Kemudian Pak Heru mendekatkan wajahnya ke rambut A-mei, lalu mendekatkan kepalanya ke samping kepala A-mei. Sehingga pipinya menempel ke pipi A-mei. Sementara A-mei tetap memejamkan matanya. Menikmati kelembutan dan mesranya pijitan Pak Heru.
Pak Heru kini menciumi rambut A-mei yang harum, lalu mencium belakang telinga, pipi bagian bawah, pipi bagian atas, mencium rambut di dekat telinganya.
Sementara tangannya mulai turun ke bawah, meraba-raba seluruh bagian kedua tangan A-mei, membelai rambutnya. Kemudian ia menggeser tubuh A-mei dan tubuhnya sendiri, membuatnya kini berhadap-hadapan.
A-mei telah membuka matanya. Pak Heru mengecup kecil bibir A-mei untuk mengetahui reaksi A-mei. Melihat yang dicium diam saja, Pak Heru segera menciumi bibir A-mei dengan hangat yang kemudian dibalasnya dengan hangat pula. Beberapa saat lamanya mereka berdua larut saling berciuman, saling berpagutan.
Kemudian tangan Pak Heru masuk ke dalam baju A-mei, meraba-raba pinggang dan perutnya, namun tak lama kemudian kedua tangannya merayap naik ke atas untuk menyentuh payudaranya.
Di dalam baju A-mei, kedua telapak tangan Pak Heru bergerilya sampai akhirnya menempel ke payudara A-mei, meraba-rabainya dan memainkan kedua putingnya yang berdiri tegak dan sensitif itu.
Saat itu baju A-mei telah setengah terbuka karena terbawa naik ke atas oleh gerakan tangan Pak Heru, sehingga bagian pinggang dan perutnya telah terbuka. Namun A-mei sudah tidak mempedulikan itu karena kini ia hanya melenguh sambil memejamkan matanya.
Dengan mendorong keatas kedua tangannya yang telah berada di dalam baju A-mei, secara otomatis baju A-mei ikut terangkat pula sampai kini kedua payudaranya telah terbuka.
Pak Heru meneruskan meloloskan bajunya keluar dari kedua tangan dan kepalanya sampai baju atasannya benar-benar terlepas dari badan A-mei. Pak Heru menjatuhkan baju itu ke lantai sementara matanya memandangi tubuh A-mei yang setengah telanjang itu.
Fokusnya tentu ke kedua payudara A-mei yang walaupun tak begitu besar namun nampak begitu indah. Kedua putingnya yang mungil namun menonjol berdiri dengan tegak. Putingnya yang berwarna kemerahan nampak begitu segar dan kontras dengan kulitnya yang putih.
Bagaikan ice-cream vanilla dengan dua buah ceri yang ditaruh diatasnya. Begitu menantang untuk dikulum dan dihisap-hisap. Dan itulah yang akan dilakukan Pak Heru.
A-mei, yang sebelumnya tidak mau dipijit Pak Heru karena takut dibuka bajunya, kini malah dengan sukarela membiarkan bajunya dilepas oleh Pak Heru. Sementara Pak Heru kini menciumi bibir A-mei yang merah, seperti merasakan nikmatnya strawberry yang masih segar.
Setelah itu mulutnya turun ke bawah ke dada A-mei. Mula-mula menjilati payudara putih A-mei, kemudian menuju ke tengah melingkari putingnya. Dan akhirnya dikulumnya bergantian kedua puting kemerahan milik A-mei itu bagaikan mengemut buah ceri.
Dan dimainkan lidahnya menggerak-gerakkan puting A-mei yang sensitif itu di dalam mulutnya. A-mei menjadi sangat terangsang sampai-sampai kini ia mulai mendesah-desah keenakan. Karena memang payudaranya apalagi bagian putingnya adalah bagian sensitifnya.
Dan masih ditambah lagi kedua tangan Pak Heru yang meraba-raba punggungnya yang telah telanjang itu. Dengan cekatan, diam-diam Pak Heru membuka kancing di belakang rok A-mei dan retsleting di bawahnya sebisanya sampai maksimal.
Dan disaat Pak Heru merebahkan diri di ranjang dan menarik kedua tangan A-mei, sehingga tubuh A-mei terbawa olehnya, melorotlah rok daster yang dikenakan A-mei.
Sehingga kini nampaklah celana dalam mini merah muda yang nampak kontras diantara kedua pahanya yang putih mulus dan serasi dengan warna kedua puting payudaranya. Celana dalamnya yang mini pas menutupi bulu kemaluannya.
Sementara A-mei yang telah semakin terangsang menjadi semakin berani. Dilepasnya roknya yang telah melorot itu supaya tidak mengganggu gerakannya. Lalu sepasang tangannya yang mungil membuka tali pengikat baju tidur Pak Heru dan membukanya.
Sehingga nampaklah kulit tubuh telanjang Pak Heru yang coklat sawo matang. Nampak tonjolan besar di balik celana dalamnya. Kini giliran A-mei yang mengambil inisiatif.
Mulutnya yang mungil segera menuju mulut Pak Heru dan menciuminya dengan liar yang dibalas dengan tak kalah liarnya. Mereka berdua saling pagut memagut. Kemudian mereka melakukan french kissing sementara badan A-mei kini menempel ke dada bidang Pak Heru.
Nampak kontras tubuh A-mei yang putih mulus dengan rambut lurus sebahu warna hitam kecoklatan di atas tubuh Pak Heru yang sawo matang. Pak Heru boleh dikata termasuk jelek tampangnya.
Namun badannya tegap dan dadanya bidang. Sehingga cukup kontras dengan tubuh A-mei yang kecil dan langsing. Sementara perut Pak Heru termasuk langsing untuk ukuran pria seumurnya. Mungkin karena itu sehingga cewek seperti A-mei tidak keberatan untuk bercinta dengan Pak Heru.
Setelah puas berciuman, Pak Heru melepas celana dalamnya sendiri sambil matanya tak lepas memandangi tubuh putih mulus A-mei yang hampir telanjang bulat. Di depan matanya ia puas memandangi payudara A-mei.
Sementara dari bayangan kaca besar di meja rias, ia melihat punggung A-mei yang telanjang yang putih mulus dengan rambut sebahu. Penisnya yang besar telah berdiri dengan tegaknya.
Maklumlah, melihat cewek secakep A-mei telanjang, cowok mana yang tidak akan terangsang, apalagi dasar Pak Heru bandot tua yang memang penggemar daun muda seperti A-mei begini.
A-mei nampak tersipu melihat penis Pak Heru yang berdiri tegak dengan ukurannya yang besar itu. Penisnya disunat sehingga nampak kepalanya yang besar, sementara batangnya hitam dan berurat dan ditumbuhi bulu kemaluan yang lebat.
Namun Pak Heru tak mempedulikan itu dan ia segera melepaskan celana dalam A-mei. Nampak bulu-bulu kemaluannya yang tak terlalu lebat namun indah itu. Sehingga kini keduanya telah telanjang bulat. Ternyata celana dalam A-mei telah basah.
Lalu mereka berpindah posisi. Ditidurkannya A-mei dan kedua kakinya dibuka lebar-lebar. Nampaklah vagina dan klitoris gadis muda belia itu. Inilah makanan lezat kesukaan Pak Heru.
Segera tangannya dimainkan di wilayah paling sensitif dan paling rahasia dari A-mei, vaginanya diraba-raba dan dirangsang kemudian jarinya dengan lihainya memainkan klitoris A-mei. Setelah itu lidahnya menjilati vagina dan klitoris A-mei. Tidak terhadap sembarang cewek Pak Heru mau melakukan ini.
Hanya terhadap cewek yang dirasanya bersih dan high class sajalah ia mau melakukan ini. Dan untuk A-mei, ia sama sekali tak berkeberatan. Karena adalah suatu kebanggaan tersendiri untuk berbuat begitu terhadap gadis yang cantik dan baik-baik seperti A-mei.
Ditambah lagi faktor bahwa gadis muda belia di depannya ini adalah putri temannya sendiri. Tentunya adalah suatu sensasi dan prestasi tersendiri untuk bisa bercinta dengan putri teman baiknya di balik punggungnya.
Pak Heru adalah orang yang sudah sangat berpengalaman dalam hal sex, sehingga tanpa kesulitan ia bisa menemukan G-spot A-mei dan kemudian merangsangnya dengan hebat.
Sehingga, A-mei yang sebelumnya telah basah, kini dibuatnya semakin basah kuyup. Membuatnya kini mendesah-desah keenakan dan tubuhnya menegang.
Sampai-sampai kini kedua kakinya menjepit kepala Pak Heru yang dengan dijepit begitu menjadi semakin hebat menjilati seluruh bagian sensitif vagina A-mei.
Akhirnya ia mengalami orgasme hebat dengan sambil mendesah-desah mengeluarkan suara-suara nada tinggi. Membuat seprei di sekitar vaginanya menjadi ikutan basah.
Setelah dipuaskan, kini giliran A-mei “membalas budi”. Ia mengesek-gesekkan punggung Pak Heru yang tidur telungkup dengan tubuhnya sendiri. Payudaranya digunakan untuk “memijiti” punggung Pak Heru.
Pak Heru merasakan enaknya saat ujung payudara A-mei menyentuh badannya. Dadanya yang putih mulus bergesek-gesek dengan punggung Pak Heru yang hitam. Bulu-bulu vaginanya juga menggelitik bagian pantat dan paha Pak Heru.
Sementara A-mei juga merasa kegelian terutama di bagian sekitar pahanya yang bergesekan dengan paha Pak Heru yang berbulu lebat. Pak Heru membalikkan badan dan tidur telentang. Penisnya yang hitam besar berdiri dengan gagahnya.
A-mei kembali menggunakan payudaranya untuk “memijiti” muka Pak Heru yang bereaksi dengan menjilati dan mengecupi payudara A-mei. Tangan A-mei yang halus kemudian memegang penis Pak Heru dan mulai mengocoknya.
Setelah itu dijepitnya penis Pak Heru yang hitam diantara kedua payudaranya yang putih dan menggesek-gesekkannya. Bagi Pak Heru, sungguh enak sekali rasanya penisnya dijepit dan digesek-gesek diantara payudara A-mei.
Apalagi sesekali kepala penisnya membentur dagu A-mei. Saking enaknya sampai-sampai ia hampir mengalami ejakulasi. Untung sekali ia adalah pria yang punya pengalaman tinggi. Sehingga ia bisa menahan gejolak nafsunya supaya tidak ejakulasi prematur. Tentu adalah suatu kerugian besar kalau ia tidak dapat menikmati tubuh A-mei.
Setelah mengatur gejolak nafsunya menjadi stabil kembali, Pak Heru mulai mengambil inisiatif lagi. Setelah hampir dibuatnya ejakulasi prematur, kini saatnya untuk “memberi pelajaran” kepada gadis ini.
Ditidurkan A-mei telentang di ranjang. Kedua kakinya dibuka lebar-lebar. Didekatkan penisnya ke vagina A-mei yang terbuka dengan bebas itu. Kemudian didorongnya penisnya masuk ke dalam vaginanya.
Agak seret memang tapi akhirnya, bleesss, penisnya berhasil masuk ke dalam sampai akhirnya seluruhnya masuk ke dalam vagina gadis belia ini.
Sejenak ia berhenti untuk merasakan betapa bergelora hatinya karena telah berhasil menyetubuhi A-mei, anak gadis Pak Wijaya kroninya itu. Sungguh hari itu adalah hari hoki baginya.
Segera setelah itu ia mengocok penisnya di dalam vagina A-mei, merasakan nikmatnya jepitannya yang rapat. Sementara A-mei juga mendesah-desah merasakan nikmatnya penis Pak Heru yang perkasa menembus dan mengocok vaginanya.
Apalagi sambil memompa A-mei, kedua puting A-mei yang kemerahan itu dijilatinya dan dikenyot-kenyotnya. Lalu A-mei disetubuhinya dalam posisi doggy style. Dikocoknya penisnya di dalam vagina A-mei sampai-sampai seluruh tubuh A-mei dibuatnya berguncang-guncang.
A-mei rasanya seperti seluruh tubuhnya digedor-gedor! Tak hanya itu, sekujur punggung dan pinggang mulus A-mei diraba-rabanya dan tak lupa payudaranya diremas-remasnya. D
ari doggy style, kembali A-mei ditelentangkan. Namun satu kakinya diangkat ke atas bahunya. Setelah itu, kembali disetubuhinya A-mei dengan heboh sampai bagaikan terjadi gempa bumi setempat.
Sementara A-mei dibuatnya mendesah-desah sambil berteriak-teriak. Setelah itu, dimiringkan tubuh A-mei, satu kakinya diangkat, dan kembali ditembusnya dan dikocoknya vagina A-mei secara miring dengan penisnya yang hitam perkasa itu.
Kembali mereka berganti posisi lagi. Ditelentangkannya A-mei, kedua kakinya diangkat dan dibuka lebar-lebar dan lagi-lagi dimasukkan dan dimainkannya penisnya ke dalam vagina yang terbuka lebar itu.
Karena terus menerus dikocok-kocok dan digedor-gedor dalam posisi yang berbeda-beda begitu, apalagi masing-masing posisi durasinya cukup lama, lama-lama A-mei merasa nggak tahan juga. Ia meminta Pak Heru untuk tidur telentang.
Kini giliran dia yang “berolahraga”. Ia duduk di atas Pak Heru. Dimasukkannya penis Pak Heru ke dalam vaginanya kemudian digoyangnya tubuhnya naik turun sambil mendesah-desah.
Payudaranya meski kecil namun bisa naik turun mengikuti gerakan tubuhnya. Badannya jadi basah berkeringat. Rambutnya agak awut-awutan. Kedua tangan Pak Heru langsung merengkuh payudaranya dan meraba-rabainya, memainkan kedua putingnya dengan jari-jemarinya.
Sementara A-mei makin cepat gerakannya dan desahannya juga makin cepat dan pendek-pendek, sampai akhirnya datanglah orgasmenya yang kedua malam itu.
Setelah itu gerakannya makin lama makin pelan sampai akhirnya ia melepaskan diri dari Pak Heru dan merebahkan diri ke dada Pak Heru. Tubuhnya terkulai lemas. Napasnya terengah-engah. Badannya telah basah oleh keringat. Padahal kamar itu ber-AC.
Demikianlah A-mei yang sorenya berkeringat karena olahraga lari di tempat, malamnya di dalam kamar yang sama ia kembali berkeringat karena “olahraga duduk di tempat”. Namun bedanya kali ini ia merasa puas sekali.
“Aduuh, Oom. Badan A-mei jadi lemas sekali. Tapi A-mei suka banget deh.”
“Oom juga suka, sayang,” kata Pak Heru sambil membelai-belai rambut A-mei.
Namun, ternyata Pak Heru masih belum “mati”. Dan A-mei baru tersadar akan hal itu setelah merasakan penis Pak Heru masih menegang.
“Lho, Oom masih belum selesai,” serunya, rupanya ia kaget juga akan keperkasaan Pak heru, meski usianya sudah kepala empat.
“Sini, biar kini giliran A-mei yang muasin Oom,” kata A-mei.
Tahu akan maksud A-mei, Pak Heru segera berdiri di atas ranjang. Kemudian A-mei sambil berlutut di depannya dan menghadap Pak Heru, melakukan oral seks. Dengan mulutnya yang mungil, dikulumnya penis Pak Heru, diemut-emutnya dan dijilatinya, terutama kepala penisnya yang disunat itu yang nampak besar.
“OOH, A-mei. Oooh. Teruskan sayang,” katanya sambil kedua tangannya memegang kepala A-mei dan ikut menggerak-gerakkan kepalanya. .
Rupanya A-mei termasuk jago nyepong juga sampai-sampai akhirnya Pak Heru tak dapat menahan lagi.
“Oooh, A-mei, Oom sudah nggak tahan. Oom mau keluar di depan aja.”
Kemudian A-mei melepaskan kulumannya sementara tangannya mengocok-ngocok penis Pak Heru yang masih sangat dekat dengan wajahnya.
Namun hanya selang satu atau dua detik saja, akhirnya….
“Ooohh, croottt, ahhhh, croot croot, ahhhhh, crot crot crot, ahhhh, ahhhhhhhhh.”
Sperma Pak Heru keluar dengan volume yang sangat banyak dengan tekanan yang kuat sampai makin lama makin lemah. Sehingga spermanya membasahi berbagai tempat di wajah A-mei. Bahkan ada pula yang mendarat di rambutnya.
Sebagian ada yang menempel di bibirnya. Tangan A-mei masih tetap mengocok penisnya menguras seluruh isinya. Setelah itu dijilati penisnya yang penuh dengan sperma itu sampai akhirnya jadi licin bersih. Sehingga ada sperma yang tertelan olehnya.
Sementara sperma yang sebelumnya mendarat di wajahnya mulai mencair sehingga kini ada beberapa “anak sungai” mengalir turun ke bawah, membasahi leher dan dadanya.
Ada yang alirannya kuat, ada pula yang lemah. Ada juga “air terjun” yang begitu sampai ke bagian bawah pipinya langsung jauh ke dada. Ada aliran “anak sungai” yang mengalir pas sampai ke putingnya.
Tangan kanannya yang dipakai mengocok penis Pak Heru juga basah oleh sperma, terutama ibu jari dan telunjuknya. Jarinya itu dilapkan ke tubuhnya. Sehingga kini bagian dadanya menjadi basah dan agak mengkilap karena sperma Pak Heru.
Pak heru benar-benar puas malam itu. Seluruh spermanya benar-benar terkuras habis. Sampai-sampai badannya lemas. Namun ia masih sempat berbincang-bincang dengan A-mei.
“Aduh, A-mei. Kamu benar-benar bikin Oom jadi lemas sekarang. Gila juga kamu ya. Oom nggak pernah nyangka kamu yang masih muda dan kelihatannya alim gini kok bisa seliar ini.
Belum pernah Oom ngalami yang kayak gini. Iiih, coba lihat sekarang kamu jadi belepotan gini,” kata Pak Heru merasa surprise ternyata A-mei yang tampangnya alim itu ternyata bisa seliar ini.
Padahal dalam hati ia bangga juga bisa menikmati dan mendapat service luar biasa dari cewek seperti A-mei gini.
“A-mei juga nggak pernah sampai basah semua kayak gini. Oom tadi ngomongnya tiba-tiba sih trus langsung keluar lagi.
Begitu keluar ya udah tanggung, diterusin aja. Tapi… ihh, kok keluarnya banyak sekali sih, Oom,” kata A-mei sambil tersipu.
“Hahaha. Soalnya Oom terangsang banget sih sama kamu. Habis kamu betul-betul hot banget tadi. Kamu benar-benar jago nyepong penis. Apalagi sebelumnya Oom nggak pernah mikir bisa make love sama gadis secantik dan se-sexy A-mei gini.”
“Idiih, Oom, bikin A-mei malu aja”, katanya sambil mukanya memerah, “A-mei juga nggak mikir bakalan sampai begini. Abis tadi Oom romantis banget sih,” katanya.
“Tapi tadi gimana, kamu enjoy nggak? Kapan mau gini lagi?”
‘Iih, Oom genit deh nanyanya kaya gitu,” kata A-mei sambil mukanya makin memerah.
Di dalam hati ia sangat menikmati permainan dan keperkasaan Pak Heru. Memang sebelum ini ia sudah tidak perawan. Ia telah seringkali make love dengan cowoknya dan juga mantan-mantannya. Namun pengalamannya dengan Pak Heru inilah yang terhebat yang pernah didapatnya.
Tak lama kemudian, A-mei balik ke kamarnya dan ia langsung mandi membersihkan badannya. Karena badannya dan bajunya jadi basah serta lengket-lengket dan bau gara-gara sperma Pak Heru yang ada di tubuhnya.
Setelah selesai mandi, badannya menjadi harum kembali. Kemudian tidurlah ia dengan nyenyaknya sambil bermimpi indah. Sementara Pak Heru juga tak lama kemudian tertidur lelap dengan hati gembira dan rasa bangga yang tak terkira.
Esok paginya, seperti telah diduga, Pak Heru dan A-mei bangun kesiangan. Setelah itu mereka bertiga makan pagi bersama tanpa menyinggung-nyinggung kejadian malam sebelumnya.
Tak berapa lama setelah peristiwa hari itu, Pak Wijaya dengan mulus memenangkan proyek yang diincarnya. Bahkan sejak itu Pak Heru menjadikan Pak Wijaya sebagai “favoritnya” dan selalu memenangkan proyek-proyek besar.
Rupanya kini Pak Heru memilih untuk menunggang satu saja, yaitu “menunggang” A-mei. Pak Wijaya menjadi semakin kaya saja sekaligus berhasil melakukan balas dendam yang manis atas penipuan terhadap dirinya itu. Dan tentu, yang terakhir ini akan tetap menjadi rahasia di dalam keluarganya yang tidak akan dibocorkannya.
Pak Heru, jelas mendapat keuntungan lain yang tak dapat dinilai dengan uang, disamping upeti dari Pak Wijaya tetap mengalir terus seperti biasa. Cerita ini dipublish oleh situs Ngocoks.com
Sejak saat itu, ia jadi makin sering datang dan menginap di rumah Pak Wijaya, tentu tujuan utamanya bukan untuk menikmati masakan Mbok Yem di meja makan, melainkan menikmati layanan A-mei di tempat tidur.
Dan Pak Wijaya benar-benar menutup mata dan pura-pura tidak tahu akan hal itu. Sehingga ia menjadi semakin leluasa menjalin hubungan gelapnya dengan A-mei tanpa ada resiko skandalnya ini bakal bocor.
Sementara A-mei kini semakin banyak mendapatkan uang jajan dari ayahnya. Sehingga ia bisa shopping lebih banyak dan semakin berhura-hura dengan teman-temannya.
Selain itu, ia juga mendapatkan “nafkah batin” dengan kepuasan tiada tara dari Pak Heru. Walaupun berbeda jauh dengan dirinya, namun ia tak peduli karena telah merasakan sendiri kehebatan Pak Heru di atas ranjang, yang sejauh ini belum pernah didapatkannya dari cowok lain seumurnya.
Sehingga ia tidak berkeberatan untuk tidur sekali lagi dengan Pak Heru, dan lagi, lagi, lagi…. Hal ini dengan leluasa dilakukan di rumahnya tanpa diketahui oleh siapa pun termasuk papinya (dalam sangkaannya). Sehingga ia tak perlu takut rahasia ini bakal terbongkar yang tentu akan merusak citranya sebagai anak gadis.
Demikianlah, sebuah skandal terselubung yang terus berlanjut dan berlanjut walaupun di permukaan seolah tak terjadi apa-apa dan tidak ada seorang pun yang membicarakannya.
Dengan semuanya bersikap “tahu sama tahu tapi pura-pura tidak tahu”, pada akhirnya masing-masing orang semuanya mendapatkan keuntungan, bukan hanya satu namun keuntungan ganda.