selama ini buatku untuk membuat langkah pertama?”

“Ini pizza kalian,” kata pelayan, saat ia meletakkan nampan ke meja, bersama dengan dua piring dan setumpuk kecil serbet kertas.

“Silahtan,” tambahnya, dan pindah untuk mengambil pesanan dari meja lain.

“Itu yang aku katakan Jason,” kata Becky, seolah-olah gangguan itu tak pernah terjadi,

“Kebanyakan cewek nggak melihatmu seperti yang aku melihatmu. Mereka enggan untuk melihat ke dalam, tapi aku bisa melihat kau seorang yang istimewa.” la menatapnya lama. la telah membayangkan saat-saat seperti ini sejak ia melihatnya pertama kali di kelas. Akhirnya, ia berkata,

“Aku nggak tahu harus bilang apa Becky.”

“Katakan saja kau akan mencobanya denganku Jason. Itu saja permintaanku.” Jason tersenyum dan memegang tangannya.

“Aku akan senang untuk mencobanya denganmu.” Dia tersenyum kembali.

“Jadi hariku nggak sia-sia. kau lapar?”

la menyadari bahwa ternyata ia sangat lapar, dan pizza itu rasanya enak. Mereka menyelesaikan makannya ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya.

“Jason?” Itu adalah suara perempuan yang akrab ditelinganya. Dia berbalik, dan untuk dua malam berturut- turut ia terkejut melihat wajah Donna.

“Donna!” Seru dia, dan melihat dia memakai seragam pelayan Angelo.

“kau bekerja di sini?”

“Nggak, aku suka nongkrong di sini memakai ini.” Dia tertawa. Donna memandang Becky, kembali ke Jason, kemudian kembali ke Becky.

“Hei Becky. Apa aku mengganggu kencan kalian?” “Mungkin,” kata Becky.

“Wah,” jawab Donna.

“Serius?” Becky tersenyum. Donna kembali ke Jason. “Hei, apa yang terjadi padamu tadi malam? kau berdiri di sampingku satu menit, dan menghilang menit berikutnya. aku merasa seperti Lois Lane.”

“Ya, maaf soal itu. Tapi aku harus memastikan Danny baik-baik saja.”

“Kau mengikuti mereka?” Tanya Donna dengan alis melengkung.

“Ya.”

“Apakah Danny dalam masalah? Sebagian besar dari kita langsung pulang dari sana dan nggak mendengar apa yang terjadi.

“Nggak, Chief Lobeaux membiarkan dia pergi, itu hanya ancaman lidah.” Dia tersenyum dalam hati karena pilihan kata-kata itu.

“Baguslah. Kupikir pasti dia menghabiskan malam di penjara.”

“Jadi kalian berdua saling mengenal?” Sela Becky. “Kami bertemu tadi malam di party-nya Danny,” kata Jason.

“Kami ngobrol di sekitar api cukup lama. Donna sini yakin dia tahu sesuatu, dan aku yakin aku telah membuktikan dia salah. Benar kan Donna? “Dia tersenyum. Donna tidak membahas senyumnya. Becky menarik tangan Jason kearahnya. Ngocoks.com

“Jason, bisakah kita pergi ke suatu tempat yang lebih privat? Aku butuh udara segar.”

“Tentu Becky. Aku akan memanggil pelayan dulu.” “Aku akan mengurus tagihannya untukmu,” kata

Donna, masih melihat Jason tanpa tersenyum.

“Terima kasih.” Donna pergi dan Jason melihat Becky, yang sepertinya tampak kesal.

“Apa yang salah?”

“aku nggak suka dia,” jawabnya. “Donna?”

“Ya Donna. Aku punya permintaan Jason.” “Apa itu?”

“Jangan percaya apapun yang dikatakannya. Dia suka bohong. Dan kupikir dia lesbian.”

“Ok,” katanya dengan nada bertanya dalam suaranya. Donna kembali dengan tagihan, menempatkannya terbalik atas meja di depan Jason, mengatakan apa yang biasa dikatakan

“Semoga malam kalian menyenangkan” dan pergi.

Jason meninggalkan tip yang cukup banyak, dan pergi ke kasir untuk membayar tagihan. Becky mengatakan dia akan ke kamar kecil, dan pergi ke arah itu. Saat ia akan menyerahkan tagihan ke kasir, dia melihat tulisan tangan dibaliknya. Menariknya kembali, ia membaca “Jangan percaya dia!D. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Tapi itu akan jadi jauh lebih buruk.

Setelah membayar, ia berjalan keluar ke lobi untuk menunggu Becky, dan untuk kedua kalinya malam itu, seseorang memanggil namanya. Suara perempuan yang akrab ditelinganya.

“Jason!” Dia berbalik dan ternyata Sam. Oh ya tuhan, dia lupa semua tentang dia!

“Sam!” Jawabnya, tak tahu harus berkata apa lagi. “Kupikir kita seharusnya ketemu di tempatku,”

katanya, dan melihat bagaimana dia berpakaian.

“Apakah kau datang dari acara pemakaman?” “Um, Sam …” ia tak bisa menemukan kata-katanya. “Nggak papa Jason,” katanya tersenyum,

“kita di sini sekarang. Mari kita cari meja.”

“Sam …” ia memulai bicara, tetapi sebelum dia bisa bicara lebih banyak, Becky muncul di sampingnya, dan menyelipkan tangannya dilengannya. Sam memandang Becky, dan menatap lengannya yang terkait dengan Jason. Ekspresi sedih datang diwajahnya.

“Sam,” katanya,

“ini Becky. Becky, ini adalah Samantha.” Dia berharap dia telah membawa kalung itu, karena dia benar-benar ingin menghilang saat ini. Becky tersenyum.

“Jason,” katanya manis,

“Apa kita akan selalu ketemu cewek yang kau kenal setiap kali kita pergi?” Dia menambahkan,

“Bisakah kita pergi sekarang? Jangan tersinggung Samantha, tapi aku sudah menunggu lama untuk mendapatkan orang ini sendiri. kau mengerti.”

Jason memejamkan mata. Bagaimana mungkin sesuatu yang dia tunggu begitu lama akan berubah jadi begini mengerikan? Dia membuka matanya dan menatap Sam. Raut wajahnya menunjukkan betapa hancur hatinya. Dia harus pergi.

“Maaf Sam,” katanya,

“Aku akan bicara dengan kau besok.” Dia memegang tangan Becky dan membawanya keluar pintu, ke udara malam yang lebih segar.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
ABG Berlanjut Bersambung Cantik Guru Kenikmatan Mesum Ngentot Teman Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleMonster Kraken
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.3

    Monster Kraken

    9.0

    Nona Majikan dan Temannya

    9.5

    Malapetaka KKN

    9.0

    Perempuan Polos Berjilbab

    9.0

    Pubertas Dini

    9.3

    Sang Penakluk Akhwat

    Follow Facebook

    Recent Post

    Sebuah Jimat (Amulet)

    Monster Kraken

    Nona Majikan dan Temannya

    Malapetaka KKN

    Perempuan Polos Berjilbab

    Pubertas Dini

    Sang Penakluk Akhwat

    Pistol Hipnotis

    Pengalaman Ternikmat

    Hipnotis Sekolah

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2025 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.