Dengan disaksikan keempat anak buahnya, sigembong perampok itu mulai memperkosa Nadia dengan kasar, dengan dihimpit dibagasi mobil sedan mewahnya, satu persatu pakaian Nadia direnggut dan sobek sobek dengan kasar.
Dan Nadia tidak bisa berbuat apa apa dan ketika dengan rakusnya gembong perampok itu mulai melumat bibirnya yang bergincu warna pink, dan terus turun menjilati lehernya yang putih dan mulus itu.
Sungguh kontras terlihat dengan tubuh Nadia yang berkulit putih dan mulus, sedang di geluti oleh gembong perampok yang berkulit hitam dan berbadan besar itu. Dengan dekali sentakkan direnggutnya BH Triump Nadia, lalu dengan rakusnya menjilati dan mengenyoti buah dada Nadia yang sudah terbuka.
Dan tangan gembong perampok itu turun kearah selangkangan Nadia, dan kembali dengan kasar menarik robek CDnya, lalu dengan jari tangannya yang kasar mulai mengorek dan mengobel isi daleman vagina Nadia.
Lalu dengan kasarnya membalikkan tubuh Nadia menghadap kearah bagasi mobilnya, lalu gembong perampok itu berjongkok dan menyingkap rok panjangnya yang bermotif batik itu, lalu dengan rakusnya menjilati bongkahan pantat Nadia yang sangat mulus itu, lalu dengan kasar pula membuka kedua kaki Nadia dan lidahnya mulai menjilat jilat menggapai vaginanya dari arah belakang.
“…uena’e rek…! Tempik mu legit tenan Mba’…!” kata gembong perampok itu, disambut gelak tawa keempat kawannya. “…huahahahaha…sikat terus Kang…!”
Kemudian dengan berdiri dibelakang tubuh Nadia, gembong perampok itu mengarahkan batang kontolnya yang besar dan hitam keliang vagina Nadia, lalu dengan kasar dan tidak berperasaan menusukkan batang kontolnya dengan sekuat kuatnya, diiringi jeritan dan lolongan Nadia.
“…aaaaaa….sakiiiitt….tolooooong….aaaaaahhhh…!!!”
Dengan penuh nafsunya gembong perampok itu mengenjot vagina Nadia dengan kasar, dan dengan lidahnya menjilati tengkuk dan leher Nadia. Tubuh Nadia terbawa oleh hentakkan hentakkan kontol gembong perampok itu, dan sepuluh menit kemudian dihujamkannya dengan kuat kontolnya keliang vagina Nadia, dan disemprotnya rahim Nadia dengan cairan maninya yang sebagian meleleh di dikaki Nadia.
Melihat gembong perampoknya sudah selesai dengan tubuh Nadia, kemudian dengan secara keroyokkan dan menarik tubuh Nadia keatas rerumputan, dan dengan saling berebutan untuk mendapat giliran pertama mencicipi liang vagina Nadia, dan setelah salah seorang berhasil membenamkan kontolnya yang lainpun berebuta mulut Nadia, untuk bisa merasakan sepongan mulutnya.
Nadia tidak berdaya diantri kelima kawanan perampok itu, dengan satu orang menggarap vaginanya yang satu lagi memaksanya menyepong bontolnya, hingga Nadia muntah muntah, dan yang dua lagi saling berbagi buah dadanya, dan mengenyoti putting susunya secara kasar, hingga dirasakan perih pada putting susunya.
Mang Yogi yang terikat di salah satu pohon, hanya bisa menyaksikan semua kejadian yang dialami majikannya, tanpa bisa menolong.
Ada penyesalan dihatinya, seandainya saja ia tidak memarkirkan mobilnya dihutan ini, mungkin tidak akan setragis ini kejadian yang menimpa Nyonya majikannya itu. Tanpa terasa Mang Yogi pun menangisi keegoisannya tadi, dengan memaksa majikannya untuk melayani nafsunya di hutan ini.
Nadia yang harus melayani kelima perampok itu secara bergantian, akhirnya pingsan dengan menyisakan satu pemerkosanya yang masih memompa liang vaginanya dengan kasar dan sadis.
Penderitaan Nadia belum berakhir sampai disitu, setelah kelima perampok itu kebagian jatahnya mencicipi vagina Nadia, mereka lalu membopong tubuh seksi Nadia, yang pingsan itu masuk kedalam hutan, yang sudah mulai gelap.
Sampailah mereka di sebuah gubuk ditengah hutan itu, lalu menyuruh Nadia yang sudah sadar dari pingsannya, untuk mandi dikali sebelah gubuk itu.
Nadia yang saat dibawa masuk kedalam hutan itu dalam keadaan bugil, setelah tadi diperkosa secara beramai ramai oleh para perampok itu, dan si gembong perampok itu lalu memberinya sehelai kain batik, yang masih baru, dan masih disegel dengan kemasannya, hasil rampokkannya terhadap juragan batik asal jogja beberapa hari yang lalu.
Nadia dengan badannya yang lemas kemudian dipaksa oleh gembong perampok itu untuk segera mandi, dengan terus diawasinya dipinggiran kali dangkal itu.
Dengan menahan dinginnya air sungai itu Nadia menuruti perintah gembong perampok itu untuk mandi, kulit Nadia yang putih dan sangat mulus itu terlihat berkilat di bawah cahaya bulan, dan mata gembong perampok yang dari tadi mengawasinya terus menatap seluruh lekukkan tubuh seksi tawanannya itu.
Melihat Nadia sudah selesai dengan mandinya, lalu ia menghampiri Nadia yang terlihat kesulitan berjalan dipinggiran kali, lalu dengan tangannya gembong perampok itu mengangkat dan membopong tubuh Nadia. Begitu sampai di depan gubuk dia berkata kepada keempat anak buahnya dengan masih membopong tubuh Nadia,
“…malam ini kita lewati dengan menikmati tubuh mulus dan seksi perempuan Jakarta ini…!” lalu disambut tawa dan tepukkan keempat anak buahnya.
“…hahahaha…siap…Kang…!!!” jawab seorang perampok lainnya.
Setelah berkata demikian lalu sigembong perampok itu membopong tubuh Nadia kedalam kamar digubuk itu, setelah membaringkan tubuh Nadia di bale bambu, lalu dengan kasarnya mulai menindih dan menggumuli tubuh Nadia, mulai dari melumat bibir terus lidahnya menjilati leher jenjang Nadia, dan dengan tangannya meremasi buah dada montok Nadia dengan gemasnya.
Gembong perampok itu mulai menurunkan belitan kain kemben didada Nadia, dan kemudian dengan rakusnya mengenyoti putting susunya, ciumannya kemali turun sampai ketengah selangkangan Nadia, dan dengan menyingkap kain kemben dipaha Nadia ia pun muali menjilati paha mulusnya, hingga kebelahan vagina Nadia yang sudah bersih dari sisa sisa sperma anak buahnya.
Dengan rakusnya lalu dijilatinya liang vagina Nadia, dan dengan tangannya terus merema remas buah dadanya, setelah beberapa saat kemidian gembong perampok itu mengarahkan batang kontolnya keliang vagina Nadia, dan dengan mudah menghujamkan meriamnya secarabertubi tubi kiang vagina Nadia.
Genjotan genjotan kasar terus dilakukannya menghentak dan mengguncang tubuh Nadia, hingga sampai menyemburkan lahar panas kerahim Nadia.
“…aaahhh…ssshhh…tempikmu enak tenan…Nduk…!” katanya setelah selesai dengan hajat biologisnya.
Demikianlah malam itu tubuh mulus dan seksi Nadia dijadikan sarana pemuasan nafsu binatang kelima perampok itu, dan Nadia yang tidak memiliki daya apa apa hanya menangis dan menerima semua perlakuan binatang dari kelima perampok itu.
Dan malam itu, kelima perampok itu tidak memperkosa Nadia secara keroyokkan, malam itu mereka masuk satu persatu kedalam kamar, dan melepaskan hajat mereka diatas tubuh Nadia hingga pagi.
Siang harinya setelah kelima perampok itu kembali menggilir tubuh montok Nadia didalam kamar, mereka mengantarkan Nadia kembali kemobilnya, dan melepaskan ikatan Mang Yogi, dan menyuruh mereka pergi meneruskan perjalanannya menuju Jakarta.
Sungguh tragis memang kejadian kejadian yang menimpa Nadia, hingga saat ini Nadia harus menjalani perawatan dirumah sakit, karena rusaknya vagina Nadia dan harus dilakukan operasi dan pemulihan yang cukup lama.
Suami Nadia begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa istri tercintanya itu, dan dengan setia selalu menemani istrinya yang terbaring dirumah sakit.
Tidak seperti pada malam malam sebelumnya, Mas Woko tidak bisa menemani istrinya dirumah sakit karena harus mengurus bisnisnya diluarkota, dan ia meminta Mang Yogi untuk menggantikannya menemani istrinya dirumah sakit.
Dan malam itu Mang Yogi pun menemani Nadia yang sudah dua minggu dirawat di ruangan VIP rumah sakit itu, dan dikamar VIP itu Mang Yogi dengan menonton televisi sesekali melihat dan memeriksa keadaan majikannya itu.
Dan pada saat sekitar jam tiga pagi Nadia membangunkan Mang Yogi, yang tertidur dikursi didepan tivi. “…Mang bangun Mang…saya mau kekamar mandi…!” katanya kepada sopirnya, yang segera bangun dan menuntun majikannya kekamar mandi.
Setelah selesai pun dengan sigap Mang Yogi kembali menuntun tangan majikannya itu ke tempat tidur, dan tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan buah dada majikannya yang tidak memakai BH, dan hal itu membuat Mang Yogi terangsang dan kembali menghayalkan kehangatan tubuh seksi majikannya itu sewaktu di kamar penginapan di Malang dan terakhir di jok mobil dipinggir hutan itu.
Pikirannya menerawang kesemua rangkaian kejadian yang menimpa Nyonya majikannya itu, dan hayalan itu semakin membangkitkan gairah sexnya, hingga perlahan ia pun menghampiri ranjang majikannya.
Dengan hati hati Mang Yogi kemudian menyingkap baju tidur majikannya, hingga terpampanglah pahanya yang putih mulus, dan dengan perlahan Mang Yogi mulai menciumi dan menjilati paha mulus majikannya yang masih tertidur pulas.
Tindakkan Mang Yogi semakin berani saja manakala majikannya masih tetap pulas dalam tidurnya, dengan perlakuannya itu Mang Yogi kemudian beranjak keatas dan mulai membuka satu persatu kancing baju tidur majikannya itu.
Nadia yang memang tidak memakai BH itu, dapat segera terlihat buah dada montoknya oleh Mang Yogi. Dengan perlahan Mang Yogi mulai menjilat dan mengemuti putting susu majikannya,
Nadia menggeliat dan terbangun karena merasakan kenyotan diputing susunya, ia pun kaget mengetahui apa yang tengah dilakukan Mang Yogi sopirnya itu.
Mang Yogi yang juga kaget melihat majikannya terbangun, lalu dengan reflek membekap mulut majikannya dengan tangannya, dan berbisik didepan wajah majikannya itu.
“…sssttt…maafkan saya Nyonya…saya tidak kuasa menahan keinginan saya untuk merasakan kembali kehangatan tubuh Nyonya…” kemudian Nadia yang mulutnya masih dibekap tangan sopirnya, hanya bisa menggeleng menolak keinginan sopirnya itu.
Dengan perlahan Mang Yogi melepaskan bekapan tangannya dimulut majikannya itu, dan dengan pelan meminta majikannya untuk melayani keinginannya ngesek.
“…ayolah Nyonya…plis…layanin saya…masa saya harus memperkosa Nyonya lagi…?!” katanya sambil meremasi buah dada Nadia.
“…Mang…kamu ngga kasihan sama saya, dengan semua kejadian yang menimpa saya…tega kamu Mang…?!” kata Nadia dengan berlinang air mata.
“…maafkan saya Nyah…saya sudah jatuh cinta sama Nyonya…dan saya ngga bisa melupakan kehangatan tubuh Nyonya yang pernah saya rasakan waktu itu…!” kata kata Mang Yogi serasa mengiris hati Nadia.
Kemudian dengan mulai naik keatas ranjang Mang Yogi mulai melumat bibir majikannya itu, sambil tanganya terus meremas remas buah dadanya yang montok, dan Nadia hanya bisa menangis menerima kenyataan, sopirnya telah dengan tega memaksanya untuk melayani nafsu birahinya, yang saat ini ia masih dalam masa pemulihan akibat perkosaan dihutan itu.
Mang Yogi kini sudah menghabisi sisa kancing yang masih menutup dibaju tidur majikannya, dan mulai merangsek ketengah selangkangan majkannya dengan menjilati belahan memeknya dari luar CDnya.
Perlakuan Mang Yogi tidak kasar seperti yang pernah ia lakukan waktu itu, kali ini ia memperlakukan majikannya dengan penuh kelembutan, dan itu membuat Nadia mulai terpejam menikmati sentuhan dan jilatan jilatan sopirnya itu.
Trik yang dilakukan Mang Yogi membuahkan hasil, dengan perlakuan lembutnya telah dapat membangkitkan rangsangan yang mulai menjalari tubuh majikannya itu. “…sssshhh…ooohhh…sssshh…aaahh…!” Nadia mulai mendesah dan tidak dapat menyembunyikan rangsangan ditubuhnya.
Mang Yogi mulai menurunkan CD majikannya secara perlahan, dan pelan pelan mulai membuka kedua kakinya, lalu dengan tangannya menuntun batang kontolnya yang sudah kaku seperti kayu itu, ke mulut vagina majikannya. Cerita ini dipublish oleh Ngocoks.com
Dengan dorongan pelan Mang Yogi berhasil menyarangkan burungnya kedalam sangkar kenikmatan majikannya, dan ia pun mulai menggenjot vagina majikannya dengan perlahan, dan dengan mulutnya yang masih menggelayuti buah dada majikannya, semakin membuat majikannya terhanyut oleh geolan dan goyangan sopirnya itu.
“…ssshhh…aaaahhh…Maaang…ooohhh…ssshhh…!”
desahan Nadia membelah heningnya pagi dikamar rumah sakit itu, Mang Yogi masih terus aktif membom bardir daerah pertahanan majikannya dengan rentetan serangannya diliang vaginanya. Akhirnya dengan mempercepat hujaman batang kontolnya Mang Yogi si sopir sialan itu menumpahkan, spermanya dikedalaman rahim majikannya.
“…oooohhh…Nyonyaku sayang…crot…crot…crot…!” racaunya ketika klimaks itu datang.
Nadia hanya melamun dan sesekali masih menangisi nasibnya yang harus menghadapi cobaan yang begitu berat, setelah semua rangkaian kejadian yang menimpanya, selalu terbayang dipelupuk matanya.
Dan pagi itu terjadi lagi pendarahan di vagina Nadia, dan membuat heran seorang dokter yang menangani pengobatan dirinya. Dokter itu mendapati sisa cairan sperma di dalam rahim Nadia, dan setelah beberapa hari kemudian Dr. Kentus mendatangi kamar VIP tempat Nadia pasiennya menginap.
Pada kesempatan itu sehabis memeriksa keadaan Nadia, Dr. Kentus dengan pelan menanyakan kepada pasiennya itu, “…eehhmm…Nyonya Nadia…kemarin sewaktu anda mengalami pendarahan lagi…saya menemukan sisa sperma yang tertinggal dirahim anda…dan saya tahu pada hari itu suami anda sedang tidak menunggui anda, jadi sperma siapakah itu…?” Tanya Dr. Kentus dengan nada vonisnya.
Nadia bagai tersekat tenggorokkannya demi mendengar ungkapan Dr. Kentus, lalu dengan suara serak Nadia mancoba menjelaskan.
“…eengh…aa…aanu..Dok…eenngghh…” Nadia tidak kuasa meneruskan kata katanya. Dr. Kentus memahami hal itu, dan tahu ada yang disembunyikan oleh pasiennya itu, kemudian dengan tangannya Dr. Kentus mulai memegang tangan Nadia seraya mengatakan.
“…anda tidak usah khawatir…saya tahu anda telah menyerahkan miss “V” anda kepada seseorang…malam itu…!” jelas Dr. Kentus seraya mendekatkan wajahnya ketelinga pasiennya itu, dan berbisik.
“…rahasia anda akan aman…asal…?!” Dr. Kentus tidak melanjutkan bisikkannya, tapi diteruskannya dengan menjilat daun telinga dan terus turun dan mulai menjilati leher jenjang Nadia, dan dengan tangannya yang mulai hinggap di buah dadanya meremas dan meremas lagi….
“…ah…lagi lagi…” gumam Nadia di dalam hatinya…