Jason memutuskan untuk menghabiskan sisa paginya dengan mencari petualangan lain dengan kalung itu. Tapi setelah pengalamannya dengan Danny dan Chief Lobeaux malam kemarin, ia dalam suasana hati untuk sesuatu yang sedikit lebih normal. Mungkin jalan-jalan di sekitar blok, untuk melihat apa yang bisa ia temukan? la menilai apakah ia harus pergi dengan berpakaian dan membawa itu kalung di sakunya, atau pergi telanjang mengenakan kalung itu.
Menyimpulkan bahwa mungkin sulit untuk menemukan tempat untuk melepas pakaian, ia memilih yang terakhir. Pagi itu bagus, tetapi tidak terlalu panas, dan ia akan nyaman tanpa pakaian. Dia mulai terbiasa dengan ini.
Dia berjalan mengelilingi blok sekitar rumahnya, tapi tidak melihat sesuatu yang menarik. Kebanyakan adalah orang di halaman rumah mereka membersihkan rumput, atau keluar menuju ke dalam mobil mereka. Saat ia kembali ada didekat rumahnya, ia pikir pencariannya akan jadi sia-sia.
Tapi dua pintu sebelum rumahnya dan di seberang jalan, dia ingan itu adalah rumah keluarga Raders, di mana Tom dan Beth Rader tinggal. Mereka pasangan muda, hampir belum setahun menikah, dan pindah ke lingkungan itu musim semi lalu, tepat setelah mereka menikah.
Jason bertemu mereka musim panas lalu ketika Tom meminta bantuannya untuk memotong rumput mereka beberapa kali ketika ia keluar kota untuk perjalanan bisnis panjang. Mereka berdua sekitar pertengahan dua puluhan, lebih dekat dengan usia Jason daripada orang tuanya. Athletik dan sehat, mereka sering turun di taman bermain tenis satu sama lain.
Dia kadang-kadang mendengar orang tuanya membicarakan tentang mereka ketika mereka pikir Jason tidak bisa dengar, dan rang tuanya memberi nama panggilan untuk pasangan Raders dengan sebutan ‘Kelinci’. Jason tak yakin apa yang mereka maksud, sampai suatu hari di musim panas IaIu dia berdiri di dalam pintu depan, sementara orang tuanya sedang duduk bersama di ayunan di luar rumah.
Pasangan Raders itu berada di luar di halaman mereka, di mana Tom pemangkasan pagar dan Beth penyiangan bunga-bunga. Kemudian Tom berjalan ke arah di mana Beth berlutut di bedeng bunga, membungkuk, dan mencium bagian belakang lehernya. Beth berdiri, berbalik, dan mereka berpelukan. Tom memegang tangan Beth dan membawanya ke dalam rumah.
Orang tuanya jelas tak tahu bahwa Jason berdiri dalam jarak pendengaran, karena ibunya berkata,
“Lihat mereka seperti kelinci lagi.” Ayahnya tertawa
kecil.
“Aku ingat saat-saat seperti itu.”
“Kupikir kita tak pernah berhubungan seks sesering
mereka berdua,” kata ibunya,
“Mereka lengket satu sama lain setiap menit dalam sehari.”
Jason pikir telinganya salah dengar. Apakah dia benar-benar barusan mendengar ibunya berkata begitu? Dia mundur dengan cepat dan tenang menjauh dari pintu, bersumpah untuk tak pernah menguping orang tuanya lagi.
Saat mendekati rumah Rader, keberuntungan bersamanya. Mobil mereka baru saja masuk ke halaman rumah mereka, dan dari cara mereka berpakaian sepertinya mereka baru saja tenis di taman. la tahu ia harus bergerak cepat, jadi ia berbalik dan mengikuti mobil mereka di jalan masuk.
Pintu garasi terbuka, dan mobil meluncur kedalamnya. Jason datang setelah mereka, dengan pintu bergulir di belakangnya. Dia berdiri di pojok mengamati mereka keluar dari mobil dan ia memasuki rumah mereka melalui pintu samping. Dia mendengar Beth berkata,
“Kau simpan dulu raketnya dan aku akan menyiapkan shower.”
Mereka menutup pintu di belakang mereka, dan Jason menunggu beberapa menit sebelum ia mencoba untuk membukanya. Menyelinap kedalam, ia mencoba untuk mengorientasikan dirinya di dalam rumah. Dia melihat tangga ada di dekat pintu depan dan mengarah naik ke lantai dua. Di bagian atas tangga ke samping adalah kamar mandi, dan ia bisa mendengar suara shower mengalir. Pintu terbuka dan ia mengintip ke dalam.
Pemandangan yang indah sudah menunggunya. Beth sudah telanjang, dan ia sedang membungkuk di bak mandi, menempatkan tikar mandi ke dalamnya. Dia memiliki sudut pandang yang sempurna tepat pada pantatnya, dan jelas bisa melihat bibir berbulu di bawahnya. Mereka terlihat begitu mengundang, ia terpesona.
Saking terpesonanya, ia hampir tak mendengar suara dari belakangnya. Bergerak cepat, ia nyaris terlambat bergeser ke samping saat Tom berjalan melewatinya. Mereka begitu dekat dia bisa merasakan udara bergerak melewati kulitnya ketika Tom lewat. Jantung Jason mulai berdegup cepat, karena dia sadar dia hampir saja ketahuan.
Tom, yang juga telanjang, pasti juga menikmati pemandangan yang sama seperti Jason, karena ia muncul di belakang Beth, meraih pinggulnya, dan menekan tubuhnya pada pantat Beth.
“Tommy,” ia tertawa,
“kau hampir membuatku terjatuh.”
“Aku memegangimu sayang,” katanya, dan dia benar.
Dia memegang pantatnya dengan kencang dan menempelkan pangkal pahanya, dan memang Beth jelas tak mungkin jatuh. Dia adalah seorang wanita bertubuh mungil, tetapi memiliki bentuk tubuh yang kuat dan ramping. Payudaranya kecil dan bulat, yang mana Jason hanya bisa mengira lewat baju tipis yang biasanya dipakai.
Dia tidak sabar menunggu Beth untuk berdiri sehingga dia bisa melihat payudaranya secara langsung. Tom berbadan tinggi, tetapi juga ramping dan berotot. Setiap kali mereka berdiri di samping istrinya, Beth hanya setinggi dadanya.
Ketika dulu Jason memotong rumput rumah mereka, dan Tom ada di halaman dan Beth sendirian di rumah, ia sering berfantasi tentang dia. Dia telah mendengar cerita-cerita tentang ibu rumah tangga yang merayu remaja laki-laki, dan membayangkan apa yang bisa terjadi antara Beth dan dia. sayangnya, tak ada yang pernah terjadi, dan satu-satunya interaksi yang mereka miliki adalah ketika dia kadang-kadang membawa keluar segelas jus jeruk. Atau mungkin juga bisa disebut untungnya, karena melihat otot-otot Tom, ia benar- benar tak ingin berada di posisi yang salah atau ia akan mendapat pelajaran yang keras.
Akhirnya, Tom melepaskan pegangannya, dan Beth berdiri, berbalik dan memeluk pinggangnya. Payudaranya kecil, tapi berbentuk sempurna, bagus dan bulat dengan puting kecil. Tangan Tom meluncur turun ke punggungnya, dan selanjutnya turun ke pantatnya, menangkupnya dan menarik agar mendekat. Beth memiringkan kepalanya ke belakang sambil menengadah, dan mereka mencium dalam. Jason mengawasi dan menjadi terangsang.
Setelah beberapa saat, mereka berpisah dan melangkah ke kamar mandi, mengeser pintu kaca menutupnya. Pandangan melalui kaca agak terdistorsi karena air memercik dan membuatnya tak jelas, tapi ia masih bisa melihat sebagian besar dari apa yang sedang terjadi.
Mereka mulai dengan ciuman, tapi kemudian memisahkan diri dan menyabuni badan mereka sendiri. Dia memperhatikan Beth menyebarkan busa di atas payudaranya yang mungil, dan menatap dengan penuh perhatian ketika ia berbalik dan membiarkan semprotan shower membilas mereka.
Sementara itu, Tom mulai mencuci kemaluannya. Sudah setengah keras dari ciuman penuh gairah mereka, tapi karena ia menggosokkan busa di atasnya, itu menegang lebih keras. Beth berbalik dan melihat apa yang sedang Tom lakukan. Beth perpura-pura menampar tangannya pergi, dan berkata,
“Hei, itu pekerjaanku.”
Dia mengambil sebatang sabun dan mengumpulkan busa di tangannya, dan mengulurkan tangan dan menggenggam miliknya, memberikan remasan kecil. Dia mulai dengan gerakan membelai, yang dengan cepat membuatnya tegang sepenuhnya. Tangannya memutar dan membelai secara bersamaan, masing-masing dalam arah yang berlawanan, dan Tom sepertinya sangat menikmati efeknya. Tangannya menemukan payudaranya dan meremas, dan kenikmatan akan sentuhannya muncul di wajah istrinya.
Mereka akhirnya berhenti dan menyelesaikan mandinya. Mematikan shower, mereka melangkah keluar dan mulai mengeringkan diri, dan penis Tom kaku dan terayun- ayun setiap dia bergerak. Beth pura-pura akan meraihnya, Tom tertawa dan bergeser menjauh dari jangkauannya.
Sambil menyeringai, Beth mencoba strategi yang berbeda. Bergerak mendekatinya, dia meletakkan tangannya di atas bahunya dan melompat, menarik tubuhnya ke atas dan melingkarkan kakinya di pinggang Tom. Saat ia menempel erat padanya, Tom menangkup kedua pantatnya, menahan berat tubuhnya. Mereka berciuman lagi, kali ini bibir mereka pada posisi sejajar, dan Tom mulai berjalan.
Jason harus memberi jalan mereka lagi, dan mereka berjalan melewatinya, Tom membawa istrinya dengan mudah di lorong dan masuk ke pintu yang terbuka. Setelah beberapa saat, Jason mendengar suara samar dari kasur yang tertekan.
Dia mengikuti mereka dengan perlahan, tak ingin mengeluarkan suara. Ketika ia sampai di sudut kamar, ia terkejut melihat Tom sudah memasuki istrinya.
Dari sudut pandang belakang mereka, Jason memiliki pandangan yang sempurna dari aksi mereka. Mereka berada di tempat tidur, Beth berbaring telentang, dan tangan Tom mengait di belakang lututnya dan menekannya di dekat bahunya. Jason memberikan nilai tinggi untuk kelenturan tubuh Beth. Posisinya menyebabkan kemaluannya miring ke atas, yang memberikan sudut lurus pada penisnya. Tom berlutut, dan ia menggunakan gerakan pinggulnya masuk dan keluar dari dalam dirinya.
“Sayang,” kata Tom, napasnya menjadi lebih cepat, “Kau membuatku sangat tegang di kamar mandi. Aku nggak akan tahan lebih lama lagi.” Beth sambil terengah menjawabannya.
“Nggak papa Tommy. Lakukan saja dengan keras sampai kau keluar.”
Tommy melakukan apa yang dimintanya, meningkatkan kecepatan dan menekan pinggulnya ke dalam miliknya, berulang-ulang, tubuh mereka bertumbukan membuat suara keras.
Tom mengerang dan melengkung punggungnya oleh kenikmatan, menekan pinggulnya erat di pangkal pahanya, mengubur diri sepenuhnya di dalam dirinya. Beth mencakar kukunya dengan ringan di punggungnya dan pantat saat Tom keluar, tersenyum ke arahnya.
Matanya mengamati saat kenikmatan pelan-pelan mulai memudar dari wajahnya dan berganti dengan kepuasan, dan kemudian Tom rileks ke dalam pelukannya. Dia melepaskan pegangan lututnya dan kakinya turun, masih melingkari pinggulnya. Berbaring seperti itu selama beberapa saat, mereka berbagi ciuman dan bisikan lembut, saat napasnya kembali normal. Dia mengangkat tubuhnya, IaIu berbaring di sampingnya, bersandar pada satu siku, dan berkata,
“Katakan apa yang kau mau sayang.” Beth tersenyum ke arahnya, dan tampaknya mempertimbangkan pilihannya. Akhirnya dia memutuskan.
“Aku mau tanganmu padaku.” “Posisi favorit kita?”
“Tentu saja.” Rasa ingin tahu Jason langsung tersulut.
Tom naik tempat tidur dan duduk dengan punggung menempel kepala tempat tidur, meregangkan kakinya dengan lutut ditekuk. Beth berpindah kedepannya dan duduk di antara kedua kakinya yang terbuka, menempelkan punggung Beth ke dadanya. Kaki Beth persis seperti suaminya – meregang dengan lutut ditekuk. Tapi kakinya datar di atas kasur pangkal pahanya terbuka untuk sentuhan Tom dan juga pandangan Jason. Bibirnya sedikit terbuka dan basah dengan cairan mereka berdua.
Tom menangkup payudaranya dari belakang dan menciumi lehernya. Beth mendesah dan bersandar semakin merapat, tubuhnya rileks. Satu tangan Tom meluncur ke bawah perutnya, dan ia menggerakkan sepasang jari ke atas celah basahnya. Jason bisa tahu kapan Tom mencapai klitorisnya, karena tubuh Beth mengejang pada saat yang sama.
Jason mengira Tom akan membuat istrinya orgasme dalam waktu singkat, dengan menggerakkan jari-jarinya dengan cepat. Tapi apa yang ia lihat malah mengejutkannya.
Tom mulai dengan irama lambat, membelai klitorisnya dengan jari-jarinya melingkar dengan pelan. Beth benar-benar rileks, menyerahkan tubuhnya pada sentuhannya. Menit- menit berlalu, dan Tom sengaja menjaga kecepatannya itu. Mata Beth tertutup, dan napasnya ringan, disertai sesekali erangan lembut.
Tangan Tom yang lain bergantian di antara putingnya, meremas dengan pelan. Dia mencium telinganya dengan lembut, membisikkan kata-kata lembut yang Jason tak mungkin bisa dengar. Ngocoks.com
Jason belum pernah melihat atau membayangkan hal seperti ini. Persetubuhan mereka sebelumnya seperti apa yang ia kira keras dan cepat dan eksplosif. Tapi sekarang lembut dan lambat, dan dia benar-benar bisa melihat cinta Tom pada Beth dari cara ia memeluk dan menyentuhnya.
Beth telah menyerahkan diri pada sentuhannya, tapi ia juga menyerahkan dirinya untuk kenikmatannya. Setiap gerakan yang dibuatnya dilakukan dengan maksud membuatnya merasa nikmat. Jason baru sadar bahwa apa yang dilihatnya jelas membedakan antara berhubungan seks dengan bercinta. Kedua orang ini bercinta dan mengekspresikannya dengan tubuh mereka.
Tubuh Beth sedikit lebih aktif sekarang, dengan berkedut dan mengejang kecil melanda tubuhnya, dan pernapasannya meningkat sedikit. Tom mempertahankan ritmenya, membawa dia naik sedikit demi sedikit, bersikap seakan dia memiliki waktu sepanjang hari untuk melakukan ini padanya.
“Ya sayang oh,” bisiknya lembut. “Aku hampir sampai sayang.”
Pinggul Beth mulai bergoyang sedikit, bergerak seirama dengan jarinya. Cairan Tom sekarang menetes keluar dari pangkal paha beth, cairan putih mengalir lambat di antara bibir bagian dalamnya, turun ke celah pantatnya, dan akhirnya ke seprei.
Napasnya mantap, masuk dan keluar, membangun momentum seiring menit berlalu. Bibir Beth pada awalnya hanya sedikit terbuka, tapi sekarang mengeluarkan erangan lembut setiap kali membuang napas. Tangan Beth pindah berpegang di kedua sisi kaki Tom, jari-jarinya berkedut kecil seolah-olah mencari tempat untuk berpegang. Dia menemukannya, dan mencengkeram di atas lututnya, dan pengencangkan otot-otot tangannya, menunjukkan bahwa Beth sedang memegang dengan erat.
Sekarang erangan keras keluar diiringi napas yang pendek, dan tubuhnya kejang-kejang dengan sentakan kecil, Jason tahu Beth sudah dekat, siap untuk meledak. Dan Tom masih terus menjaga ritme lambatnya, jari-jarinya dengan sabar membelai titik kenikmatannya, jarinya berputar beringsut sedikit menuju tepi.
Tiba-tiba Beth sampai ke tempat yang dituju. Tubuhnya melengkung dalam pelukannya seperti ada seseorang yang menyerumnya dengan defibulator. Beth mungkin akan melompat darinya jika dia tidak memeganginya erat-erat. Sebuah jeritan ekstasi yang spontan datang darinya, begitu tajam dan tiba-tiba hingga mengejutkan Jason. Dia bisa melihat otot menegang di kakinya saat ia mencoba menekan pinggulnya ke atas, menekan vaginanya yang berdenyut pada tangannya.
Beth memiringkan kepalanya jauh ke belakang bahunya, dan mulut Tom ditemukan mulutnya, dan meredam sisa suara erangannya. Tom memeluknya seperti itu ketika orgasme terus menggulung melanda tubuhnya, tubuhnya mengejang setiap beberapa saat.
Akhirnya, orgasmenya mulai surut, dan setelah beberapa saat Beth jatuh lemas kembali kepelukannya, diam seperti boneka kain yang dibuang kecuali hanya napasnya yang mulai lambat. Tom terus dengan ringan mencium leher dan wajah, dan jari-jarinya masih terkubur di vaginanya, tetapi tidak lagi bergerak.
Pasangan itu berbaring bersama seperti itu selama beberapa saat, dan Jason pikir Beth sudah tertidur. Tapi ketika Tom membisikkan sesuatu ke telinganya, dia tersenyum dan berkata,
“Ya, aku merasakannya. Di mana kau mau memasukannya?”
Bersambung…