“Om, aku mau dibawa kemana? ” Racau nya lagi. Reyhan memasangkan seatbelt dengan lembut.
“Ke apart saya. ”
***
Olin memukul punggung Reyhan memberontak tidak nyaman berada pada gendongan Reyhan. Pintu apartemen terbuka, masih berada pada gendongan, Reyhan melangkah kearah kamar utama yang biasa ia gunakan untuk tidur, di turunkannya Olin dengan perlahan.
Olin memberontak kecil, lalu berdiri diatas kasur sembari berkacak pinggang. Reyhan mengerenyitkan dahinya bingung.
“Ada apa? ” Tanya Reyhan heran.
“Heh om-om! wajah mu itu jangan belagu deh!! kenapa bisa tampan gitu sih?! ” Olin berhenti sejenak.
“Aku kan jadi suka” lanjut nya meracau, Olin terduduk lemas. Reyhan yang mendengar ocehan Olin tertawa keras. Ia mensejajarkan wajahnya. Jarak yang tersisa hanya beberapa senti saja, mata Reyhan menatap lekat wajah Olin. Senyuman kecil muncul
“Cantik.”
Cup!!
Matanya Reyhan terbuka kaget, bibirnya baru saja bersentuhan dengan bibir ranum milik Olin, ia merasakan sengatan listrik menjalar pada tubuhnya.
“hehehe, makasih om! ” Olin tertawa.
Reyhan mengatur nafas, pikirannya melayang. Satu persatu ide gila muncul dari benaknya, fantasi liar yang Reyhan miliki mulai tidak terkendali. Wanita ini sungguh menggoda imannya.
Olin menjatuhkan tubuhnya dengan posisi terlentang, rok pendek yang ia kenakan tersingkap membuat Reyhan kembali menelan saliva. Tangan Reyhan mengambil selimut yang teletak tidak jauh dari kasur, perlahan ia menyelimuti tubuh kecil Olin. Reyhan mendudukan bokongnya pada kursi yang berada di dekat kasur.
“Gila.” Tangan Reyhan sibuk memijat pelipis dengan mata tertutup. Ia menghela nafas berkali-kali menetralkan suhu tubuhnya yang sudah panas. Ia tidak mau mengambil resiko dengan melakukan hal tidak senonoh pada wanita yang baru beberapa kali ditemui.
Kedua kakinya terasa kaku seperti ada yang sedang menaikinya, Ia perlahan membuka mata, Reyhan menahan nafas melihat wanita yang baru saja ia selimuti kini telah berada pada pangkuannya. Bukan turun suhu tubuh, kini ia merasakan tegang di area bawahnya karena terduduki oleh wanita cantik ini.
“Olin? Ada apa manis? kembalilah tidur. ” Tutur Reyhan mengusap surai rambut Olin lembut.
Olin menggelengkan kepalanya “Nda mau. ” tolak Olin memanyunkan bibir kesal.
Reyhan tertawa melihat ekspresi lucu Olin, Ia kembali menahan nafas ketika Olin bergerak membenarkan posisinya yang berada pada pangkuan. Pegerakannya otomatis menimbulkan gesekan secara tidak langsung pada miliknya.
“Eughh, Olin diamlah. ” Titah Reyhan berusaha menahan hasratnya yang sudah meledak. Olin menatap Reyhan dalam, Ia tersenyum manis memperlihatkan giginya, tangan Olin melingkar memeluk dada bidang Reyhan dan tertidur pulas pada pangkuan.
Menyadari Olin tengah tertidur, Reyhan menghela nafas lega. Setidaknya wanita ini tidak memancingnya lagi. Reyhan menggendong kembali Olin dan memindahkannya ke tempat semula, dengan perlahan Ia menarik kembali selimut agar menutupi tubuh kecil wanitanya.
Ya. dipikiran Reyhan saat ini, ia sangat ingin mengenal wanita ini lebih dalam.
Setelah memastikan Olin merasa nyaman, Ia segera beranjak menuju toilet untuk melepaskan hasratnya yang sudah tak tertahan sedari tadi.
“Ahh, fuck! dasar nakal. ”
***
Cahaya pagi menembus melalui jendela kamar yang sangat asing.
“Anjrit, dimana ini? ”
Matanya melebar teringat bahwa dirinya tengah meminum alkohol sendirian, Ia mengingat kembali kejadian setelahnya. Namun nihil, ingatan nya menghilang secara tiba-tiba. Ia tidak tahu dimana dirinya berada saat ini. Dengan cepat ia menoleh kearah tubuhnya yang masih terbalut pakaian kemarin. Olin menghela nafas lega, dirinya masih lengkap mengenakan pakaian.
“Makanlah buah ini agar pengar mu hilang. ” Reyhan datang membawakan beberapa buah yang telah ia kupas dan menaruhnya diatas nakas.
“WAH? KOK ADA OM? SAYA DIMANA?” Olin berteriak panik ketika melihat wajah pria yang akhir-akhir ini ditemuinya.
“OM CABU-”
“Tenang saja, kamu tidak saya apa-apakan kemarin malam. ” Potong Reyhan sembari mendudukan bokongnya pada kursi didekat kasur.
Olin menyipitkan mata meminta penjelasan pada pria dihadapannya ini. Reyhan yang melihat itu berdeham singkat. “Saya sudah bertanya alamat kamu, tetapi kamu sudah mabuk berat. Daripada saya tinggalkan kamu disana dengan orang-orang asing, saya bawa kamu kesini. ” Jelasnya santai.
“Om juga orang asing. ”
Reyhan mengangkat bahunya acuh “Setidaknya saya tidak melakukan apa-apa padamu. ”
Olin masih menyipitkan matanya tidak percaya pada pria dihadapannya itu. Reyhan tertawa melihat wajah Olin yang masih meragukannya. “I swear babe, Sepertinya kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan kepadaku tadi malam. ” Ucap Reyhan masih berusaha meyakinkan Olin.
“Aku ngapain?” Tanyanya pada diri sendiri.
Mata Olin tertutup berusaha mengingat apa yang telah ia lakukan, nafasnya terhenti ketika sebuah ingatan pendek muncul dimana ia sedang memeluk Reyhan. Reyhan yang menyadari Olin terlihat kaget kembali tertawa kecil. Olin membuka matanya perlahan menatap Reyhan malu.
“Om maaf aku ga sengaja peluk om, maaf ya om” Jelas Olin merasa bersalah telah memeluknya. Reyhan menegakan tubuhnya, tatapan yang ia layangkan menjadi serius.
“Kamu hanya mengingat itu? ”
Olin mengangguk, wajah polosnya kembali bingung. “Emang ada apa lagi om? aku ga inget”
Reyhan bangkit dari duduknya, ia melangkah mendekat kearah Olin yang sedang duduk di kasur. Reyhan membungkukan tubuhnya sejajar dengan wajah Olin, dengan perlahan ia memajukan wajahnya mendekat. Olin menahan nafas, jantungnya berdetak tak karuan. Reyhan menatap lekat membuat Olin menutup matanya gugup. Ingatan singkat kembali muncul ketika ia sedang mengecup bibir milik pria tampan ini.
Olin menarik nafas kaget, wajahnya menjadi panas, Ia merasakan pipinya pasti memerah. Reyhan yang melihat perubahan tersebut tersenyum miring. Ia menarik wajahnya kembali dan berdiri tegak.
Ia membuka matanya perlahan menatap wajah pria tampan di hadapan nya. “Sekarang jelaskan, kenapa kamu menjilat dan memainkan lidah mu pada leher saya? ”
Olin membelalakan matanya kaget. “HAH? ”
Reyhan mengangkat sebelah alisnya “Kamu masih belum ingat? ” Tanyanya sembari tersenyum licik.
“Om, duh gimana ya.. Aku bener-bener ga inget tentang itu semalam, aku cuman inget meluk om sama cium om doang”
“Pfttt, baiklah. Makan buah itu lalu pergi mandi. Setelah selesai datang keruang tamu. Saya akan memasak untuk sarapan. ” Ucap Reyhan pergi meninggalkan Olin yang masih memerah karena malu.
***
Olin masuk kedalam kamar mandi yang berada pada kamar Reyhan, ia terkejut melihat sepasang dress cantik, sikat gigi berwarna pink yang masih baru, dan beberapa dalaman berbagai macam ukuran tersedia.
“Anjirt, kaya pengantin baru aja gue. ” Ia membuka baju dan mulai membersihkan tubuhnya.
“Serius gue jilat tu leher om-om? anjir kenapa jilatnya waktu mabuk, gue kan ga inget! sayang banget. ” Gumamnya sambil asik memakai sabun.
“Gila, gue jadi sange bayangin nya cok. ” Ia menutup mata sejenak, tangan kanan Olin meremas salah-satu payudara miliknya. Ia medesah kecil memilin puting yang telah mengeras memikirkan fantasi gila.
“Ahh.. Reyhan..” Ia tidak bisa menahan desahannya sendiri. matanya semakin sayu, bagian bawah Olin terasa berkedut memikirkan bagaimana Ia bersetubuh dengan Reyhan. sumber Ngocoks.com
Ia menggulung lengan bajunya dan mulai menyalakan kompor. Dengan lihai, Reyhan mulai memasak sebuah menu simple pagi hari untuk ia makan bersama wanitanya. Setelah selesai, ia menaruh piring berisikan makanan yang telah ia buat pada meja yang tersedia.
Reyhan mengerogoh saku mencari handphone, Ia berdecak kesal. Rupanya Ia melupakan handphone-nya saat sedang menyimpan buah untuk Olin di nakas tadi.
Reyhan melangkahkan menuju kamar, dibukanya pintu yang langsung tertuju pada nakas, saat tengah berjalan mendekat telinga Reyhan menangkap sebuah suara desahan yang berasal dari kamar mandi. Ia membelokan kakinya yang tadi menuju nakas menjadi kearah kamar mandi. Reyhan menempelkan kupingnya pada pintu kamar mandi yang tidak kedap suara itu.
“Ahh.. Reyhan..”
***
Pintu kamar mandi terbuka, Olin telah selesai membersihkan tubuhnya. Kini Ia mengenakan dress yang telah tersedia. Kakinya melangkah keluar dari kamar mandi, Ia melihat seorang pria yang tengah duduk sambil memainkan handphone-nya.
“Jadi yang cabul disini, saya atau kamu? ” Tanyanya menatap Olin dengan senyum licik.
Bersambung…