“Maksud om? ”
Reyhan mengedikkan bahunya acuh “Kamu mengerti maksud saya. Cepat habiskan makananmu, saya tunggu di mobil.”
Tidak ada percakapan lagi, Olin segera menghabiskan makanan nya dan pergi ikut mengejar Reyhan ke parkiran.
***
Mobil melaju sedang, sudah beberapa menit mereka diam tanpa ada yang membuka suara, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Reyhan yang sedang fokus menyetir dan Olin yang sedang larut dalam pikiran nya.
Olin berdeham kecil “Om? ” panggil nya tidak mengalihkan pandangan dari jalan raya di depan.
Reyhan melirik sekilas lalu kembali fokus menyetir “ada apa? ” tanya nya.
“Om punya hp dua kah?”
“huh?” Reyhan mengerutkan kening nya sesekali melirik Olin yang berada disamping nya.
“Aku tadi mikir om gimana rekam nya, kan hp om masih di kamar”
“Apa yang saya dapatkan jika saya beritahu mu? ”
Olin mengalihkan pandangan nya pada kaca disamping. Reyhan menahan tawa nya geli melihat Olin kesal.
***
“Kamu tinggal sendiri?” Tanya Reyhan ketika sudah sampai didepan rumah Olin.
“Ga mau kasih tau. ” Reyhan mengangkat satu alisnya lalu tertawa kecil.
“Baiklah, segera masuk saya akan tunggu disini. ”
Olin tidak menjawab pria tersebut, ia langsung pergi meninggalkan Reyhan dengan kesal.
***
Olin membuka pintu kamar, ia menghentakan kakinya sembari sibuk mencari dimana koper yang ia letakan terakhir kali pindah ke rumah ini.
Tangan nya sibuk melipat beberapa baju yang akan ia bawa, dirinya berencana hanya akan membawa setengah bajunya untuk sekarang.
“Dasar gila, orang asing mana yang tiba-tiba ngajakin serumah. ”
“Mana Laki-laki! ” kini ia beralih melipat beberapa dalaman, sembari memilih yang masih terlihat bagus. Matanya melotot tersadar apa yang ia lakukan.
“Ngapain gua milih-milih???” Olin menggelengkan kepalanya, tetapi Ia tetap lanjut memilih dalaman tersebut.
Gerakan nya terhenti, Pikiran nya berputar kembali pada awal ia keluar dari kamar mandi apartemen Reyhan menggunakan dress, ia baru tersadar pria tersebut sudah memegang dua handphone dan menyimpannya satu dengan camera menghadap pada kegiatan mereka.
Olin menutup mulutnya kaget. “Gila, emang di rencanain anjir. Tapi tadi di rekaman gua nya cantik banget co, kaya artis bokep yang bohai-bohai” Olin berlari kecil menghampiri kaca melikuk-likuk kan tubuh nya centil.
“Asu cakep gini gua, pantes si om nafsu bener. ”
Ia berjalan kembali kearah kasur dan merebahkan tubuh nya. “sebenernya gua kaget sih tu om ganteng tiba-tiba ngerekam terus nyuruh tinggal bareng, tapi wajah cakep gitu siapa yang mau nolak anjir, mana kontol nya gede, kebayang tiap malem ngewe nih gua. ” Olin menggelengkan kepalanya lagi untuk menyadarkan lalu ia memukul kepalanya sendiri.
“Gua udah gila suer deh! ”
***
“Lama sekali. ” Ketus Reyhan melihat Olin berjalan dengan tangan menggiring koper.
Olin mendelikan matanya masih kesal, “Sabar kek om, orang banyak baju nya! ”
Reyhan membukakan bagasi mobil dan menyimpan koper yang Olin bawa, lalu dirinya berjalan santai. Dengan inisiatif Ia membukakan pintu untuk Olin dan menyimpan satu tangan lain nya pada atap pintu agar Olin tidak terbentur.
Olin yang menyadari itu, hatinya berdebar kencang. Namun, karena ia masih kesal pada pria dihadapan nya ini. Olin langsung masuk kedalam tanpa mengucapkan apapun dan terduduk manis.
Reyhan menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang, dengan lihai ia menyetir menggunakan satu tangan dengan satu tangan lain nya ia letakan diatas pahanya sendiri.
Olin yang sedari tadi memperhatikan tangan Reyhan, meneguk ludah nya kasar. Ia teringat bagaimana tangan berurat itu mengusak habis dirinya. Tanpa sadar Ia mengambil tangan Reyhan dan menyimpan nya pada paha Olin.
Tubuh Reyhan seperti tersengat, kaget dengan tindakan Olin yang selalu tiba-tiba. Ia menoleh sekilas pada tangannya yang kini berada pada paha wanita ini. Olin yang tersadar langsung menepis tangan Reyhan.
“Woy om cabul! ” Olin mengalihkan pandangan menatap kaca disamping.
‘gila, gua gilaaaaa’
Olin menahan nafasnya ketika melihat tangan Reyhan kembali mendarat pada paha nya. Pipi Olin memerah merasakan hangat yang berasal dari tangan pria tersebut menjalar ke tubuhnya.
“Suka saya pegang-pegang gini? ” Reyhan mengelus pelan paha dalam Olin dengan pandangan yang masih fokus mengemudikan mobil tersebut.
“Om jangan cabul ya! ”
“Saya sedari tadi diam. Kamu yang selalu memulai duluan, Olin. ” Kini Reyhan menggerakan jarinya memutar pelan menimbulkan rasa geli. Olin menepis tangan Reyhan menghentikan aktifitas pria tersebut.
Reyhan terkekeh, kedua tangan nya kini berpegang pada stir, ia membelokan kemudi nya memasuki area pembelanjaan. Olin mengerutkan kening, bingung. Seolah mengerti, Reyhan menunjuk minimarket tersebut dengan dagu nya.
“Kita belanja untuk besok sarapan, bahan2 di rumah saya sudah habis. ” lanjut Reyhan sembari sibuk memarkirkan mobilnya.
Olin mengangguk sekilas, ia tersenyum tipis. Pipinya memerah kembali ‘gua kaya pasutri aja, belanja bareng paksu’ batin nya.
***
Sayuran yang nampak segar sangat menggugah selera Olin, ia membolak-balikan sayuran tersebut melihat mana yang harus ia beli. Namun, belum selesai ia melihat, sayuran tadi sudah berada pada tangan Reyhan dan memasukan nya pada keranjang. Olin mengedikan bahunya acuh.
Reyhan terlihat sangat ahli dalam memilih beberapa bahan mentah tersebut, ia terlihat sangat sempurna dengan wajah nya yang terlihat serius memilih, Olin mendesah kecil merasa senang karena ia akan menjalani hari-harinya dengan melihat wajah tampan.
“Om-”
“Olin, stop panggil saya om. Saya hanya 5 tahun lebih tua dari mu.” Reyhan berdecak sebal karena dari awal bertemu dirinya selalu dipanggil om.
“Emang om tau aku umur berapa? ” Ia berkacak pinggang sambil memincingkan matanya menatap Reyhan.
“24 tahun, terlihat pada belakang case handphone mu. ” Reyhan menunjuk handphone yang Olin pegang.
“Kepo! fakta nya kan om lebih tua dari aku, ya aku panggil om lahhh! ”
“Lebih baik kamu panggil saya mas mulai dari sekarang. ”
“M-mas? ” Olin terbata, ia menundukan kepalanya menahan senyum.
“Kok kaya beres nikah sih” gumam Olin. Reyhan yang mendengar pun hanya tertawa kecil.
“kalau begitu, kita nikah saja. ” Reyhan berjalan meninggalkan Olin dengan pipi yang sudah sangat memerah.
“Om eh Mass!!! serius? ” Olin berlari menyusul Reyhan.
***
Olin memasuki apartemen Reyhan, ia merebahkan kembali tubuhnya pada sofa yang tersedia. Matanya menatap kearah Reyhan yang sedang sibuk menata sayuran yang sudah mereka beli tadi. sumber Ngocoks.com
“Mas, aku penasaran”
Reyhan menoleh kearah Olin, menunggu lanjutan dari wanita tersebut.
“Kita itu apa? ” Olin merubah posisinya menjadi duduk sambil terus menatap Reyhan dengan kedua tangan menompang dagu.
Reyhan menghentikan aktifitas nya dan berjalan santai dengan kedua tangan yang ia masukan pada saku celana. Reyhan berhenti di hadapan Olin, ia membukukan tubuh nya agar sejajar dengan Olin.
Cupp
Olin mebelalakan matanya kaget, ia menutup bibirnya dengan cepat.
“Menurutmu, kita itu apa? ” Tanya Reyhan masih dengan jarak dekat, matanya menatap lekat Olin sambil tersenyum licik.
“p-pacar? ”
Reyhan menggeleng kecil “Saya tidak suka berpacaran. ” Ia menarik tangan Olin yang sedang menutupi mulutnya sendiri. Dengan cepat Ia mencium bibir tersebut dengan rakus.
Bersambung…