Close Menu
Cerita SexCerita Sex
  • Warning!
  • Contact Us
  • Privacy Policy
  • Kirim Cerita Sex
  • Join Telegram
  • Video Bokep
  • Foto Bugil
  • Jav Sub Indo
X (Twitter) WhatsApp Telegram
Cerita SexCerita Sex
  • Contact
  • Warning!
  • Privacy
  • Kirim Cerita
  • ThePornDude
  • Bokep
Cerita SexCerita Sex
Home»Cerita Sex Bersambung»Sebuah Jimat (Amulet)

Sebuah Jimat (Amulet)

Share Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Akhirnya, sampai juga pada jam pelajaran ketujuh. Hanya empat puluh lima menit dari akhir pekan. Untuk Jason, jam pelajaran ketujuh adalah seperti pelajaran bebas oleh Mr. Greer. Mr. Greer adalah salah satu guru yang populer dikalangan murid-murid, tapi dia selalu menuntut siswa di kelasnya melakukan tugas mereka, dan berlaku keras pada mereka yang tak mematuhinya. Jason adalah salah satu murid favoritnya karena dia selalu melakukannya tugasnya dengan baik di kelas, menjaga nilai rata-rata tetap 4.0 sempurna.

Mr. Greer dikenal sangat toleran dengan siswa yang dia sukai, jadi dengan masih adanya tiga puluh menit tersisa sebelum bel akhir pelajaran, Jason cukup gelisah untuk segera keluar hingga ia berpikir berani mengambil risiko bertanya.

“Mr. Greer,” katanya, berdiri di depan meja guru, “Apakah boleh saya diijinkan keluar lebih awal hari

ini?”

Guru itu mendongak dari kertas-kertas yang sedang ia

kerjakan, mengintip dari balik kacamatanya, memberikan Jason sekilas pandangan bertanya.

“Punya sesuatu yang penting untuk dikerjakan Mr. Ramsey?” Jason mempertimbangkan untuk berbohong, tapi memutuskan untuk jujur saja.

“Tidak, tidak juga. Hanya merasa perlu untuk keluar kelas.” Mr. Greer tersenyum kepadanya, seakan menghargai kejujurannya.

“Kita juga berdua sama, Jason,” katanya.

“Sayangnya, ini adalah pekerjaanku untuk terjebak di sini. kau, di sisi lain, tidak menanggung kewajiban itu. Silakan, pergilah. Hanya, jangan membesar-besarkannya.”

“Terima kasih Pak,” kata Jason, dan cepat kembali ke mejanya untuk mengumpulkan barang-barangnya dan pergi.

Beberapa menit kemudian dia berjalan melintasi tempat parkir di belakang sekolah, merasa bebas dan gembira, menghadapi akhir pekan panjang untuk dihabiskan bersama kemampuan barunya. Kemungkinan itu tak ada habisnya.

Langkahnya membawanya tepat di lapangan bisbol, di mana cewek-cewek tim softball sekolah sedang berlatih. Mereka berlatih setiap hari saat ini, mendapatkan nilai pada pelajaran gym untuk semester ini, bukannya pelajaran olahraga seperti murid lainnya. Dia biasanya melihat mereka berjalan kembali ke gym saat ia pulang sekolah, menuju shower sebelum pulang kerumah.

Dia berhenti. Tentu saja! Shower! Mengapa ia tak memikirkan ini? Ini adalah kesempatan sempurna untuk menggunakan kalung itu, dan dia hampir melewatkannya. Dia berbelok menuju gym, menemukan sebuah pintu terbuka dan menuju ruang ganti laki-laki.

la menemukan sebuah loker yang tak terpakai di bagian belakang ruangan, di sepanjang dinding dan tersembunyi dari siapapun yang akan masuk. Dia segera melucuti pakaiannya dan menyimpannya dalam loker. Mengambil kalung dari saku celananya, ia melirik sekelilingnya untuk memastikan tak ada yang bisa melihatnya, dan memakai kalungnya. Setelah mengangkat tangannya di depan wajahnya untuk memverifikasi bahwa itu tak bisa terlihat, ia siap untuk pergi.

Dia mengira berjalan sambil telanjang di luar ruangan itu aneh, tapi itu tak seberapa dibandingkan dengan berjalan kaki telanjang di tengah gym sekolah. Ruang ganti cewek berada di ujung, dan ketika dia berjalan kesana, ia ingat bahwa hampir sepanjang waktu tempat ini dipenuhi dengan murid- murid. Dan di sini ia, telanjang dan berjalan di tempat terbuka. Meskipun ia tahu ia tak bisa terlihat, dia secara naluriah menaruh tangannya di atas kemaluannya saat ia berjalan, menutupi selangkangannya.

Ruang ganti murid perempuan disusun seperti ruang ganti murid laki-laki, tetapi berseberangan. Kantor guru ada di sisi kanan saat ia masuk, bukan sebelah kiri seperti pada murid laki-laki. Shower berada di ujung, dengan satu bagian untuk membuang hajat. Tetap ada perbedaan sedikit.

Pertama, sangat pink di sini. Dinding dan loker adalah pink, dan tampaknya seperti habis dicat baru-baru ini dibanding pada murid laki-laki. Atau bisa saja warnanya yang membuat tampak seperti itu, dengan ruang murid laki-laki dicat hijau menjemukan. Area shower juga berbeda. Bagian utama lebih kecil, dan dikelilingi oleh bilik-bilik kecil dengan pintu yang berisi shower individu. Dia menduga beberapa cewek sangat menyukai privasi mereka.

Kamar mandi sedikit berbeda juga, memiliki enam bilik bukan dua seperti pada murid laki-laki, dan tak ada urinal, itu sudah jelas. Ada juga beberapa tampon dan dispenser pembalut di dinding, dan itu mengingatkannya pada sebuah peristiwa beberapa tahun yang lalu.

Waktu itu ia kelas sembilan, dan mereka sedang bermain dodge ball di pelajaran olahraga anak laki-laki. Guru telah meninggalkan mereka sendirian, dan beberapa anak yang lebih besar yang menggoda salah satu yang lebih kecil, seorang anak aneh bernama Oscar Benton.

Tapi si kecil itu berdiri mengadapi mereka. Pada satu saat ia mengklaim mereka tak memiliki separuh dari keberanian yang dimilikinya. Ketika mereka menertawakannya, dia menantang mereka untuk berjalan ke kamar ganti cewek. Mereka melirik ke arah pintu terlarang itu dengan kerutan kening di wajah mereka, dan tertawa gugup. Oscar mulai berkotek seperti ayam, yang menimbulkan tawa seluruh kelas. Tentu saja, berikutnya datang tak terelakkan,

“Jika kau begitu berani, ayo kita lihat apa kau memang berani melakukannya.”

Tanpa ragu, Oscar segera beraksi, langsung menuju pintu masuk kamar mandi cewek. Jason dan seluruh anak-anak ternganga ngeri, tak pernah percaya dia akan pergi masuk ke ruang itu. Tanpa berhenti sama sekali, Oscar menyelinap masuk, dan menghilang dari pandangan.

Semuanya tertegun diam, tak percaya apa yang baru saja mereka saksikan. Mereka semua menunggu sambil menahan napas menunggu suara jeritan keluar, tapi tak ada suara. Lumayan lama juga, saat Oscar muncul kembali, meluncur keluar dari pintu itu secepat dia masuk, tapi sekarang memegang segenggam benda putih di masing- masing tangan.

Ketika sampai di tengah gym, dia berteriak keras, dan melemparkan benda di genggamannya ke udara. Serempak, setiap kepala di ruang itu mengikuti gerakan benda itu ke atas, berhenti sejenak, dan kemudian kembali ke bawah sampai akhirnya mendarat di lantai gym.

Barulah kemudian mereka akhirnya tahu benda apa itu, campuran dari tampon dan pembalut yang Oscar telah ambil dari dispenser, seolah – olah ia membutuhkan bukti bahwa dia telah memasuki tempat elit nan suci.

Anak-anak berkerumun di sekitar anak bertubuh kecil itu, menepuk punggung dan memberi selamat padanya. Bahkan anak laki-laki yang menggodanya ikut terkesan. Ketika seseorang menanyakan apa yang telah dilihatnya di sana, jawabnya dengan muka serius,

“Ku pikir aku melihat semak.”

Oscar pindah tahun berikutnya, tapi legendanya berlanjut tanpa dia. Beberapa anak bercerita dengan mencoba membumbui dengan menambahkan bahwa Oscar mengaku ia berhenti sebentar untuk menjilat vagina seorang cewek saat berjalan keluar, tapi Jason menyaksikan sendiri jadi tahu yang sebenarnya.

Jason melihat sekeliling ruangan yang sekarang masih sepi untuk mencari tempat untuk menonton. Dengan lima belas cewek atau lebih yang akan segera masuk, kemungkinan salah satu dari mereka tanpa sengaja menubruk dia jauh lebih besar. Matanya mendarat pada baris dari blok jendela kaca pada dinding seberang, yang memungkinkan cahaya masuk ke dalam ruangan, tapi karena ketebalan dan distorsi, mencegah orang untuk bisa melihat ke dalam. Setiap bagian jendela memiliki langkan ambang yang cukup dalam, dan sekitar lima kaki dari lantai. Jika ia bisa mengangkat tubuhnya ke ambang terjauh di sebelah kiri, ia bisa duduk di sana dan memiliki sudut pandang yang sangat bagus dari kamar ganti dan kamar mandi.

Usaha pertamanya untuk naik kesana sia-sia, dengan langkan jadi sedikit terlalu tinggi dan dangkal baginya untuk mendapatkan pegangan. Dia melihat sebuah ember pel besar ada di dekat dinding kamar mandi. Membalik ember itu, ia meletakkannya di lantai di bawah jendela. la berdiri di ember dan membuat lompatan kecil ke atas dengan mudah, dan segera dia duduk di bertengger, menunggu cewek-cewek untuk masuk.

Dia tak perlu lama menunggu. Beberapa menit setelah dia mengambil tempat itu, pemain softball pertama masuk. Dia adalah seorang cewek pendek Italia yang pernah ia lihat sebelumnya. Maria atau Marie atau nama lain yang mirip itu. Dia pasti meninggalkan latihan lebih awal, karena dia sudah melepas pakaian sebelum seluruh tim muncul. Marie Tangetti, akhirnya dia ingat. Payudaranya lebih kecil dari Sam, tapi malah sedikit lebih merosot. Dia memutuskan bahwa milik Sam lebih baik.

Ketika ia melepas celana dalamnya, ia akan melihat semak ala Italia penuh rambut kemaluan, tapi terkejut melihat dia telah mencukur habis di bawah sana. Dia menatapnya dengan takjub. Dia ingin melihat close up, tapi tahu bahwa tak mungkin melakukannya sini. Dia bertanya-tanya berapa banyak cewek seusianya yang bercukur seperti itu.

Saat Marie berjalan menuju ke area shower, cewek- cewek itu sudah masuk semua. Melihat sekeliling ruangan, rasanya seperti melihat meja prasmanan. Segala jenis cewek, semua dalam berbagai tahap menanggalkan pakaian. Cewek berbadan besar (ini kan para pemain softball), cewek kecil, payudara besar, payudara kecil, dan payudara yang tak ada sama sekali. Terlalu berat baginya untuk menerima gambaran itu sekaligus. Otaknya sepertinya kelebihan beban.

Beberapa cewek lain juga mencukur rambut kemaluannya seperti Marie, dan beberapa memiliki rambut kemaluan alami seperti Sam. Ini kelihatan sekitar setengah dan setengah. Dia tak yakin ia lebih suka yang mana, memutuskan bahwa dia senang keduanya.

Seorang cewek menarik perhatiannya. Dia sepertnya tak tahu namanya, tapi dia mengingatkannya pada Becky, dengan tubuh yang langsing kecil dan payudara agak besar. Tapi rambutnya lurus dan pirang, di mana Becky adalah coklat tua dan tergerai kebelakang. Dia berjalan menuju kamar mandi dengan hanya membawa handuk di atas bahunya, dan dia bisa melihat payudaranya dengan lembut bergoyang saat ia melangkah. Rambut kemaluannya telah dicukur tipis menjadi strip vertikal yang sempit, dan itu mengingatkannya pada rambut Mohawk Mr. T, yang menyebabkan dia tersenyum.

Ketika dia melewati dirinya, dia bisa memeriksa tubuh bagian belakangnya, dan dia pikir dia belum pernah melihat pantat yang lebih sempurna dari ini sebelumnya. Dia bisa merasakan dirinya semakin keras saat ia melihat cewek itu menyabuni badannya, meratakan busa di atas payudara yang licin, dan ke bawah pinggul dan ke gundukan pantatnya. Dia memiliki fantasi melangkah di belakangnya dalam kamar mandi, meraih kedepan dan menangkup payudaranya dari belakang, dan membiarkan kemaluannya menggesek pada pantatnya yang penuh sabun.

Cewek-cewek lain juga di shower dengan dia, dan dia menikmati menonton mereka, tapi matanya terus kembali pada cewek dengan pantat indah itu.

Dia juga menikmati obrolan para cewek, ngobrol tentang segala hal dari seputar cowok bagaimana tim mereka sekarang. Seseorang menanyakan tentang party Danny malam ini, dan pada saat namanya disebutkan, ada kicauan kegembiraan memenuhi ruangan itu, dengan banyak cewek- cewek bicara secara bersamaan. Dua dari cewek-cewek kelas junior membanding-bandingkan tentang apa yang akan mereka lakukan padanya jika mereka mendapat kesempatan dengan dia sendirian malam ini.

Seorang cewek berdiri di dekat mereka, seorang berbadan tinggi dengan rambut cokelat pendek bernama Jean, yang Jason punya kelas yang sama dengannya, angkat bicara,

“Jika kau akan pergi mendekati Danny malam ini, kau mungkin harus bicara dengan Donna dulu.”

Perhatian cewek-cewek berpaling terhadap Donna, yang kebetulan dialah si pantat indah. Dia keluar dari kamar shower mengenakan handuk membalut tubuhnya, yang menutupi payudaranya dan menjuntai hanya sedikit menutupi Mohawk-nya.

“Apa ini tentang Danny?” Tanyanya.

“Cewek-cewek ini berpikir buat kencan dengan dia malam ini,” kata Jean,

“dan aku menyarankan mereka bicara dulu padamu.” Donna melihat cewek-cewek dengan alis terangkat.

“Semoga berhasil.” Salah satu cewek, pirang dengan cincin hidung, bertanya,

“Apa menurutmu dia mau denganku?” Donna menatapnya lagi. cewek itu duduk telanjang di bangku di depan lokernya.

“lebarkan kakimu.” “Hah?” Jawab cewek itu.

“Lakukan saja,” kata Donna. cewek itu menurut. “Yah,” kata Donna,

“Kau punya vagina. Danny akan menggaulimu.” Semua cewek tertawa mendengar ini, tapi Jason melihat bahwa Donna tak ikut tertawa.

“Apakah kau pernah tidur dengannya?” Itu adalah cewek muda lainnya. Jason melihat sesuatu kilat melalui mata Donna, tapi dia bilang

“Ya.”

“Bagaimana rasanya?” “Hebat,” jawab Donna,

“Aku melihat bintang jatuh dan kembang api, dan aku pikir seekor kuda terbang berhenti sebentar untuk menonton kita.”

“Ayo, seriuslah Donna,” kata Jean,

“Beritahu mereka ceritanya.” Donna memberikan Jean sebuah pandangan bertanya

‘kenapa kau membuatku melakukan ini?’.

“Aku ingin mendengar ceritanya,” kata cewek dengan cincin hidung.

“Ok,” kata Donna, melepas handuk dan duduk di

bangku.

“Itu terjadi pada acara prom tahun lalu, dan-”

“kau pergi ke acara prom bersama Danny?” cewek

muda lain tanpa pikir bertanya. Donna memberinya sekilas pandangan pedas.

“Apa aku tadi bilang aku pergi ke prom dengan dia?

Diam sajalah.” Dia melanjutkan,

“Jadi, Danny berangkat ke prom dengan perek dari kelas senior tahun IaIu, Sandy Meyers sang Ratu Prom, yang selalu membenciku entah karena apa.” Dia mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Aku kena masalah di sekolah beberapa minggu sebelumnya, dan hukumanku adalah untuk mengurus ruang pengecekan mantel di acara prom. Semacam hukuman pelayanan masyarakat.”

“Sebab apa kau kena masalah?” Sela cewek itu lagi. Sebelum Donna sempat merespon, si cincin hidung menepuk temannya di lengan dan berkata,

“Kamu bisa diam nggak sih? Aku mau mendengar cerita ini.”

“Jadi, seperti yang tadi ku bilang, aku bekerja di ruang pengecekan mantel, dan prom sebentar lagi akan bubar. Sang ratu perek Sandy menerima penghargaan, dan meminta Danny mengambil mantel mereka. Dia mendatangiku memegang dua tiket mantel dan memamerkan senyuman tolol yang sangat pas untuknya. Jadi aku pergi ke dinding belakang tempat mantel digantung untuk mengambilnya, dan aku nggak sengaja menjatuhkan milik Sandy di lantai. Atau mungkin sangat sengaja, aku juga nggak ingat.”

“Aku membungkuk mengambilnya, dan Danny sepertinya suka apa yang dia lihat, sebab waktu aku berbalik, seringainya bercampur dengan binar di matanya. Dia bukan tipeku, tapi aku melihat kesempatan untuk membalas pada sang putri perek itu.”

“Jadi aku berkedip ke arahnya, dan dia langsung melomati meja dengan satu lompatan atletis. Kami tahu bahwa kami tak punya banyak waktu, jadi dia mendorongku kembali ke ruangan kecil untuk menyimpan mantel ekstra, melemparkan beberapa mantel ke lantai, dan membaringkanku diatasnya.” Jason bisa melihat beberapa cewek menggeliat di kursi mereka.

“Dia berlutut di antara kedua kakiku, membuka celananya, dan menarik keluar penisnya yang sudah keras. Aku mengenakan rok pendek, dan ia meraih pergelangan kakiku dan menarik kakiku ke atas dan mendorongnya kebelakang, jadi aku terbuka untuknya. Aku masih memakai celana dalamku, tapi aku menggesernya ke samping saat ia memasukkan penis besarnya ke dalam diriku.”

“Aku jadi temen-temen, jika kau mau bercinta dengan Danny, sebaiknya kau tak berencana untuk menggunakan kemaluanmu lagi selama beberapa hari sesudahnya. Cowok itu punya sesuatu yang terlalu besar untuk diberikan, dan aku sakit sekali keesokan harinya. Dan ingat, kita ada pertandingan besok, jadi jika aku melihat salah satu dari kalian tersandung di lapangan karena kau masih belum pulih dari Danny, aku akan menendang pantatmu.” cewek-cewek terkikik.

“Jadi, disanalah kami, bergumul di lantai ruang mantel tepat di tengah prom. tak butuh waktu lama buatku untuk klimaks, dan ku pikir klimaksku memicu dirinya juga. Semuanya selesai hanya dalam beberapa menit. Kami bangun bersama-sama dan ia meraih mantelnya, melompati meja konter lagi, dan pergi untuk menemui sang Duchess of Cunterbury. Aku dengar mereka menghabiskan malam bercinta di sebuah hotel, jadi harapanku merusak malam mereka nggak berhasil.” Jason melihat bahwa sebagian besar cewek di ruangan itu gelisah dan menggeliat. Ada yang tanpa sadar mengelus-elus payudara mereka sendiri.

“Jadi itu saja,” kata Donna,

“Itu ceritaku dengan Danny. Sudah puas Jean?” Jean tertawa. Si cincin hidung angkat bicara lagi.

“Tapi bagaimana jika aku ingin lebih dari sekedar bersetubuh dengan dia?” Donna menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Bagaimana jika aku ingin lebih dari sekedar tidur dengannya? Bagaimana jika aku ingin kita pacaran?” Tatapan aneh sekilas muncul lagi diwajah Donna, dan dia tak menjawab, tapi Jean mulai tertawa.

“Pacaran dengan Danny Mazzelli?” Kata Jean,

“Apa kau bercanda?” cewek itu tampak terlihat malu. “Sayang,” Jean melanjutkan,

“Banyak cewek lain yang lebih baik darimu sudah berusaha mencobanya, dan satu per satu dari mereka jatuh terbakar. Danny bukanlah cowok yang suka pacaran. Kau baru saja dengar kan bahwa kencan prom-nya biarkan dia lepas dari pandangan selama sepuluh menit, dan ia menggunakan sepuluh menit untuk menyetubuhi cewek lain. Apa kau benar- benar mau selalu mengawasi gerak-geriknya?”

“Aku tak pernah berpikir sejauh itu,” kata si Cincin

Hidung.

Jason mendengarkan pembicaraan mereka, tapi matanya selalu tertuju pada Donna. Saat cewek yang lain mendiskusikan kekurangsetiaan Danny yang sudah terkenal, wajah Donna menunjukkan jejak kesedihan. Ruang ganti itu nyaris kosong, dengan hanya Jean, Donna dan cincin Hidung yang tersisa. Dan Jason, tentu saja, masih mengawasi dari tempat itu.

Jean sudah berpakaian lengkap, tapi Donna masih dengan celana dalam dan tanpa bra. Cincin hidung itu mengambil tas olahraganya bersiap-siap untuk pergi.

“Doakan aku beruntung,” katanya seraya berjalan menuju pintu.

“Ayo dapatkan dia!” Kata Jean, tapi Donna hanya melambaikan tangan. Saat mendengar suara pintu ditutup di belakang mereka, Jean berpaling kepada Donna sambil nyengir.

“Yah, tadi cukup menyenangkan.” Donna tak terlihat begitu senang.

“Aku hampir tak percaya kau membuatku menceritakannya lagi.”

“Anggap saja sebagai terapi,” jawab Jean, masih tersenyum.

“Tuhan tahu kau membutuhkan nya. Dan kau juga melupakan bagian terbaiknya.”

“Bagian yang mana?”

“Jangan pura-pura malu denganku, kau tahu apa maksudku. Ciuman kecil Danny padamu tepat sebelum ia pergi. Di sini” Dia menyentuh pipi Donna. Donna akhirnya tersenyum.

“Oh ya,” tambah Jean,

“Kalimat ’Dia bukanlah tipeku’? Sentuh yang bagus.” “Benarkah?”

“Tapi serius Donna, ini sudah hampir satu tahun. Kau harus melupakan cowok ini. Kau belum berkencan dengan siapa pun sejak itu. Kau biasanya keluar setiap Jumat malam dengan cowok yang berbeda setiap minggunya.”

“Aku tahu,” kata Donna sambil menghela napas. “Karena itu tak akan terjadi, tak peduli betapapun kau

menginginkannya. Apakah kau dengar apa yang barusan aku

katakan pada Karen? Berharap untuk berpacaran dengan Danny adalah seperti berharap kau akan tumbuh payudara ketiga. Keduanya tak akan terjadi.”

Donna tertawa mendengarnya. Masih topless, dia menunduk dan menangkup payudaranya, menarik mereka terpisah sedikit seolah-olah membayangkan ada yang ketiga di tengah-tengahnya.

“Ku pikir aku bisa melakukannya,” katanya sambil

tertawa.

“Sebaiknya jangan,” Kata Jean sambil tersenyum, pandangan nakal muncul di wajahnya.

“Aku menghabiskan banyak waktu membuat kedua payudaramu senang. Jika kau punya tiga, aku tak akan bisa berpindah ke tempat lain yang lebih bagus.” Telinga Jason langsung berdiri. Wah, bicara tentang apa ini? Donna tersenyum.

“Aku yakin kau bisa mengaturnya. Kau punya satu mulut dan dua tangan. Aku payah dalam matematika, tapi aku cukup yakin kau tak akan kesulitan dengan yang ketiga.”

“Apa? Dan meninggalkan vaginamu begitu saja? Itu akan menyedihkan.” Jason merasa dirinya semakin keras. Dia tak percaya ini terjadi. Saat kedua cewek ngobrol mereka telah bergerak lebih dekat bersamaan di bangku sampai mereka duduk bersebelahan.

“Apakah vaginamu basah mendengar ceritaku lagi?” Tanya Donna.

“Kau periksa sendiri,” jawab Jean, dan memegang tangan Donna, meletakkannya ke paha bagian dalamnya, dan mendorongnya ke atas, dibawah lipatan rok pendeknya. Tangan Donna bergerak ke atas, tak terlihat, tapi Jason tahu dari reaksi Jean ketika Donna menemukan apa yang ia cari.

Lengan Donna bergerak perlahan keluar masuk, dan Jason menyadari bahwa ia sedang memasturbasi Jean dengan jari, mungkin lebih dari satu. Jean mendesah pelan, jelas menikmati sentuhan temannya. Setelah beberapa saat, Donna menarik tangannya keluar, dan bahkan dari tempat Jason dudukpun, ia bisa melihat jari dua jari Donna berkilau basah oleh cairan.

“Aku kira kau sudah basah,” kata Donna.

“Aku ingin tahu apa kau masih terasa manis seperti yang aku ingat.” Dia mengambil jari telunjuk ke mulut dan mengisapnya.

“Mmmm,” dia mendesah, menatap mata temannya. Mengeluarkan jari dari mulutnya, ia berkata, “Bahkan lebih manis.”

“Mau coba sedikit?” Dia memegang jari lainnya dan Jean membuka mulutnya sedikit. Donna menyentuh jarinya ke bibir cewek itu, dan menyelipkannya di dalam. Jean mengisapnya sejenak, dan membuka mulut dan menjilat itu, lidahnya menjentikkan karena mencari setiap rasa yang tersisa.

Donna memindahkan tangannya ke belakang leher Jean, dan menariknya ke bawah, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang bergairah. Jason mengawasi dengan penuh minat saat lidah mereka mengeksplorasi mulut masing-masing, berbagi ekspresi keintiman.

Tangan Jean menemukan payudara Donna, dan meremasnya dengan lembut. Ketika putingnya menjadi keras, dia menjepitnya, menyebabkan suara terkesiap dari cewek kecil itu. Tangannya bergerak lebih rendah, menelusuri atas perut Donna. Donna bereaksi dengan melebarkan kakinya, mengundang tangan Jean menuju kesana.

Dari sudut pandang Jason, ia bisa melihat celana dalam Donna lurus dihadapannya. Dia memakai celana dalam model thong merah kecil, dengan bahan yang hanya sedikit menutupi celah dan Mohawk-nya, dan itu saja. Dia bisa melihat kulit halus tercukur pada bibir luar sepanjang tepi celana dalamnya, dan terlihat sangat lembut, ia berharap bisa menyentuhnya.

Ujung jari Jean bergerak dengan lembut di atas kulit halusnya, menggoda temannya dan membuat Donnna terkesiap lagi. Jarinya bergerak di tengahnya, dari atas dekat turun ke tengah, menelusuri sepanjang gundukan bibir bawahnya. Mereka menghilang di bawah gundukannya, kemudian melangkah lebih jauh dan pinggul Donna tampak tersentak oleh kenikmatan.

Tangan Jean kembali ke bagian depan, dan dengan satu jarinya, celana Donna disibak ke satu sisi, dan seluruh celahnya terlihat jelas. Jason bisa melihat warna pink basah di antara bibirnya, dan saat jari Jean menekan ditengahnya, pintu masuk bagian dalamnya terekspos untuk Jason lihat.

Dia tak sedekat waktu dengan Sam, tapi pemandangan itu masih luar biasa buatnya. Jari Jean mulai bergerak di atas tempat tertentu, dan Jason memutuskan itu pasti klitorisnya. Ini adalah tempat yang sama saat Sam menyentuh dirinya tadi malam, dan ia pernah membaca itu rasanya seperti menyentuh ujung penis pada pria. Itu terasa cukup nikmat untuk dia saat melakukannya, jadi ia membayangkan Donna sedang menikmati apa yang Jean lakukan padanya.

Dan dari suara erangannya, dia tahu dia benar. Donna mulai memutar pinggulnya dalam gerakan berputar-putar kecil, tubuhnya bangkit oleh kenikmatan. Jean membalas apa yang dilakukan temannya tadi, dengan mencabut jarinya dari vaginanya dan membawa ke mulut Donna. Donna mengisap dengan rakus, menjilati semuanya saat dia mengerang pelan.

Menarik jari-jarinya dari antara bibir Donna, Jean memandang jarinya dan berkata dengan pura-pura sedih, “Kau nggak menyisakan sedikitpun buatku. Aku akan mendapatkannya buat diriku sendiri.” Dia berpindah dengan berlutut diantara kedua kaki Donna yang terbuka.

Mata Jason melotot lebar. Sudut pandang pada vagina Donna sekarang terblokir, tapi ia menyaksikan Jean membungkuk, meletakkan tangannya di sekitar pinggul Donna untuk pegangan, dan menundukkan kepalanya tepat berada di antara kedua kaki temannya.

Donna langsung bereaksi, menutup matanya dan merintih, tubuhnya mengejang. Dia tak bisa melihat yang apa Jean lakukan, tapi apa pun itu, tindakannya berpengaruh hebat pada si pirang. Tangan Donna memegang kepala Jean, jari-jarinya terjalin di rambut pendek hitam cewek itu, mendorong lebih dekat.

“Oh,” kata Donna dengan napas mengerang, “Kau sangat hebat melakukannya.”

Jason menyadari bahwa dari cara Jean membungkuk, roknya telah tersingkap dan vagina yang tertutup celana dalamnya mengintip dari belakang. Dari sudut yang tinggi, ia tak bisa melihat langsung, tapi itu tetaplah pemandangan yang sangat bagus. Ngocoks.com

Pantat Jean melengkung membentuk huruf V, dan di dalam V itu ia bisa melihat segitiga membentang halus dari celana dalam katun, dengan spot basah besar di tengah. Dia bertanya-tanya bagaimana reaksi mereka jika ia melompat turun dari tempat duduknya, meraih pinggulnya, mendorong celana dalamnya ke satu sisi, dan meluncur penis kerasnya ke dalam dirinya.

Dari suara yang Donna keluarkan, dia tahu itu tak akan lama sebelum dia klimaks. Matanya tertutup dan lubang hidungnya melebar, dan napasnya tersengal-sengal.

“Ya ya ya, sedikit lagi,” keluhnya keras, dan tubuhnya mengejang hebat saat ia berusaha untuk menahan suara erangannya. Jason tahu dari tekanan tangannya di kepala Jean, bahwa ia menekan wajah temannya ketat terhadap vaginanya, saat  pinggulnya  berputar-putar.  Dia  bertanya-tanya bagaimana Jean bisa bernapas dengan perlakuan seperti itu, dan mengkhawatirkan tentangnya.

Setelah beberapa saat Namanya, Donna kembali turun pelan-pelan, dan Jean mengangkat kepadanya, Jason lega melihatnya. Mereka berciuman lagi, dan sekarang Donna yang membungkuk pada Jean yang masih berlutut di antara kakinya. Dari belakang, Jason tak bisa melihat mulut mereka, tetapi dari cara Donna menggerakkan kepalanya, itu tampak seperti sedang menjilati mulut temannya daripada menciumnya.

Melanjutkan ciuman mereka, tangan Donna pindah kembali lagi antara kaki Jean, bergerak di bawah gaunnya. Jean mengerang dimulutnya, dan Jason melihat pinggulnya maju mendekati sentuhan Donna, mendesak dia untuk meneruskan tindakannya. Meskipun punggung Jason mulai pegal karena berada pada posisi yang sama begitu lama, ia sudah tak sabar untuk melihat adegan ke 2.

“Ini penjaga sekolah! Apa ada orang didalam” Suara pria yang dalam bergema masuk ke dalam ruangan, mengejutkan ketiganya. Jason begitu terkejut hingga dia hampir jatuh dari tempat duduknya. Jean dan Donna berpisah dengan gerakan cepat, dan Jean buru-buru duduk di bangku, menjaga jarak dengan temannya. Wajah mereka menunjukkan rasa bersalah. Jean yang lebih dulu sadar, dan berseru,

“Kami berdua masih di sini. Tolong beri kami waktu beberapa menit!”

“Maaf kalau begitu,” suara berat itu menjawab, “Silakan saja.” Mereka bisa mendengar suara pintu ditutup. Jean dan Donna tersenyum satu sama lain.

Jean.

“Kukira kita harus menyelesaikan ini lain waktu,” kata

“Dia bilang silahkan saja,” kata Donna penuh harap, “Aku bisa menyelesaikanmu dengan cepat?” Jean

tersenyum.

“Nggak, mood-ku sudah hilang. Kau bisa berutang satu padaku.” Sialan, mood Jason tidaklah hilang. Dia benar-benar menikmati adegan ini.

“Aku akan menunggunya,” kata Donna, dan dia meluncur ke tempat Jean duduk dan mereka kembali berciuman, kali ini dengan penuh kelembutan.

Donna cepat berpakaian, sementara Jean menunggu jadi mereka bisa pergi bersama. Setelah mereka berjalan keluar, Jason bisa mendengar mereka berbicara dengan petugas kebersihan di aula, dan tahu ia harus bergegas.

Melompat turun dari langkan, dia memastikan untuk tak mendarat di ember yang ada di bawahnya, dan bergerak menuju pintu gym, yang mana posisinya berlawanan dengan pintu penjaga sekolah itu masuk. Dia berlari melintasi lantai gymnasium yang sudah kosong, merasa seperti Oscar Benton saat ia melesat ke ruang ganti laki-laki untuk mengambil pakaiannya.

Bersambung…

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
ABG Berlanjut Bersambung Cantik Guru Kenikmatan Mesum Ngentot Teman Ternikmat Umum
Share. Twitter Telegram WhatsApp Email Copy Link
Previous ArticleMonster Kraken
ceritasex

    Ngocoks adalah situs dewasa yang berisi kumpulan cerita sex tergres yang di update setiap hari. Jangan lupa bookmark situs ini biar tidak ketinggalan cerita dewasa lainnya, -terima kasih.

    Related Post

    9.3

    Monster Kraken

    9.0

    Nona Majikan dan Temannya

    9.5

    Malapetaka KKN

    9.0

    Perempuan Polos Berjilbab

    9.0

    Pubertas Dini

    9.3

    Sang Penakluk Akhwat

    Follow Facebook

    Recent Post

    Sebuah Jimat (Amulet)

    Monster Kraken

    Nona Majikan dan Temannya

    Malapetaka KKN

    Perempuan Polos Berjilbab

    Pubertas Dini

    Sang Penakluk Akhwat

    Pistol Hipnotis

    Pengalaman Ternikmat

    Hipnotis Sekolah

    Kategori

    Terekspos

    Ngocoks.com adalah situs dewasa berisi kumpulan cerita sex, cerita dewasa, cerita ngentot dengan berbagai kategori seperti perselingkuhan, perkosaan, sedarah, abg, tante, janda dan masih banyak lainnya yang dikemas dengan rapi dan menarik.

     

    ✓ Update Cerita Sex Setiap Hari
    ✓ Cerita Sex Berbagai Kategori
    ✓ 100% Kualitas Cerita Premium
    ✓ Semua Konten Gratis dengan Kualitas Terbaik
    ✓ Semua Konten Yang Diupload Dipilih & Hanya Update Konten Berkualitas

     

    Cara Akses Situs Ngocoks

    Akses menggunakan VPN atau kamu bisa juga akses situs Ngocoks ini tanpa VPN yang beralamat ngocoks.com kalau susah diingat, Silahkan kamu buka saja Google.com.sg Lalu ketikan tulisan ini ngocoks.com, terus klik halaman/link paling atas situs NGOCOKS no 1 di Google. Selamat Membaca!


     

    Indonesian Porn Fetish Sites | Indonesian Porn List | Ulasan Bokep Indonesia

    © 2025 Ngocoks - Support by Google Inc.
    • Warning!
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Kirim Cerita Sex
    • Channel Telegram

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.