Disinilah ia berada, memandangi tubuh rampingnya yang terbalut dress putih indah. Olin masih tidak menyangka bahwa ia akan menikah diumurnya yang masih terbilang muda.
Pipinya memerah saat mengingat pria yang melamarnya dengan blak-blakan dua hari lalu. Memang sangat tidak romantis, tetapi hatinya bedetak sangat kencang melihat keseriusan Reyhan.
“Diem please hati gue, murahan banget jedug-jedug terus. ”
Olin menggelengkan kepalanya berusaha kembali fokus mengancingi dress pengantin. Olin berdecak kesal, sudah hampir lima menit dirinya berusaha namun tangannya sama sekali tidak sampai pada kancing kedua teratas.
“Mas, boleh tolong aku ga? ”
Reyhan yang semula duduk menunggu calon istrinya itu, langsung bangkit menghampiri ruang ganti yang tak jauh jaraknya.
“kenapa sayang? Apa ada masalah? ” Tanya Reyhan lembut, ia menempelkan telinganya pada pintu ruang ganti yang tertutup, menunggu jawaban.
“Tolong kancingin baju aku. ” Bisik Olin
Reyhan tersenyum, ia tahu calon istrinya ini sedang malu. Sikap Olin dua hari ini mendadak menjadi sangat menggemaskan. Mulai dari pipinya dan telinga yang memerah, selalu menundukan kepala saat berbicara.
Dirinya terkadang merasa ingin menerkam wanita itu, namun tidak bisa karena kini mereka berpindah sementara ke kediaman orang tuanya untuk mempersiapkan acara pernikahan minggu depan.
“Apa? suara kamu tidak terdengar. Coba ulang sayang, tolong apa? ” Tanya Reyhan menahan senyumnya.
“Tolong kancingin baju aku mas, susah. ” Ucap Olin kembali berbisik.
“Tidak terdengar sayangg, tolong apa? ” Tanyanya lagi ingin menggoda wanita itu.
Olin bedecak kesal, ia membuka pintu lalu dengan cepat menarik lengan Reyhan untuk masuk kedalam.
Reyhan menaikan kedua alisnya, ia terkekeh geli. “Kenapa sayangg? ”
“Ih, tolong aku mas! ” Olin berbalik memunggungi Reyhan, ia menggulung rambut panjangnya, takut menghalangi.
Reyhan mengerti apa maksud Olin namun dirinya masih ingin sedikit menggoda Olin lagi. Ia memajukan wajahnya lalu mencium punggung polos Olin yang masih terbuka lebar lantaran belum semua kancing baju terpasang.
Olin meringis pelan merasakan perlakuan nakal pria dibelakangnya.
Kini Reyhan menciumi pundak dan naik pada leher jenjang Olin sembari sesekali menyesap dan mengigit kecil leher Olin membuat sang empu meringis kembali.
“Shhh.. massh stop, kita lagi diluarhh.. ”
Reyhan tertawa kecil, ia tak memberhentikan aksinya mendapat perintah tersebut namun malah semakin nakal dengan tangan yang mengelus pantat sintal milik Olin.
“Noo.. mass emhhhh.. ” Olin memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan nakal yang kini sudah berada pada perutnya mengelus lembut dengan gerakan memutar.
Olin terus mendesah kecil menyebut nama pria yang sedang mengerayangi tubuhnya sekarang. Reyhan yang menikmati namanya dipanggil dengan sensual pun ikut menikmatinya.
“Mashh eyyi… emmmhh.. ” Racau Olin terbuai sentuhan.
Reyhan menghentikan aktivitasnya membuat Olin mengerutkan kening bingung.
“Kok berhenti mas? ” Tanya Olin membalikan tubuhnya menghadap Reyhan.
Reyhan mengangkat kedua alisnya lalu tersenyum licik. “Apa yang kamu inginkan sudah selesai, mas sudah selesai mengancingi bajumu. ”
Olin membalikkan tubuhnya kembali memunggungi Reyhan, ia menutup matanya dengan kedua tangan, malu. Benar, ia meminta untuk dikancingkan baju, tetapi apa yang ia harapkan?
“Aduh co, gue ga sadar udah beres. Malah keenakan ni badan malu banget coy.. ” Olin membatin, ia merutuki dirinya yang masih menginginkan sentuhan nakal Reyhan lebih lanjut.
“Ingin lagi memang? ” Reyhan melingkarkan lengannya pada pinggang Olin, memeluk wanita yang akan menjadi istrinya beberapa hari lagi.
“Ingin disentuh lagi? seperti ini? ” Tanyanya lagi, lengan yang semula hanya memeluk pinggang ramping Olin kini mulai mengelus perut Olin.
Olin memejamkan matanya, ia kembali meringis pelan merasakan sentuhan Reyhan yang langsung menyengat tubuhnya.
Reyhan tertawa, ia melepaskan pelukannya lalu mengacak rambut Olin gemas. “Dasar nakal, Mendesahlah dirumah nanti. Mas akan pergi membawa dress indah lainnya. Kamu terlihat tidak nyaman dengan dress ini. ”
“Mas yang nakal ya! ” Ujar Olin tak Terima menarik lengan Reyhan yang hendak keluar dari ruangan.
“Tapi kamu menikmatinya sayangg.. ” Balas Reyhan membuat wajah Olin semakin memerah malu. Reyhan kembali tertawa kecil.
“Tunggulah, lepas saja dress itu dan pakai yang mas bawa. ” Reyhan membuka kembali kancing yang ia pasang sebelumnya lalu pergi mencari baju yang lebih nyaman dipakai calon istrinya itu.
Olin menutup wajahnya, ia berjongkok. Kakinya lemas, antara salting dan malu.
“Nakal banget ih, tapi sweet.. tau aja dia kalau baju ini sedikit bikin sesak. ” Tak lama berguman sendiri, pintu kembali terdengar ketukan.
“Sayang, pilih salah-satu dari dress yang mas bawa. Sepertinya ini lebih nyaman dan mudah. ”
Olin membuka pintu, ia membawa beberapa dress cantik yang Reyhan pilih dengan menundukan kepalanya karena masih terasa panas pada wajahnya.
“Makasih mas. ” Ucapnya lalu menutup kembali pintu tersebut.
Reyhan tersenyum geli, benar-benar menggemaskan wanitanya ini. Ia kembali melangkahkan kakinya pada sofa yang tak jauh berada didepan ruang ganti tersebut lalu membuka handphone-nya sembari menunggu Olin keluar.
***
Beberapa menit berlalu, suara pintu terbuka. Olin keluar dengan dress pertamanya. Reyhan menutup handphone, matanya tak berkedip sama sekali melihat kecantikan wanita dihadapannya yang kini sedang bereputar pelan menampilkan dress cantik pilihannya.
“Mas, gimana? ”
“Mas, gimana? ”
“Sayang, bagimana jika kita menikah sekarang? kamu cantik sekali. ”
“Ih apasi mas, bagus ga? aku coba yang lain ya? ”
Reyhan mengangguk “Tapi mas rasa ini sudah cocok. Benar-benar cantik. ”
“Liat dulu yang lain mas. ” Olin kembali masuk kedalam ruang ganti.
***
“Mas, bagaimana? ”
Olin berputar memperlihatkan dress kedua, ia menyukai desain ini. Terlihat simple dan Indah menurutnya. Ia tidak menyangkal selera Reyhan yang sangat baik.
Reyhan menelan savilanya, ia bangkit dari duduk menghampiri Olin yang tengah berputar pelan
Reyhan menelan savilanya, ia bangkit dari duduk menghampiri Olin yang tengah berputar pelan.
“Cantik sekali sayang, astaga mas benar-benar terpukau. ” Puji Reyhan membuat Olin menyunggingkan senyumnya.
“Aku suka dress ini mas, tapi ada satu lagi yang cantik. Aku coba sekai lagi ya? ”
Reyhan menganggukkan kepalanya. Olin kembali masuk kedalam ruang ganti untuk mencoba satu baju tersisa pilihan Reyhan.
***
Olin keluar kembali, Reyhan terdiam
Olin keluar kembali, Reyhan terdiam.
“Mas? ” Panggil Olin membuyarkan lamunan Reyhan yang tengah memperhatikan tubuhnya.
“Cantik sekali.. ” Puji Reyhan.
Olin memutar bola matanya malas “Kenapa semuanya kamu sebut cantik sih mas? ”
“Karena kamu yang pakai. ”
Blushhh
Wajah Olin memerah, bibirnya menahan senyum dengan jantung yang terus berdetak kencang mendengar jawaban Reyhan.
Dengan cepat dirinya berbalik memunggungi Reyhan menyembunyikan wajah merahnya itu. Reyhan yang menyadari itu sangat cepat, tersenyum kecil.
Kaki Reyhan berjalan lebih dekat, lalu ia memajukan wajahnya tepat berada disamping telinga Olin dan berbisik. “Saya lebih suka dress kedua, terlihat indah dan sangat sexy. ” Ucapnya dengan pelan.
Olin tak menjawab bisikan Reyhan, ia langsung berjalan menuju ruang ganti, hatinya akan meledak sekarang juga. Ia tidak tahan dengan wajahnya yang panas.
Reyhan yang melihat itu tertawa keras, sangat menggemaskan. Ia tak sabar untuk menikahi wanita tersebut, ia ingin menjadikan Olin miliknya sampai ajal mau memisahkan.
***
“Bunda, Olin membawa cake! ” Olin berteriak sembari mengangkat cake yang ia bawa.
“Bunda tidak ada, beliau pergi bersama ayah. Mungkin akan pulang larut malam. ” Jawab Reyhan, ia menyimpan dress yang baru saja dibeli pada meja ruang keluarga.
“Kemana emang mas? tadi ngabarin kamu waktu kita dibutik? ” Tanya Olin berbalik menghadap Reyhan yang sedang sibuk membuka sepatu dan menggantinya menggunakan sandal rumah.
“Iya, mereka ke acara rekan kerja ayah. ” Reyhan mengambil sepasang sandal lalu berjalan mendekati Olin.
“Loh kamu ngga ikut dong? kan anaknya? “Tanyanya lagi.
Reyhan menggelengkan kepala, ia membungkukan tubuhnya berjongkok tepat dihadapan Olin. ” Tidak, mas sudah izin pada ayah untuk tidak ikut acara tersebut. ” ia menyimpan sendal tadi.
Tangan Reyhan terulur memasangkan sepasang sandal dengan lembut pada kedua kaki Olin lalu kembali berdiri. Matanya menatap Olin dalam, ia tersenyum.
“Waktu denganmu lebih penting. ” Lanjutnya.
Jantung Olin berdetak kencang, dengan cepat ia memalingkan wajahnya kesamping.
“Bangke, bahaya banget. ” Batin Olin.
“Mas akan pergi mandi, kamu istirahatlah terlebih dahulu. ” Ucap Reyhan, ia membawa cake yang ada ditangan Olin lalu Reyhan membuka cardingan Olin pakai dan menyimpannya pada gantungan baju dekat pintu masuk. Telah selesai, ia melangkahkan kakinya kedapur.
Olin mengangguk, dirinya mendudukan bokong pada sofa dan mengambil remote control berencana untuk menonton sebentar.
Mata Olin berbinar melihat Reyhan mendekatinya membawa beberapa strawberry lalu meletakannya pada meja ruang keluarga. Cerita ini dipublish oleh situs Ngocoks.com
“Makan ini, tunggu mas selesai mandi.” Ujar Reyhan yang dibalas anggukan antusias dari Olin.
Olin memperhatikan punggung Reyhan yang terus menjauh dan akhirnya menghilang masuk kedalam kamar. Matanya beralih pada strawberry merah yang berada dihadapannya. Ia mengambil beberapa strawberry dan mulai mengotak-atik remote control untuk melihat drama favoritnya.
Dua puluh lima menit berlalu, Reyhan kembali dengan rambut yang masih setengah basah. Ia mendudukan bokongnya dilantai depan sofa yang Olin tempati. Reyhan menyender pada sofa dan meletakan kepalanya pada kaki Olin membuat sang empu meringis merasakan dingin.
“Rambut kamu masih basah mas, sini aku keringin. ” Olin mengambil handuk kecil yang Reyhan pegang. Ia mulai menggosok rambut Reyhan perlahan, aroma shampo menusuk hidungnya, sangat harum.
“Kamu lapar sayang? ingin makan sesuatu untuk menunggu makanan datang? ” Tanya Reyhan memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut lengan Olin yang sedang membantu mengeringkan rambutnya.
Olin mengangguk, “Aku pengen yang manis deh. Di kulkas masih ada ice yang kamu beli kemarin mas? “Tanyanya mengingat kemarin mereka membeli beberapa ice cream.
Reyhan memegang lengan Olin yang sedang menggosok rambutnya, lalu berdiri berjalan kearah kulkas. Ia membawa satu ice cream lalu duduk kembali, namun kini ia duduk disamping Olin.
“Makasih mas! ”
Reyhan memundurkan lengannya ketika Olin hendak mengambil ice cream yang ada digenggamannya.
Olin menyatukan kedua alis bingung.
“Kontol mas juga ingin dikulum kamu.” Ucap Reyhan frontal.
“Tiba-tiba banget mas? ” Tanya Olin kaget.
Reyhan mengangguk “Kangen, mas sange sejak dibutik tadi. Tubuh kamu sangat indah dan menggoda…” Suara Reyhan terdengar lebih berat menandakan nafsunya yang sudah mulai naik.
Reyhan menoleh kearah jam yang menunjukan pukul tujuh malam. Mengingat kini rumah orangtuanya sepi dan perkiraan mereka akan pulang larut malam, Reyhan bangun dari sofa, berdiri menghadap Olin.
Ia mulai membuka celana pendek menampilkan kejantanan sudah berdiri tegak, lalu Reyhan menyodorkannya berbarengan dengan ice cream yang ia pegang kepada mulut Olin. “Mas membawa satu ice cream, tetapi mas mempunyai Ice cream lainya. Jadi, makanlah secara bersamaan sayang.”