Tiga jam kemudian dia santai didepan api yang berderak, menikmati aroma dan hutan pinus di sekitarnya yang mengelilingi Blue Lake. Ada beberapa api unggun di sekitar tepi danau, tapi Jason memilih satu ini karena hanya ada beberapa party-goer duduk di sekitarnya. Meskipun desakan Danny, ia tak yakin ia ingin datang ke sini malam ini, berpikir ia lebih suka menghabiskan malam mencoba kalung itu. Tapi pengalamannya di ruang ganti cewek itu telah membuatnya puas untuk saat ini, setelah mampir sebentar untuk masturbasi cepat di rumah, tentu saja.
Dia akan menggunakan lagi kalung itu besok, tapi ia membawanya malam ini, untuk berjaga-jaga saja. Namun, dia benar bahwa ia tak punya kesempatan untuk menggunakannya di sini. Danny telah menghamburkan uangnya pada beberapa tong bir, dan sebagian besar cowok- cowok yang minum mulai bertindak bodoh. Jason mencoba alkohol beberapa kali, tapi ia benar-benar tak mau jadi kebiasaan. Dan melihat semua idiot mabuk memberinya motivasi lebih untuk tak memanjakan diri.
Ketika ia tiba, ia melihat Danny sedang melakukan percakapan dengan Gary Horner, seorang teman dari masa kecil mereka. Gary dan Danny telah bermain olahraga bersama saat anak-anak, dan keduanya dilahirkan dengan tubuh dan gen atletik. Tapi ketika Danny tenggelam dengan olahraga, Gary terlibat dengan pergaulan buruk, dan keluar masuk dengan masalah hukum. Ketika ia masih di kelas sembilan, orang tuanya memutuskan untuk pindah ke kota sebelah untuk menjauhkan dia dari orang-orang yang ia biasa kumpul.
Tapi itu tak berhasil, dan Jason telah mendengar rumor Gary terlibat beberapa masalah besar di sana, dan nyaris masuk penjara. Jadi dia kembali ke sini saat menjalani kelas seniornya, dan ia serta Danny jadi dekat lagi.
Meskipun mereka berkumpul bareng dalam kelompok yang sama saat anak-anak, Jason tak begitu suka Gary. Dia selalu arogan dan merendahkan orang lain, tak hanya terhadap Jason, tapi juga pada anak lain dalam kelompok mereka. Jason sebenarnya senang ketika Gary pindah, dan sekarang ia kembali, percakapan mereka hanyalah sekedar bertegur sapa satu sama lain. Gary dan Danny sedang berbicara ketika Jason tiba, dan saat ia berjalan lewat, ia mendengar sebagian dari pembicaraan mereka.
“Kau ingin meminjam lagi?” Kata Danny.
“Ini akan jadi yang terakhir kakinya, aku janji,” Gary menjawab,
“Aku pakai punyaku sendiri minggu depan.”
“Ok,” kata Danny, menyerahkan sesuatu pada Garry yang Jason tak bisa lihat.
“Tapi hati-hati.” Danny melihat Jason berjalan dan berpaling padanya.
“Jason! kau akhirnya datang juga” teriak dia dan datang untuk menyapa temannya.
Jadi, akhirnya ia santai di depan api unggun, duduk di bangku dari batang pohon dan mendengarkan percakapan di sekitarnya. Danny telah mampir beberapa kali, mendorongnya untuk berbaur, tapi dia meyakinkan temannya ia senang duduk di sini dan bersantai. Satu kali, Danny membawa cewek memperkenalkan padanya, dan cewek itu duduk dan ngobrol dengannya sebentar, tapi akhirnya ia jadi tak tertarik pada pembicaraan itu dan berjalan pergi. Pada akhirnya, semua orang di sekitarnya sudah pindah ke api unggun yang lain, meninggalkan dia sendirian.
Dia bertanya-tanya apakah Becky akan datang, tapi ia belum melihatnya. Sam tak akan diundang, karena dia dan Danny tak akur sama sekali. Sementara dia entah bagaimana memaafkan Jason untuk perlakuan buruknya selama tahun-tahun padanya, Danny tidak menerima dispensasi yang sama.
Tapi mengingatnya kembali, Danny mungkin yang paling nakal padanya, dan Jason cukup yakin ia adalah orang yang pertama kali menjuluki Sam Botol Cola. Dia tahu Jason berteman baik dengan Danny, tapi setiap kali ia menyebutkan nama Danny di hadapannya, mulutnya akan mengencang dan matanya akan menatap dikejauhan, dan dia akhirnya belajar untuk menghindari subjek itu.
Tapi ia dan Danny membicarakan tentang Sam. Danny juga merasa bersalah bagaimana ia dulu memperlakukannya, tapi semua usahanya untuk mendapatkan pengampunannya telah berakhir pada penolakan. Jadi dia akhirnya berhenti mencoba. Tapi dia selalu mengatakan pada Jason ia harus menikahi cewek itu, karena jika dia bisa memaafkan nya atas apa yang mereka lakukan terhadapnya, dia bisa memaafkan dia untuk apapun.
Jason menyadari bahwa selama memikirkan tentang Sam, seseorang telah duduk di bangku di dekatnya, menatap api unggun. Dia berbalik untuk melihat siapa orang itu, dan terkejut melihat wajah Donna yang familiar. Jason pasti sedang menatapnya dengan aneh, karena dia menatapnya dengan sinis, dan berkata,
“Apa yang salah denganmu?”
Jason tersenyum. Beberapa jam yang lalu ia melihat sisi lebih lembut darinya, luar dan dalam, tapi di sini ia mengenakan ekspresi kerasnya untuk perlindungan.
“Sorry,” katanya,
“Kau mengejutkanku, itu saja.”
“Ya, karena itu sangat aneh bagi seseorang untuk duduk di dekatmu di sebuah party?” Katanya, dengan nada sedikit sarkasme masih dalam suaranya.
“Aku sedang berpikir tentang seseorang, dan aku tak memperhatikan kedatanganmu.” Dia tampak melembut saat ini.
“Ya, dan aku yakin aku bisa menebak siapa.”
“Hah?” Katanya, bertanya-tanya apa yang dia bicarakan.
“Sudahlah,” jawabnya,
“itu tak penting. Hei, kau dan Danny adalah teman baik kan?”
“Ya, Jason Ramsey adalah namaku,” katanya sambil mengulurkan tangannya,
“Dan kau?” Dia menatap kosong ke arahnya.
“Apakah kau mabuk atau lagi tinggi?” Akhirnya dia bertanya. Dia duduk tegak dan menatapnya. Dia tampak serius.
“Tidak,” katanya,
“Mengapa kau bertanya begitu?”
“Dan kau benar-benar tak tahu siapa aku?” Katanya, dengan nada suara agak tersinggung.
Dia menatapnya dengan penuh perhatian. Dia hanya bisa mengingatnya dari ruang ganti. Dia yakin dia belum pernah bertemu dengannya sebelum itu. Mereka ada di sebuah SMU besar dan ada banyak anak-anak di kelasnya yang dia tak pernah bertemu.
Sebuah pikiran mengerikan terlintas di benaknya. Ya tuhan, apakah dia adalah sepupunya yang tak pernah ketemu lagi sejak mereka masih kecil? Apakah ia menonton sepupunya yang telanjang? Perutnya langsung bergolak. Donna Donna Donna Donna. la mengulangi nama itu di pikirannya. Apakah ia memiliki sepupu bernama Donna? Dia pikir tak punya, tapi ia tak begitu yakin. Dia menggeleng bingung.
“Bantu aku. Aku benar-benar tak ingat.” Dia menguatkan hati untuk sesuatu yang paling buruk. Dia berdiri.
“Aku Donna Lomack. Kita satu kelas di mata pelajaran Sejarah. Pak Klemen jam ketiga. Kami sudah berada di sana bersama-sama sepanjang tahun!” Ekspresi lega menyapu dirinya. Jadi ia tak menonton sepupunya yang telanjang.
“Oh,” katanya, malu, dan menambahkan tanpa berpiki r,
“Apakah kau yakin?” Dia tahu segera setelah meninggalkan bibirnya, itu adalah sebuah kesalahan.
“Apa maksudmu, aku yakin?” Katanya,
“Kau duduk dua kursi di depanku setiap hari. Tentu
saja aku yakin.”
“Maaf,” katanya, pikirannya bingung. Dia ingat bahwa tubuh sempurna dari kamar mandi dan tak bisa percaya ia melewatkan Donna yang duduk begitu dekat dengannya setiap hari.
“Aku kira aku tak memperhatikan,” tambahnya, berharap itu terdengar seperti permintaan maaf.
“Yah, emm … itu karena …” ia mulai mengatakan sesuatu, tapi wajahnya melunak dan ia menambahkan,
“Kurasa kau sibuk memikirkan sesuatu.” “Sibuk? aku sibuk dengan apaan?” “Sudahlah, itu nggak masalah.”
“Baik,” katanya, duduk kembali dan melipat dengannya. Dia menatapnya untuk beberapa saat,
“Kau benar-benar tak ingat aku?” Nada suaranya lebih lembut sekarang. Donna kembali menatapnya. Tiba-tiba ia melompat ke depan.
“Donna? Donna Lomack? Dari pelajaran Sejarah jam ketiga? jadi ini kamu” mencapai! Dia menggapai dan memegang tangannya dan menjabatnya dengan penuh semangat, memberinya senyuman lebar.
“Sok tahu,” katanya, tapi dia tertawa.
“Ayo duduklah, Donna,” katanya, masih tersenyum, “Kita harus mengejar semua kenangan kita bersama
dalam Sejarah tahun ini.” Dia tertawa lagi, dan yang mengejutkannya, dia duduk di sampingnya, sedikit lebih dekat daripada yang sebelumnya.
“Ok, ok,” katanya,
“Aku nggak tersinggung sebab kau tak tahu siapa aku.” Dia tertawa.
“Bagus, kurasa aku tak pernah menyebabkan seorang cewek sakit hati sebelumnya. Aku lumayan tahu seperti apa rasanya.”
“Oh, aku yakin kau pernah, cowok dilahirkan dengan gen itu.” Dia berpikir tentang Sam dan mendapat sedikit sedih.
“Yah, aku mendorong seorang cewek sampai jatuh dari sepedanya sekali.”
“Nah, itu baru terdengar seperti seorang cowok. Apa yang dia lakukan sampai pantas mendapatkan perlakuan seperti itu?”
“Dia mengikutiku kemana-mana.”
“Oh dalam hal ini, cewek itu layak mendapatkannya.” Jason tertawa keras. Ketika ia akhirnya bisa bernapas, ia berkata,
“Tidak, Dia tak seperti itu. Tapi untungnya dia memaafkanku.”
“Kalau begitu kau harus menikahi cewek itu.” Jason menatapnya.
“Kau tahu, itu hal yang sama persis Danny selalu katakan padaku.”
la melihat sesuatu di belakang cahaya matanya saat mendengar nama Danny. Tapi dia menyembunyikannya dengan baik.
“Yah kau tahu,” katanya,
“jika ada satu orang yang kau harus kau dengar nasihatnya tentang pernikahan, itulah Danny.” Jason tertawa lagi.
“Nggak pernah memikirkannya sampai ke situ. Menurut logika, aku harus berlari sejauh mungkin dari Sam.”
“Sam?”
“Samantha, cewek yang aku bicarakan.”
“Oh ya, aku pikir aku mengenalnya. Rambut merah?
Sangat cantik?”
“Itu dia,” jawabnya, tapi dia tak pernah menganggap Sam sebagai ‘sangat cantik’ sebelumnya.
“Jadi, apakah kau dan dia …?” Donna membiarkan kata-kata terdiam. Dia tampak bingung sejenak, lalu mendapatkannya.
“Siapa, Sam dan aku? nggak, kita hanya teman baik.” “Ku pikir nggak.”
“Hah? Apa artinya?” Donna menyadari betapa menghina kedengarannya.
“Nggak, aku nggak bermaksud seperti itu.”
“Apa maksudmu?” Dia tampak ragu-ragu untuk menjawab,
“Ini hanya – kelihatannya kau tertarik pada orang lain.” “Hah?” Donna tersenyum.
“Apakah aku benar-benar harus mengatakannya?”
“Katakanlah apa?” Katanya, menunjukkan kebingungan di wajahnya.
“Aku benar-benar tak paham apa yang kau bicarakan.”
“Ayolah, itu sudah jelas buat siapapun yang punya mata.” Dia menatapnya, menggeleng kepala dan mengangkat bahu.
“Becky Johnson?” Kata Donna.
Matanya terbuka lebar dan wajahnya berubahjadi merah membara. Jason menatapnya dengan ekspresi kaget di wajahnya, dan bergumam, “Kenapa kau berpikir begitu?”
“Karena Jason, kau duduk di sana dan menatapnya sepanjang pelajaran sejarah.” Dia bingung.
“Aku nggak kok.” Dia tersenyum lembut.
“Tentu saja kau begitu, semua orang tahu.” Dia pucat. “Setiap orang?” Dia memberinya ekspresi lelah.
“Ini jelas Jason.”
“Setiap orang?” Ulangnya. Dia akhirnya mengerti apa yang ia bertanya, dan menjawab,
“Ya, dia juga tahu.”
Kepadanya terkulai ke bawah, dan ia memegang wajahnya di tangannya, diam untuk sesaat. Donna juga terdiam, kemudian bertanya,
“Jason, boleh aku mengajukan satu pertanyaan?”
“Tentu,” katanya, tak mengangkat kepalanya. “Apakah kau pernah bertanya pada dirimu sendiri
mengapa dia tak bicara denganmu?” Dia memutar kepadanya dan menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Dengarkan apa yang kukatakan. Apakah kau pernah berhenti dan berpikir sejenak tentang mengapa dia mengabaikan kau?”
“Bukannya sudah jelas?” “Katakan.”
“Lihat aku. Aku kutu buku dan dia kapten cheerleader.
Mengapa dia mau bicara padaku?”
“Jason, apakah kau pikir aku cantik?”
Dia menatapnya, bertanya-tanya dari mana asal muasal pertanyaan ini. Ketika ia tak menjawab, ia berkata,
“Jason, katakan saja ya sebelum kau membuatku
kesal.”
“Ya, tentu saja kau cantik. Malah kenyataannya,
sebelumnya hari ini aku berpikir … “Dia berhenti, menyadari ia akan menceritakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika melihat dia di kamar mandi, dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Donna memandang dengan ekspresi bingung, tapi melanjutkan apa yang ada dalam pikirannya.
“Ok, aku cantik, dan aku mau bicara denganmu. Jadi mengapa Becky enggak?”
Dia menatapnya, pikirannya bekerja. Ada beberapa logika di balik kata-katanya, tapi dia tak bisa memahami apa yang ia maksudkan. Akhirnya, ia berkata,
“Aku nggak tahu. Menurutmu, mengapa dia nggak mau bicara?” Donna menatapnya.
“Aku tahu kenapa dia nggak mau bicara denganmu, tapi aku nggak akan bilang padamu. Itu sesuatu yang kau harus cari tahu sendiri.”
“Apakah kau mencoba untuk menyiksaku?” Lengannya mengulurkan tangan dan beristirahat di bahunya.
“Aku nggak menyiksa kau Jason, aku mencoba untuk membantumu.” Dia terdiam, mencoba mencerna apa kepadanya. Rahasianya sudah tak rahasia lagi seperti yang ia kira.
“Bisakah aku menceritakan satu rahasia yang mungkin bisa membuatmu merasa lebih baik?” Kata Donna.
“Katakanlah.”
“Aku diam-diam naksir seseorang juga.”
“Apakah itu aku?” Katanya sambil nyengir. Donna menyikutnya.
“Sok pinter. Aku serius.”
“Ok, maaf. Apakah aku kenal orang itu?” Dia harus melangkah hati-hati di sini.
“Aku pikir nggak. Dia hanya seorang pria biasa.” “Bukannya seperti Becky dan aku, apakah kau pernah
bicara dengannya?”
“Ya, kami sudah bicara sedikit. Tapi aku nggak pernah bilang padanya gimana perasaanku.”
“Kenapa?”
“Karena jelas dia nggak tertarik padaku seperti itu.” la berharap dapat mengatakan padanya untuk
mengikuti hatinya dan mengatakan pada orang ini bagaimana perasaannya tentang dia, dan semuanya akan beres. Tapi dia tahu Danny, mungkin lebih baik daripada siapapun, dan dia tak tertarik pada hal semacam itu. Untuk Danny, dia selalu tertarik pada cewek berikutnya, bukan yang dia saat ini bersama.
“Aku juga hanya punya satu pertanyaan untukmu,” kata Jason.
“Apa itu?”
“Apakah orang itu memakai kaca mata kuda, atau apa dia berjalan pakai tongkat? Sebab dia pasti buta nggak tertarik padamu.” Dia tersenyum.
“Oh, kata-katamu sangat manis.”
“Ok, pertanyaan serius sekarang?” Katanya. “Tanya saja.”
“Mengapa kau suka cowok ini?” Dia diam, dan ia bertanya-tanya apakah ia pernah memikirkan pertanyaan seperti itu sebelumnya.
“Emm,” akhirnya dia mulai,
“la cakep, punya tubuh besar, dan menyenangkan untuk berada didekatnya, tapi denganku, ada sesuatu yang lebih dari itu. Nggak yakin gimana menjelaskannya, tapi buat tiap orang, aku yakin ada orang lain yang cocok buat mereka, seolah-olah mereka itu satu kepingan.”
“Satu kepingan?”
“Misalnya saja kau punya piring cina, dan kau pecahkan jadi dua. Jika kau mengambil dua kepingan itu dan menempelkan mereka bersama, mereka akan cocok dengan sempurna. Setiap sudut dan celah dari masing-masing akan diisi oleh yang lain. Sebuah potongan yang sempurna.
Jika kau mengambil dua bagian dari dua piring yang berbeda, kau mungkin bisa menempelkan mereka bersama-sama, menaruh sedikit lem pada piring itu, dan kau bisa menyebutnya itu piring, tapi itu nggak akan sama. Aku nggak ingin jadi seperti itu – direkatkan dengan seseorang dan disebut sebagai piring. Aku ingin menemukan bagian dari kepinganku yang lain.”
“Dan kau percaya orangnya dia?”
“Dalam hatiku aku yakin. aku nggak tahu bagaimana aku tahu itu, dan aku juga nggak mengharapkan orang percaya, tapi karena kau tanya padaku, dan itulah jawaban jujurku.” Jason diam sejenak, berpikir. Akhirnya, ia berkata,
“Aku belum pernah mendengar cinta yang digambarkan seperti itu, tapi itu sempurna.” Dia sangat ingin menambahkan bahwa dia tak perlu khawatir – satu kepingan itu pada akhirnya akan menemukan dirinya – tapi dia tak ingin berbohong untuk cewek itu. Mereka duduk tenang selama beberapa menit, menonton api unngun. Tiba-tiba Jason berkata,
“Tunggu dulu! Aku tahu sekarang! Cakep? Tubuh besar? Menyenangkan untuk bersama? Itu aku kan? Aku bilang padamu Donna, aku akan memutus Becky sekarang juga jika kau mau.” Donna tertawa.
“Hanya masalah, buat mengatakan putus dengannya kau harus benar-benar bicara dengannya.”
“Ohh!” Jason tertawa dan bersandar di bangku, memegangi dadanya dan menyeringai.
“Di sini aku mencoba untuk membantumu dan kau malah menusuk jantungku.” Donna tertawa juga, dan bersandar di bahunya. Ngocoks.com
“Kita jelas adalah pasangan, kan?”
“Memang,” katanya, bertanya-tanya bagaimana mungkin ia dan cewek cantik ini punya suatu kesamaan.
Mereka duduk di sana selama beberapa saat, istirahat dari percakapan dan menikmati kesunyian. Dari salah satu api unggun lainnya muncul satu teriakan yang terdengar sangat mirip Danny. Keduanya langsung tertawa.
“Sepertinya Danny sedang bersenang-senang,” katanya.
“Dia melakukan itu dengan baik, kan? Dia tetap nggak berubah sejak aku kenal dia di kelas tiga.” Donna menatapnya skeptis.
“Nggak berubah sejak kelas tiga ya?” “Ya,” jawabnya,
“yang sama. Meskipun, dia tampaknya lebih sering bercinta sekarang daripada saat itu. Nggak terlalu banyak, tapi sudah ada peningkatan.” Donna tertawa keras pada lelucon Jason, dan harus bersandar padanya untuk sandaran.
“Jadi,” katanya setelah beberapa saat, “Danny nggak pernah punya pacar serius?”
Donna mengatakan itu sambil lalu, tapi Jason tahu betapa penting pertanyaan itu baginya. la berharap ia punya berita yang lebih baik untuknya.
“Nggak. Danny nggak pernah memakai kata-kata serius dan cewek dalam satu talimat.” Donna terdiam sejenak, lalu berkata,
“Jadi, kau bilang satu-satunya hubungan Danny yang stabil hanyalah denganmu?” Dia mundur darinya.
“Apa?” Katanya tajam. “Apa katamu?”
“Tenang,” katanya, senyum muncul di tepi bibirnya,
“Jangan langsung tersinggung. Aku hanya bercanda denganmu.” Jason menggeleng sambil tersenyum kembali padanya.
“Kau tahu, aku sedang menikmati malam yang sangat baik di sini sebelum kau muncul.”
“Apakah itu cara malu-malu darimu untuk memintaku
pergi?”
“Nggak, kau boleh tetap tinggal sekarang. Malamku
sudah hancur.” Donna tertawa lagi.
“Kau tahu Jason, kau memiliki kepribadian yang hebat di bawah rasa malumu itu. kau harus lebih sering membiarkannya keluar.”
“Yah, kau tahu apa yang mereka bilang. Ketika matahari terbenam, bulan punya kesempatan untuk bersinar.”
Donna memberinya pandangan bertanya, tapi sebelum dia bisa mengatakan apapun, Jason memotong.
“Dan lihat itu, sesuai aba-aba, mataharinya muncul.”
Dia menunjuk ke arah jalan setapak, di mana Danny mendekat, menyanyikan lagu dengan keras diiringi seorang cewek di setiap lengannya. Melihat lebih dekat, ia menyadari itu adalah Cincin hidung dan temannya. Dia dan Donna berdiri, dan ia melirik sekilas ke arahnya untuk melihat bagaimana dia bereaksi, tapi dia jelas sudah banyak berlatih menyembunyikan perasaan yang sebenarnya untuk Danny, karena dia tak bisa melihat jejak rasa sakit dari matanya.
Bersambung…