Lima belas menit kemudian Jason duduk di tempat tidur dengan pintu kamar terkunci, meskipun orang tua dan adik perempuannya keluar ke suatu tempat. Dia membolak- balik batu di tangannya berulang-ulang, saat jemarinya menyentuh permukaannya halus, mengamati pusaran warna yang ada di bagian dalamnya. Bahkan meskipun jauh dari sinar matahari, warna-warna masih ada di sana, seolah-olah batu itu diisi dengan cairan kental bercahaya.
Jari-jarinya sedikit gemetar ketika ia menemukan dua ujung dari pengaitnya, dan menaruh di lehernya. Dia tak yakin mengapa dia merasa gugup. Itu hanya hadiah konyol dari seorang pria tua konyol, yang mungkin pikun, atau paling tidak bingung akibat terhempas ke tanah. Tak ada yang terjadi ketika ia memakainya.
Kedua pengait bertemu, dan ketika ia menguncinya, ia merasakan sensasi kesemutan yang hampir tak terlihat mengalir melalui tubuhnya. Dia duduk dan menunggu, untuk menunggu sesuatu yang dia sendiri juga tak yakin. Dia tak merasa perbedaan apapun. Dia mengambil napas dalam- dalam. Tidak, tak ada apa-apa.
Dia tersenyum. Oh yah, dia juga tak menginginkan hadiah dari orang tua itu. Dan orang tua tampak menikmati memberikannya padanya, sehingga paling tidak ada sesuatu yang baik dari itu. Plus, ini adalah perhiasan yang indah, dan akan terlihat bagus di lehernya. Mungkin Becky akan memperhatikan dia sekarang.
Mengingat tugas sekolahnya, ia melihat jam. Dia masih punya waktu untuk pergi ke perpustakaan sebelum tutup. Dia ingin melihat seperti apa kalung itu di lehernya, sehingga ia bangkit dan berjalan ke cermin meja rias. Pada awalnya, apa yang dia lihat tak masuk di otaknya.
Bingung, ia tahu ia melihat sesuatu yang aneh, tapi terlalu luar biasa untuk diproses. Dia menatap tercengang pada bayangan dicerminnya, atau lebih tepatnya, ketiadaan bayangannya. Karena, meskipun pakaiannya ada di sana, bergerak seolah-olah ada efek khusus aneh seperti di film, dirinya sama sekali tak terlihat.
Itu terlalu banyak untuk dipahami. Tertegun, ia mundur dari cermin hingga bagian belakang kakinya menabrak tempat tidur, dan dia duduk. Apakah ia tadi hanya lamunan apa yang telah dilihatnya? Dia yakin begitu. Karena apa yang telah dilihatnya itu tak mungkin terjadi.
Dia mengangkat tangannya di depan wajahnya. Yang dilihatnya adalah manset kemeja yang terbuka, tampak seolah-olah sesuatu berada di dalamnya, tapi tak ada di sana. Pikirannya melayang lagi, dan dia memejamkan mata.
Tapi bukannya kegelapan, ia terus melihat lengan bajunya melambai di depan wajahnya. Pada beberapa titik yang hampir tak dipahami, itu masuk akal. Jika kamu bisa melihat metembus tanganmu, kau juga pasti dapat melihat menembus kelopak matamu. Tapi itu benar-benar jauh di luar logika.
Panik, dia meraih pengaitnya, meraba-raba sejenak, dan dengan cepat melepas kalung itu, melemparkannya ke atas tempat tidur. Dia menutup matanya lagi, dan kali ini kegelapan datang. la menutupi wajah dengan tangannya, dan ia menahannya di sana sampai napasnya tenang, dan detak jantungnya berhenti berdebar keras di dadanya.
Pikirannya akhirnya bisa memproses apa yang telah dilihatnya. Menghilang! Kalung itu membuatnya tak terlihat. Tapi bagaimana mungkin? Itu tak mungkin. Walaupun ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri, dia juga tahu apa yang telah dilihatnya. Setelah guncangan itu mereda, ia perlahan mulai menyadari bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang buruk.
Dia mengambil kalung itu lagi, dan kali ini jari-jarinya benar-benar gemetar. Dia kembali ke cermin, dan ia senang melihat bayangannya menatap ke arahnya. Memegang kalung pada kunci penjepitnya, ia sekali lagi memakainya di sekitar lehernya, menonton dirinya secara dekat di cermin.
Pada saat penjepit terhubung, tubuhnya menghilang dari pandangan. Satu detik masih ada, dan detik berikutnya sudah menghilang. Perasaan bingung datang kembali, tapi kali ini agak berkurang. Dan setelah menatap cermin untuk beberapa saat, ia bahkan berhasil tersenyum. Lalu senyumnya berubah menjadi seringai lebar.
Dia menghabiskan satu jam berikutnya di kamarnya bereksperimen dengan kemampuan barunya. Efeknya lebih mengejutkan ketika dia melepas semua pakaiannya, dan tak ada apapun ketika ia melihat ke cermin.
la tertawa keras ketika ia mengangkat bola bisbol dari atas meja, dan menyaksikannya mengapung di sekitar ruangan, seolah-olah itu terikat tali. la menemukan bungkusan setengah kosong Doritos di laci teratas, dan bereksperimen dengan makanan.
la takut ia akan melihat makanan dikunyah meluncur ke tenggorokannya, tapi yang membuatnya lega, begitu dia meletakkan sekeping makanan itu dalam mulutnya dan menutup bibirnya, itu menghilang.
la bermain-main dengan memasang kalung itu dan melepasnya kembali, mendapatkan senang melihat dirinya menghilang dan muncul kembali. Dia masih sibuk memainkannya ketika ia mendengar ibunya pulang di lantai bawah rumahnya. Ngocoks.com
Dia membeku, tak yakin harus berbuat apa. Tapi dia menyadari hal ini akan menjadi ujian sempurna. Jika, untuk beberapa alasan, kalung itu hanya membuatnya berpikir bahwa ia tak terlihat, dan ternyata ibunya melihat dia, dia hanya akan melihat dia berdiri telanjang di kamarnya. Agak aneh, tapi tak terlalu buruk.
Dia bergerak sepelan mungkin, dan membuka pintu kamar tidurnya. Dia berpikir untuk duduk di tempat tidur, tapi menyadari berat badannya akan menciptakan lekukan aneh dalam kasur yang ibunya akan melihat. Jadi dia hanya berdiri di depan cermin, menunggu.
“Jason!” Teriak ibunya dari lantai bawah. “Apa kau dirumah?” Dia tetap diam.
Dia datang naik ke lantai dua, dan tahu dia akan memeriksa kamarnya untuk melihat apakah ia berada di sini dengan headphone terpasang. Benar saja, beberapa detik kemudian kepalanya muncul melongok ke dalam kamar.
“Ja…” ia mulai, tapi ketika dia melihat ruangan yang kosong, dia berhenti.
“Hah, aku berani bersumpah aku mendengar dia bergerak di sekitar sini. Oh yah, aku pasti sudah pikun.” Kata ibunya saat ia berjalan ke kamar tidurnya sendiri.
Jason tersenyum lebar. Berhasil! Ibunya menatap ke arahnya tapi tak melihatnya. Setelah beberapa saat, ia mendengar shower di kamar mandi orangtuanya, dan mengambil kesempatan untuk berpakaian dan pergi ke luar, terlebih dulu memastikan untuk melepas kalungnya dan mengantongi di sakunya.
Dia tak bisa menahan senyumnya saat ia berjalan melalui komplek rumahnya. Menghilang! Semua orang pasti pernah bermimpi untuk bisa melakukan ini, kan? Pikirannya berpacu dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
Bersambung…